PENYESALAN SANG MAHASISWA EKONOMI
Fiyan Arjun
http://sebuahrisalah.multiply.com
ID YM : paman_sam2
Siang masih terik. Udara panas masih menyengat di segala ruangan. Ruang
perpustakaan. Tapi, alhamdullilah hal itu bisa diatasi oleh sebuah kipas angin
listrik yang cukup lumayan membuat suasana menjadi tidak begitu panas.
Kebetulan di ruangan itu hanya ada saya dan seorang mahasiswa jurusan ekonomi
semester terakhir yang sebentar lagi mengambil skripsi dan seterusnya lulus. Di
ruang perpustakaan itu hanya saya dan dia. Berdua. Seorang mahasiswa ekonomi
semester terakhir mengambil tingkat Strata Satu (S1). Dan mahasiswa itu kuliah
di Perguruan Tinggi Islam Negeri di salah satu di kota Tangerang.
Di ruang itu (perpustakaan) secara kebenaran giliran sayalah yang bertugas
menjaga perpustakaan itu (baca:pustakawan). Biasanya kawan sayalah yang
bertugas di tempat itu. Bertugas sesuai jadwal yang sudah di sepakati (rolling)
kami berdua. Ya, berdua. Karena yang bertugas di perpustakaan itu hanya saya
dan kawan saya yang saat itu bertugas pagi. Dan, jadilah sang mahasiswa itu
sebagai konsumen perpustakaan yang saat itu saya yang menjaganya. Pelanggan
perpustakaan. Seorang mahasiswa ekonomi semester terakhir.
Singkat kata mahasiswa itu pun menyewa buku yang ada di perpustakaan yang
saya jaga itu. Ia pilih buku sesuai bidang dan jurusan yang ia pilih. Buku
ekonomi. Dan bertepatan saat itu ia sedang UAS (Ujian Akhir Semester) untuk
mengkahiri masa perkuliahannya. Akhirnya ia pun menyewa buku lalu membacanya
sekalian menambah ilmu untuk nanti ujian. Siapa tahu keluar nanti saat ujian.
Mungkin begitu kata hati kecilnya berbicara.
Lama. Ia membaca buku yang disewanya. Lalu ia baca lembar demi lembar buku
yang sudah hijrah di tanggannya. Penuh khidmat dan serius. Akhirnya ia pun usai
juga membaca buku yang disewanya. Namun seusai ia membaca buku yang disewanya
ia tak langsung pergi ke dari perpustaakan yang saya jaga itu dan tak langsung
ke kampus dimana ia menuntut ilmu ekonomi itu. Ia menumpang istirahat sejenak
dulu dan tiba-tiba....ia pun mengajak saya berbicara.(Lebih tepatnya curhat!).
Sudah berapa lama jaga disini, Bang? tanyanya berbasa-basi kepada saya.
Saya!? kata saya meyakinkan lagi.
Iya, abang! katanya lagi.
Oh, saya masih baru. Baru juga dua minggu, jawab saya singkat saat itu.
Padat. Memberitahukan sang mahasiswa yang belum begitu saya kenal.
Oya, Bang gimana cara kalo kita dikucilin sama kawan-kawan kita. Apalagi
saat hasil ujian kita jeblok. Jelek semua. Dapat nila D. Terus apa yang kita
lakukan. Tiba-tiba dari mulutnya keluar suatu curhatan yang membuat saya
menjadi terharu bahkan membuat saya simpati terhadap apa yang di utarakan
kepada saya hari itu.
Lha, memangnya kenapa, ujar saya lagi.
Gini Bang nilai saya jelek-jelek semua. Ya, memang sih ini salah saya juga.
Waktu saya saat kuliah dan pas berdekatan ujian saya malas-malasan. Dan
akhirnya seperti begini. Menurut abang gimana ya? Dan apa yang saya lakukan.
Saya diam. Diam bukan berarti tak mendengarkan. Tetapi mencari jawaban apa
yang tepat untuk saya sampaikan kepadanya. Dan tepat pada sasaran.
Ya, kamu harus tunjukin dong bahwa diri kamu bisa. Biarlah orang berkata apa
terpenting kamu bisa membuktikannya. Bahwa kamu akan serperti mereka.
Kawan-kawan yang sering ngucilin kamu. Ingat nggak kisah hikayat tentang ada
seorang bapak dan anak kecilnya membawa keledai. Lalu apa yang mereka dapatkan
dan mereka terima saat itu?
Sang mahasiswa yang sedang ada di depan saya pun berpikir. Seakan-akan ia
tahu jawabannya. Dan juga ia tahu tentang kisah hikayat itu. Tentang kisah
seorang bapak dan anaknya yang membawa keledai.
Nah seperti itu. Banyak omong-omongan yang silih beganti. Mengatakan bapak
itu tak punya perasaan atau sebaliknya anak kecilnya itu tak menghargai ayahnya
saat menunggangi keledai. Dan lebih parahnya saat keledai itu tak di
apa-apakan. Mereka berdua dikatakan orang yang bodoh.Ya, seperti itulah masalah
kamu hadapi. Jadi tetap percaya diri. Bahwa kamu itu bisa. Buktikan kepada
kawan-kawan kamu yang sering mengucili kamu. Ingat tak selamanya rumput
tetangga itu lebih hijau terus. Kadang pula rumput itu akan mengering. Jadi
kamu harus yakin bahwa kamu bisa. Panjang lebar sangat memberitahukan itu
semua. Itu semua saya lakukan gunanya untuk sang mahasiswa yang ada di hadapan
saya yang sedang resah dengan masalahnya. Agar mengerti dengan apa yang saya
maksudkan.
Sudahlah penyesalan nggak ada gunanya. Lanjut saya lagi.
Iya, ya Bang? kenapa penyesalan datangnya belakangan. Coba kalo datangnya
depan duluan mungkin saya nggak begini, ya? jawabnya sambil tersenyum.
Saya yang mendengarnya pun juga tersenyum kecil. Mendengar jawaban refleksnya
yang baru ia sadari. Bahwa penyesalan tak ada gunanya ia sesalkan.
Mengungkapkan penyesalannya selama itu. Penyesalan atas ulahnya sendiri. Dan
ia pun mulai menyadarinya. Namun sayangnya saat ia mulai sadar tiba-tiba ia
baru ingat jam yang ada di dinding tembok perpustakaan sudah menunjukan waktu
dirinya masuk kuliah untuk ujian. Dan ia pun begegas. Bersiap-siap menuju
kampus.
Makasih ya, Bang atas curahatannya. Dan juga terima kasih atas sarannya.
Dan ia pun lari. Terburu-buru menuju kampus di mana ia menutut ilmu.
Meninggalkan saya di perpustakaan sendiri. Dan terlebih dahulu ia mengucapakan
salam. Assalamualaikum, Bang! Saya ke kampus dulu ya, Bang? Ada ujian nih
takut telat. Katanya lagi.
Waa'laikumsalam. Ya, udah semoga sukses ya, jawab saya. Terharu melihat
sang mahasiswa itu.
Penyesalan. Ya, penyesalan.Bicara soal penyesalan tidak akan pernah ada
habisnya. Kita juga pastinya sudah bosan dengan pepatah, "penyesalan selalu
datang terlambat." Tiba-tiba saja kita menyesal karena saat menjelang ujian
kita tidak mempersiapkan diri dengan optimal. Padahal, kalau saja kita
mengurangi jatah "nongkrong" di depan televisi, di game center, untuk belajar,
pasti bisa lulus. Itulah yang dihadapi mahasiswa yang menjadi kawan curhatan
saya itu. Setiap orang pasti mempunyai kesalahan. Dan hasil dari adalah
penyesalan. Baik kepada Tuhan maupun sesama manusia. Baik disebabkan melakukan
kemaksiatan, kelalaian, kekufuran, meninggalkan kewajiban dan lain-lain. Jika
dosa itu dibiarkan, maka akan menenggelamkan diri. Karenanya harus ditobati!
Ya, semoga saja apa yang saya berikan dari hasil curhatan dirinya itu berguna
untuknya. Curhatan serta penyesalan dari dirinya. Sang mahasiswa ekonomi.Agar
itu semua bisa membuat dirinya sadar dan tak mengulangi kesalahan yang sudah ia
perbuat itu. Dan saya sebagai sesama saudara seiman sudah sepatutnya memberikan
yang terbaik. Memberikan mahasiswa itu saran dan masukan agar ia bisa lebih
baik dan bisa mebuktikan kepada kawan-kawannya yang mengucilkan dirinya itu.
Serta ia bisa sabar dan tabah dalam menghadapi masalah yang akan ia hadapi
setelah masalah yang hadapi itu usai. Serta tak membalas kucilan dari
kawan-kawannya setelah ia bisa membuktikan itu semua. Semoga.
Sesungguhnya Allah sangat gembira melihat tobat hamba-Nya, melebihi
kegembiraan seseorang diantara kamu yang tiba-tiba menemukan kembali
kendaraannya yang hilang.(Bukhari-Muslim)
Tulisan ini khusus ane persembahkan buat para mahasiswa dan mahasiswi yang
sekarang lagi pada sibuk membuat skripsi dan membuat judul...Gudlack!!
Ciputat, Februari 2008
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.