AKU INGIN JADI NARUTO, OM!
  Fiyan Arjun
   
  http://sebuahrisalah.multiply.com
  ID YM : paman_sam2
  
   
   
  Saya adalah seorang Om yang cukup banyak memiliki keponakan yang cukup nakal. 
Seperti Paman Donal Bebek saya mengumpamakan diri saya. Memiliki keponakan yang 
nakal semacam Kwik, Kwek dan Kwak. Para keponakan yang nakal, tapi juga 
perhatian dan memberi semangat kepada sang paman jika sedang mengalamai 
kesusahan.
   
  Sementara saya sebaliknya. Sering kali mengernyitkan dahi. Apalagi keponakan 
saya yang satu ini yang masih berusia 6 tahun dan duduk dibangku kelas 2 SD. 
Memang saya ini mempunyai bermaca-macam keponakan dalam berbagai usia. Paling 
besar usianya berumur 16 tahun, duduk di bangku kelas 2 SMEA dan yang paling 
kecil, ya itu tadi yang masih duduk di bangku SD kelas 2 SD.
   
  Nah, keponakan saya inilah yang paling nakal dan susah diatur oleh saya 
sebagai Om-nya. Selain itu keponakan saya ini berani sekali sama orang lain.
   
  Suatu hari ketika saya sedang main ke rumah kakak perempuan saya—memang kalau 
saya habis ke rumah kawan saya atau pergi ke toko buku pulangnya pasti mampir 
ke rumah itu. Rumah kakak perempuan saya. Ya, walau hanya sekedar melihat-lihat 
keadaan keponakan-keponakan saya itu. Maklumlah namanya juga OM yang selalu 
peduli terhadap perkembangan keponakannya.
   
  Namun ada yang membuat saya bikin narik urat ketika saat saya ingin ke rumah 
kakak perempuan saya, yakni ketika tanpa sengaja saya melihat keponakan saya 
sedang asyik main Playstation (PS) Naruto dan CS-nya itu bersama kakaknya di 
rental viodeo game online yang tidak jauh dari rumah kakak perempuan saya. 
Karena sebagai seorang OM yang bertanggung jawab terhadap keponakannya, saya 
menyuruh mereka pulang.
   
  “Pulang, yuk! Om, bawa jeruk nih buat kamu,” ujar saya membujuk mereka agar 
mau menuruti apa yang saya katakan. Namun upaya saya membujuk mereka tidak 
membuahkan hasil. Menolak diajak pulang! Malah mereka lebih fokus meneruskan PS 
tanpa menggubris perkataan saya.
   
  “Nggak ah, Om! Enakan main PS!” tukasnya kompak. Antara kakak-adik saling 
mendukung.
   
  “Lho, emangnya kalau nanti sudah besar kamu mau jadi apa sih?” Tanya saya 
melihat tingkah mereka yang membuat saya jadi bete dan ilfil.
   
  “Ya, Izal mau jadi Naruto, Sasuke,  Kakashi, Lee serta mau jadi pasukan 
Hokage,” jawab keponakanan saya yang paling kecil seenaknya tanpa aling-aling 
dan tanpa mengerti. 
   
  “Iya, Om Amri juga ingin seperti mereka,” timpal kakaknya yang masih duduk 
dibangku SD duduk dikelas 6 SD itu. Ikut menimpali pertanyaan saya sambil 
menujukan gambar Naruto dengan CS-nya di cover kaset viodeo game.
   
  Mendengar jawaban dari mereka berdua saya jadi terkejut ketika mereka 
menyembutkan nama-nama tokoh di film kartun yang ditayangkan tiap regulernya 
seusai adzan Maghrib itu dan juga di relay pagi hari saat mereka mau berangkat 
sekolah yang menjadi idola dadakan mereka sekarang. Lalu apa yang saya lakukan 
saat itu? Saya hanya bisa termangu ketika para keponakan saya menjawab seperti 
itu. ”Kok bisa ya mereka tahu nama-nama film kartun itu yang saban hari 
ditayangkan usai Maghrib itu di televisi swasta. Film kartun Naruto dan 
kawan-kawanya itu,” pikir saya saat itu.
   
  Bukannya apa-apa saya takut mereka akan terpengaruh yang tak baik. Memang sih 
film kartun itu sering saya tonton juga. Makanya saya tahu apa yang mereka 
katakan. Tapi yang membuat saya miris dan merasa bersalah yakni mau jadi apa 
mereka nanti kalau sudah besar nanti? Toh kalau sering bermain dan menyaksikan 
film kartun itu terus-terusan yang tak memberi manfaat dan tak ada gunanya!
   
  Padahal orangtua mereka notabene kakak perempuan saya juga sudah melarang 
bermain PS  serta memarahinya  tapi tetap saja mereka membandel. Entahlah, saya 
juga tidak bisa terlalu insten mengawasi mereka. Selain rumah saya dan tempat 
tinggal kakak perempuan saya itu pun cukup jauh –dengan dua kali naik angkot. 
Ya, namanya juga anak-anak, begitu tingkahnya kadang membuat kening berkerut! 
Entahlah saya sendiri juga belum bisa merasakan bagimana menjadi seorang ayah 
yang sebenarnya!
   
  “Izal dan Amri mau jadi pasukan Hokage, Om?” lanjutnya.
   
  “Duh Gusti!”
   
                                                           Ulujami, Januari 2008
   
   
   
   

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke