Ketika Nenek Datang Berkunjung

Neneknya akan datang berkunjung nanti malam. Kabarnya
itu disampaikan ibunya minggu lalu. Andi baru saja
pulang kuliah malam itu. Tas punggungnya terlihat
menggelembung karena disimpannya jaket almamater di
dalamnya beserta kotak makan siangnya dan buku-buku
tebal. Neneknya berencana akan naik kereta dan tidak
perlu dijemput di stasiun. Biasanya dia datang bersama
suaminya. Tapi sejak suaminya meninggal tiga tahun
lalu, dia selalu datang sendiri. Pertama kali datang
tiga tahun lalu sejak kematian suaminya dia
mengejutkan semua orang di rumah. Dia sengaja tidak
memberitahu perihal kedatangannya karena tidak mau
merepotkan orang lain. Dan lagipula dia bisa
melakukannya sendiri seperti yang dilakukannya ketika
masih muda dulu. Jangan menganggap remeh orang tua dan
jangan terlalu mengkhawatirkannya karena itu akan
membuatnya sedih, demikan dia berkata pada mereka. 

Andi menaruh tasnya di kursi makan. Sudah sejak pagi
dia pergi ke kampusnya tapi dia tidak kelihatan lelah
hanya saja perutnya lapar. Dia mencari-cari makanan
yang bisa langsung dimakannya di lemari makan sebelum
makan malam. 

“Nenek datang sendiri lagi?” tanyanya, dia menemukan
tempe goreng

“Katanya sama Hani” kata ibunya, membuatkan teh manis
hangat untuknya. 

Mereka datang ketika semua orang dalam rumahnya sedang
tertidur. Ibunya yang pertama kali bangun dan
menyambutnya. Ayahnya menyusul tidak lama setelah itu.
Sebenarnya sebentar kemudian dirinya ikut terbangun.
Dia mendengar percakapan dalam bahasa Jawa, lalu
mengenali suara sepupunya, Hani. Tapi dia memejamkan
matanya kembali dan tidak ingin terlalu dini menyapa
mereka. Keesokan paginya dia juga tidak perlu bertemu
mereka karena harus pergi kuliah pagi-pagi benar. Dia
melangkah melewati ruang tengah yang dijadikan ruang
tidur untuk neneknya, sepupunya dan seorang anak kecil
yang tidur di sampingnya. Kasur lipat itu tidak cukup
buat mereka bertiga, neneknya tidur di kursi panjang.
Pagi itu baru dia dan Ibunya yang terlihat sibuk
sementara ayahnya sedang mandi. 

“Siapa nama anaknya mbak Hani, bu?” tanyanya. Dia
tidak pernah tahu kapan Hani melahirkan. Dia juga
tidak datang ke pernikahan Hani. 

“Alif” ibunya menjawab

Dia menghabiskan sarapannya yang sedikit dan
menyisakan sedikit kopinya. Ibunya yang membuatkannya
kopi. Dia sering minum kopi semenjak mulai kuliah. 

“Andi berangkat dulu, bu” dia pamit pada ibunya,
mencium tangannya dan mengucap salam. 

Pukul 9.12 malam ketika dia pulang kuliah. Hani sedang
menonton TV, anaknya masih bermain di lantai di
hadapannya, menghamparkan mainan. Sewaktu mereka kecil
dulu, di rumah ini, mereka sering nonton TV bersama.
TV-nya masih hitam putih dan hanya ada satu stasiun
TV. Di Malang tidak ada TV. Jadi, ketika
kakek-neneknya mengajaknya berkunjung ke rumahnya,
bukan main senangnya hati si Hani. Biasanya sebelum
datang, mereka mengabarkannya melalui surat dan surat
itu diterima dua minggu sebelum kedatangan mereka.
Andi menyiapkan semua mainannya dan buku-bukunya, lalu
dia akan meminta Hani untuk mengajarkannya pelajaran
di sekolah.   

“Baru pulang, Di?” sapa Hani. Kali ini dia melihat
lebih lama sepupunya itu, memerhatikan
perubahan-perubahannya. Andi yang dulu diajarinya
bermacam pelajaran sudah dewasa sekarang dan tampan.
 
“Iya, mbak” jawab Andi dengan senyum tipis. Sebenarnya
dia sedikit canggung. Memanggil Hani dengan mbak
menurutnya sudah tidak pantas. Mereka sudah sama-sama
dewasa. Tapi ini tradisi keluarga dan lagipula toh
Hani tidak tinggal di Jakarta. 

Dia menunggunya mengatakan sesuatu. Tapi Hani tidak
berkata lagi. Dia pamit sebentar ke kamarnya untuk
mengganti kemejanya dengan kaos oblong. Tidak lama
kemudian dia kembali dan duduk di kursi ikut nonton
TV. Ayah dan ibunya bercakap dengan neneknya di ruang
tamu.
 
“Sudah makan, Di? Aku bantu bulek masak ikan pedas,
lho” 

“Belum, mbak. Nanti aja abis mandi” jawabnya. Dia
melihat Alif yang sedang asyik bermain, lalu berkata:
“Alif sudah besar, ya?” 

Alif terlihat kurus. Sesekali anak itu memanggil
ibunya untuk memperlihatkan salah satu mainannya.

“Iya. Kapan main lagi ke Malang? Teman-teman di sana
titip salam”

Andi tidak langsung menjawab, dia memerhatikan TV
sebentar, pura-pura serius pada News Ticker berjalan.
Dia tidak ingin memastikan kapan akan pergi ke Malang.
 
“Salam balik ya, mbak. Mungkin kapan-kapan aku ke
sana”
Mereka sama-sama menonton TV. Tidak ada pembicaraan
serius, hanya tanya jawab tentang perjalanan Hani ke
Jakarta dan bicara seputar acara TV. 

Besok hari minggu dan dia tidak ada acara pergi
keluar. Sebagai penggantinya biasanya dia menghabiskan
waktu untuk beristirahat dan membaca buku. Tapi
neneknya, Hani dan anaknya ada di rumahnya. Sepanjang
hari esok dia akan berada bersama mereka. Dia bukan
lagi anak-anak yang kegirangan menyambut neneknya dan
mengajak bermain saudara sepupunya. Menghadapi Hani
tidak seperti menghadapi saudara-saudara sepupunya
yang lain. Hani boleh jadi sangat spesial baginya.
Tapi itu dulu sebelum Hani menikah. 

Dia tidak ingat kapan pertama kali mengenal Hani.
Mungkin Hani yang mengenalnya lebih dulu karena Hani
tiga tahun lebih tua darinya. Tapi dia masih ingat
betul waktu-waktu mereka bersama hingga terakhir kali
bertemu di Malang. Hani mengajarinya pelajaran sekolah
dan juga bercerita tentang dongeng Jawa. Di
waktu-waktu tertentu Hani menulis surat padanya dengan
tulisan yang indah. Tidak pernah ada seseorang yang
menulis indah selain tulisan Hani, pikirnya. Dia
menyimpan surat-surat Hani di dalam sebuah kotak yang
tidak mungkin ditemukan orang tuanya atau siapa pun. 
Tapi kini, surat-surat itu sudah dibuangnya. 

Jam 1.30 ketika dia mendengar Alif menangis. Kemudian
terdengar suara Hani mendiamkan Alif. Dia memerhatikan
lekat-lekat ketika suara itu berubah menjadi nyanyian.
Nyanyian yang lembut dan membuat Alif tertidur
kembali. 
Kehidupan Hani, seperti yang diceritakan ibunya penuh
dengan kerja keras. Ayah Hani meninggalkannya ketika
dia masih bayi dan ibunya meninggal ketika dia berumur
enam tahun. Sejak saat itu dia dirawat oleh
kakek-neneknya. Kakeknya seorang pedagang yang cukup
sukses sedangkan kehidupan Hani bisa dibilang
berkecukupan untuk seorang cucu yang tinggal bersama
kakek-neneknya. Tapi sejak kakeknya meninggal,
perlahan neneknya mulai tidak sanggup mengurus
dagangannya, terlebih lagi dia terlalu banyak hutang.
Namun orang tua Andi tidak pernah tahu kehidupan
mereka setelah itu. Hani pernah mendapatkan nasihat
dari neneknya agar jangan pernah membuat orang lain
susah. Dan kemudian mereka sepakat untuk memulai
sebuah usaha baru, yaitu berjualan kue-kue. Usaha itu
memang belum mencukupi kebutuhan mereka meski bisa
sangat membantu. Dan karena itu Hani diminta untuk
menikah segera. Pilihan calon suaminya jatuh pada
seorang duda tetangga mereka. Hani tidak
mempermasalahkan itu, dia hanya ingin meringankan
beban neneknya. Pernikahannya sendiri berlangsung
sederhana di rumah mempelai pria karena rumah nenek
terlalu kecil. Andi yang pada waktu itu masih duduk di
kelas 1 SMP tidak mengatakan apa-apa ketika ibunya
menyampaikan kabar itu. Meski Hani membuat undangan
terpisah untuknya tapi dia tidak pernah membacanya.
Cukup kabar dari ibunya dan seketika dia tidak berniat
sedikit pun untuk pergi ke Malang. 

Malam itu memang terasa lebih panjang, Andi berharap
malam tidak akan berakhir. Tapi di pagi harinya
suara-suara kesibukan lebih dulu ada ketimbang dirinya
yang masih melamun di ranjang. Ibunya beberapa kali
membangunkannya.

Dia berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah berat
dan melihat Hani sedang memakaikan pakaian pada Alif.
Hani melihatnya sebentar dan tersenyum menyapanya.
Alif sepertinya tidak mau diam. Tapi Hani berusaha
telaten menjaga anak semata wayangnya. Disisirnya
rambut Alif, dibedakinya dan dipakaikannya sepatu.
Anak itu dibuat setampan mungkin. Mereka akan
jalan-jalan pagi ini berkeliling di stadion. Ibu Andi
bilang banyak yang bisa dilihat di sana. Banyak yang
dagang, ramai orang-orang dan ada juga permainan buat
anak-anak. 

“Nanti biar Andi yang nemani kamu” kata ibu Andi

Hani mengenakan baju berwarna krem dengan
kembang-kembang berwarna-warni dengan tali di
pinggangnya. Rambutnya yang sebahu bergelombang dan
dibiarkan bergerai. Bau wanginya berasal dari bedak.
Andi mungkin agak sungkan jalan-jalan dengannya. Jika
bukan saudaranya, mungkin dia akan menyuruhnya
mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana jeans. Dia
sendiri mengenakan celana pedek hitam dengan kaos
putih dan memakai topi hitam kesayangannya. 

Letak stadion sekitar tiga ratus meter dari rumahnya.
Puluhan sepeda motor di sepanjang jalan hingga ke
dalam stadion bercampur dengan orang-orang yang
berjalan kaki, menambah sesak tempat-tempat yang
seharusnya untuk berolah raga. Anak-anak muda berjalan
bergerombol, kebanyakan sepasang kekasih. Mereka yang
datang bersama keluarga sangat menikmati jalan-jalan
pagi. Maklum saja di hari-hari kerja biasanya keluarga
mereka tidak pernah utuh kecuali di malam hari. 

Hani menggandeng Alif yang terlihat kegirangan. Alif
berpakaian sangat rapih dengan kemeja yang dimasukkan
kedalam celana pendek hitamnya, dan memakai kaus kaki
merah dan sepatu hitam. Tangan kanannya menarik baju
ibunya sedang tangan lainnya menunjuk-nunjuk mainan
yang dijajakan di pinggir jalan. Dia membawa ibunya ke
salah seorang pedagang mainan. Pedagang itu
menunjukkan mainan yang kelihatannya paling mahal pada
Alif. Alif menunjuk-nunjuk, meminta ibunya untuk
membelinya. 

“Aduh, Lif. Ibu nggak ada uang” Hani berkata, badannya
ditundukkan hingga kepalanya sejajar dengan kepala
Alif, tangannya mengusap kepalanya. 

Alif tidak perlu meminta paksa seperti anak lainnya.
Dia anak penurut. Tadi dia berharap siapa tahu ibunya
sedang ada uang, atau setidaknya Andi yang
membelikannya.

“Dulu nggak serame ini. Aku dulu biasa lari di minggu
pagi” Andi berkata “Ya .. baru dua tahun terakhir.
Awalnya sih cuma beberapa tukang dagang. Eh, nggak
taunya jadi banyak. Malahan yang olah raganya yang
jadi sedikit.”

Hani tidak berkata, dia memerhatikan ucapan Andi dan
mengangguk mengerti. 

Suara-suara pedagang berteriak-teriak merebut
perhatian orang-orang. Ada yang menggunakan tape
karena tidak mau capek-capek teriak. Beberapa dagangan
yang menarik perhatian orang-orang seperti pakaian
wanita menjual dengan harga sangat murah, tidak
terkecuali Hani. Dia berjalan mendekatinya. Dia
memegangnya satu per satu seperti akan memegang
semuanya, lalu melihat jahitannya pada baju yang
menurutnya paling bagus, lalu menggantungnya kembali
setelah pedagang menyebut harganya. Si pedagang terus
mencoba merayunya. Dimana-mana pedagang selalu berkata
bagus, kualitas ekspor, bergaransi dan lain
sebagainya. 

Di tempat lain piring-piring, gelas-gelas, ember dan
peralatan plastik impor dari Cina ditawarkan dengan
harga yang jauh lebih murah. Sepuluh ribu untuk tiga
barang, dijamin anti pecah dan tahan lama. Di Malang
belum ada yang menjual semurah itu. Hani mencari tahu
seberapa bagus barang yang dijual. Sementara Hani
memilih-milih, Andi dengan canggung menjaga Alif. Anak
itu terpaku pada mainan-mainan dan balon-balon. Andi
membelikannya sebuah balon untuknya. Alif merasa
bangga dengan balon hijaunya dengan tali yang panjang.


“Terima kasih, Di” ucap Hani, tangannya sedang
memegang dua piring plastik. Alif menunjukkan balon
itu pada ibunya. “Menurut kamu mana yang paling bagus,
Di?”
Andi bisa saja menjawabnya dengan: ‘terserah, mbak’
atau ‘semuanya bagus’. Tapi dia sadar jawaban itu
bukan sekedar jawaban untuk memilih. Dia ingin
terlibat dengan apa yang dibeli Hani. Perempuan itu
meski tidak secantik teman-teman kampusnya pantas
mendapat perhatian yang antusias darinya. 

“Ambil yang warna biru, yang ada gambar kartunnya. Itu
untuk Alif. Kalo buat mbak yang banyak bunganya aja.”
Andi berkata. Dia merogoh sakunya mendahului Hani yang
akan mengeluarkan uang dari dompetnya. “Biar aku yang
bayar, mbak.” Gerakannya spontan seperti ingin
menunjukkan bahwa orang Jakarta yang menjadi bosnya.
 
Hani menatapnya sebentar, lalu tersenyum tapi dia
tidak mengucapkan terima kasih. 

Andi berdiri terpaku dalam renungan yang dalam.
Tatapan Hani tadi membuatnya berpikir bahwa ada
hari-hari hilang yang harus dibayarnya. Kebersamaannya
kali ini mungkin belum bisa membayarnya. Hari-hari itu
seharusnya diisi bersama teman-teman lainnya di Malang
atau dengan pergi belanja bersama Hani ke pasar,
bermain di lapangan, belajar bersama, menulis surat
dan bercerita. Tapi dia tidak akan membicarakan
saat-saat mereka bersama karena masa lalu itu
miliknya. Antara Malang dan Jakarta terpaut jarak yang
cukup jauh. Neneknya, Hani dan anaknya pasti lelah.
Barangkali rasa lelah itulah yang coba dia ganti
dengan kenangan yang menyenangkan di rumahnya.

Matahari semakin bersinar, orang-orang semakin ramai,
motor dan mobil dalam antrian pejalan kaki,
pedagang-pedagang semakin bersemangat. Alif memainkan
balonnya seperti memainkan layangan, si pedagang
membungkus piring-piring dengan plastik dan
memberikannya pada Hani. Kemudian mereka berjalan
mengelilingi stadion, berhenti di tempat yang banyak
di kerumuni orang-orang, menyaksikan pertunjukkan
debus di lapangan. Mereka menyantap soto Malang. Hanya
mereka pembelinya di tempat itu. Hani berkata ini
bukan benar-benar soto asli Malang. Lihat saja si
penjualnya orang Sunda. Rasanya juga benar-benar beda.


Andi memandang Hani sambil mengingat kembali ketika
Hani memilih pakaian dan piring-piring beberapa saat
lalu. Dulu dia mengagumi kepintaran Hani. Sering
ibunya menyebut Hani agar dia meniru kepintarannya.
Dan Hani sangat suka membaca. Mungkin karena Hani pula
kegemaran membaca tertular padanya. Dulu dia
mencintainya. Namun waktu itu dia menyembunyikannya
hingga tak seorang pun boleh tahu. Bahkan Hani
sekalipun. Mungkin dia hanya seorang anak kecil. Tapi
kini perasaan cinta yang datang kembali terasa
berbeda. Dia tersenyum. Senyumnya sengaja di tutupi
jemari tangannya agar Hani tidak tahu dia tersenyum,
agar Hani tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat
ini ketika dia membayangkan mereka seperti halnya
sebuah keluarga; seorang ayah, seorang ibu dan seorang
anak. Ya, terkadang hidup ini lucu, tapi orang-orang
tidak pernah menertawakannya. 

Andi membayar sotonya. Hani bercerita tentang makanan
di Malang dan mengenang kembali ketika mereka makan di
sebuah warung soto yang jauh dari rumah sehingga
membuat kakek dan nenek mereka khawatir setengah mati.
Sebelumnya mereka hanya mendengar betapa nikmatnya
soto itu dari orang-orang. Mereka sama-sama
mengumpulkan uang dan kemudian bersama-sama menikmati
soto itu. 

Andi mengangkat Alif tinggi-tinggi dan mendudukkannya
di bahunya. Alif dapat melihat keramaian orang-orang
dari atas. Dipegangnya tali balon. Balonnya melayang
lebih tinggi dari balon-balon milik anak-anak lainnya.
Dia tertawa kegirangan, memanggil-manggil ibunya dan
mengatakan dalam bahasa Jawa bahwa dia ingin tinggal
di sini. 

Ali Reza
dufx.multiply.com





       
____________________________________________________________________________________
Choose the right car based on your needs.  Check out Yahoo! Autos new Car 
Finder tool.
http://autos.yahoo.com/carfinder/

Kirim email ke