Fiyan, maaf ya, saya sudah menahan diri untuk tidak berkomentar, tapi gatel
juga lama-lama. Dear Fiyan, sepertinya kamu memang harus banyak belajar ya.
Bukan yang muluk-muluk, tapi yang sepele seperti ini di bawah ini (baca yang
berwarna merah):

* *

*Anda tidak perlu menaklukan dunia. Cukup membangun sebuah model yang dapat
digunakan oleh orang lain.*

Sudah lebih dari empat tahun saya menggeluti dunia ini. Dunia tulis menulis.
Dan menjadi penulis adalah cita-cita mulia saya. Walau pun (bagaimana ya
mengeja kata 'walaupun' yang benar? Walau pun atau walaupun?) saya menjadi
sekarang ini itu pun tanpa disengaja. Otodidak. Saya belajar sendiri
selebihnya saya mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan penulisan, seminar,
workshop sampai jumpa penulis. Itu pun tak membuat saya bangga apalagi
menyombongkan diri. Bayangkan dalam dekade empat tahun tak satu pun saya
bangga pada karya-karya yang saya hasilkan.





Pernah ada seseorang yang mengatakan bahwa saya akan menjadi penulis besar
nantinya. Saya akan menjadi penulis sungguhan. Dan masih banyak lagi.
Mungkin kalau saya tulis disini mungkin banyak puji-pujian dari mereka.
Tetapi saya menganggapnya itu hanya hiburan semata untuk saya (kalimat ini
sepertinya "boros", kenapa hayo?). Toh, apa yang dibanggakan oleh saya. Saya
hanya penulis yang mungkin sekedar lewat atau mengisi kekekosongan—kurang
kerjaan. Itu yang sering saya dapati dari berbagai—yang menikmati
karya-karya saya.





Karena kenapa? Ternyata dalam menggeluti dunia ini saya telah banyak sekali
melakukan "kesalahan" terlebih dunia yang saya geluti ini. Mungkin selama
saya menulis banyak merugikan orang lain (kalimat ini juga tidak
efektif) . Baik
itu tidak sengaja maupun tak terpikirkan oleh saya—yang nantinya menimbulkan
dampak. Itu saya sadari sebagai seorang penulis. Atau, lebih pantas sebut
saja saya penulis karbitan atau ecek-ecek.





Ya, itulah yang saya katakan sebenarnya. Saya malu menjadi penulis!
Terkadang saya menulis pernah melakukan kesalahan tanpa saya sadari bahwa
hal yang saya lakukan tak baik untuk dilakukan (kalimat ini tidak efektif,
bahkan tidak benar secara struktural). Saya pernah meniru gaya tulisan serta
mengutip dari penulis-penulis yang—saya kagumi. Walau pun saya membubuhi
nama mereka (maksudmu membubuhkan?) bahwa itu karya penulis yang saya
kagumi. Memang mereka tidak menuntut saya tetapi saya sebagai penulis saya
merasa malu.





Bukan malu pada mereka apalagi terlebih dengan Anda (kalimat ini juga boros,
pilih salah satu 'terlebih' saja atau 'apalagi' saja)—pembaca karya-karya
yang saya hasilkan selama ini. Ini saya berkata benar bukan karena sekarang
banyak "oknum" yang seenaknya memplagiat karya orang lain. Itu tidak! Tidak
sama sekali. Terlebih mencari sensasi. Saya berkata apa adanya.





Saya malu pada diri saya serta dunia yang—saya geluti ini. Jujur kalau saya
menuruti kata hati lebih baik saya mengantungkan pena di leher saya. Saya
gagalkan cita-cita mulia saya sebagai penulis. Karena saya tak ingin lebih
banyak melakukan kesalahan yang mungkin merugikan orang lain. Walau pun yang
saya lakukan bukan termasuk suatu kesalahan fatal tetapi bagi saya itu
adalah sebuah kesalahan. Kesalahan tetap kesalahan tanpa ada pembelaan apa
pun!







Seperti yang dikatakan oleh *Aragones *kepada *Zinedin Zidane* menjadi motor
Perancis untuk menatang Brazil di perempat final dalam permainan sepak bola.
*"Kami membuat dua kesalahan yang harus dibayar dengan harga yang pantas."
"Dua kesalahan berarti dua gol dan kami harus belajar dari kesalahan itu*,"
kata pelatih yang memiliki julukan "Orang bijak dari Hortaleza."





Ya, mungkin saya harus belajar dari mereka—yang saya lakukan selama ini.
Saya harus membayar dengan harga yang pantas dengan apa yang saya lakukan
selama ini. Dan menggantungkan pena  adalah hal yang tepat untuk saya
lakukan untuk menembus kesalahan saya sebagai seorang penulis—yang nantinya
akan dicap sebagai pecundang.







*Ciputat, 05 Mei 2008*

*Ketika banyak anak manusia melakukan kesenangan perut semata dengan memakan
milik orang lain. Katakan  sebenarnya walau hasilnya nanti pahit. Jujur
adalah kunci seorang penulis besar Doakan saya nanti seperti penulis Seno
Gumira Ajidarma dan Bayu Gawtama.* (Kenapa kamu masih minta didaoakan untuk
menjadi penulis besar, bukannya kamu sudah memutuskan untuk tidak menulis
lagi? Bingung nih)

Yang terakhir Fiyan, semua itu adalah koreksi untuk kita semua. Maaf ya
kalau tidak berkenan, saya Cuma menuruti apa katamu, "katakan sebenarnya
walau hasilnya nanti pahit". Jangan patah semangat. Salam. Mari kita terus
belajar.

* *

* *




2008/5/7 fiyan arjun <[EMAIL PROTECTED]>:

>
>
>
>
>
>    *SAYA MALU MENJADI PENULIS*
>
> *Fiyan Arjun*
>
> *http://sebauhrisalah.multiply.com*
>
> *ID YM:paman_sam2*
>
> **
>
> **
>
> * *
>
> *Anda tidak perlu menaklukan dunia. Cukup membangun sebuah model yang
> dapat digunakan oleh orang lain.*
>
> **
>
> * *
>
> Sudah lebih dari empat tahun saya menggeluti dunia ini. Dunia tulis
> menulis. Dan menjadi penulis adalah cita-cita mulia saya. Walau pun saya
> menjadi sekarang ini itu pun tanpa disengaja. Otodidak. Saya belajar
> sendiri selebihnya saya mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan penulisan,
> seminar, workshop sampai jumpa penulis. Itu pun tak membuat saya bangga
> apalagi menyombongkan diri. Bayangkan dalam dekade empat tahun tak satu
> pun saya bangga pada karya-karya yang saya hasilkan.
>
>
>
>
>
> Pernah ada seseorang yang mengatakan bahwa saya akan menjadi penulis besar
> nantinya. Saya akan menjadi penulis sungguhan. Dan masih banyak lagi.
> Mungkin kalau saya tulis disini mungkin banyak puji-pujian dari mereka.
> Tetapi saya menganggapnya itu hanya hiburan semata untuk saya. Toh, apa yang
> dibanggakan oleh saya. Saya hanya penulis yang mungkin sekedar lewat atau
> mengisi kekekosongan—kurang kerjaan. Itu yang sering saya dapati dari
> berbagai—yang menikmati karya-karya saya.
>
>
>
>
>
> Karena kenapa? Ternyata dalam menggeluti dunia ini saya telah banyak
> sekali melakukan "kesalahan" terlebih dunia yang saya geluti ini. Mungkin
> selama saya menulis banyak merugikan orang lain. Baik itu tidak sengaja
> maupun tak terpikirkan oleh saya—yang nantinya menimbulkan dampak. Itu saya
> sadari sebagai seorang penulis. Atau, lebih pantas sebut saja saya penulis
> karbitan atau ecek-ecek.
>
>
>
>
>
> Ya, itulah yang saya katakan sebenarnya. Saya malu menjadi penulis!
> Terkadang saya menulis pernah melakukan kesalahan tanpa saya sadari bahwa
> hal yang saya lakukan tak baik untuk dilakukan. Saya pernah meniru gaya
> tulisan serta mengutip dari penulis-penulis yang—saya kagumi. Walau pun saya
> membubuhi nama mereka bahwa itu karya penulis yang saya kagumi. Memang
> mereka tidak menuntut saya tetapi saya sebagai penulis saya merasa malu.
>
>
>
>
>
> Bukan malu pada mereka apalagi terlebih dengan Anda—pembaca karya-karya
> yang saya hasilkan selama ini. Ini saya berkata benar bukan karena sekarang
> banyak "oknum" yang seenaknya memplagiat karya orang lain. Itu tidak! Tidak
> sama sekali. Terlebih mencari sensasi. Saya berkata apa adanya.
>
>
>
>
>
> Saya malu pada diri saya serta dunia yang—saya geluti ini. Jujur kalau
> saya menuruti kata hati lebih baik saya mengantungkan pena di leher saya.
> Saya gagalkan cita-cita mulia saya sebagai penulis. Karena saya tak ingin
> lebih banyak melakukan kesalahan yang mungkin merugikan orang lain. Walau
> pun yang saya lakukan bukan termasuk suatu kesalahan fatal tetapi bagi saya
> itu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan tetap kesalahan tanpa ada pembelaan
> apa pun!
>
>
>
>
>
>
>
> Seperti yang dikatakan oleh *Aragones *kepada *Zinedin Zidane* menjadi
> motor Perancis untuk menatang Brazil di perempat final dalam permainan sepak
> bola. *"Kami membuat dua kesalahan yang harus dibayar dengan harga yang
> pantas." "Dua kesalahan berarti dua gol dan kami harus belajar dari
> kesalahan itu*," kata pelatih yang memiliki julukan "Orang bijak dari
> Hortaleza."
>
>
>
>
>
> Ya, mungkin saya harus belajar dari mereka—yang saya lakukan selama ini.
> Saya harus membayar dengan harga yang pantas dengan apa yang saya lakukan
> selama ini. Dan menggantungkan pena  adalah hal yang tepat untuk saya
> lakukan untuk menembus kesalahan saya sebagai seorang penulis—yang nantinya
> akan dicap sebagai pecundang.
>
>
>
>
>
>
>
> *Ciputat, 05 Mei 2008*
>
> *Ketika banyak anak manusia melakukan kesenangan perut semata dengan
> memakan milik orang lain. Katakan  sebenarnya walau hasilnya nanti pahit.
> Jujur adalah kunci seorang penulis besar Doakan saya nanti seperti penulis
> Seno Gumira Ajidarma dan Bayu Gawtama.*
>
> * *
>
> * *
>
> ------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
> now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>
>
>
> ------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
> now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>
>
>
> ------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
> now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>
>
>
> ------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
> now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>
> 
>



-- 
Niken Terate

Kirim email ke