SEGUMAM ASA 
  Fiyan Arjun
  Malam belum merayap sepertiga malam. Malam-malam seperti itu manusia hanya 
diliputi oleh mimpi-mimpi semunya. Namun lain hal dengannya malam-malam seperti 
itu biasa baginya. Ia masih terpaku di tepian ranjang tua. Ranjang tua 
peninggalan ayahnya. Ayahnya itu telah mewariskan pada istrinya sebelum kelopak 
matanya terpejam. Tak lain wanita itu adalah ibunya sendiri yang kini usianya 
sudah lanjut. Menua dimakan oleh usia. Apalagi kulit dan rambutnya yang kini 
telah mengeriput dan memutih meyelubungi dirinya seorang diri.
  Malam itu ia masih terpaku. Merenungi segala apa yang sudah ia lakukan selama 
seharian penuh itu. Ia telusuri benaknya sampai hal sekecil-kecilnya agar ia 
bisa merenungi dan mengingat-ingat kembali dengan apa yang ia lakukan selama 
itu.
  Yup, ia hanya bisa menulis dan menulis. Tak ada kegiatan lain yang dapat bias 
ia lakukan selain menulis. Kerja? Toh, ia sendiri lulusan apa? Apa yang hisa 
dibanggakan olehnya yang hanya tamatan lulusan SMU plus. Kalau pun ada yang 
menerima dirinya itu tak lain ia hanya bisa menawarkan barang dari pintu ke 
pintu. Tak lebih. Pun nasib bagus lagi berpihak padanya paling-paling ia hanya 
bisa menjadi seorang petugas kebersihan. Pesuruh. Orang yang bertugas 
menyiapkan minuman dan makanan. Itu pun kalau ada orang terdekat yang berbaik 
hati padanya. Kalau tidak? Ia akan menjadi cap sampah masyarakat saja. 
Pengangguran. Jadi untuknya kerja dan tidak baginya sama saja. Hal yang ia bisa 
lakukan hanya menulis  dan menulis. Tak ada yang lain!            
  Dan pena yang sudah ada di genggamnya pun sudah siap mengeluarkan diri dari 
tempatnya. Tinta berwarna hitam dan gelap. Hitam. sebutan masa depan yang ia 
akan membayangi hidupnya nanti. Karena tak ada satu pun jiwa-jiwa yang memberi 
kesempatan untuk kehidupan yang berarti baginya. Gelap.  segelap yang ada 
dibenaknya. Lalu tinta hitam itu pun siap untuk menari-nari di kertas buram 
yang ia sering lakukan sebelum ia menumpahkan segala ide-idenya dalam bentuk 
tulisan. Akhirnya tinta hitam itu pun siap untuk menodai kertas buram itu tanpa 
menolak sedikit pun. Entah apakah ia selalu pasrah menerima nasib ataukah 
selalu tulus dalam menerima kenyataan? Entahlah.
  Halnya ia menerima hidup yang serba papa. Baik materi maupun tidak memiliki 
suatu benda sebagai penuang ide-idenya yang secara praktis tanpa ia harus 
menulis di kertas buram seperti ia lakukan selama ini. Hingga sebuah 
lamunan-lamunan sejenak melintas saat ia akhirnya memutuskan untuk menulis 
setelah sekian lamanya ia larut dalam lamunannya di ruang hampa keraguan. Life  
must go on! Mungkin itulah kata yang tepat untuk melukiskan cara melepaskan 
keadaannya yang sekaligus kenyataan pahit yang ia alami selama ini
  “Hidup itu indah sekali yaa…,” gumamnya dengan rasa takjub pada Yang Maha 
Kuasa. Namun tak seindah hari-hari yang ia lalui. Yang ada hanya kegalauan dan 
keresahan dalam hidupnya.
  Malam itu cukup cerah dengan udara yang sejuk setelah beberapa hari ditemani, 
hujan serta gerimis yang berselimut dingin hingga menebus ke tulang rusuknya. 
Keheningannya dihiasi  oleh purnama dilangit dan bintang gemitang seolah-olah 
menjadi penghias dirinya di malam hari itu. 
  “Kok, belum tidur juga sih…?” tiba-tiba keheningannya terusik oleh suara yang 
berasal dari suara yang sangat ia akrabi di telinganya. Suara yang 
menyayat-nyanyat hatinya. Tak lain suara ibunya yang parau kala itu. Ibu yang 
sangat ia sayangi dan  ia cintai menegur dirinya untuk segera istrirahat.” 
Tidak baik tidur terlalu malam-malam,”  lanjutnya memberi perhatian lebih pada 
anaknya yang sedang terpaku di ranjang tua warisan suaminya. Lalu ia pun 
menulis kembali untuk merenungi apa yang ia lakukan selama seharian penuh itu.
  “Belum, Bu! Lagi nulis nih belum selesai…,” jawabnya datar. Ada keraguan 
dihatinya apakah ia bisa membahagiakan ibunya atau tidak? Apalagi seorang anak 
lelaki. Anak yang patut dan harus bekerja dan berjuang untuk kebahagiaan 
ibunya. Walau ia tahu ibunya tak terlalu mengharapkan itu.
  Dan tiba-tiba lamunannya mundur beberapa hari sebelumnya langit bergemuruh 
bersahut-sahutan bersama lebatnya hujan diiringi angina disertai angina kencang 
membentuk harmoni suara semesta. Ia ingin sekali menulis apa yang baru saja 
dilihatnya dari balik jendela rumahnya—sesaat setelah ia memutuskan untuk 
menyambung tulisannya kembali yang sejenak berhenti. Mmenulis walau masih belum 
tahu apa yang harus atau seharusnya ia tulis.
  Tekek…, tekek…, tekek…, tekek…, tekek…
  Suara derit binatang melata itu pun ikut larut mencampuri lamunannya. 
Seakan-akan binatang itu ingin membantu dan menolongnya dengan cara tak wajar. 
Menghitung suara derit yang ia keluarkan dari rongga-rongga tipu dayanya. 
Sia-sia. “Hai anak manusia ikutilah irama derit yang aku keluarkan untukmu. 
Siapa tahu engkau bisa merubah hidupmu,”  bujuknya. Walau ia tak tahu apa yang 
dimaksudkan dari bintang melata itu. Yang dalam pikirannya apa guna ia 
mengikuti derit suara dari binatang yang tak memberi guna padanya. 
  Apakah ia bisa melalui itu semua? Ia sendiri masih mencari-mencari. Walau ia 
tahu sendiri tak tahu apa-apa? Itu adalah pilihannya. Hal ia bisa merubah 
kehidupannya secara instant. Seperti ia mudah membalikkan telapak tangannya. 
Tanpa jerih payah. Ia bisa merubah hidupnya itu semua secepat mungkin. Padahal 
semua itu sudah menjadi kehendak-Nya. Ia tak mungkin merubah takdir yang Tuhan 
berikan kepadanya.
  Kedua matanya terus memandangi tulisan yang baru saja ia tulis sambil 
memutar-mutar pena ditangannya. Sesekali ia menggigit penanya dengan tangan 
kirinya. Dalam bayangan, keterasingan mempunyai kaitan dengan ketidaksadaran. 
Tentunya ketika ia berbicara mengenai kehidupannya seakan-akan menjadi belenggu 
penjara untuknya tanpa teralis yang bisa mengeluarkan dirinya dari realita 
kehidupan. Ia saksikan realita kehidupanyan yang kasat mata itu dalam 
keseharian hidupnya. Dan ia pun menyadarinya. Itu sudah takdirNya, batinnya.
  Satu sisi mengejar kepuasaan hidup yang tidak henti, namun disisi lain ada 
kepapaan yang butuh belas kasih untuknya; disisi dimana tempat jiwa-jiwa 
berfoya-foya,. Namun disisi lainnya pula jiwa-jiwa membanting tulang demi 
sesuap nasi. Sementara kesadaran seolah “mengalah” terhadap keterasingan hingga 
jiwa-jiwa terjebak dalam fatamorgana kehidupannya. Halnya seperi dirinya yang 
nyaris tertipu oleh itu semua.
  “Ah, sudahlah…kok jadi ngelamun terus nih jadiNya. Ngelantur lagi! Kalau 
begini caranya kapan selesainya nih nulis…,” gumamnya. membatin . Segumam asa 
telah merasuki benaknya. 
  Dan ia pun mulai menyadari untuk apa ia susah-susah menulis kalau hanya tidak 
membuat ia bahagia dan kaya. Menulis tidak membuat perutnya kenyang. Apalagi 
ditambah tulisan-tulisan yang ia tulisa tak sebanding dengan penulis 
favoritnya. Seno Gumira Ajidarma. Itu hanyalah hisapan jempol baginya jika 
benaknya membayangkan seperti itu. Tulisan yang ia tulis hanya bisa dinikmati 
oleh kawan-kawanya sendiri. Entah apakah kawan-kawannya itu mengetahuinya atau 
tidak tentang sastra maupun dunia yang sedang ia geluti itu? Dunia tulis 
menulis. Namun ia tidak menyesal. Kalau pun tulisannya yang ia tulis bagai 
sepah yang layak dibuang. Tak ada orang yang akan menghargai tulisannya. 
Apalagi jerih payahnya ia tak peduli dengan itu. Baginya iamenulis untuk 
menghibur dirinya dan jiwanya. Tidak lebih dari itu. Lagi pula bukankah menulis 
hanya ingin karyanya dilihat dan disanjung-sanjung saja? Entahlah. Ia sendiri 
juga tidak tahu untuk apa ia menulis? 
  Hingga tiba-tiba dibenaknya terekam segumam kata. Kata-kata yang membuat 
diriya bertanya pada hati kecilnya. Untuk apa ia menulis? Untuk apa yang 
mencintai tulisan, buku atau pun dongeng-dongeng yang menuliskan cerita-cerita 
belaka? Gumamnya berulang-ulang kali. Toh, semua yang ia hasilkan tak membuat 
ia bahagia malah membuat ia frustasi. Apatis dalam menjalani hidupnya. Apalagi 
ia hanya seorang penulis amatiran, Yang belum tentu hasil tulisannya itu bisa 
dinikmati khalayak. Bahkan tong sampah yang siap memakan tulisanya itu? 
Entahlah. Hanya satu dalam dirinya: hal itu adalah sia-sia untuknya!
  Ia robek kertas buram yang sejak tadi sudah ia tulis itu. Lalu ia mulai 
kembali menulis lagi pada lembaran yang baru. Akhirnya ia pun mencoba kembali 
dengan tenang dan membuang gumamannya yang tak berarti itu. Jauh. Jauh 
sekali…Sejauh mungkin. Halnya ia membuang segala asanya itu.
  Ulujami, Maret 2006
  Ketika hidup tak memberi ati pada siapa-siapa….Menyedihkan!
   

       
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 

Kirim email ke