MA’AF LUPA DI RESTLETING, MBAK!
   
  Fiyan Arjun
  http://sebuahrisalah.multiply.com
  ID YM : paman_sam2
  
   
   
  Hari Senin adalah hari pertama gue “benar-benar” masuk kerja lagi. Maklum 
sudah empat tahunan gue sudah tidak menampaki dunia baru itu. Nah karena dunia 
baru gue baru dimulai hari itu juga gue pun harus berangkat lebih awal. Karena 
apa? Kesan pertama kerja harus membawa kesan. Kebetulan hari itu gue masuk 
kerja giliran dapat waktu siang. 
   
  Part time, itulah pekerjaan yang gue lakukan sekarang. Dan menjadi pustakawan 
profesi sekarang ini yang ada di pundak gue. Karena gue sengaja mengambil kerja 
paruh waktu itu biar “dunia“ yang  gue geluti selama ini bisa bersinergi. 
Saling berkesinambungan. Kerja iya, menulis kudu! Karena menulis bagi gue 
adalah shock therapy bagi gue tiap hari. Tanpa menulis tiap hari gue seperti 
orang sakau. Bukan sakit karena “kau“ tapi memang itu keharusan dan sudah 
prinsip gue sejak gue geluti benar-benar “dunia” gue ini.
   
  Akhirnya karena gue takut hari pertama gue kerja dapat resiko. Jalanan macet 
yang tidak bisa ditoleransi gue pun langsung ngacir. Berangkat kerja. Atau, 
gawe. Tapi lebih dahulu minta do’a restu sama nyokap gue. Sebab doa nyokap bagi 
gue bagaikan penawar sakit bila gue sakit terus gue minum akhirnya gue pun 
sehat kembali. Mujarab. Maklum biar begini-gini gue sangat sayang sama nyokap 
gue yang masih setia menemani gue sampai saat ini. Nyokap gue itu single 
parent. Jadi gue harus sayang sama beliau.Yaiyalah gue kan harus tau diri 
memang gue terlahir dan keluar dari perut bumi. Kan nggak mungkinkan? Jangan 
gile deh lho....
   
  Dus, hari pertama gue masuk kerja diwarnai hal yang nggak banget gue ingin 
alami lagi dalam seumur hidup gue. Sumpeh tujuh turunan gue nggak bakal 
ingat-ingat lagi tuh dengan peristiwa yang hari itu gue alami. Sebenarnya gue 
juga sih yang salah berangkat nggak langsung periksa apa aja yang belum dan 
benar-benar  gue lupa. Dan ternyata gue benar-benar lupa. Bukan! Bukan lupa 
bawa transport, ransum atau yang lainya. Tapi ini hal tentang rahasia cowok 
yang nggak boleh orang semua tahu. Apalagi para wanita yang masih lajang. 
Pamali, katanya. Dan, akhirnya semua tahu juga deh. Yaiyalah lha wong gue tulis 
disini. Mau tahu rahasia cowok yang nggak boleh tahu sama orang lain, khususnya 
para wanita lajang. Yup, gue lupa menutup restleting celana gue pas mau 
berangkat kerja. Hal ini terjadi saat gue sedang naik angkot dan mau berangkat 
kerja. Mau tau ceritanya? Begini nih ceritanya. Pasang kuping  lebar-lebar dan 
pasang mata biar jelas ya? Oke, deh kita mulai.
   
  “Nih Mbak-mbak kok senyum-senyum sama gue ya. Apa ada yang aneh ya sama gue,” 
bathin gue saat itu. Masih di atas angkot. Gue nggak sadar bawa dalam diri gue 
ada sesuatu yang “ganjil”. Dan itu gue nggak tahu apa yang ganjil dalam diri 
gue saat itu.
   
  Gue masih salting. Melihat mbak-mbak yang masih senyum-senyum ke arah gue. 
Tapi, alhmadulillah mbak-mbaknya manis juga. Kayaknya tipe gue banget. Sudah 
keibuan, manis dan murah senyum lagi (mungkin murah senyum karena lihat ke 
ganjilan gue kale ye?) Dan gue juga nggak tahu apa yang gue harus lakukan saat 
mbak-mbak itu senyum-senyum ke arah gue dan gue juga nggak tahu harus berbuat 
apa. Karena nggak ada inisiatif lagi akhirnya gue balas aja sama senyuman maut. 
Pasng senyum close-up! Cling, ke arah mbak-mbak itu lagi. Jadilah gue main 
senyum-senyuman seperti bocah kecil yang main lirik-lirikan mata. Tapi 
untungnya gue nggak sampai keterusan.Kalau keterusan bisa berabe! Haram, 
hukumnya.
   
  “Ada apa sih Mbak kok ngeliatin saya sejak tadi?” Tanya gue ke arah mbak-mbak 
yang gue taksir masih berusia dua puluh tujuh tahunan itu yang ada di hadapan 
gue dengan penasaran.
   
  Mbak-mbak  yang ada di hadapan gue masih keadaan seperti semula. Masih 
tersenyum ke arah gue. Gue pun masih tanda tanya apa yang salah sih sama gue 
ya? Pikir gue dalam keadaan masih tetap tidak sadar.
   
  Tidal lama kemudian diperjalanan keberangkatan gue angkot yang gue tumpangi 
sudah berjubel dengan para penumpang. Kanan enam, kirim empat. Kanan untuk enam 
orang penunpang. Kiri untuk empat orang penumpang. Karena sudah penuh angkot 
yang gue tumpangi itu langsung tancap gas. Dan gue masih dalam keadaan mencari 
sesuatu dalam diri gue yang ganjil itu. Dan ketika gue sedang cari sesuatu 
dalam diri gue. Ada lagi cewek yang tersenyum-senyum ke arah gue. Tapi kali ini 
cewek yang senyum-senyum ke gue adalah anak sekolah. Masih berseragan putih 
abu-abu. Lumayan cantik. Tapi sayang gue nggak tahu namanya, kelas berapa dan 
juga sekolah di mana? Dan ia cuma senyum-senyum ke arah gue. Ada sih niatan mau 
kenalan tapi gue nggak pede. Malu sama umur gue. Ya, udah bau tanah! Gue sudah 
nggak A-Be-Ge lagi. Bukan zaman gue lagi.
   
  Akhirnya gue yang masih di senyum-senyum sama makhluk manis di angkiot itu 
masih tetap tak menyadari. Masih jadi orang bodoh. Tidak tahu kalau ada sesuatu 
yang jadi bahan perhatian banyak orang. Jadi bahan senyuman orang. Dan tak lain 
gue yang jadi korbannya.
   
  “Yang kampus…Yang kampus,” teriak supir angkot yang gue tumpangi hari itu 
memberitahukan tujuan yang gue tuju. Tapi gue nggak ngeh kalau tempat yang gue 
tuju itu telah sampai.
   
  Gue tetap nggak sadar masih cari apa yang menjadi perhatian dua makhluk 
angkot itu. Mbak-mbak sama anak sekolah. Untung cuma dia makhluk manis angkot 
itu aja yang ngeliat kecerobohan gue. Gratis pula! Dan guelah yang jadi bahan 
tontonan mereka berdua.
   
  “Kampus  ya, Bang!“ ulang gue.
   
  ’Ya, Mas kampus!“ jawab supir angkot singkat.
   
  “Oya, Bang kampus-kampus pinggir.“ Akhirnya gue pun turun juga. Sampai di 
tempat yang gue tuju. Yakni, daerah kampus yang ada di dearah Ciputat tempat 
gue bekerja paruh waktu sebagai pustawakawn.
   
  “Nih, Bang onkosnya!” tukas gue lagi sambil mengasihi transport ke arah 
supirdengan uang pas. Tapi sebelum angkot itu meninggalkan gue sendiri. 
Tiba-tiba di saat angkot mau pergi meninggalkan gue ada suara cewek 
manggil-mangil gue. Yang tak lain mbak-mbak yang dari sejak pertama 
tersenyum-senyum lihat keanehan gue bukannya anak sekolahan yang tadi yang 
ingin gue kenalan itu di dalam angkot. ”Mas…Mas restletnig celananya belum di 
tutup tuh. Garasi terbuka!” ujar mbak-mbak lagi yang ada di angkot 
memberitahukan gue
   
  Gue yang diberitahukan seperti itu gue langsung mendarat ke lokasi yang 
mbak-mbak itu yang sudah memberitahukan ke arah gue sekaligus membuat gue mati 
kutu. Malu banget!
   
  “Masya Allah gue lupa restleting celana gue.” Lonjak gue saat itu juga. Baru 
menyadari keganjilan yang sejak tadi ada di atas angkot yang gue tumpangi. 
Pantas saja mbak-mbak dan anak sekolah pada tersenyum-senyum ke arah gue. 
Ternyata “gerbang” gue belum ditutup akibat kecerobohan dan gue tergesa-gesa 
berangkat kerja dan belum menutup kembali “garasi”-nya seusai abis pipis. 
“Ma’af lupa direstleting, Mbak!“ gumam gue menyesali diri sambil menuju ke 
tempat gue kerja. Apes.
   
  Ciputat, 8 Februari 2008
  Ketika hidup penuh dengan warna-warni dan gue menikmati benar dengan hal itu.
   
   


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke