Temans, satu lagi ceritaku dimuat di Rakyat Merdeka Online. silakeun dinikmati yah..
tabik Hujan Janji (untuk Gita) "...Selasa malam dia sudah duduk lagi di halte itu. Meski pakaiannya basah, dia tetap yakin, kalau perempuan itu akan singgah. Lelah menderanya sepanjang hari ini. Namun lelaki kurus itu tetap semangat menanti janji yang tak pernah diberi. Aku benci kota ini. Hujan, bawalah aku pergi, desak Gita suatu ketika. Tidak mau. Aku cinta kota ini, jawab lelaki itu. Bagaimana mungkin? Sejak kedatangan orang-orang sepertimu, kotaku sudah tak lagi asri. Semua imitasi. Lihat saja, semua penduduk sudah memakai pakaian kepalsuan. Hujan, aku tak mau menjadi manusia palsu. Please bawa aku pergi, Manisku, aku tidak bisa membawamu, bujuk lelaki itu. Kenapa? Kau sudah punya istri ya di kota lain? Sudah punya anak? Bukan begitu, Ah, kau palsu. Sama saja seperti orang-orang asing yang singgah ke kota ini. Jangan bicara begitu honey, Habisnya, kalau kau memang bukan imitasi, lantas apa? Banci? Lelaki itu masih tersenyum-senyum sendiri setiap kali mengingat wajah kekasihnya yang marah. Bagi dia wajah cemberut pacarnya adalah pemandangan yang luar biasa. Bahkan lebih luar biasa daripada pemandangan ketika pada suatu hari, dia melihat satu persatu penduduk kota itu pergi dengan alasan yang tak pernah jelas. Tatap mataku, kau tak pernah serius padaku. Kau hanya tertarik pada kota terkutuk ini, Aku suka kota ini, Bohong, mana ada orang yang suka pada kota kosong melompong begini? Ada, akulah orangnya, Ih!!! Hari lain sudah menanti. Lelaki kurus itu pergi untuk kemudian nongkrong kembali di halte bis pada sore harinya. Entah Rabu keberapa. Tapi yang jelas lelaki itu tetap ada di sana. Dengan jas hitam berdasi kupu-kupu. Tak lupa menggenggam sekuntum mawar yang selalu segar..." Baca lengkapnya: http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=rumah_kaca --------------------------------- Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
