Sumber: Situs Berita Rakyat Merdeka 
http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=rumah_kaca

RUMAH KACA
ranah sastra merdeka

Senin, 03 September 2007, 00:01:20 WIB

Guadalupe

Oleh:Hujan

Guadalupe adalah pohon terakhir yang hidup di hutan kami. Iya, yang terakhir. 
Betul-betul yang terakhir!. Memang, sejak datangnya agama baru di kampung kami, 
satu persatu warga tak lagi datang ke tengah hutan untuk menghampiri dan 
membersihkannya. Tak ada sesaji lagi, buah dan sagu yang bertengger setiap pagi 
di bawah dahan rindangnya pun sama.

Sebab dalam dongeng yang dikisahkan oleh pembawa agama baru itu, pohon-pohon 
besar yang ada di tengah hutan itu hanyalah pohon yang berusia ratusan tahun. 
Sama-sama mahluk tuhan. Bahkan kabarnya suka dihuni oleh setan, wewe gombel, 
jin ifrit, hantu hutan, dan segala jenis jembalang. Itu kata mereka. Maka itu 
lah akhirnya lambat laun warga jarang mendatangi pohon-pohon di tengah hutan 
lebat, di belakang kampung kami.

“Pohon-pohon itu diciptakan untuk menopang kehidupan manusia di dunia. Daun dan 
ranting bisa diambil. Pendek kata dari akar sampai pucuk ada gunanya,” kata 
pemuka agama baru yang dari hari kehari semakin banyak pengikutnya.

Awalnya hanyak belukar yang tumbuh di sekitar pohon-pohon besar di tengah hutan 
itu. Namun pada akhirnya, ada juga satu dua penduduk yang berani menebang 
pohon-pohon yang sudah berusia ratusan tahun itu. Satu pohon dua pohon, 
lama-lama se hektar sudah pohon-pohon yang dulu dikeramatkan itu ditebang. 
Habis, gundul, botak. Seperti kepala cukong yang suatu hari datang ke kampung 
kami sambil menawarkan kepada orang-orang desa pekerjaan baru; merambah dan 
membuka lahan!

“Saya mohon bantuan dari warga desa sini untuk membantu saya membuka lahan baru 
untuk hunian para transmigran saudara-saudara kita dari pulau Jawa.” kata 
cukong gendut itu sambil mengelus-elus kepalanya yang botak.

Maka sejak itu, penduduk berlomba-lomba merayap di tengah hutan lebat. Berburu 
pohon-pohon yang dulu mereka sembah, dan mereka yakini sebagai yang mengatur 
kehidupan di dunia. Dengan alat yang paling tradisional sampai alat canggih 
yang didatangkan dari ibu kota Jakarta. Dengan berbagai merek teknologi dari 
luar negeri.
***

Hujan mulai reda. Tetes-tetes air menyusup di antara dedaunan rimbun Guadalupe. 
Pohon itu masih tetap berdiri tegar. Masih setegar dahulu, ketika dongeng 
Baratayudha dikisahkan para pandita. Masih tetap kokoh, sekokoh dahulu, ketika 
udara nusa ini dipenuhi asap mesiu pertempuran Anusapati atau Antasari. Masih 
gagah, segagah dahulu ketika hawa panas revolusi benar-benar membakar semuanya. 
Membakar semua bentuk imperialisme di dunia. Masih kuat, sekuat dahulu, ketika 
menjadi saksi bisu dari kisah-kisah gerilyawan yang masuk keluar hutan, 
merampok dan menghabisi logistik lawan. Guadalupe. Guadalupe.

Guadalupe masih angkuh menantang angin yang masih bertiup dengan kencang. 
Geledek dan guntur masih membahana di atas langit hutan dan kampung kami. Masih 
lantang menyanyikan kekalahan Guadalupe yang sudah di depan mata.

“Guadalupe pasti tumbang, tapi entah kapan. Guadalupe adalah yang terakhir 
tumbuh di atas bumi.”

“Ini dia, tinggal satu-satunya yang masih tegak berdiri,” Syawal berbisik. 
Matanya merah. Sudah semalaman kami berjalan menembus hutan. Hanya untuk sampai 
di pohon terakhir.

Aku menghela nafas, keringat masih bercucuran. Kusandarkan singsaw di batang 
pohon besar, yang sekarang sudah ada di depan mataku. Benar-benar besar. Aku 
tengadah ke pucuknya, tinggi sekali. Aku mengira, kalau ketinggiannya sanggup 
menembus kulit langit.
“Jam berapa?” tanyaku.

“Dua jam dari sekarang,” jawab Syawal sambil membuka botol vodka. Temanku itu 
menenggak bagiannya lantas mengirimkan botol setengah kosong itu padaku.
“Lumayan hangat, jari kakiku tadinya nyaris tak bisa digerakkan,” katanya lagi 
sambil meminta botol yang baru saja kutenggak isinya.

Aku diam, Syawal juga terdiam. Yang terdengar hanya suara tetes hujan yang 
satu-satu masih jatuh menimpa dahan. Suara jangkrik perlahan muncul dari balik 
kesuraman hutan yang sudah meranggas ini hingga membuat semuanya tak lagi 
benar-benar sunyi.

“Kau takut?” tanya Syawal kepadaku. Aku menggeleng sambil menelan ludah.

“Lima belas tahun yang lalu aku masih suka ke sini. Membawa sagu, buah, kembang 
dan kemenyan,” ceritanya. Aku menghampiri Syawal, maklumlah sebelum kenal 
agama, dia ini memang pernah menjadi pemuja pohon dan jembalang hutan.

“Bersama ayahku, kami keluar masuk hutan untuk berburu babi, makanya kami 
singgah di sini.” kata dia. Aku mendengar dan mencoba masuk ke dalam suasana.
“Suatu hari, kami mengalami kesialan. Sudah dua hari berburu babi, tapi tak ada 
satu ekor pun yang kena. Lalu, ayahku mengambil sedikit bekal kami, dan 
menyuguhkannya di bawah pohon ini. Lalu berdoa,” kata Syawal sambil menirukan 
orang berdoa, dengan menyembah-nyembah pohon besar yang ada di depan kami. 
“Percaya atau tidak, tak lama ayahku berdoa, seekor babi tiba-tiba muncul di 
depan situ,” kata dia sambil menunjukan sebuah tempat.

Mata Syawal berbinar, aku rasa dia puas mengisahkan pengalamannya itu kepadaku. 
Sambil setengah tertawa dia meneruskan kisahnya, “Sekarang semuanya berubah. 
Aku percaya tak ada sesuatu yang akan terus bertahan. Cepat atau lambat. Hanya 
persoalan waktu.” kata dia.

Aku masih menggigil kedinginan. Keringat dan air hujan bercampur. Entah menjadi 
apa. Badanku serasa mau rubuh saja. Tapi tak mungkin, sebab beberapa waktu lagi 
babak penghabisan dari sebuah kisah akan berakhir. Dan itu artinya akan dimulai 
lagi kisah yang baru. Yang akan menjadi dongeng, atau legenda kemudian hari. 
Siapa tahu.

Aku sudah terlalu banyak mendengar kisah keangkeran tempat ini, kesucian dan 
kesakralan pohon besar yang konon menurut ceritanya adalah jembatan penghubung 
antara dunia manusia dan dunia dewata. Menurut ayahku, tak ada wewe gombel yang 
mendiami pohon ini. Yang ada adalah dewa kesuburan, yang membagikan rejeki 
kepada siapa saja yang datang kepadanya. Tetapi oleh karena kesetiannya pada 
dongeng kesucian Guadalupe, aku bersedih. Sebab ayahku mati dalam keyakinannya, 
yang menurutku adalah keyakinan yang palsu.

Entahlah, mungkin saja ayahku benar. Mungkin aku yang salah. Atau mungkin saja, 
nantinya, dari surga yang berbeda, kami akan saling menyapa. Mungkin saja. Toh 
semua ajaran menjanjikan mimpi yang semu. SURGA! Sebuah tempat yang antara ada 
dan tiada. Tapi bagiku inilah surga; hutan lebat lima tahun yang lalu, suara 
suara hewan liar gentayangan. Ini surga yang nyata, yang menjanjikan 
pemandangan paling eksotik di depan mata. Hijau, jingga, merah nyala. Bagiku 
inilah warna surga sebenar-benarnya.
***

“Dilarang berpikiran kotor di tempat ini” kata Syawal membuyarkan lamunanku.
“Kenapa? Kau masih percaya saja dengan dongeng,” kataku sambil merampas botol 
vodka yang ada di tangannya. Syawal tersenyum

“Aku masih percaya. Tapi ini tak ada urusan dengan keyakinanku yang sekarang,” 
kata dia berdialektika. Aku mesem saja menahan panas kerongkongan dari tegukan 
kadar 76 persen alkohol yang diberikan cukong berkepala botak kepada kami.

“Mabuk kau,” kataku memaki Syawal. Dia terkekeh. Membuat bulu kudukku berdiri.
“Kau yang mabuk,” katanya. “Kau tak tahu apa-apa soal pohon ini,” kata dia 
dengan wajah tegang. Aku menggigil. Tapi bukan gigil kedinginan.
***

Angin membawa bau hutan tropis masuk menusuk hidungku. Perlahan efek dari 
alkohol itu terasa juga. Aku mulai menggerakkan kakiku. Jantungku semakin 
berdegup kencang memompa darah. Keringat sebesar jagung mengusir air hujan di 
bajuku. Tapi Guadalupe, aku masih tak bisa merasakan Guadalupe. Aku masih tak 
bisa kenali pohon yang membuatku hidup sampai sekarang. Guadalupe!
***

“Ini, ada sagu, dan buah,” kata ayah kepada ibu, lima belas tahun yang lalu.
“Darimana Yah,” tanya mendiang ibuku. Ayah diam. Ibu terus mendesak.
‘Ayah mencuri dari Guadalupe lagi ‘kan?” serang ibu. Aku diam, terkapar pasrah 
kesakitan. Sebulan sudah aku kekurangan gizi. Terbaring di dipan bambu lapuk. 
Menahan lapar dan sakit aneh.
“Ah, sudahlah, yang penting anak kita makan,” kata ayah.
“Tidak, ini haram. Menurut agama, ini haram, apalagi dicuri dari sesaji, 
haramnya jadi dua kali.” kata ibuku yang waktu itu telah memeluk agama.

Mereka bertengkar sepanjang malam, hanya gara-gara sagu dan buah dari 
Guadalupe. Semakin lengkaplah kesengsaraanku. Ketika ibu menangis dan ayah 
membanting semua sagu dan buah ke tanah. Aku menangis. Lantas menyudahi 
perdebatan mereka tentang sagu dan buah dari bawah Guadalupe.

Dengan sisa tenaga, aku santap habis sagu dan buah yang dibawa ayah. Dari depan 
pintu aku lihat ayahku menitiskan air mata memandangiku. Dan ibuku terduduk 
lesu dengan seribu argumennya yang tak mempan olehku.
***

“Jan, kau tahu, agaknya dahulu Guadalupe selalu senang dengan persembahan dan 
sesaji dari ayahku,” kata Syawal lagi-lagi menyoyak ingatanku.
“Buktinya, setiap keesokan harinya ayahku datang untuk memberikan sesaji yang 
baru, sesajinya yang kemarin sudah habis. Begitulah, ayahku merasa 
peruntungannya semakin hari semakin baik setelah jin penunggu pohon ini melahap 
habis sesajinya.” kata Syawal.
“Tapi aku bersyukur, kebodohan ayahku tak berlangsung lama. Akhirnya dia 
memakai pikirannya untuk memeluk agama,” kata Syawal membanggakan ayahnya yang 
sudah mati dalam keadaan beragama.

Aku ingat ayahku. Mataku berkaca-kaca. Boleh jadi sagu dan buah yang selalu 
dibawa ayah adalah sesaji dari ayah si Syawal. Bodoh betul kalau begitu ayah si 
Syawal. Bahkan sampai mati dia tak tahu kalau sesajinya tak pernah dimakan oleh 
Guadalupe. Huh, konyol!

Aku pernah berpikir, betapa konyolnya orang-orang seperti kami. Dimelekkan oleh 
ajaran baru, tapi harus kehilangan pohon yang jumlahnya beribu. Dan sekarang 
tinggal satu. Itu pun siap ditebang. Oleh tangan-tangan orang sepertiku. Huh, 
betul-betull konyol! Aku muak melihat si Syawal, melihat ayahnya, melihat 
ayahku. Bahkan aku sudah muak pula melihat diriku, yang beragama hanya karena 
takut kelaparan. Sambal goreng!
***

“Ya, hitung-hitung kita beramal. Memberikan saudara-saudara kita dari pulau 
Jawa tempat tinggal. Dengan membuka hutan bagi mereka. Kita telah memesan 
sebuah tempat di surga,” demikian kata pemuka agama ketika memberikan sambutan 
pada acara penebangan pohon pertama. Sementara di samping orang itu, cukong 
berkepala botak tersipu-sipu malu. Sungguh merendahkanku, merendahkan nenek 
moyangku!
***

Dua jam berlalu dengan cepat. Sementara belum selesai lagi ziarah sejarahku, 
rombongan cukong berkepala botak telah tiba dengan alat canggih dan lebih 
mutakhir.

“Ini dia pohon terakhir.” seru Syawal bersemangat sambil bangkit dari duduknya. 
Aku pun bangkit sambil menepis kotoran yang lengket di celanaku.

“Wah, mantap. Tentu berharga sekali,” bisik si cukong botak sambil 
memerintahkan anak buahnya yang lain untuk mengukur dan mengikat batang 
Guadalupe. “Pakai rantai yang paling besar. Singsaw kecil tak sanggup 
menebasnya,” perintah dia kepada seorang pemuda yang berasal dari kampungku. 
Aku minggir dan mengambil singsaw yang semalaman kupanggul dari kampung. 
Sekarang beban itu tak ada artinya. Percuma membawa jauh-jauh. Cukong botak 
punya singsaw lebih canggih.

Untuk terakhir kalinya aku mamandang kepada Guadalupe. Aku mencoba mengingat 
pada sejarahku. Aku berusaha keras senafas dengan pohon tertua yang tersisa di 
hutan gundul ini. Lengkingan singsaw merobek lapisan luar kulit Guadalupe. Dia 
menangis. Aku merasakan itu. Lebih ke dalam lagi, sampai ke inti. Guadalupe 
meraung. Tapi tak ada yang mendengarnya. Sebab raungannya kalah oleh nyanyian 
senang singsaw dan tawa rendah si cukong botak.

Sekarang Guadalupe ditarik-tarik dengan tronton. Roda berputar. Waktu berkisar. 
Aku teringat ayahku, aku teringat ibuku, aku teringat diriku yang hampir mati 
kelaparan.

Guadalupe sekarang menyerah, goyah dan akhirnya rebah ke tanah. Semua orang 
girang, tertawa puas. Lantas dengan semangat mereka membawa kapak dan golok, 
menebas ranting dan dahan-dahannya. Guadalupe mengaduh, tapi aku hanya bisa 
mengeluh. Guadalupe meratap, tapi aku hanya bisa menatap. Guadalupe berkisah, 
tapi yang lain bisanya cuma berkilah! Singsaw menganyi, Guadalupe mati.
***

Empat jam sudah. Guadalupe menjadi kepingan-kepingan papan dan balok dengan 
berbagai ukuran. Aku terduduk lemas. Di bawah curah hujan yang kembali turun 
pelan-pelan.

“Jan, ke mari. Di truk saja istirahatnya,” panggil Syawal. Hujan semakin deras, 
semua penebang menghamparkan begitu saja pilah-pilah bagian Guadalupe. Aku 
kehabisan tenaga. Aku pasrah.
***

Menjelang malam, hujan semakin deras. Air mulai menggenang. Tanah berlumpur 
membenam tubuhku. Aku berusaha bangkit. Tapi tak bisa. Penat sekali. Dan 
tulangku sudah mati tak bergerak lagi.

Samar-samar tak kulihat lagi tronton dan penebang lain. Kemanakah mereka? Tega 
sekali mereka membiarkanku terkapar sendirian di tengah hutan, di tengah hujan. 
Aku minta tolong menggapai-gapai. Sementara rendaman air sudah menelan tubuhku. 
Aku berdiri. Tapi sia-sia, sebab air sudah menenggelamkan diriku. Aku melolong 
minta tolong. Tak ada yang dengar. Sekeping bagian Guadalupe mengambang di 
depanku. Aku berenang menggapainya. Guadalupe hanyut saja.

Sementara tronton dan penebang lainya hanyut di depanku. “Syawal! Tolong aku!” 
aku memanggil Syawal. Tapi agaknya dia tak dengar. Posisinya telungkup tak 
bergerak. Sementara si cukong botak mengambang dengan perutnya yang semakin 
besar. Tidak, tidak! Ini berlebihan!

Guadalupe, tolong aku! Tolong aku!
***

Hari masih begitu pagi ketika kukatakan pada ayah, bahwa dia begitu tolol. Dia 
begitu tolol…


(Hujan: [EMAIL PROTECTED] www.hujanderas.wordpress.com)


       
---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

Kirim email ke