Wah cerita Mas Ali betul membuat iri. Iri yang positif kok. Selamat ya.

On 10/4/07, dewi cendika <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Alhamdulillah....ya mas Ali..
> tapi mas Ali emang terkenal kok, di rumahku jg ada buku2 ceritanya mas
> Ali...
>
>
> salam,
> Ichen
>
>
>  ----- Original Message ----
> From: a_muakhir <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, October 4, 2007 11:45:25 AM
> Subject: [cerkit] (sebagian) Nikmatnya Jd Penulis CeritaAnak
>
>  (sebagian) Nikmatnya Jadi Penulis
> Cerita Anak
>
> Minggu ke-3 di Bulan Ramadhan ini ada dua kejadian yang membuat saya
> sangat bersyukur dan makin memantapkan langkah saya untuk terus
> menulis untuk anak-anak. Atau lebih tepatnya makin memotivasi saya
> untuk berpacu dengan waktu supaya terus menghasilkan tulisan-tulisan
> terbaik untuk mereka.
> Kejadian pertama saat periksa gigi di salah satu dokter di Bandung.
> Saya biasa membersihkan gigi 6 bulan sekali (supaya gigi tetap
> bersih dan rapi, hehehe).
> Saya tidak sengaja periksa pada dokter tersebut. Saya periksa pada
> dokter tersebut karena kebetulan saya lewat dan dia masih buka
> praktik. Saat itu masih ada 3 orang pasien. Saya langsung daftar dan
> nunggu giliran.
> Sambil nunggu ada satu lemari bacaan yang Bu Dokter sediakan. Dari
> mulai majalah bekas untuk wanita, majalah kesehatan, sampai majalah
> anak-anak. Tidak ketinggalan pula di pajang buku anak-anak. Saya
> lihat, ada sebagian judul karya saya.
> Biasa, narsis saya langsung kambuh. Saya senyum-senyum dalam hati
> dan bersyukur buku-buku saya bisa dibaca di sana. Saya nunggu hampir
> 1 jam saya dipanggil.
> Ternyata kejutan yang saya alami tidak berhenti di ruang tunggu, di
> dalam ruang praktik pun saya mendapat kejutan.
> "Bapak Ali Muakhir," Bu Dokter pelan-pelan mengeja nama saya yang
> tertera di kartu periksa.
> "Iya," jawab saya.
> Bu Dokter itu melepas kaca matanya, lalu memandangi saya. Saya
> sampai mengerutkan kening.
> "Anda seorang penulis cerita anak?" tanya Bu Dokter beberapa saat
> kemudian.
> Duh, saya yakin banget, pasti saat itu wajah saya berwarna-warni
> kayak coklat marbel. Bertumpuk perasan membuncah dalam hati.
> Ternyata ada seorang dokter yang mengingat nama saya. Saya hanya
> mengangguk dan mengiyakan.
> Bu Dokter lalu memeriksa gigi saya. Bu Dokter cerita tentang buku-
> buku karya saya yang jadi bacaan wajib anak-anaknya waktu masih
> balita. Saya senyum-senyum menanggapinya, sembari sesekali
> bilang, "Terima kasih."
> Setelah 30 menit lebih, gigi saya akhirnya selesai dibersihkan, saya
> merasa nyaman. Saya kembali duduk di meja Bu Dokter sambil menunggu
> resep dari Bu Dokter.
> Apa yang terjadi ketika resep itu disodorkan dan saya baca. Saya
> hampir-hampir tidak percaya dan mungkin hampir-hampir telinga saya
> membentuk sayap untuk terbang.
> "Pak Ali, karena Pak Ali sudah membantu saya membesarkan anak-anak
> saya dengan keceriaan yang mencerdaskan, saya tidak mau menerima
> pembayaran pemeriksaan gigi kali ini. Biaya pemeriksaan gratis."
> Subhanallah ... barangkali kalau saya tidak di depan Bu Dokter saya
> sudah menitikkan air mata saking terharunya. Bukan terharu lantaran
> ga ditarik ongkos periksa, melainkan karena ada yang mengenali saya
> sebagai penulis dan menghargainya.
> Subhanallah.
> Kejadian kedua saat perpanjangan sim A kemarin. Saya ditunjukkan
> salah seorang tetangga yang kebetulan seorang polisi untuk
> mengubungi seorang polwan di loket 6.
> Saya perkenalkan nama saya kepada polwan tersebut dan menjelaskan
> tujuan saya menemuinya. Polwan tersebut lalu meminta KTP saya. Saya
> menunggu beberapa menit.
> "Anda Ali Muakhir yang suka nulis buku-buku anak, bukan?" tanya
> Polwan tanpa saya sangka-sangka.
> "Iya. Kebetulan saya suka nulis, Bu," jawab saya.
> "Wah, saya senang bisa bertemu dengan Anda," kata Polwan sambil
> menyalami saya. "Di rumah saya banyak buku-buku hasil karya Anda,
> kebetulan dua anak saya masih balita, jadi saya kalau sempat
> membacakan buku-buku Anda pada anak-anak saya," lanjutnya sangat
> antusias.
> Subhanallah ... berkali-kali saya memuji kepada Yang Mahabercerita.
> Sungguh, luar bisa skenario yang telah Dia buat untuk saya. Sungguh
> indah cerita yang Dia buat pada episode kehidupan saya.
> Puji-pujian saya tidak berhenti sampai di sana karena Bu Polwan
> membebaskan saya dari beaya pembuatan SIM A.
> "Jarang-jarang kan saya bisa traktir penulis," kata Bu Polwan.
> Sungguh, saya hampir-hampir tidak percaya. Ternyata ada beberapa
> orang yang mengenal nama saya dan begitu ketemu dengan saya, ada
> antusias di sana.
> Secara, kalau penulis anak fotonya jarang terpampang di buku.
> Klik:
> http://alimuakhir. multiply. com/journal/ item/32/Nikmatny a_Jd_Penulis_ 
> C<http://alimuakhir.multiply.com/journal/item/32/Nikmatnya_Jd_Penulis_C>
> eritaAnak
>
> Terima kasih.
>
> Ale
>
> (menjemput hikmah ramadhan)
>
>
>
>
>
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
>
>
> 
>



-- 
salam

Ken Terate
www.kenterate.multiply.com

Kirim email ke