Temans, lagi cerita saya dapat dibaca di Situs Berita Rakyat Merdeka. Saya
menulis cerita ini untuk semua korban kesalah pahaman sejarah. selamat membaca
dan sila mengkritik.
RUMAH KACA
ranah sastra merdeka
Jumat, 27 Juli 2007, 23:37:12 WIB
Setangkai Buah Rindu
kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu - bukan giliranku
matahari - bukan kawanku....(1)
MALAM masih membebat kesunyian hutan ini. Meskipun api menyala dengan besarnya,
tapi tak bisa menghalau dingin yang menyeruak masuk hingga ke sumsum tulangku.
Ku geser dudukku dan meraih sepotong kayu lagi. Ku lemparkan, dan menyambarlah
lidah api sampai ke langit. Baranya melayang seperti bintang berpijar,
kadang-kadang juga seperti rama-rama.
Semakin dingin ketika cerocosan jangkrik terus bersahut-sahutan. Caping
hidungku sudah basah oleh embun. Angin masih santer saja bertiup mengitari
kepalaku. Pesta api belum selesai, dan agaknya tak akan selesai sampai esok
hari menjeleng terang.
Agaknya malam ini aku tak ikut berburu. Karena sore tadi aku baru aja
memindahkan seseorang dari sebuah tempat di tengah hutan ini. Aku sudah minta
izin pada Pak Ketua sore tadi. Tapi entah mengapa, aku masih saja dipanggilnya
dan ditugaskan menjaga orang ini, sendirian pula.
***
Orang ini, dengan ketegaran yang terpancar dari matanya, masih khusu tepekur
menatap tanah. Bajunya setengah tersingkap, kotor dan lusuh. Matanya terlihat
semakin cekung, lelah karena mengantuk. Sudah sebelas hari ini dia ku halau
seperti kerbau, masuk-keluar hutan. Aku yang paling tahu dia, setidaknya
setelah memasuki hari keduabelas kami bersama.
Wajahnya pucat. Kulitnya lebih hitam dari hari pertama dia kami tangkap.
Tangannya terikat. Kadang-kadang dia meminta tolong agar ikatan tangannya
dilepas. Aku sempat marah, ketika hari pertama, dia meminta agar tali yang
mengikat tangannya dibuka, dengan alasan mau shalat. Bagiku itu hanya menambah
pekerjaanku.
Tapi kuakui, awalnya aku memang senang melakukan pekerjaan seperti ini; masuk
ke rumah para bangsawan, mengobrak-abriknya, kemudian membakar rumah para
borjuis yang telah menyebabkan kami sengsara. Apalagi kalau aku dan kawananku
berhasil membawa si empunya rumah. Aku akan sangat bangga untuk menghantamkan
tinjuku kepada kolaborator kolonial Belanda.
Tapi untuk lelaki ini, entah mengapa aku enggan untuk menghujamkan tanganku ke
wajahnya. Tatapannya yang tajam bila menatapku terasa sejuk dan damai. Aku
selalu terlena untuk beberapa saat setiap kali dia meminta tolong padaku, agar
tali ikatan tangannya dibuka. Saya mau shalat, pintanya, dan aku seperti
menurut saja.
Selesai shalat, dia dengan sukarela menyerahkan tangannya untuk kembali ku
belenggu. Senyumnya mengembang, dan aku jadi semakin gentar dengan orang ini.
Lantas lelaki itu kembali duduk, dia membuang wajahnya ke langit. Pungguk
melayang-layang di atas langit kami. Aku menambahkan gelondongan kayu ke mulut
api. Bara berhamburan. Aku menatap dia. Dia semakin khusu. Seolah dingin tak
membuatnya gentar, bahwa sesaat lagi dia akan dieksekusi.
Kabarnya orang ini sangat terpelajar, entahlah, aku tak pernah berpikir tentang
apa itu terpelajar. Tapi kabarnya dia menamatkan sekolah hukum di tanah Jawa.
Aku tak akan heran bila dia belajar dan menamatkannya di pulau Jawa. Toh dia
adalah seorang borjuis dan kolaborator penjajah. Seharusnya aku tak kasihan
apalagi iba melihat dia.
Sampaikan rinduku pada adinda
bisikkan rayuanku pada juita
liputi lututnya muda kencana
serupa beta memeluk dia.
(2)
Kadang-kadang aku berpikir, kalau sebenarnya aku ini terlalu berbaik hati
padanya. Atau ini seperti sudah ditakdirkan Tuhan, bahwa selama kami bersama,
kami akan menjadi teman, paling tidak terlihat seperti teman. Sebuah hubungan
dimana satu pihak melenyapkan pihak lainnya.
Aku belum mengenal dia, ketika pada suatu malam, sebuah perintah datang
menghampiriku. Di Aceh sudah meletus perlawanan terhadap tuan tanah. Rakyat
telah merebut kekuatan mereka. Keluarga bangsawan sudah terkepung oleh kekuatan
rakyat. cerita Pak Ketua.
Demi berdirinya negara kita, merdeka! pekik semua pemuda pada malam itu. Aku
pun ikut dalam rombongan. Dan ikut memekik Merdeka! pula.
Sejak malam itulah, kami menjadi haus darah tuan tanah, yang kata Pak Ketua
telah menghisap darah kami, bahkan ketika kami masih orok.
Maka pada malam itu aku ikut operasi untuk kesekian kalinya. Sesuai perintah
Pak Ketua, kami harus membersihkan rumah Wakil Pemerintah Republik Indonesia
untuk wilayah kami. Dan dari sana lah orang ini. Orang yang ada di hadapanku
sekarang ini berasal. Lelaki yang tengah khusu munajat pada khaliknya. Seolah
paham betul, bahwa setiap saat maut bisa saja datang menjemputnya.
***
Ketika itu aku cuma tahu kabar angin, bahwa Wakil Pemerintah RI itu baru saja
berada di rumahnya. Dia orang sibuk, sibuk menjual bangsanya pada Belanda,
sehingga jarang ada di rumah. bisik Pak Ketua.
Kami mengintai rumahnya sejak lepas ashar. Pada saat pengepungan banyak dari
kami yang tak mengenal wajahnya. Sehingga selalu ragu untuk mulai bergerak.
Tentunya ini tidak mengherankan, sebab sedikit sekali di antara kami yang
membaca koran, apalagi pergi ke kantor pemerintahan.
Mungkinlah, samar-samar dan tidak jelas juga. Saya cuma sekali melihat dia,
jawab Komandan Regu yang memimpin operasi malam itu.
Kalau subuh kedengaran tabuh
semua sepi sunyi sekali
bulan seorang tertawa terang
bintang mutiara bermain cahaya...(3)
***
Aku terperanjat ketika Pak Ketua muncul dari balik pepohonan. Tangannya
memegang bedil. Dan di sampingnya, si Kulok berdiri dengan parang yang sudah
terhunus. Kilatan lidah api menambah seram parang yang telah basah oleh, entah
darah entah merah.
Tiba-tiba hari menjadi panas. Tak kurasakan lagi angin menusuk kulitku. Aku
memang tak bisa melewati bagian yang ini. Aku memang dilahirkan untuk tidak
menjadi pembantai. Aku, aku cuma tahu, kalau aku ini miskin, dan penyebab
kemiskinanku adalah orang itu, orang yang sudah tak berdaya namun tetap
kurasakan keperkasaannya. Dia lebih tabah dari apa yang kukira.
Aku bangkit dan langsung menggamit lengannya dengan kencang. Lelaki itu
tersentak. Dia sedang berontak. Dia sedang berjuang melawan takutnya. Begitu
pula aku. Aku tak sanggup menatapnya seperti itu. Wajahnya begitu tabah.
Siapkan dia, perintah Pak Ketua. Dia dan Kulok kemudian menghilang dibalik
gelapnya malam.
Delapan pemuda lain masuk dan berdiri di sekitarku.
Mati sajalah borjuis sekutu iblis, maki salah satu dari mereka.
Sebuah tinju melayang ke arah lelaki itu. Aku menepis serangan dan mendorong si
pemukul ke belakang.
Ini urusanku, kau boleh urus kerjamu sendiri, gertakku.
Pemuda itu surut ke belakang. Matanya memandang tajam kepada lelaki yang ada di
sampingku.
Nikmatilah saat-saat terakhirmu, Tengku! geram pemuda itu karena tak dapat
memukul Tengku.
Aku bawa lelaki itu beranjak dan pergi, ke suatu tempat, yang asing, tiada
suluh sebagai penerang dan pengusir rasa dingin.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku begitu kasihan kepada lelaki ini. Aku merasa
dia bukan orang lain. Dia seperti sepotong dari diriku yang lain. Diri yang
selalu rindu pada sesuatu yang dapat menyejukkan jiwa. Aku ingin melepaskan
dia. Tapi tak bisa, benar-benar tak bisa. Aku takut, kalau dia kubebaskan, maka
dia akan kembali mencariku dengan pengawal-pengawalnya. Siapa tahu, mungkin
mereka akan memotongku seperti kambing di hari Idul Adha.
***
Orang ini selalu bercerita. Dia bersyair sepanjang malam, menceritakan cintanya
yang tak pernah jelas menurutku. Dia menceritakan hikayat Hang Tuah, perang
Barathayudha, Tanah Jawa, Sastra, Budaya Melayu. Sehingga aku bertambah
pengetahuan. Sebelas hari menggiring lelaki ini, aku mendapatkan banyak
pengetahuan.
Tapi mengapa kalian tuan tanah, selalu membuat kami susah? tanyaku pada suatu
malam.
Maka merupa di datar layar
wayang warna menayang rasa
kalbu rindu turut mengikut
dua sukma esa-mesra -
Aku boneka engkau boneka
penghibur dalang mengatur tembang
di layar kembang bertukar pandang
hanya selagu, sepanjang dendang
(4)
***
Hari semakin pagi. Perenjak masih berkoar-koar memecah hening kegelapan. Dingin
tak terasa menembus kulitku. Embun menempel di pipiku, meleleh dan jatuh ke
leher.
Tangannya masih terikat kencang, dibebat ke belakang. Lelaki bersimpuh di depan
galian sebuah lubang. Mulut komat-kamit. Mungkin sedang membaca ayat suci
Quran. Mungkin juga menggigil ketakutan.
Bajunya yang lusuh, melambai di udara dan cuaca dingin.
Dia, lelaki itu meminta sebuah pena dan selembar kertas. Dia akan menulis
permintaan terakhirnya . Mungkin dia akan menuliskan pembagian warisan, mungkin
menulis surat cinta, atau mungkin juga menulis pengakuan dosa. Itu sungguh tak
penting bagiku.
Dia paham betul, kalau sesaat lagi dia akan benar-benar bertemu dengan
kekasihnya,
Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa
(5)
***
Hari semakin terang. Aku terduduk. Hanya sendiri. Menatap bara api yang berubah
habis menjadi abu. Aku merasa semuanya begitu cepat berlalu. Kantuk masih
menggantung di tirai mataku. Dingin sudah lama pergi menyiksaku.
Ku keluarkan secarik kertas yang diberikannya padaku dari saku kemeja. Itu
adalah tulisan tangannya yang terakhir sesaat sebelum menghadapi eksekusi.
Aku rindu menulis, kelak suatu saat bila aku bebas, aku akan menulis. Menulis
sebuah puisi untukmu, katanya pada suatu ketika.
Aku semakin terpukul ketika membaca sepotong kertas lusuh pemberiannya. Dia
tidak menulis pembagian harta warisan, tidak juga menulis surat cinta. Apalagi
sebuah pengakuan dosa.
Datanglah engkau wahai maut
bebaskan aku dari nestapa
engkeu lagi tempatku berpaut
di waktu ini gelap gulita.
Kicau murai tiada merdu
pada beta bujang Melayu
himbau pungguk tiada merindu
dalam telinganku seperti dahulu
. (6)
Maafkan aku, Tengku.
Dan aku kembali menatap bara api yang perlahan menghilang oleh sinar mentari
pagi. Sendiri. Hanya sendiri.
Tanah Betawi, 03-01-06
Catatan:
1. Bait terakhir dari Padamu Jua, Amir Hamzah
2. Bait kelima dari Buah Rindu, Amir Hamzah
3. Bait pertama Subuh, Amir Hamzah
4. Bait ke 3 dan 4 puisi Sebab Dikau, Amir Hamzah
5. Bait ke 3 Padamu Jua, Amir Hamzah
6. Bait 1 dan 2 Buah Rindu, Amir Hamzah
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.