Situs Berita Rakyat Merdeka

RUMAH KACA
ranah sastra merdeka

Senin, 24 September 2007, 23:33:37 WIB

Puisi untuk Arsi

Oleh: Hujan

Aku berkisah tentang ini, ketika aku mulai menyadari betapa waktu telah menjadi 
jarak yang sulit ditebak. Sulit ku kisar, sulit ku takar. Sehingga pada 
akhirnya, hanya ini saja yang mampu kuingat dari sekian kali bertemu dengannya. 
Sekian kali mencuri pada nanar matanya yang sesekali nakal melirikku. Akhirnya, 
aku menyadari, lamban laun. Meski lama dan tak sempurna ku raba.

Sebelum aku menuliskan puisi yang terakhir untuknya, lebih dulu aku 
menimbang-nimbang. Apakah baik sebuah sentuhan terakhir, aku wakilkan lewat 
sepucuk surat, setangkai puisi yang berisi kesah susahku terhadap 
pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul di kepalaku saban malam? Aku 
pertanyakan itu. Namun, hingga akhirnya, meski tak kutemui jawabannya, aku 
putuskan akan tetap mengiriminya sebuah puisi, yang mewakili pertanyaanku.

“Apakakah hubungan harus ditentukan oleh sebuah ruang?” Arsi bertanya. Aku 
berdehem, dan menghentikan lamunanku. Ku letakkan buku yang baru saja ku baca 
setelah lebih dulu ku tandai halamannya dengan pembatas buku.

“Bagaimana?” tanyaku sambil berusaha mengingat barisan kalimat yang baru saja 
dilontarkannya.

“Hm, aku bertanya padamu, apakah hubungan harus ditentukan oleh sebuah ruang?” 
ulang Arsi sambil menarik nafas dan membuangnya kencang sekali di depan wajahku.

“Iya, eh, maksudnya apa?” tanyaku lagi. Arsi membuang wajahnya sambil 
mengatupkan bibir tipisnya. “kamu tanya pendapatku?” tanyaku lagi. Arsi sedikit 
kesal dengan pertanyaanku.

“Kamu kenapa sih Bem?” ketus Arsi. “aku bertanya.”

“Iya, aku tahu. Tapi aku tak tahu maksud pertanyaanmu Si,” jawabku benar-benar 
tak tahu.

“Ya sudahlah, tak usah diteruskan,” kata Arsi sambil merebut buku yang berada 
di genggamanku.

“Eh, aku belum selesai,” sergahku. Tapi dia diam saja sambil bangkit dari 
tempat duduk. Dan dengan segera dirapihkannya tas dan bekas bungkusan kudapan. 
“mau kemana?” tanyaku.

“Pulang!” jawabnya sambil membalikkan badan.

Hm, dasar Arsi.. Kalau tak merajuk, bukan Arsi namanya. Lantas ku rapikan 
tasku. Kemudian membersihkan tempat kami duduk tadi.

Sekarang aku akan memulai kisahku, tentang galau dan sedepa jarak antara 
perasaan dan isi puisiku. Mungkin akan ku awali dengan lengkingan suaranya yang 
nyaring sore itu, yang menyebabkan seluruh isi taman menolehkan perhatiannya ke 
arah tempat kami duduk, di bangku, depan kolam kecil di taman ini.

“Aku tak percaya kalau selama ini kamu menulis puisi dan menyelipkannya di 
antara halaman buku yang kamu baca.” kata Arsi sambil merebut buku yang tengah 
berada di tanganku.
“Eh, jangan direbut gitu dong.” kataku sambil berusaha merebut kembali buku 
yang telah ada di genggaman Arsi. Dia mengelak. Aku menjulurkan tangan. Arsi 
bangkit dari tempat duduk sambil menyembunyikan tangannya ke belakang badan. 
Aku pun bangkit sambil terus berusaha merebut buku itu.
“Jangan, kembalikan!” pintaku. Arsi membelakangiku. Sambil terus berusaha 
mengelak dari jangkauan tanganku, dia mulai membuka lembaran halaman buku itu.

Hingga akhirnya dia bersorak girang, “Obem, kamu genit!”
“Wah, jangan dibaca, yang itu rahasia,” rengekku sambil berhenti berusaha 
merebut buku yang ada di genggaman Arsi.
“Hai, tak kusangka, kamu ngefans sama aku,” ledek Arsi. Aku mesem saja, sambil 
kembali duduk dan merapatkan daguku di sandaran bangku taman tempat kami duduk

“Gokil, puisimu gokil abis” kata dia yang kemudian disambung dengan lengkingan 
tawa.
Aku tak tahu harus menaruh wajahku di mana. Apalagi setelah sadar bahwa 
orang-orang di sekeliling memperhatikan kami. Alamak. Dan aku hanya bisa 
menelan ludah.

“Puisi ini kubawa pulang ya?” pintanya sambil terus berusaha mengambil 
perhatian dariku.
“Puisinya bagus, meski agak konyol dan malu-maluin. Tapi aku suka,” katanya 
sambil mengeluarkan secarik kertas yang kujadikan sebagai pembatas buku yang 
baru saja direbutnya.

Aku tak pernah tahu perasaannya, maka aku mulai mereka-reka saja. Mencoba 
menebak teka-teki yang selalu muncul dari balik sikap manjanya. Tapi agaknya 
tetap sia-sia. Tak pernah ada satu garis kesimpulan meski kami telah sekian 
kali bertemu dan saling memandang ke dalam mata. Mata tak bisa bicara. 
Begitulah kongklusi yang kutarik setiap kali usai bertemu dia. Di sini, di 
taman kota, tempat biasa kami bertemu dan membunuh waktu dengan saling diam, 
membaca buku. Dan kupikir dia juga melakukan hal yang sama; mencoba mengukur 
kedalaman hatiku.

Ah, itu tak penting. Bagiku, yang penting adalah mengurai waktu dalam setiap 
pertemuan dengannya, lantas memilin-milin saat untuk menahan senyum, hingga 
bibirku kram atau membiarkan sedikit gigiku terlihat, hingga dia bisa dengan 
leluasa mengintip ke arah barisan gigi putihku yang mengering.

Sekarang aku akan menulis. Yeah puisi lagi. Dan nantinya akan kupakai sebagai 
pembatas halaman buku. Pembatas penggalan-penggalan waktu yang telah kulalui 
bersama dia. Mungkin nanti dia akan merebutnya lagi dari tanganku. Aku berharap 
begitu.

“Aku tak mengerti alasanmu menyukai ‘Song For You’,” kataku sambil mengalihkan 
pandanganku kepada dia. Arsi tersenyum, memerlihatkan seulas senyumnya yang 
paling manis. Meski sudah senja, tapi aku masih dapat melihat senyumnya berkat 
bantuan pendar-pendar lampu taman.

Lalu dia melepaskan earphone sebelah kanannya dan menyodorkannya kepadaku.

“Kamu dengar saja dulu. Baru dengar penjelasanku,” ujarnya sambil merapatkan 
kepalanya ke arahku. Dan kami akirnya berdekatan, benar-benar berdekatan. Tak 
pernah kubayangkan aku bisa membaui rambutnya yang disemir merah, ataupun 
sekedar mendengar simphoni nafasnya yang demikian teratur anggun.

…I am a man that you can count on;
Call out my name, and I'll be there.
I'm a man you can be sure of, baby,
Its your love that takes me there…(1)

Aku tak kenal dia. Bahkan sampai senja ini, aku tetap tak mengenal dia. Kami 
bertemu begitu saja. Suatu masa, di sebuah genta ruang. Beberapa bulan lalu 
tentunya. Kala itu aku tengah duduk sendiri, di sini. Di tempat aku duduk 
sekarang ini. Aku masih ingat ketika itu aku tengah membaca sambil 
mengoret-oret selembar kertas pembatas. Lalu dia datang. Entah dari mana. 
Begitu saja, tiba-tiba dia sudah berdiri di hadapanku. Lantas dia minta ijin 
untuk duduk di sebelahku. Aku bergeser dan menyilakan dia duduk.

Arsi, kelak aku mengenalnya sebagai Arsi. Dari pertemuan itu kemudian kami 
masuk ke dalam percakapan-percakapan yang agaknya meruap bersama angin dan 
membatu bersama waktu. Katanya, dia senang berbicara denganku, dan memintaku 
untuk datang kembali keesokan harinya.

Yah, tentulah aku datang. Sebab cuma hal itu yang bisa kulakukan saat-saat 
seperti ini. Saat-saat dimana skripsiku lebih memerlukan perhatian yang lebih 
dariku. “Tentu saja, aku di sini esok sore,” kataku. Dan kami berpisah, di 
antara sayup-sayup azan maghrib dan cekikikan riuh rendah orang-orang yang 
hadir di tempat ini.

Hari gelap. Penerang jalan menggantikan sinar mentari. Tiba-tiba aku sudah 
berada di kamarku. Tidak menulis tidak pula membaca buku. Tidak apa-apa. Hanya 
membentangkan guratan peta perjalanan dari kian-kian pertemuan kami. Aku 
tersenyum dan membaringkan tubuh. Coba mengingat setiap monolog yang keluar 
dari mulutnya, tentang taman, lampu, orang-orang di sana, judul buku, cerita, 
dongeng dan puisi. Dan puisi.

“Pink” kata Arsi. Aku kembali memalingkan wajahku kepadanya. Lagi-lagi 
perempuan ini berhasil mencuri perhatianku. “Andai kita bertemu sejak dulu,” 
kata dia. Aku menutup buku. Mencoba menebak kalimat apa gerangan yang akan 
muncul dari mulut mungilnya.
“Pastinya, jarak akan dipotong demikian pendek,” sambungnya.

“Maksudnya?” tanyaku. Lagi-lagi dia tersenyum. Senyum yang tak bisa 
kusimpulkan, bahkan sampai kapan pun kukira. “Apa itu lirik lagu? Atau puisi 
yang kamu karang?” tanyaku lebih lanjut. Dia tersenyum. Mentari senja tengah 
mengintip kami.

Aku tak ingat itu senja keberapa. Yang kuingat adalah, setelah aku bertemu dia, 
aku selalu menemukan kata-kata dan pertanyaan baru setiap kali langit memerah.

“Jarak yang dipotong pendek, karena waktu,” Arsi meneruskan. “Mungkin saat itu, 
kita bisa berada di dalam ruang yang sama.”. katanya.

“Ah, tapi sekarang kita bersama bukan? Aku di sini, kamu di sana. Dan kita 
hanya dibatasi sehasta,” kataku. Dia diam, mengatur nafas.

“Aku menulis puisi itu, empat tahun yang lalu,” kata dia melanjutkan. Aku 
mengangguk.

“Sekarang aku membacanya,” kataku. Dia tersenyum.

“Itu artinya, puisiku lebih dulu hadir, dari pada ingatanmu,” kata dia sambil 
menutup buku catatan yang baru saja kubaca isinya.

“Ah, kamu bisa aja,” kataku sambil kembali membuka buku ku dan melanjutkan 
membaca.

“Apa kamu sudi kubaca?” tanya dia lagi-lagi memotong kekhusukan ku.

“Tak penting itu,” jawabku singkat sambil terus membaca.

“Kenapa? Kamu tak suka kubaca?” tanya dia lagi.

“Betul itu tak penting. Sudahlah, kita membaca saja.” jawabku.

“Baiklah, kita akan saling membaca. Kamu membaca aku, aku membaca kamu, 
bagaimana? Setuju?” bujuknya. Aku menutup buku, dan memandang kepadanya.

“Pertama, aku tak bisa membacamu, kedua, aku tak suka dibaca,” kataku. Dia 
menutup bibirnya. Tak kulihat lagi dia tersenyum.

“Kok?” tanya dia dengan serius.

“Karena tak ada yang bisa dibaca dariku,” jawabku dengan serius pula. Arsi diam.

“Kamu terlalu serius dengan dunia.” ujarnya sambil menghela nafas dan 
menjauhkan duduknya dariku. “Kalau begitu mulai sekarang kamu akan pusing 
membaca diriku,” ujarnya di penghujung senja.

Kalau luka adalah bisa yang kau sebut sebagai peta,
Maka ajarkan aku untuk melumurinya dengan penawar
Biar dapat kuhapus jejak pada luka yang menganganga
Di sepanjang petamu yang lusuh, kabur dan tak terbaca

---Kalau luka adalah bisa yang kau sebut sebagai air mata
Maka ajarkan aku untuk menepisnya dengan sembilu
Dengan begitu tak akan lagi lekat kerak pada sisa masa
Di seluruh ruang yang kau sebut sebagai dunia kita.

Jika luka adalah sepi yang bisa berbisa
Maka ajarkan aku untuk iklas membacanya
Biar jejak yang kau tinggalkan di sana
Habis kumamah semua---

Dia tak datang. Senja ini dia tak datang lagi. Seperti empat senja yang lalu, 
ketika terakhir ku dengar mulutnya memuntahkan berbaris-baris stanza.
“Aku pergi, jangan lupa membaca ya?” pesannya. Aku berdehem.

Senja diganti malam. Hitungan waktu terus berlaku di sepanjang pertemuan kami 
yang singkat. Tapi aku masih di sini, duduk sendiri di bangku taman, yang sudah 
empat senja sepi dari diskusi tentang puisi. Sepi dari tawanya yang diam-diam 
membuatku ingin sekali membaca makna kehadirannya.

Aku tidak akan berkisah senja ini, karena kisahku sudah habis. Tak ada kisah 
lain yang dapat ku bagikan kepada taman yang pelan-pelan beranjak sepi ini. Tak 
jua sepenggal ingatan tentang senja-senja sebelumnya, ketika seorang perempuan 
asing menemaniku duduk dan berbagi earphone yang lagunya selalu diulang-ulang, 
sampai aku hafal betul syairnya.

Sendiri saja. Senja ini aku sendiri saja. Tak membaca, tak juga menulis 
oret-oretan di kertas pembatas buku. Aku pikir, aku tak perlu mengirimkannya 
seuntai puisi. Tak perlu. Sebab tak ada pertanyaan yang perlu diwakilkan dari 
puisi brengsek yang kutulis sepanjang sore tadi.

“Hei, apakakah hubungan harus ditentukan oleh sebuah ruang?” tanyaku. Tak ada 
yang menjawab. Taman benar-benar sudah sepi. Sekarang aku akan melanjutkan 
bacaanku; Arsi.

Palmerah, 9 Agustus 2007


(1) Sepenggal lirik “Song For You” yang dinyanyikan Chicago.


(Hujan, [EMAIL PROTECTED], www.hujanderas.wordpress.com)
       
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by.    Make it a reality with Yahoo! Autos. 

Kirim email ke