Temans... berkunjunglah ke Sungai Pandan. Ceritaku soal Sungai Pandan dimuat di 
Rakyat Merdeka Online. berikut cuplikannya....


Sungai Pandan
Oleh: Hujan


"Awalnya aku sempat bingung dengan status sungai Pandan yang terletak di antara 
kampungku dengan kampung sebelah. Pasalnya, warga di kampung kami merasa paling 
memiliki sungai Pandan. Sehingga siapa pun yang datang dan perlu dengan air di 
sungai kami, selalu pamitan. Kampung sebelah adalah kampung baru. Yah, meski 
mereka sudah bermukim di sana jauh sebelum aku lahir, namun menurut bapakku, 
warga di sana tetaplah pendatang yang mesti pamit kepada warga desa kami yang 
asli keturunan rakyat Pangeran Pecah Pandan.

“Saya sudah menanyakan semua warga saya, dan meminta mereka semua bersumpah 
atas nama Tuhan,” ujar Kepala Kampung Sebelah kepada warga desa kami.
“Huh, Tuhan dibawa-bawa. Memangnya yang buang hajat di sungai itu 
ngomong-ngomong dulu sama Tuhan?” tanya seorang warga yang hadir disambut tawa 
yang lain.

“Hus, jangan sembarang lho,” sergah Kepala Kampung Sebelah.
“Huh, Anda yang jangan sembarangan,” balas warga yang lain sambil bangkit dari 
duduknya. Beberapa warga yang hadir di balai desa juga ikut bangkit.
“Tenang saudara-saudara. Kita harus membicarakan ini dengan baik-baik. Jangan 
sampai ada salah paham,” ujar Kepala kampung kami. Empat orang polisi akhirnya 
datang juga.
Sambil menenteng kotoran yang dibungkus plastik hitam, komandan polisi hadir ke 
tengah-tengah dan menenangkan warga yang tengah panas oleh suasana.

“Bapak-ibu sekalian, kami telah berusaha keras mencari tahu, siapa pemilik 
benda bau ini,” ujar Komandan Polisi sambil mengangkat tinggi kantong plastik 
yang ada di genggamannya.
“Pokoknya kami tak mau tahu, harus ada yang bertanggung jawab,” ujar seorang 
warga lain.
“Iya, memang harus ada. Namun ini pekerjaan sulit. Dan butuh waktu yang lama,” 
ujar komandan polisi lagi. Balai desa reda sejenak.
“Kami tidak rela bila sungai kami dicemari oleh orang-orang yang sengaja ingin 
mengolok keyakinan kami,” sambung warga itu lagi. Komandan Polisi diam. Begitu 
pula dengan Kepala Kampung Sebelah.
“Untuk pencemaran itu, kami siap untuk mati,” sambung warga yang lain lagi.
“Betul! Pokoknya siap!” sambung warga yang lain sambil mengangkat tinggi alat 
berburunya. Suasana semakin tegang. Komandan Polisi kehabisan kata. ..."

Baca Selengkapnya di : 
http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=rumah_kaca

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke