TERKUNCI DI DALAM KAMAR MANDI
  Fiyan Arjun
  http://sebuahrisalah.multiply.com
  ID YM :paman_sam2
   
  Ahad pagi seperti yang sudah-sudah kegiatan rutinitas gue adalah menghadiri 
atau kumpul-kumpul sesama para penulis muda di masjid yang beralokasikan di 
Taman Ismail Marzuki, Cikini. Persisnya di depan Insitiut Kesenian Jakarta 
(IKJ). Ya, itu tuh sekolah tinggi untuk orang-orang yang ingin berkreasi dan 
meng-ekspesikan diri di dunia sastra maupun di dunia pertelevisian dan 
perfilman. Taukan itu IKJ? Gue harap taulah?
   
  Cerita yang memalukan sekaligus membuat orang yang ketawa-ketiwi jika ngeliat 
ke arah gue dimulai ketika gue ingin pipis. Kebelet pipis lebih tepatnya. 
Maklum pagi itu suasana sangat mendukung. Sudah sejuk banyak pohon-pohon besar 
yang menutupi tempat itu juga ditambah lantai masjid juga dingin. Jadi makin 
kloplah. Tambah gue kebelet pipis! Akhirnya tanpa komando gue langsung ke kamar 
mandi masjid. Kebetulan saat gue lagi punya hajat pintu untuk tempat buat 
berwudhu tidak dikunci. Biasanya pintu itu terkunci bila belum saatnya waktu 
adzan dzuhur tiba. Mungkin nasib gue yang lagi mujur kali ya hari itu? 
Sebenarnya sih saat gue lagi ingin melepaskan hajat gue sebentar lagi adzan 
dzuhur—lima belas menit lagi berkumandang. Tapi untunglah hari itu gue bisa 
melepaskan hajat gue dengan damai. Ya, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan…
   
  Lama gue buang hajat di dalam kamar mandi tanpa ada rasa beban apalagi 
khawatir bila saat itu gue akan mengalami hal yang sangat membuat gue paranoid 
seperti dapat sumpah serapah dari orang yang menyumpahi diri gue. Ternyata 
pintu kamar mandi yang gue pake untuk buang hajat gue terkunci dari dalam. Dan 
gue pun jadi was-was. Apalagi jika sampai adzan dzuhur tiba gue nggak keluar 
juga untuk melaksanakan shalt dzuhur.
   
  “Ada orang nggak disitu,” ucap gue minta pertolongan darurat. 911-nya versi 
gue minta pertolongan dari orang-orang yang saat itu ingin mengambil wudhu 
untuk shalat dzuhur.
   
  Nggak ada sahutan.
   
  Gue masih berupaya untuk membuka pintu yang terkunci itu. Mendobrak? Ye, 
nanti gue yang disuruh minta ganti dan alih-alihnya gue dapat ceramahan dari 
pengurus masjid lagi. Akhirnya gue berusaha dan berpikir gimana cara keluar 
dari kamar mandi yang membuat gue bete. Bukan itu aja gue udah nggak betah di 
tempat kayak begitu.
   
  “Ada orang nggak disitu…” kata gue lagi mencari bantuan biar ada yang 
ngeluarin gue dari kamar mandi.
   
  “Ada orang ya?” tiba-tiba ada orang yang menjawab ucapan gue. Alhamdulillah, 
akhirnya ada juga yang menjawab ucapan gue, bathin gue saat itu.
   
  Ternyata orang yang menjawab ucapan gue itu tak lain adalah anak-anak baru 
yang baru bergabung dalam komunitas penulisan yang gue diami gampir belum satu 
ini—samapai saat ini. Gue masih aktif di komunitas itu.
   
  “Ya, ada orang didalam!” seru gue singkat. “Eya, tolong gue dong bukan pintu 
kamar mandi,” lanjut gue meminta bantuan sama orang yang mau berbuat baik untuk 
gue. Tak lain orang yang bantu gue adalah kawan gue juga gue yang gue kenal 
sebelumnya bersama kawan-kawannya yang lain. Satu komunitas penulis yang 
lainnya pula yang gue diami. Gue udah kenal sama itu orang sebelumnya. Maklum 
gue hobi ikuti-kutan komunitas walo pun nggak tau jelas apa komunitas yang gue 
ikutin. Bagi gue yang penting nambah relasi dan saudara itu aja tujuan gue. 
Soal buat belajar nulis bagi gue ngak hanya di komunitas aja. Di mana-mana juga 
bisa menulis. Iyakan? Yang penting kemauan dan kerja keras!
   
  Tidak lama kemudian dengan upaya keras kawan gue dan yang lainnya membuka 
pintu kamar yang ada gue di dalamnya terkurung akhirnya terbuka juga. Dan gue 
yang ada didalam kamar mandi beberapa kali berucap syukur dan berterima kasih 
atas pertolongan kawan gue juga dengan kawan-kawanya yang lainnya. Walo pun 
saat itu wajah gue diliputi awan mendung. Masih shock! Coba kalo nggak ada 
kawan gue dan yang lainnya mungkin sampai adzan subuh gue juga belum keluar 
kali? Ya, mungkin buat pelajaran gue juga kali. Kalo mau pipis itu baca doa dan 
juga liat-liat dulu. Apa pintu setiap kamar mandi yang gue gunain itu masih 
update atau suda kadarluasa. Usang dan berfungsi lagi. Seperti yang gue alami 
di kamar mandi masjid itu. Terkunci dari dalam. 
   
  “Makasih ya, bro. Lo udah bantu gue. Coba kalo nggak ada lo mungin gue udah 
berlumut kali ya kayak Sunan Kali Jaga? Lumutan.,” kata gue mengucapkan terima 
kasih sama kawan gue juga dengan  yang lainnya. “Oya, tapi itu Sunan, lha gue 
apa? Cuman orang yang lagi buang hajat.” Lanjut gue membanthin algi. 
   
  “Sama-sama, kok. Ya, gue juga pernah kok ngalamin juga kayak lo. Tapi gue 
nggak kaya lo lama banget.” Jawab kawan gue sambil tersenyum-senyum ketika 
melihat kebebasan gue dari kukungan di dalam kamar mandi. Dan gue juga nggak 
bisa berbuat apa-apa. Apalagi melarang kawan gue untuk nggak tersenyum dan 
ngetawain gue ke arah gue. Ya, karena kesalahan dan kecerobohan gue juga saat 
itu.
   
  Dengan lunglai gue keluar juga dari kamar mandi dan menuju tempat berwudhu. 
Ingin segera lekas shalat dzuhur. Dan saat itu juga gue pun langsung berjanji 
pada diri gue. Gue nggak bakal seperti yang tadi gue alami tadi. Ceroboh nggak 
ngeliat-liat lagi dan juga harus lebih berhati-hati terlebih harus 
melihat-lihat kondisi pintu kamar mandi jika gue mau buang hajat serta tidak 
lupa berdoa biar tidak terjadi apa-apa. Pipis atau pup. Oalah, kok apes banget 
ya gue hari itu.* 
   
                                                                                
Ulujami, April 2008
   
   
     
    
---------------------------------
  You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster 
Total Access, No Cost.

       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

Kirim email ke