PRAKTEK TAK SEMUDAH TEORI
  Fiyan Arjun
   
  “Thiking about writing or talking about writing or worrying about writing is 
not writing.” (Roland Fishman—Writer)
   
  Kok bisa?
  Bisa! 
  Tidak percaya? Tanya saja saya!
   
  Semenjak saya mengenal dunia aksara ini. Belum genap empat tahun berkecimpung 
di dunia ini sudah berapa banyak karya  (baca: cerpen) yang saya hasillkan tapi 
tak satu pun cerpen saya dapat “meluluhkan” hati sang redaktur. Padahal dari 
cerpen yang saya kirimkan ke sebuah majalah, redakturnya sudah sangat saya 
kenal. Itu pun saya mengenalnya juga karena tidak secara sengaja. Karena 
mengikuti pelatihan penulisan karya fiksi dimana tempat saya sering mengirimkan 
cerpen-cerpen saya itu. Tapi tetap saja walaupun saya mengenalnya bahkan sangat 
kenal redakturnya itu cerpen saya tetap saja tidak dimuat. 
   
  Tahu tidak cerpen yang saya kirimkan itu saya buat dengan susah payah? 
Sampai-sampai tangan saya pada keriting semua karena sering kebanyakan menulis 
dan juga mata saya sampai tidak ada kornea matanya. Kornea hitam saya 
hampir-hampir berubah menjadi putih semua. Itu lantaran karena saya saking 
semangatnya memeriksa kembali cerpen yang sudah saya tulis. Bukankah itu  tidak 
penuh daya juang saya menulis cerpen saya itu? Dan…akhirnya apa yang saya 
dapat? Yup, tetap saja cerpen saya dapat nilai B+(baca: Be plus) Alias, Buang 
aja kale!! Dari pada nyesekin meja redaksi. Duh, segitunya BGT-nya?   
   
  Jadi, saya sarankan bila ada yang berpikiran kalau kita sudah mengenal 
redakturnya lantas cerpen yang kita kirimkan llekas dimuat dan dipublikasikan? 
Itu salah besar! Dan kita janganlah mengharapkan itu dan mendapatkan welas asih 
dari redaktur kalau cerpen yang kita kirimkan akan diluluskan. Dimuat. Jangan 
sampai deh seperti itu? Buang-buang energi dan “sakit hati” nantinya.
   
  Tidak percaya juga?
  Ambil saya contohnya saya ini. Padahal saya ini sudah mengenal redaktur itu 
tapi tetap saja cerpen saya tidak dimuat juga. Memang sih tidak selamanya 
cerpen yang kita kirimkan langsung dimuat tapi harus melalui proses lebih 
lanjut. 
   
  Seperti dibaca kembal. Di lihat tema ceritanya? Menarik atau biasa? Judulnya? 
Eye catching atau klise? Alur ceritanya mengalir atau loncat-loncat? Plotnya 
saling berkesinambungan atau terlalu bertele-tele (longgar)? Settingnya kuat 
atau berpindah-pindah? Dan, terakhirnya ending-nya mengejutkan atau STD ? 
Itulah yang diperhatikan oleh redaktur saat cerpen yang kita kirimkan sebelum 
dimuat. Terlebih dahulu melakukan proses tersebut. Dan bila itu tidak sreg oleh 
redaktur dan tidak layak dimuat ya harus lapang dada. Dadanya harus 
dilapaangkan! Ridho terhadap apa yang dilakukan redaktur. Walau sebenarnya hati 
tak menerima itu? Maklum namanya manusia itu sudah menjadi fitrah-Nya. Lumrah. 
Sudah lelah menulis tapi tetap saja tidak dimuat.
   
  Maka dari itulah janganlah menyalahkan redaktur terlebih dulu. Cari tahu dulu 
alasannya? Kenapa redaktur tadi melakukan itu? Baru kita memberi opini ya 
nggak? Maklumlah redaktur manusia juga lho? Mengapa redaktur tadi melakukan 
tindakan tersebut ya karena sudah menjadi kewajibannya dan juga sudah ketentuan 
dari syarat sah kekhalayakan sebuah cerpen. Bukankah begitu? Ya, jadi kita 
harus pintar-pintar menerimanya. Memang sih tak sedikit rasa  pil pahit kita 
telan juga. Kecewa bahkan sampai-sampai mengutuk diri : mungkin saya tak layak 
kali ya menjadi penulis? Lebih baik jadi tukang bakso! Wah-wah itu jangan 
sampai terjadi. Bisa berabe jadinya.
        
  Ini bukan kisah fiksi. Seorang pria pernah mengacam harian Kompas. Sebagai 
seorang penulis cerpen pemula, dia rajin mengirim ratusan cerpen ke Kompas. 
Setelah sekian waktu berjalan, tak satu pun naskahnya dimuat. Dia kembali 
mengirim sebuah cerpen lagi. Kali ini disertai dengan ancaman: kalau dia tidak 
dimuat (cerpen) dia akan bunuh diri.
   
  Apa yang terjadi? Cerpen itu tetap saja tidak dimuat. Namun, selang beberapa 
tahun kemudian pria tadi muncul sebagai cerpenis yang cukup disegani saat ini. 
Dan Kompas juga yang memiliki peranan dalam membesarkannya. (sumber—majalah 
Mata Baca vol. 4/no.1/ Sept 2005)
   
  Siapa orangnya? Anda mungkin sudah tahu dan Anda sudah sangat familiar 
dengannya. Apalagi jika Anda penikmat cerpen dan menyukai cerpen-cerpennya. 
Bukan itu saja bahkan ia dinobatkan sebagai cerpenis terpilih oleh Kompas 
dengan judul cerpennya Lampor. Pasti Anda sangat tahu dan kenal dengan 
sosoknya? Yup, dialah Jhoni Ariadinata, orangnya.
   
  Pernah terlintas dibenak saya membayangkan saya ingin seperti beliau. Ketika 
saya ingin mengirimkan cerpen nanti diakhir-akhir cerpen saya akan saya bubuhi 
kalimat ancaman seperti yang beliau lakukan. Namun saya berpikir lagi dan 
mencernanya kembali apakah saya pantas seperti itu? Alih-alih ancaman saya itu 
dianggap oleh redaktur sebagai gertakan sambal belaka. Bahkan menjadi bahan 
lelucon mereka (redaktur) di meja redaksi. Jangan sampai deh! Akhirnya saya pun 
melupakan itu semua. Lalu saya berpikir kembali lagi. Mencerna dengan hati yang 
jernih. Untuk apa saya berpikiran seperti itu? Kapan majunya saya ini nanti 
jika saya melakukan hal bodoh itu? Mana tantangan sebagai penulis itu? Akhirnya 
hal itu saya jadikan cambuk buat diri saya sebagai penulis pemula bahkan 
amatiran ini. Terus maju untuk berkarya. Belajar, belajar dan belajar itulah 
kuncinya. 
   
  Praktek tak semudah teori.
  Itu benar sekali apa yang saya katakan. Coba saja bayangkan sejak saya 
berkecimpung didunia ini satu pun cerpen yang saya banggakan tak jua membuat 
hati sang redaktur luluh. Bahkan ada dari sebagian mereka (redaktur) mengatakan 
kepada saya.” Kamu pantasnya jadi penulis artikel.”  Begitu yang saya ingat 
ketika mereka mengatakan bahwa saya pantasnya mejadi penulis artikel lepas dan 
sebagainya bukan cerpen. 
   
  Memang saya aku redaktur tidak salah beropini seperti itu? Karena mereka 
pernah melihat dan membaca tulisan (artikel) saya di koran harian Seputar 
Indonesia (SINDO). Dan salahnya jika saya terus-menerus memnuruti kata-kata 
redaktur tadi. Kok repot BGT jadi penulis!
   
  “Lho-lho kok jadi penulis dipetak-petaki begitu,” bathin saya. Bukankah 
sebagai penulis itu harus profesional. Bisa apa saja. Entah itu bisa menulis 
fiksi, non fiksi dan juga ilmu jurnalistik. Lho, kalau begitu saya kapan 
majunya ya nggak?
   
  Memang saya ini bukan Arswendo Atmowiloto. atau Putu Wijaya yang menulis 
tanpa perlu ada mood dulu datang. Bayangkan saja mereka menulis cerpen hanya 
hitungan jam. Jam sembilan pagi mereka menulis satu jam kemudian langsung jadi. 
Bahkan tidak sampai satu jam mereka mampu menyelesaikan cerpen itu. Amazing 
sekali!
   
  Kalau saya?
  Satu jam belum bisa apa-apa. Masih memikirkan cerita apa ya yang saya tulis 
nanti? Judulnya apa ya? Nanti gimana ya akhir ceritanya? Konfliknya nanti harus 
gimana ya? Lha, kalau begitu kapan menulisnya? Iya, nggak? Itulah saya? Saya 
bukanlah Arswendo atau Putu Wijaya si manusia penuh ide itu. 
   
  Jadi benar juga kata Gola Gong : kalau saat kita ingin menulis jangan 
membayangakan sesuatu yang muluk-muluk dulu. Mulai dengan memahami unsur-unsur 
fiksi: sinopsi, alur, plot, karakter, latar tempat, latar waktu, konflik dan 
ending. Lha, bukanya itu sama saja yang saya lakukan tadidiatas? Ya, walau tak 
secerdas Gola Gong mengungkapkannya. Entahlah. Mana yang benar yang harus saya 
lakukan untuk memulai menulis cerpen. Saya sendiri terus mencari “formula” yang 
tepat untuk menulis cerpen agar redaktur yang sangat saya kenal itu bisa luluh 
juga terhadap cerpen yang saya kirimkan nantinya.
   
  Untuk itu saya tekankan lagi kalau menulis cerpen itu gampang. Tapi hasilnya 
seperti apa itu yang perlu ditanyakan? Teori sih enak prakteknya bikin kepala 
pusing 7 keliling.  
   
  Itulah praktek tak semudah teori. Bicara mudah tapi perbuatan (hasilnya)  tak 
segampang di lapangan. Praktek. Kenapa saya beranggapan seperti itu? Praktek 
dulu yang harus di utamakan bukan teori. Memang sih itu ada benarnya juga. 
Walau saya tahu praktek harus mengikuti teori terlebih dahulu. Halnya seperti 
membuat penemuan. Harus sesuai teori (tulisan). Kalau tidak sesuai teori yang 
siap-siap saja hasilnya tak maksimal. Penemuan yang kita temukan tak 
mendapatkan hasil yang memuaskan menurut kita. Ya, seperti saya ini jika saya 
menuruti kata-kata redaktur yang mengatakan bahwa saya bagusnya menjadi penulis 
spesialis artikel lepas saya tak akan maju-maju. Paling-paling saya bisanya 
maju ditempat. Atau, lari ditempat jika saya mendengarkan kata-kata mereka itu. 
   
  Namun saya yakin pada diri sendiri jika saya mau terus belajar, mau berusaha 
dan berdoa saya akan menjadi penulis sekaliber Arswendo dan Putu Wijaya 
nantinya dan juga bisa menulis cerpen yang saya banggakan. Dan...akhirnya saya 
bisa meluluhkan hati redaktur itu terhadap cerpen saya nantinya…Semoga!      
   
  Ulujami, Menjelang Ramadhan, 12 September 2007
  Adakah yang terbaik didunia ini?
   
  
  
---------------------------------
  Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV. Watch previews, get listings, 
and more! 
    
---------------------------------
  Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who 
knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

    
---------------------------------
  Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

       
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 

Kirim email ke