CERITA PILU DI BAWAH LANGIT BIRU
Fiyan Arjun
http://sebuahrisalah.multiply.com
ID YM :paman_sam2

 Tiap hari saya selalu melewati jalan itu. Jalan dimana ketika saya mau 
berangkat kerja sambil menaiki angkot yang saya tumpangi itu, selalu saja ada 
hal-hal yang membuat hati saya terenyuh melihat suasana jalan itu. Bukan! Bukan 
soal jalanan yang tak rata atau bukan suasana perjalanannya yang tak nyaman. 
Macet. Ini bukan! Malahan ini lebih sekedar dari itu. Tepatnya jalan itu kalau 
secara khusus bisa saya katakan adalah persis dibawah antara jalan fly over dan 
lampu merah. Di tempat itulah saya harus benar-benar siap “membuka” mata hati 
saya jika melewati tempat itu.
  

  Tak ada satu pun yang terlewatkan jika saya melewati jalan itu dengan 
menumpangi angkot sebagai jasa tranportasi saya untuk menuju ke tempat saya 
bekerja. Pasti ada saja hal yang mebuat hati saya terketuk untuk berempati dan 
simpati kepada sesamanya. Sesama saudara yang tak beruntung di tempat itu. 
Diantara jalan fly over dan di bawah lampu merah. Banyak saya lihat 
saudara-saudara saya yang tak seberuntung nasibnya dibandingkan saya. Mau 
menutup mata? Saya rasa tak bisa! Toh, tiap hari jika saya berangkat kerja 
mereka itu selalu bermain di pelupuk mata saya. Mana mungkin saya bisa begitu 
saja menutup mata saya atau mengabaikannya. Padahal mereka itu adalah 
saudara-saudara saya yang patut saya “lihat.”
  

  Terlalu egois dan tak berhati jika saya memiliki niatan seperti itu. Menutup 
mata kemudian mengabaikannya begitu saja. Kalau begitu buat apa Yang Maha 
Pencipta memberikan saya mata dan hati jika saya tidak memfungsikannya sebagai 
panca indera yang dapat untuk melihat dan merasakan penderitaan saudaranya 
sendiri. Entahlah, saya harap Allah Yang Maha Kuasa selalu memberikan kemurahan 
rezeki dan kemudahan untuk saya baik dalam bekerja maupun dalam hal rezeki dan 
akhirnya saya dapat bisa membantu saudara-saudara yang lainnya yang tak 
seberuntung saya sesuai dengan kemampuan saya. Walaupun saat ini saya hanya 
bisa membantu alakadarnya terhadap saudara-saudara yang ada di pelupuk mata 
saya yang sedang mengais seperak demi seperak uang untuk membeli sesuap nasi. 
Saya harap saya bisa melakukan hal yang terbaik untuk saudara-saudara saya 
kemudian hari.
  

  Sebagai makhluk yang sempurna diciptakan olehNya yang diberi kecukupan 
sepantasnyalah kita harus membantu dan menolong sesama jangan menunggu nanti 
gajian atau menunggu kaya. Itu sama saja menunda-bunda pertolongan dan kebaikan 
jika berpendaoat seperti itu. Kok mau berbuat baik nunggu gajian atau kaya? Dan 
lagi pula toh mereka juga tak mau dilahirkan seperti itu. Sengsara atau tak 
beruntung serta mengais-ngais demi seperak demi seperak di bawah fly over dan 
di bawah lampu merah. Karena apa? Itu semua sudah digariskan oleh Yang Maha 
Kuasa. Hidup, jodoh, rezeki maupun maut itu adalah takdirNya. Jadi sudah 
sepantasnya sebagai makhluk yang beriman dan sempurna haruslah banyak bersyukur 
kepadaNya. Sebab tanpa DIA kita adalah makhluk yang lemah dan penuh dosa. Maka 
sepantasnya jika ada hamba-hambanya merasa yang sudah cukup dan hartawan 
tentulah jelas harus menghadapi hal itu. Berempati dan bersimpati. Menolong 
mereka di bawah fly over dan dibawah lampu merah.
  

  Hingga akhirnya saya punya impian ketika saya sering kali melewati tempat 
itu. Apalagi di bawah fly over dan di bawah lampu merah itu. Tiap hari selalu 
ada saja tangan-tangan mungil menengedahkan tangannya meminta belas kasihan. 
Meminta uang setiap kali ada mobil mewah lewat. Serta mengamen tanpa melihat 
bahwa bahaya sedang mengintai mereka. Selalu tak berhati-hati dalam melakukan 
“aksi panggung kecilnya” di angkot-angkot. Mengamen. Dan juga ada hal yang 
lebih prihatinkan lagi. Ketika ekor mata saya melihat seorang ibu-ibu muda 
sedang membawa seorang anak kecil meminta belas kasihan padahal anak kecil yang 
dibawanya itu sedang menangis sekeras-kerasnya karena tak tahan dengan teriknya 
mentari di bawah fly over dan lampu merah. Saya yang melihat itu tak dapat 
berbuat banyak hanya berdoa dan simpati. Ya, Allah berikan saya kemudahan untuk 
membantu mereka,” gumam saya saat itu juga dan angkot yang saya tumpangi 
akhirnya meninggalkan mereka di bawah fly over dan dibwah lampu
 merah. 
  

  Sebenarnya saya tak tega untuk meninggalkan mereka di sana. Tapi apa daya 
saya juga punya kewajiban sebagai seorang hamba yang menjadi seorang pekerja 
yang harus mengemban suatu amanah juga. Kalau saya meninggalkan itu semua 
berarti saya tidak menjaga amanah yang diamanahkan oleh orang yang mempercayai 
saya. Halnya seperti saya jika tak peduli dan menutup mata kepada 
saudara-saudara saya ada di bawah fly over dan di bawah lampu merah. Tidak 
amanah saya jadinya!
  

  Ya, itulah sekelumit cerita pilu saya di bawah langit biru yang membuat hati 
saya terenyuh dan tergugah akan sebagai makhlukNya yang masih memiliki hati dan 
perasaan. Saling bersimpati dan berempati. Walau pun keadaan saya saat ini 
belum memiliki hal yang berarti untuk lebih banyak melakukan dan menolong 
saudara-saudara saya di bawah fly over dan di bawah lampu merah. Hanya 
alakadarnya yang dapat saya lakukan dan berikan. Yakni, berdoa dan memberikan 
apa yang saya miliki walau pun dibawah langit biru.
 Antara Ulujami dan Ciputat
 Ketika hati ini terketuk.

  

  

  



       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke