Temans silakan baca cerita saya di Rumah Kaca. 

Tabik,

Hujan

Cerpen: Tempat

...“Mencari sesuatu di sini?” ujar orang tua itu padaku.
“Eh, iya Pak,” kataku sambil terus berusaha merapikan lipatan kertas alamat 
yang kupegang.
“Tahu alamat ini Pak?” tanyaku sejurus pada lelaki tua itu. Dia mengernyitkan 
dahi. Sesaat kemudian melempar senyumnya padaku. “Tidak,” ujarnya sambil 
menggelengkan kepala.
“Oh, tidak ya?” tanyaku bersungut-sungt menyesali diri sendiri. Sepanjang hari 
aku sudah berputar-putar di kota ini, mencari tahu alamat yang tertera di 
kertas yang sudah lecek ini. Sekali dua kali aku bertanya, namun agaknya semua 
menjawab sama seperti bapak tua ini.

“Tidak ya Pak?” ulangku sekali lagi. Lelaki tua itu mengangguk. “Saya tak bisa 
baca,” jawabnya sambil tersenyum.
Sial, pikirku. Tapi semoga saja dia hanya buta aksara, namun tidak buta peta.

Dengan sabar aku menjelaskan padanya tentang tujuanku.
“Kota B, Simpang Empat, Jalan Reif nomer satu,” paparku. Lelaki tua itu diam 
sejenak.

“Kota B, Simpang Empat ya?” ulangnya kepadaku.
“Betul Pak,” jawabku.
“Kota B nya sudah benar, tapi Simpang Empatnya…”
“Simpang Empatnya Pak?” tanyaku sekali lagi. Dia tercenung sejenak. “Sebentar 
Mas,” katanya sambil memegangi jidatnya yang lebar hingga ke ubun-ubun 
kepalanya.
“Mungkin yang Mas maksud jalan Sahabat?” tanyanya lagi.
“Bukan Pak, Simpang Empat.” ulangku. Lelaki itu diam. Aku mengeluarkan bungkus 
rokok dari kemejaku. Memilah batang rokok yang kering. Mungkin dengan rokok 
ingatan lelaki ini bisa terbuka. Kusodorkan kota rokok yang sudah kupilihkan 
untuk dia, “Ini Pak, hisap dulu,” tawarku. Dia tak menggubris dan terus 
menggaruk kepalanya yang setengah meranggas.

Tetes hujan terus jatuh menghantam atap bangunan setengah jadi yang kutumpangi. 
Aku masih menunggu jawaban lelaki itu.
“Hingga setua ini, saya tak pernah meninggalkan kota ini. Simpang Empat…” ujar 
dia sambil menggelengkan kepalanya tanda menyerah.

Aku masih terpaku berdiri, menunggu jawabannya.
“Simpang Empat yang Anda maksud, saya tak paham, tapi mungkin saya bisa 
katakan, mungkin yang dimaksud adalah jalan Sahabat. Inilah jalan yang saya 
maksud.” Kata lelaki itu.
“Tapi, simpang empatnya?”
“Simpang Empat?” tanya lelaki itu lagi. Diangguk-anggukkannya kepalanya, 
kemudian dia tertawa. “Kemari Mas,” bisiknya sambil meraih lenganku. Kemudian 
kami beranjak pergi ke sebuah sudut di tempat yang sama. 
Baca selanjutnya di Rumah Kaca, 
http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=rumah_kaca
 

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke