Cerita terbaru (meski tak baru) Hujan di Rakyat Merdeka Online

RUMAH KACA
ranah sastra merdeka

Senin, 13 Agustus 2007, 00:07:30 WIB

Selena

Oleh: Hujan

Awan semakin bergulung. Semakin pekat menggumpal. Menjuntai rendah di langit 
kota Selena. Angin bertiup dari segala arah, menerbangkan apa saja yang ada di 
depannya, debu, daun kering, sampah plastik.

Ibu-ibu pun ikut berlari panik ke arah jemuran pakaiannya. Menyambar dengan 
tangkas dan memasukkannya ke keranjang. Beberapa pedagang yang masih menggelar 
dagangannya segera menutup. Termasuk Panawa, lelaki setengah baya itu dengan 
cekatan menutup warung kopinya yang terletak di pinggir jalan besar, di kota 
yang berada di kaki bukit Selena.

Semakin kencang angin bertiup, semakin pekat awan bergemul singgah di atas kota 
itu. Meski hari belum senja, namun sudah terlihat seperti malam lengang. Sepi. 
Dengan cepat kota kecil itu merayap senyap. Tak lagi seorang pun berani berada 
di luar. Semua orang yang tinggal di sisi ruas jalan itu sudah menutup pintu 
rumah rapat-rapat.

Ini akan menjadi hujan pertama, setelah lebih dari delapan bulan kerontang 
melanda kota itu. Sebagian warga yang tinggal di sana sadar, sepatutnya mereka 
merayakan hujan pertama ini dengan bersuka cita. Sebab hujan akan membasahi 
tanah mereka. Aspal jalanan, kerikil di kali kering akan basah oleh lumatan 
hujan. Betul, awan hitam ini menjanjikan itu semua. Sebab awan kali ini berbeda 
dengan awan-awan hitam yang beberapa kali sempat singgah di sana.

Tentulah selama delapan bulan ini awan hitam pernah singgah di kota itu. Dan 
sama seperti senja ini, mereka semua panik berhamburan masuk ke rumah. Mengunci 
pintu rapat-rapat, menutupi tirai jendela. Dan memilih meringkuk bersama 
keluarga mereka di kamar, di suatu tempat teraman di dalam rumah. Begitulah, 
setiap awan yang singgah selalu disambut dengan perilaku seperti itu. Mungkin 
itulah sebabnya mengapa lebih dari delapan bulan, daerah itu kering oleh 
kemarau.

Tapi agaknya tidak untuk kali ini. Meski orang-orang seperti tidak mengharapkan 
kedatangan hujan, namun hujan tetap datang. Sekarang satu pe rsatu bulirnya 
meretas dari atas langit Selena. Membasahi pucuk pohon, daun-daun kering. 
Nyangsang di atas bubungan, dan atap rumah. Membasahi aspal dan jalanan dan 
mengaliri kali kering. Dengan segera kota kecil itu dikurung jala air.

***
Panawa masih meringkuk di pojok rumahnya. Matanya mengedar sambil mengawasi 
kilatan petir yang saling menyambar di luar jendela. Dengan erat dipeluknya 
istri dan tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Berlima, anak-beranak itu 
menahan takut. Apalagi bila suara geledek yang membelah langit terdengar keras 
dan menggetarkan dinding rumah mereka. Semakin menjadi-jadi ketakutan itu

Panawa semakin erat memeluk anak-istrinya. Ketika lamat-lamat terdengar suara 
lain di balik rintihan senja yang dibilas hujan. Itu bukan suara hujan. Panawa 
memasang telinganya lebih tajam, memastikan. Matanya membelalak. Anak-istri 
semakin kuat dirangkul. Matanya sedang menerawang. Pada suatu peristiwa. Ketika 
hujan angin membawa petaka. Hingga menjadikan hujan sebagai kenangan kelam dari 
sejarah kota Selena...

“... kami adalah pemburu hujan. Kami habiskan waktu hanya untuk mengejar hujan. 
Tak ada saat yang membahagikan selain ketika menari di bawah hujan. Tak ada 
yang lebih sedih selain gagal memenggal hujan... Kami adalah pemburuh hujan. 
Kami...”

Panawa bergidik. Sekarang dia dapat mendengar dengan jelas suara itu. Itu 
sebuah nyanyian. Seperti sebuah himne puji-pujian atau juga lebih mirip 
terdengar sebagai aubade kematian.

Anak-beranak itu semakin panik, menggeram dalam gigil kedinginan. Terpojok di 
sebuah sudut di dalam rumah yang juga dijadikan sebagai tempat usaha Panawa 
berjualan kopi.

Suara nyanyian itu kian jelas. Semakin jelas pula mengingatkan Panawa pada 
kisah Wak Leman, lebih dari delapan bulan silam.

Kala itu, air hujan turun berwarna merah menggenangi aspal jalan sampai semata 
kaki. Di persimpangan jalan, Panawa melihat kejadian itu. Segerombolan orang 
asing dan berjas hujan mengamuk. Suara dentuman senjata api menggantikan sangar 
gelegar petir. Membuncah keheningan malam kota itu.

Persis di depan warung kopi Panawa parkir sebuah truk. Dijaga oleh beberapa 
orang berjas hujan. Seluruh penduduk kota Selena tak ada yang berani keluar 
rumah untuk sekedar mencari tahu. Bagi mereka keluar rumah disaat hari hujan 
adalah hal terbodoh yang orang lakukan.

Maka Panawa hanya berani mengintip dari kisi jendela rumahnya. Memandang ke 
arah tubuh kaku Wak Leman dan santrinya diangkut dan dilempar begitu saja 
seperti sepotong jagung ke atas truk.

***
Derap lars semakin kencang terdengar. Lantai rumah Panawa bergetar ketika 
gerombolan itu datang dan mengetuk pintunya.

***
“Halo... Bung, buka pintu...” teriak seseorang dari pintu. Pintu digedor dengan 
kencang. Di dalam si empunya menggigil ketakutan. Tak mampu bergerak sejengkal 
pun.

“Hei, ada orang tidak! Buka!” teriak seseorang lagi dengan nada memaksa. 
Sementara itu nyanyian semakin kencang terdengar.

“... kami adalah pemburu hujan. Kami habiskan waktu hanya untuk mengejar hujan. 
Tak ada saat yang membahagikan selain ketika menari di bawah hujan. Tak ada 
yang lebih sedih selain gagal memenggal hujan... Kami adalah pemburu hujan. 
Kami...”

Panawa menahan takutnya. Semakin erat dipeluknya anak dan sang istri. Sementara 
di luar rumah gerombolan itu masih terus mengetok-ngetok pintu dan bernyanyi.

Dia memberanikan diri mengintip ke luar. Disibaknya tirai, diintipnya 
gerombolan itu.

Benar saja! Batin Panawa. Dengan bantuan bohlam 15 watt di teras rumahnya, dia 
mampu melihat gerombolan yang berdiri di depan pintu rumahnya.

“Berjas hujan,” Panawa menarik nafas. Lelaki yang tak lagi muda itu pasrah. 
Pasrah pada kenyataan. Pasrah dibawah todongan bedil sang hujan.

“... kami adalah pemburu hujan. Kami habiskan waku hanya untuk mengejar hujan. 
Tak ada saat yang membahagikan selain ketika menari di bawah hujan. Tak ada 
yang lebih sedih selain gagal memenggal hujan... Kami adalah...” tiba-tiba 
nyanyi itu putus di jalan.

Panawa semakin yakin, bahwa hujan kali ini akan membawa dirinya pada sang guru. 
:Wak Leman!

“Ini orang bengak banget, nggak mau uang apa?” tanya seseorang di luar rumah 
kepada temannya. Panawa bingung. Sementara dari luar masih terdengar suara 
nyanyian tentang hujan.

“Berisik! Diam bodoh! Aku butuh kopi! Simpan dulu semangatmu itu!” perintah 
salah seorang dari mereka. Panawa mengintip dari balik jendela. Gerombolan itu 
terdiri dari empat orang. Mengigil kedinginan. Meski wajahnya terlihat lebih 
muda, namun semuanya terlihat pucat dan kuyu.

Panawa merasa iba. Dia sedang berpikir tentang gerombolan itu. Dia berpikir, 
mungkin saja mereka memang orang asing yang singgah untuk segelas kopi. Tapi 
dengan cepat pula dia berubah pikiran. Dengan cepat matanya bergerilya menembus 
hujan. Mengitari jalan-jalan yang gelap dan dipenuhi genangan air. Mencari-cari 
sesuatu. Mungkin gerombolan itu memarkir truknya di suatu tempat. Tempat yang 
tak terlihat. Demikian dia berpikir. Tapi kemudian pikiran itu dikalahkan. 
Wajah-wajah muda gerombolan itu tak seperti wajah-wajah gerombolan yang 
membantai Wak Leman, lebih dari delapan bulan silam.

Dengan kepasrahan dan menyerahkan nasibnya pada Tuhan, akhirnya dia berniat 
untuk membuka pintu. Dia berbisik kepada istrinya untuk membawa anak-anak pergi 
ke kamar.

“Halo, Bung. Bukalah pintunya sebentar,” pinta orang yang lain lagi.

Dengan berani dan siap dengan apa yang terjadi, Panawa membuka pintu. Handle 
berputar, pintu berderit. Dari dalam Pawana muncul.
Gerombolan itu, berempat berdiri menghadap Panawa yang berdiri gamang.
Dengan sigap, Reif si pemimpin kelompok menghampiri Panawa. “Kami mau kopi.” 
katanya singkat.

Panawa mengangguk. Dibimbingnya keempat pemuda itu masuk ke warung kopinya. Bak 
kerbau dicucuk hidung, empat orang itu mengikuti langkah Panawa.

***
Keempat orang itu berwajah dingin. Bukan gigil hujan yang membuat tirus wajah 
mereka menjadi pucat. Panawa risih dengan tatapan mata mereka yang tajam. 
Tatapan dingin. Sama persis dengan wajah mereka yang dingin.

“Jadi bagaimana? Kau puas dengan perburuan kita kali ini?” tanya Reif kepada 
orang di sampingnya.

“Wah, lumayan juga. Untuk sebuah tempat asing dan aneh seperti ini.” jawab 
orang itu sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari peti kecil yang terbuat dari 
logam. Sementara dua orang yang lainnya tengah sibuk membaca kompas dan 
membentangkan peta di atas meja.

Hening sesaat. Dari jas hujan yang mereka kenakan menetes bulir air. Menggenang 
di atas lantai warung kopi Panawa. Sementara di luar sana hujan masih terus 
mengucur dengan deras. Seperti air terjun dalam lukisan yang menempel di 
dinding warung kopi Panawa.

Si empunya tempat mengaduk gula yang diseduh air panas. Tangannya bergetar, 
meski hari dingin, terlintas pula titik air keluar dari pori-pori kulitnya. 
Panawa sedang berdoa dalam hati.

“Aneh, kemana semua orang?” tanya Gobun sambil menggoyang-goyang kompas yang 
ada di tangannya. Panawa diam, pucat wajahnya semakin kelihatan.

“Mungkin semuanya lebih memilih untuk naik ke atas ranjang. Bergumul di balik 
selimut. Dan menciptakan sebuah kehidupan lagi,” sambung Opung sekenanya sambil 
terus mencermati peta kecil di atas meja.
Reif tertawa. Sebarisan gigi kuning menyembul dari tabir bibirnya.

Tapa, lelaki termuda dalam rombongan itu menyalakan rokoknya. Kres! Memancar 
pijar api ke udara.

“Lumayan untuk hari ini, kita berhasil mengejar dan hampir saja memenggalnya,” 
kata lelaki itu sambil mengepulkan asap ke ruangan. Panawa kecut hatinya. 
Pikirannya galau dan teringat pada kejadian delapan bulan silam.

“Hei Pak,” panggil Reif kepada Panawa. “Apa nama tempat ini? Kok sepi betul? 
Seperti kota mati saja.” tanya Reif.

Panawa sedikit lega. Sekarang dia berpikir kalau sekelompok anak muda itu 
hanyalah orang asing yang tersesat dan kedinginan.

“Mau menjawabnya tidak?” sambung Gobun sambil mengeluarkan sesuatu dari balik 
jas hujannya.

“Iya, iya, iya.” Jawab Panawa terbata-bata. Dia menyodorkan gelas-gelas kopi 
yang baru diaduknya kepada anak-anak muda itu.

“Ah... aneh. Tempat ini lebih aneh dari tempat yang pernah kita singgahi. Kau 
merasakannya?” timpal Opung kepada Rief.

“Biasa aja, kau ingat kita bahkan pernah mengalami yang lebih aneh dari ini.” 
Jawab Rief.

“Betul, aku masih ingat ketika jutaan peluru begitu saja meluncur dari langit 
yang hitam.” jawab Opung.

Sampai di situ, Panawa hilang di dalam cerita keempat pemuda asing.

“Bah betul-betul aku suka! Aku suka hujan peluru. Aku bahkan kebagian sebutir 
di keningku.” Tapa mulai ingat pada salah satu hujan yang pernah mereka temukan.

“Sttt...berisik. Habiskan saja kopimu,” perintah Reif pada Tapa. Anak muda itu 
patuh dan langsung menelan kopi sodoran Panawa panas-panas.

“Auw, panas,” gerutunya. Opung dan Gobun tertawa.

***
“Masih sore, kemana semua orang Pak?” Reif melempar tanya kepada Panawa. Panawa 
tersentak. Dia sudah kembali kembali di antara keempat pemuda itu.

“Iya, gimana?” ulangnya kepada Reif

“Saya tanya kemana semua orang? Hujan begini kok memilih ngumpet di rumah?” 
timpal Reif lagi. Panawa cuma cengengesan.

“Eh, Pak,” Gobun angkat suara. Panawa melempar pandang ke arah Gobun. “ada 
kisah menarik apa di kota ini?”

“Hm, ah, apa ya?” Panawa mencoba ramah pada gerombolan asing itu. Matanya 
mengedar ke seluruh ruangan.
“Sejujurnya, masyarakat di sini takut dengan kedatangan, kedatangan hujan...”

Tawa membuncah. Diselingi gemuruh dan rinai hujan. “Eh Pak, kenapa takut sama 
hujan? takutlah hanya pada Tuhan,” kelakar Opung. Panawa terhenyak. Matanya 
berubah merah.

“Ceritakan Pak, lanjutkan,” pinta Reif.

“Suatu senja, hujan turun,” sampai di situ Panawa berhenti. Diam-diam istrinya 
mengintip dari jendela rumah, cemas pada nasib suaminya.

“Tapi kami tidak tahu, tiba-tiba saja mereka mengamuk, menerabas masuk ke 
rumah-rumah warga,” Panawa lemas. Tidak sanggup meneruskan kisahnya. Titik air 
menetes dari sepasang matanya yang berubah saga.

“Siapa?” tannya Gobun

“Mereka, gerombolan berjas hujan itu,” jawab Panawa.

Keempat pemuda itu bingung dengan kisah Panawa. Mereka baru sadar bahwa 
ternyata si penjual kopi ini takut pada kehadiran mereka

“Terus?” Reif memaksa Panawa berbicara. Tiga temannya mendengar dengan serius. 
Panawa agak ragu. Dia diam sejenak, meyakinkan dirinya sendiri, bahwa 
gerombolan yang sekarang di hadapannya ini bukanlah gerombolan yang datang 
delapan bulan lalu.

“Mereka membawanya, semua, bahkan santri yang masih bocah juga.” Suara Panawa 
tercekat ketakutan. Dadanya naik turun, tak kuasa mengisahkan peristiwa delapan 
bulan silam.

“Kenapa?”

“Ntahlah, saya tak ingat, sungguh saya tak ingat lagi,”

“Lanjutkan Pak,” giliran Opung memaksa Panawa.

“Tolong jangan paksa saya untuk mengingatnya. Semuanya sudah berlalu. Kami tak 
mau mengingat lagi,” lanjut Panawa.

“Bagaimana bisa. Buktinya senja ini semua orang menutup pintu rumah. Kau pun 
begitu. Seolah kami ini tamu yang tak diinginkan, seolah hujan ini akan terus 
mengingatkan kalian,” kata Tapa ketus. Reif berdehem. Tapa bungkam.

“Ampun Pak, sungguh, saya tak ingat apa-apa, kecuali hujan. Hujan berwarna 
merah,” Panawa tak bisa lagi membendung ketakutannya. Dengan suara bergetar dia 
meneruskan kisahnya..

“Hujan, dan air yang menggenang di jalanan. Semata kaki. Merah, merah, marah,”

“Ngomong apa sih? Yang jelas dong!” Gobun mulai tak sabar.

“Dari langit hujan turun. Airnya menggenang berwarna merah. Merah di mana-mana. 
Merah di atap rumah, merah di lampu jalan, merah di jas hujan...” lanjt Panawa.

“Ah, stop!” Gobun emosi. “Bullshit!” makinya

“Bun, tenang!” bentak Reif.

“Merah? Maksudmu apa Pak? Kau mau bilang kalau hujan kala itu adalah hujan 
darah?” potong Tapa.

Panawa tertunduk.

“Great! Ini baru betul.” kata Opung. “bayangkan, hujan darah! Hujan darah 
kawan-kawan!”

Panawa mengangkat kepalanya. Matanya terbelalak. Bibirnya mengatup rapat. Dia 
menggigil.

“Kita sudah lalui berbagai perburuan. Mulai dari hujan salju, hujan debu, hujan 
batu sampai hujan peluru. Kita lalui itu. Tapi ini...” sambung Opung.

“Ah, kita sudah merasakannya,” potong Gobun.

“Tidak, kita melewatkannya. Apa yang kita dapatkan di Santa Cruze kala itu 
adalah jejaknya! Bukan peristiwanya!”

“Ah, omong kosong! Kau tak ingat, bahkan sirop yang kau minum ketika itu adalah 
darah peziarah!”

“Ah, salah sendiri, aku lihat aspal itu merah seperti darah (1), tapi kata Bapa 
itu sirop , jadi kupikir sirop yang ada di gelasku lah yang tumpah membasahi 
aspal.” timpal Gobun

“Betul, aku ingat. Ketika itu darah setinggi mata kaki menggenang di antara 
nisan-nisan” sambung Tapa bersemangat. “Tapi kita melewatinya! Kita tak berada 
di sana ketika hujan itu singgah! Dan sekarang?”

“Cukup!” bentak Reif. Panawa menggigil ketakutan, dia tak mengerti perbincangan 
mereka. Baginya sekarang semua jadi tak berarti lagi.

“Kemana mereka berlalu?” tanya Reif pada Panawa.

Panawa diam. Lantas dengan lesu mengangkat jari telunjuknya. Menunjuk ke arah 
bukit.

“Oke, baik kawan-kawan. Siapkan perlengkapan kalian. Senja ini akan menjadi 
perburuan kita yang paling agung” tegas Reif kepada tiga temannya.

Dengan segera, gerombolan itu bersiap siaga. Reif membayar empat gelas kopi 
yang dipesannya.

“Tapi kalian mau apa?” tanya Panawa sambil menerima uang dari Reif.

“Tenang saja Pak!” papar Reif. Senyum menyembul keluar dari bibirnya yang tebal.

“Kami mau lanjutkan perjalanan!” kata Gobun.

“Mengejar hujan darah itu, lantas memenggalnya sampai hancur berkeping-keping,” 
kata Gobun bersemangat.

“Tapi dia begitu kuat!” Panawa memperingatkan.

“Suatu hari kota ini akan berhenti membenci hujan.” Timpal Reif lagi sambil 
berlalu. Diikuti tiga temannya.

“Thanks Sir, kopinya terlalu manis. Lain kali kita singgah, kau kurangi takaran 
gula di gelasku,” tutup Tapa. Disibaknya jas hujannya, menerobos senja yang 
lambat merambat gulita.

***
Panawa berdiri kaku. Di warung kopinya itu dia masih terus mengawasi langkah 
keempat pemuda itu yang dengan gagah membelah dinginnya hujan.

Sementara dari dalam rumah terdengar bunyi pintu berderit. Saodah istrinya 
muncul di depannya, membuyarkan pandangan Panawa.

“Siapa Pak?” tanya Saodah

“Entahlah, cuma sekelompok anak muda yang tersesat di dalam mimpi ganja-nya” 
katanya mencoba menenangkan dirinya dan hati Saodah.

Mereka beranjak. Menutup warungnya dengan segera. Sebab di luar sana hujan 
masih turun membalas dendam.

“... kami adalah pemburu hujan. Kami habiskan waktu hanya untuk mengejar hujan. 
Tak ada saat yang membahagikan selain ketika menari di bawah hujan. Tak ada 
yang lebih sedih selain gagal memenggal hujan... Kami adalah pemburuh hujan. 
Kami...”

Lamat-lamat Panawa masih mendengar suara gerombolan pemuda itu di balik hujan. 

Sesungguhnya jauh di dalam hati, Panawa berharap banyak dengan apa yang telah 
dikatakan Reif kepadanya.

“Semoga Tuhan melindungi perburuan kalian,” bisiknya dalam hati.

Palmerah, 26/11/2006



Catatan: (1) Petikan puisi Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Santa Cruze

Santa Cruze

Aspal itu merah, seperti darah
“itu sirop” kata Bapak
Tapi ibu mencariku dengan gelisah
Aku tak tahu, di mana diriku tertembak
5 Januari 1992 

       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

Kirim email ke