Satu lagi cerita saya di muat di media Rakyat Merdeka Online. sila membaca
mengkritik memuji juga boleh ;p
RUMAH KACA
ranah sastra merdeka
Rabu, 14 November 2007, 08:33:25 WIB
Berapa Harga Sejengkal Tanah?
Oleh : Hujan
Langit teja. Dengan letih Saiman bersiap merapihkan cangkul dan aritnya.
Sudahlah, cukup sudah rayuanmu Mat, ujar Saiman sambil mendudukkan pantatnya
di atas sawung bambu reot.
Aku tidak sedang merayumu. Siapa pula yang sudi merayumu kawan? Aku cuma
memberikan pandangan lain soal desa kita, balas Rahmat.
Angin yang semilir bertiup dari lembah kaki bukit Halimun, menerpa wajah kuyu
Saiman. Suara kodok dan jangkrik mulai menggema di persawahan.
Kalau kau punya pandangan seperti itu, ya sudah. Aku tetap tak akan mengikuti
pandanganmu. seru Saiman sambil membersihkan aritnya. Rahmat menghela nafas
panjang. Baginya, diantara sekian banyak warga desa, hanya temannya inilah yang
sulit diyakinkan.
Petani pasti mati. Dan itu sudah digariskan. Tak ada yang bakal bertahan.
Termasuk desa kita. sambung Rahmat sambil menyalakan sebatang rokok.
Entahlah, mungkin betul dengan apa yang kau bilang. Tapi aku tetap tak mau
menjual tanahku. Aku petani, dilahirkan sebagai petani. Mati pun harus sebagai
petani, ujar Saiman.
Rahmat melempar pandang ke arah mobil mewahnya yang parkir di pinggir jalan
sana.
Man, duapuluh tahun yang lalu, desa ini begitu asri. Kau ingat?
Saiman mengangguk, sambil terus memandangi aritnya.
Tapi itu duapuluh tahun yang lalu. Aku pun bangga menjadi petani. Aku juga
yakin, mulai dari gembel hingga presiden semuanya makan padi yang telah kita
tanam. Tapi itu duapuluh tahun yang lalu, ujar Rahmat. Saiman masih diam,
menunggu Rahmat mengeluarkan jurusnya yang paling maut. sekarang ceritanya
sudah lain, petani sepertimu pun tidak memakan padi yang kau tanam sendiri.
Buat apa kau bertani sejak pukul enam pagi, kalau kau tak makan buah keringatmu
sendiri?
Tentulah, selagi masih ada orang-orang sepertimu, hal itu bisa saja terjadi,
balas Saiman menahan marah. Rahmat diam. Saiman juga diam. Perlahan ingatan
lelaki paruh baya itu mengambang pada saat-saat bersama Rahmat, dua puluh tahun
yang lalu.
Kita sudah tak bertemu lagi agaknya Mat. Kau terlalu pintar sekarang.
Sampai-sampai aku tak bisa menerjemahkan mimpimu tentang masa depan desa ini di
kepalaku.
Rupanya kau belum mengerti juga kawanku. Coba kau ingat nasib Wak Kandang.
Begitu bodohnya dia menjaga tanahnya. Dia pikir, dia sudah menjadi petani yang
baik. Padahal, awalnya kerbaunya yang dijual, tapi lama-lama sepetak demi
sepetak tanahnya tergadai. Sekarang apapun tak ada yang bisa dibanggakannya.
Ingatan Saiman mengembang pada Wak Kandang. Hampir tigapuluh tahun yang lalu
dia pernah menjadi buruh tani di tanah Wak Kandang. Ketika itu, Saiman muda
giat sekali bekerja, makan sekali sehari. Apapun dilakukan Saiman demi
sejengkal tanah suatu hari kelak. Sementara orang tua Rahmat lebih mau menjual
tanah demi sekolah anaknya ke Jakarta.
Wak Kandang orang baik, hanya dia kurang menghitung. ujar Saiman
Betul itu. Dia orang baik. Suka menolong petani yang lain. Bila ada bibit
padinya yang lebih, dia tak sungkan untuk membaginya. Tapi dia terlalu baik.
Sehingga sampai mati pun dia tak memiliki apa-apa.
Begitulah seharusnya petani. Susah sama ditanggung, senang sama dirasa balas
Saiman. Rahmat mencibir. Petani sekarang beda dengan petani yang dulu.
Petani sekarang lebih mau menjual padinya dan memakan kutu padi, sambung
Saiman.
Itu memang pasti terjadi. Itulah yang sedang aku pikirkan. balas Rahmat
sambil memandang tajam ke arah Saiman. Langit makin hitam.
Suatu hari kelak, mau tak mau desa ini akan bergerak. Kampung menjadi desa,
desa menjadi kota. Petani menjadi buruh. ujar Rahmat. Saiman menyeringai.
Bagaimana kehidupanmu setelah desa ini benar-benar berubah? tanya Rahmat.
Saiman menggeleng. Semoga aku sudah mati saat itu. jawab Saiman.
Dan anak serta cucumu?
Aku tak tahu. Semoga saja tanahku bisa berkembang dan bertambah semeter lagi,
harap Saiman.
Rahmat menahan tawa. Man, untuk bertani, rasa-rasanya tidak mungkin tanahmu
bertambah semeter. Kau tak memandang bahwa warga telah beranak pinak dan
berkembang? Bagaimana dengan pendatang yang membuka hutan dan berhuma?
Mendirikan bangunan baru dan menciptakan teknologi baru? Bagaimana dengan
anak-anak kita yang sekarang merantau? Suatu hari kelak mereka pulang ke sini
dan mendirikan rumah pula. Tidak bisa tidak, tanahmu ini juga akan terjual. Dan
sampai saat itu, apa yang akan kau olah? Tanah? Mengubah lumpur menjadi
keperluan dapur? Mustahil Saiman. Mustahil ujar Rahmat sambil duduk di sebelah
Saiman.
Setelah semuanya berubah, kita tak lagi makan beras. Itu yang harus kau
mengerti. Apa guna bertanam, jika berasnya tak pernah kau nikmati? Apa guna
setiap pagi kau mandi lumpur sementara warga tak lagi makan nasi?
Kau jangan main-main Rahmat, tak kau ingat, negara ini tak ada apa-apanya jika
tak ada orang seperti aku?
Tapi kau tak ingat negara juga rugi karena ada orang seperti kau? sergah
Rahmat memotong Saiman.
Apa Maksudmu?
Tak kau tahu, bagaimana pemerintah terus berupaya membantu pengadaan bibit
hingga pestisida yang kau butuhkan? Saiman menggeleng. Angin semakin santer
menusuk kulitnya.
Untukmu, pemerintah telah berupaya menyisihkan anggaran negara agar harga
kebutuhanmu bisa murah. Aku percaya pada keuletanmu Saiman. Tapi petani lain?
Berapa keuntungan dari hasil yang ditanam? Sungguh bukan harga yang sesuai.
Sampai sekarang, negara masih tetap membeli beras dari luar negeri. Kau tak
tahu kan? Wajar saja, harimu kau habiskan untuk tanahmu ini, ujar Rahmat
sambil menyodorkan kotak rokoknya.
Udara semakin lembab. Meski tak selembab udara duapuluh tahun yang lalu. Apa
yang harus aku lakukan Mat? Aku sudah tua, bodoh pula. ujar Saiman sambil
mengambil sebatang rokok yang disodorkan Rahmat.
Iya, kita berdua sudah tua Saiman. Aku dan kau sudah melewati masa-masa itu.
kata Rahmat sambil menyorongkan pemantik api kepada Saiman. Sekarang, sebagai
temanmu, aku hanya menyarankan dan aku ingin kau menikmati hari tuamu.
Bagaimana bisa? aku tak punya anak yang rajin dan mau merawat tanah yang telah
susah payah kubeli. Agaknya mereka lebih suka menjadi buruh di pabrik sohun.
ujar Saiman. Ditariknya nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan asap tembakau. Di
langit bulan menjuntai mengganti matahari.
Itulah. Maka dari itu, sekarang kau alih profesi saja. Kau bisa menjual
tanahmu dan menggantikannya dengan mobil boks misalnya. Dengan begitu, kau tak
perlu susah payah bermandi lumpur. Dengan mobil itu kau bisa membawa barang
dari kota ke desa. Kau tetap bisa hidup.
Apa yang kubawa dari kota? tanya Saiman.
Apa saja, demi kemajuan desa ini.
Kenapa bukan kau saja?
Aku? Tidak mungkin, aku tak mungkin membeli sebuah mobil boks lagi. Sekarang
aku menabung agar bisa membeli pabrik sohun tempat anakmu bekerja,
Hah? Membeli pabrik?
Kalau kau mau, setelah kau menjual tanahmu, kau bisa bekerja padaku nanti.
Kata Rahmat meyakinkan.
Bekerja padamu?tanya Saiman. Rahmat mengangguk.
Saiman mulai mempertimbangkan usulan Rahmat. Dia sadar betul dengan kebiasaan
Rahmat yang sejak muda suka membual. Tapi kali ini dia merasakan bahwa ada yang
benar di balik kata-kata Rahmat. Sejak Rahmat pulang dari Jakarta lima tahun
yang lalu dan mendirikan rumah produksi, memang banyak pemuda desa yang
dijadikan pekerja.
Tapi aku tetap tak akan menjual tanahku. Meski kau tak lagi makan beras dari
padi yang kami tanam, tapi aku percaya, di sana, masih ada yang mau makan
berasku, ujar Saiman sambil bangkit dari sawung.
Rupanya kau masih percaya dengan dongeng petani adalah tiang negara. Baiklah,
aku mau lihat sejauh mana ketabahanmu menjadi petani. Semoga kau bukan Wak
Kandang yang baru. sambar Rahmat ikut bangkit.
Mat, kau boleh lihat, sejengkal pun, tanahku tak akan berkurang. Malahan akan
bertambah dan bertambah terus. ketus Saiman.
Iya, tentu aku akan lihat, bagaimana nasib tanahmu. Aku akan lihat seberapa
produktifnya kau di usia senja, aku akan melihat apa yang akan dimakan warga
desa ini lima tahun lagi. Semoga aku panjang umur untuk melihat semua itu,
Man, jawab Rahmat.
Kau kacang yang lupa kulitnya,
Aku tak lupa, aku tak pernah lupa dengan masa-masa itu. tapi aku berniat
merubahnya Man.
Kau tak merubahnya, kau merusaknya. Kau merusak desa kita. Apa yang telah kau
buat? Kau pikir kau telah berjasa dengan memberikan lapangan kerja bagi pemuda
sini? Tak kau lihat efek sampingnya pada mereka? Dengan bualanmu, sesungguhnya
mereka telah tumbuh menjadi pemimpi. Mereka harus menjual tanahnya dan menjadi
pekerja di pabrikmu. Kau lah yang tak pernah memberikan sumbangan apapun kepada
desa kita. Kau terlalu sibuk dengan isi bualanmu.
Aku tak membual. Itu kenyataan. Mereka masih muda. Mereka lah yang akan
merasakan masa depan. Kita sudah selesai Man. Sudah tamat. Kita tinggal masuk
ke dalam tanah. Dikubur. Hanya soal waktu saja. Kita sama-sama menunggu. Tapi
mereka, mereka punya kesempatan untuk menjadi manusia baru, manusia yang
modern, manusia yang bisa pergi ke mana pun tanpa harus menunggu pinjaman
sepeda butut milik Wak Kandang.
Saiman diam. Kenangan masa lalu kembali. Dia kembali merasakan sakitnya hidup
bersama Rahmat, ketika harus berjalan kaki lima jam untuk keluar dari desa di
bawah kaki bukit Halimun.
Tapi aku tetap saja tak suka caramu yang mendukung penggusuran pasar
tradisional. Kau tak pernah berpikir, bagaimana nasib orang yang menggantungkan
nasibnya di pasar itu selepas digusur? Kau mengijinkan agar semua kebutuhan
tani dikurangi dan mulai bertanam dengan cara yang aneh. Cara yang kau bilang
sebagai petani modern? Bah, setahuku, kotoran kerbau lebih baik daripada
tumpahan solar. kata Saiman sambil membuang puntung rokoknya ke pematang.
Orang seperti kau memang tak mudah memahami maksud dari perbuatanku. Tapi tak
apalah. Kau punya keyakinan dan aku juga punya jalan sendiri untuk memajukan
desa ini. ujar Rahmat.
Petani lebih dibutuhkan di sini daripada pemimpi sepertimu, sambung Saiman
sambil menyambar peralatannya dan beranjak pergi meninggalkan Rahmat.
Kaulah yang pemimpi Man. Kau pikir orang sepertimu akan bertahan di desa ini?
Kau pasti akan datang padaku suatu hari nanti. Aku berani bertaruh! teriak
Rahmat kepada Saiman yang telah hilang ditelan malam.
****
Di rumahnya, Saiman tak bisa pulas. Sementara subuh hampir mampir di desa kami
yang perlahan tak perawan lagi. Dengan langkah tergopoh Saiman bangkit dari
ranjangnya dan siap berwudhu. Di depan pintu kamar, kata-kata Rahmat masih
terngiang. Petani adalah beban negara. Petani adalah beban negara. Itulah
kalimat Rahmat yang Saiman mengerti.
Tiba-tiba saja seluruh lembaran hidupnya membentang di depan pandangan Saiman.
Dia melihat dirinya yang terjatuh saat menggiring kerbau Wak Kandang. Dia
melihat mahasiswa-mahasiswa yang pulang ke desa dengan senyum kemenangan. Dia
melihat tanahnya yang subur bertambah sepetak lagi, dia melihat anak-anaknya
yang memilih menjadi buruh pabrik daripada petani. Dia melihat desanya
berkembang. Dia melihat semua petani menjual tanahnya. Dia melihat semua warga
tak lagi makan beras tapi makan roti yang diimport dari luar negeri. Dia
melihat bangunan-bangunan baru berdiri di atas lantakan persawahan. Dia melihat
tanahnya digarap orang asing. Dia melihat Rahmat membeli pabrik sohun. Dia
melihat
rabu.
Azan subuh mengumandang dari surau yang tak jauh dari rumah Saiman. Sekarang
Saiman tak melihat apa-apa lagi.
****
Pukul enam pagi rumah Saiman sudah didatangi warga. Tenda biru berdiri,
kursi-kursi sudah tertata rapi. Di salah satu kursi duduk Rahmat. Berkemeja
putih, celana jeans serta peci hitam bertengger di kepalanya. Di sebelahnya
duduk Bondan, anak tertua Saiman. Dengan mata sembab ditundukkannya wajahnya ke
bawah.
Tak lama suara ringtone handphone milik Rahmat berbunyi. Bondan tersentak.
Dengan cepat Rahmat merogoh saku kemejanya dan membalas suara orang di seberang
sana. Bilang pada penggali, pokoknya Almarhum harus dapat tempat yang mudah
dikunjungi keluarga. Jangan terlalu ke tangah, jang terlalu dekat dengan
gerbang masuk. ujar Rahmat. Bondan yang duduk di samping, mendengarkan Rahmat
dengan seksama. Namun tidak demikian dengan Saiman. (Hujan, [EMAIL PROTECTED])
Sukabumi, 10 November 2007
---------------------------------
Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.