Temans, di pengujung tahun ini, saya menulis sebuah cerita.Silakan dinikmati.


Setelah Kematian Hang Jebat

Oleh: Hujan

“Hang Jebat mati,” ujar Saman sambil terengah-engah menghampiri Malik. Lelaki 
itu berhenti di belakang Malik sambil membungkukkan badan mengatur nafas. 
Mendengar kabar dari Saman, Malik diam sejenak. Dihentikannya pekerjaannya. 
Untuk sesaat dia mengheningkan cipta. Kemudian melepas pandangannya ke lautan 
luas yang ada di hadapannya.
“Dia mati juga?” tanya Malik dengan suara datar dan pelan. Saman mendekat, 
didekapnya Malik. Berdua mereka saling bertangisan.
“Tuah sudah membunuhnya, dengan sekali tikaman,” ujar Saman sesenggukan. Malik 
mengajak temannya itu duduk di atas dermaga kayu yang menjorok ke tengah laut.

“Bagaimana mungkin Jebat bisa tewas dalam sekali tikaman?” tanya Malik 
melanjutkan     pertanyaan.
“Taming Sari,” jawab Saman.
“Taming Sari?”
“Begitu kata Tuah, Jebat mati karena senjata makan tuan,” kata Saman 
menjelaskan.
“Aku tidak percaya Saman,”
“Tuah bicara apa?”
“Dia tak banyak bicara, kulihat matanya masih merah menahan lelah. Kupikir 
mereka pasti bertempur demikian dahsyat,” kisah Saman bersemangat. 
“dan Kau pikir Jebat akan begitu saja kalah?”
“Tentulah, Jebat terlalu angkuh Malik,”
“Laksamanamu itu lah yang terlalu angkuh,” balas Malik. Tangannya masih terus 
mengasah keris. Saman hening sejenak. Sekarang dia menyadari bahwa adalah suatu 
hal yang berat untuk membawa temannya itu kembali ke jalan yang benar. Kembali 
ke pangkuan negara. [baca selengkapnya di sini>>> RUMAH KACA]
</</</
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke