AKU, ORANG BESAR DAN TANDA TANGANNYA
   
           Pagi itu cuaca di ibukota, Jakarta cukup ceria. Seceria wajahku 
ketika menyambut pagi hari. Bukan itu saja pagi itu aku harus berangkat selekas 
mungkin agar sampai di  tujuan. Tempat dimana resepsi perayaan HUT sebuah 
komunitas dunia maya itu diselenggarakan. Letaknya beralokasi di bilangan 
Rasuna Said, Kuningan. Tepatnya di Klub Rasuna Said acara itu digelar. 
   
           Kenapa pagi itu aku cukup ceria? Dikarenakan aku akan menjumpai 
kawan-kawanku yang selama ini aku kenal di dunia maya saja. Dan tentunya juga 
yang paling aku sangat harap-harapkan adalah ketika aku ingin bersua dengan 
orang-orang besar dalam resepsi perayaan HUT sebuah komunitas yang aku diami 
selama kurang satu tahun itu.
   
           Oya, aku mau bertanya nih sama kalian bagaimana sih rasanya jika 
bertemu dengan orang besar? Bukan! Ini bukan bertemu dengan orang yang memiliki 
fisik besar: tinggi, gempal dan kuat itu. Bak tokoh jagoan Gatot Kaca yang 
memiliki otot kawat, tulang besi. Tapi maksud aku orang yang telah berjasa dan 
memiliki karya besar untuk negeri mereka. Bukan seperti Gatot Kaca, Hercules 
atau Hulk yang aku maksudkan itu? Memang sih tubuh mereka tinggi, gempal dan 
kuat serta pahlawan juga bagi negerinya. Benarkan?
   
           Apakah kalian gemetar jika bertemu dengan orang besar? Nervous? 
Salting? Atau, bibir rasanya kelu? Aku anggap itu wajar dan kurang ajar bila 
kalian tidak memiliki rasa apa-apa…Hehehe. Just for kidding just for laugh. 
Begitu kata Mas Katro, Tukul Arwana ketika menutup akhir talk show-nya.
   
           Memang sih dia manusia juga seperti kalian. Makan nasi, tidur dan 
juga pusing jika memikirkan pekerjaan yang seabrek belum dapat diselesaikan. 
Itu bukan kalian saja yang mengalami seperti itu. Aku sendiri akan seperti itu. 
Sama seperti kalian! Namun masih mending kalian hanya gemetar, nervous, salting 
atau bibir rasanya kelu. Kalau aku beda. Pasti aku akan keluar-masuk ke toilet. 
Bukan, bukan karena kebelet pipis melainkan sekedar untuk mengelap peluh yang 
sudah membanjiri tubuhku. Tapi untungnya aku saat itu aku bawa salinan. Seperti 
kebiasaanku kalau keman-mana bawa salinan. Membawa pakaian pengganti. Kalau 
tidak salah aku bawa tiga stel pakaian. Ada T-shirt, kemeja bahkan panel. Ya, 
pokoknya aku mirip orang penjual pakaian di Tanah Abang…Dipilih…, dipilih…, ayo 
dipilih…, dipilih lagi…!
   
           Hari itu aku menghadiri resepsi perayaan HUT sebuah komunitas dunia 
maya untuk merayakan hari jadinya yang pertama. Selamat ulang tahun. Semoga 
panjang umur dan jaya selalu. Disana aku sangat terkejut ketika pertama kali 
melihat orang-orang besar itu ikut bergabung untuk meramaikan perayaan hari 
ulang tahun sebuah komintas dunia maya itu. Mereka itu terdiri dari: Sang Raja 
Kuis flamboyan, Helmy Yahya, Sang Penyair kondang, Taufik Ismail serta Sang 
Pemberi Spirit (motivator) ternama, Andrias Harefa. Bayangkan mereka itu orang 
besar. Sedangkan aku ini orang yang senang dibesar-besarkan…Hehehe. 
   
           Sebenarnya aku harus banyak belajar dari mereka. Bagaimana rasanya 
menjadi orang besar yang begitu jasa terhadap negeri mereka? Entahlah? Memang 
seharusnya aku banyak belajar dan belajar lagi biar aku menjadi mereka. Tapi 
bukan menjadi sosok mereka melainkan aku harus mengikuti jejaknya! Kenapa 
mereka bisa berhasil seperti itu. Itu yang perlu aku ketahui.
   
           “Pak…Pak boleh minta poto bareng?” ucapku dengan ramah kepada Sang 
Raja Kuis flamboyan itu.
   
           Ia hanya tersenyum. Lalu langsung memposisikan dirinya kepadaku dan 
kawan karibku. Ya, aku berpoto bertiga. Aku, kawan karibku dan orang besar itu. 
Chees....Akhirnya aku dipoto oleh wartawan dadakan. Mbak Sisca begitu aku 
memanggilnya. Seorang wanita yang super aktif. Baik ia sebagai seorang dosen 
yang mengajar disalah satu pengguruan tinggi swasta ternama. Benarkan Mbak? 
(Maaf lho Mbak kalau salah?). Tak lain tak bukan kawanku yang sudah aku kenal 
sebelumnya yang bersedia meminta aku bertiga dipoto. 
   
  Sebenarnya aku tak boleh dipoto bertiga. Menurut mitos yang aku ketahui kalau 
kita berpoto bertiga atau ganjil nantinya hasilnya tidak baik. Tidak bakal 
jadi. Entahlah itu benar atau tidak aku juga tidak tahu? Tapi itu hanyalah 
mitos yang belum tentu diketahui kebenarannya. Namun yang aku harus ketahui 
kebenarannya adalah aku harus mengucapkan terima kasih banyak kepada kawanku 
atas kebaikannya selama ini. Terima kasih kawan!
   
           “Terima kasih ya, Pak!” jawabku ramah setelah aku berhasil dipoto 
bersama orang besar itu.
   
           Ia masih tersenyum kembali. Namun aku anggap itu sebagai jawabannya 
yang begitu tulus. Kemudian orang besar itu menuju ke meja persajian hidangan. 
Kebetulan hari itu tepat pada jam makan siang.
   
           Alhamdulillah, akhirnya aku bisa berpoto bersama orang besar dan 
bisa aku tunjukan kepada orang-orang terdekat. Ini aku poto sama orang besar 
nih, pikirku saat itu. Narsis memang! Tapi tak apalah kapan lagi aku bisa 
berpoto bareng dengan orang besar. Siapa tahu aku bisa tertular bau 
kesuksesannya menjadi orang sukses dan juga menjadi orang besar. Bukankah 
begitu? Semoga.
   
           Beberapa lama kemudian makan siang pun usai aku pun segera kembali 
duduk di tempatku semula. Kebetulan saat itu acara dorprise berlangsung. 
Berharap-harap cemas. Dapat tidak ya aku? Ternyata benar aku tak “mengatongi” 
apa-apa. Hampa.  Tapi tak apalah terpenting aku bisa bertemu dan berpoto 
bersama dengan orang-orang besar yang sudah aku aanggap itu dorprise dalam 
hidupku selama aku hidup. Akhirnya, usai acara itu aku memasang aksiku kembali. 
Meminta tanda tangan dan poto bersama lagi. Tapi saya seribu sayang selebihnya 
orang besar yang aku pintai tanda tangannya sudah kembali. Balik ke 
kediamannya. Dikarenakan ada kesibukan yang menunggu mereka. 
   
           Memang sih aku juga yang salah bukannya dari awal aku meminta tanda 
tangannya pada orang besar itu. Aku malah berleha-leha melihat kawanku yang 
lainnya meminta tanda tangan dan berpoto bersama kepada orang besar yang sudah 
kembali ke kediamannya itu. Tapi aku masih ingat dengan apa-apa yang dikatakan  
oleh orang besar itu saat ia berdiri di podium. Ia mengatakan bahwa kita hidup 
harus bersemangat, bekerja keras lalu kemudian kita mendapatkan hasilnya (uang) 
dan juga kita bisa menikmati secara puas. Yang ia namakan sebagai Salam 
Kehidupan. Bersemangat. Kerja keras. Berhasil (uang). Dan bisa di nikmati 
(kenyang).
   
          “Pak minta tanda tangannya plus poto bareng,” ujarku lagi kepada Sang 
Penyair kondang itu. Orang yang paling aku kagumi dan paling aku segani atas 
karya-karyanya.
   
           Ia melihat ke arahku sambil tersenyum. Lalu aku menyerahkan buku 
yang akan ditanda tanganinya. Tapi apes aku lupa bawa pulpen. Akhirnya ada 
seorang kawan yang melintas ke arahku. Jadinya aku jadikan saja :”tumbal” untuk 
dimintapinjamkan pulpennya…Hehehe. Terima kasih ya kawan atas pinjamannya.
   
           Satu…, dua…, tiga…, akhirnya aku pun bisa berpoto dengan orang yang 
aku sangat kagumi itu. Dan, lagi-lagi kawanku itu yang menjepretku.
        
           “Terima kasih ya, Pak,” ucapku sambil tersenyum. Dan orang besar itu 
pun sambil tersenyum kembali sebagai ucapan balasannya. Jadi kami berdua saling 
adu senyum deh…Hehehe.
   
           “Yan, kamu sudah minta tanda tangan sama Sang Spirit ternama itu 
belum?” Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara kawan karibku dari arah belakang. 
Menanyakan apakah aku sudah minta tanda dan poto bersama dengannya.
   
           “Yaa…belum  tuh. Orangnya sudah balik,” datarku. Kecewa lanataran 
aku tidak mendapatkan tanda tangan dan poto bersama dengan orang besar itu. 
Akhirnya aku pun beralih kepada Sang Raja Kuis. Kebetulan aku lupa minta tanda 
tangannya. Hanya meminta poto bersamannya saja.
   
           “Pak minta tanda tangannya, Pak,” lanjutku langsung menyerahkan buku 
yang akan ditanda tangani. Dan aku pun mendapatkan tanda tanganya. Yess, 
dapat!’ gumamku agak norak.
   
           Waktu terus berlalu. Momen yang sangat membuat aku tak percaya 
bahkan aku sudah menganggap itu mimpi ternyata cepat berlalu. Dan semua pun 
sudah kembali ke kediamannya masing-masing. Sedangkan aku hanya memandang nanar 
sambil bergumam,” apakah aku bisa seperti mereka ya? Seperti orang-orang besar 
itu yang memiliki jasa untuk negeri mereka ini?” bathinku merenungi cita-cita 
itu yang akan datang. Apakah aku bisa seperti mereka atau tidak? Sehingga aku 
teringat dengan perkataan bijak dari Hasan Al-Banna. Haqaa-iqul ahlaamul amsi, 
wa ahlaamul yaumi haqaa-iqul ghadi. Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, 
dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.”  Semoga saja hal itu bisa 
membuatku semangat dan tidak patah arang.
   
           “Yan mau minta tanda tangan sama kamu nih.” Tiba-tiba dari arah 
depanku terdengar suara dari kawanku. Kawanku yang baru beberapa minggu ini 
meninggalkan masa lajangnya. Ia menikah dengan pria yang terbaik baginya serta 
nanti untuk keluarga barunya kelak.(Oya, maaf ya aku tidak bisa datang di saat 
acara resepsi pernikahan kamu ya?). Aku do’akan semoga keluarga barumu menjadi 
keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Seperti keinginan 
keluarga-keluarga yang baru menanjak membina rumah tangga. Bisa membangun 
mahligai rumah tangga sampai kakek-nenek seperti nenek moyangku sampai akhir 
hayatnya mereka bersama-sama menghembuskan nafasnya.
   
           Oya, aku mau tanya maksud kamu itu apa sih? Aku tidak mengerti lho? 
Apakah itu sebuah guyonan seperti sifat kamu yang suka ceplas-celpos itu. Suka 
berkelakar. Atau, ejekan? Aku harap bukan ya? Atau, juga sebuah ironi agar aku 
tak boleh muluk-muluk bermimpi menjadi orang besar? Tidak jugakan? Tapi aku tak 
menjawabnya. Hanya memberikan senyuman saja. Satu dari ucapan kamu semoga saja 
itu menjadi kenyataan suatu saat nanti. Dan juga semoga ucapan kamu itu sebagai 
doa. Bukankah ucapan itu sebuah doa? Aku harap itu benar. Semoga. Aku akan 
menjadi orang besar seperti mereka. Bukannya menjadi orang yang besar kepala 
atau juga memiliki perut besar…Hehehe. Seperti aku lakukan meminta tanda tangan 
kepada orang-orang besar itu. Hingga kamu nanti akan minta tanda tangan aku 
seperti ucapan kamu tadi itu secara memohon-mohon…Hehehe.. Seperti orang-orang 
besar yang sangat aku kagumi itu.(*)
   
  Bintaro, 16 Juli 2007
   
  Mau lihat poto-potoku bersam orang besar lita aja di bloggku: 
http://sebuahrisalah.multiply.com
  di bloggku dibagian MEMORY. Selamat menikmati!!
   

       
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally,  mobile search that gives answers, not web links. 

Kirim email ke