Oleh: Hujan

(Untuk saudaraku yang telah diamukombak. Yaa Tuhan, beri mereka tempat di 
sisi-Mu)

IRING-IRINGAN mayat itu terus melangkah dengan anggun! Setiap tempat yang 
disinggahinya selalu ada saja yang berpartisipasi untuk ikut di dalam 
konvoinya. Menakjubkan! Mayat-mayat itu mengapung dalam kediaman yang anggun, 
kaku, pasrah. Mayat-mayat memenuhi pantai, mayat-mayat membanjiri jalan. 
Mayat-mayat menerobos kota. Benar-benar sebuah karnaval yang mempesona!

Sebenarnya aku ingin memberikan sedikit kontribusi untuk pesta itu. Tapi mau 
bagaimana lagi. Karnaval tersebut begitu cepat berlalu. Beberapa detik, 
luluh-lantak kota. Dalam sekejap mata semua orang terkesiap menyaksikan 
kampanye akbar itu. Tak ada lagi cerita tentang si Agam, yang beberapa hari 
lalu bapaknya telah diciduk dari rumah oleh orang-orang berseragam. Tak ada 
cerita wanita-wanita yang kehilangan suami di pagi buta. Tak ada lagi kisah 
tentang anak-anak melihat mayat bapaknya meringkuk di tengah pasar yang ramai. 
Semua sepi. 

Karnaval masih terus menyeret orang-orang yang ditemuinya dengan paksa. Seorang 
bapak harus menyelamatkan nyawa anak-istrinya. Seorang ibu yang mempertahankan 
selembar nyawa anaknya. Perempuan bunting. Orang jompo. Anak-anak yatim, yang 
bapaknya hilang, sekarang telah menemukan bapaknya di tengah-tengah barisan 
mayat yang mulai menyesaki kota. 

"Manyet…manyet. Manyet meusipreuk, manyet di laot, manyet di tamung u pante. 
Manyet di gampong. Manyet ditarek meunasah, " teriak Geuchik  memperingatkan 
warga.

Begitu saja, tiba-tiba semua orang berubah menjadi mayat. Ada yang sedang 
tidur, ketika bangun sudah menjadi mayat, ada yang di pasar, bersenda gurau di 
pantai, membajak sawah, ada yang duduk-duduk sambil nonton tivi. Mereka semua 
diseret paksa untuk bergabung bersama yang lain! Bersama kasur, bersama pasar, 
bersama pantai… bahkan tivinya juga. 

Aku tidak tahu persis apa alasan mereka sebenarnya, sehingga mereka memutuskan 
untuk ikut dan bergabung di dalam konvoi tersebut. Sial. Aku bahkan tidak bisa 
membuat reportase langsung dari puncak euphoria mati massal ini. Tak ada 
seorang mayat pun yang berhasil aku wawancarai. Mereka pergi dengan rahasianya 
masing-masing. Pergi dengan keadaan bungkam. Entah pada siapa. 

Sebenarnya ada juga sih yang sudi memberikan testamennya kepadaku sesaat 
gelombang itu datang. Tapi dia keburu pergi dibawa ombak. 

Aku sangat kecewa dengan sikap mereka yang mati tapi tidak sempat memberikan 
kesaksian. Sehingga aku putuskan untuk tetap tinggal di atas rumah permanen 
milik seorang pedagang sambil mereka-reka alasan kesertaan mereka. Dan membuat 
sebuah laporan:

"Sebenarnya sudah lama mayat-mayat ini rindu pada keluaraga yang telah menjadi 
mayat juga. Mereka dipisahkan. Ayah dari istri dan anak, istri dari suami dan 
anak. Adik dari kakak, kakak dari adik. Kematian mereka yang misterius konon 
telah membuat sebagian mayat yang berpartisipasi dalam kampanye tsunami kali 
ini nekat untuk bergabung…"

Laporan tersebut ku buat dengan tergesa-gesa. Jelas aku cuma mengarang, lha 
wong, tak ada narasumber pada kejadian itu. Semua calon mayat sudah pergi ke 
laut. 

"Di depan mayat-mayat lain sudah menyambut. Mereka bangkit penasaran. Sebagian 
dari mereka adalah ulama. Sebagian petani, sebagian tidak punya urusan apa-apa 
dengan kelompok manapun, bahkan sebagian dari mereka orang gila" 
***

Geuchik mulai blangsatan. Semua panik. Semakin banyak warga ingin ikut di dalam 
barisan panjang tersebut dan turun kejalan-jalan yang disinggahi mayat "Abu, 
abu…" ratusan anak-anak berlari ke arah zombie-zombie yang bangkit dari 
ladang-ladang sawit. "Kamoe rindu keu abu ". 

Begitu pula kaum istri, mereka menyongsong suami mereka dengan senyuman. "Ho 
seulawat nyoe? " . 

Pak Geuchik mencoba mencegah warganya. Dengan segala kekuatan dia menghalau 
laju antusiasme warga yang berbondong-bondong datang dari pantai dan kampung.

"… sebagian dari mereka sudah lama merencanakan kesempatan berbahagia ini. 
Kapan lagi bisa mati dan bertemu sanak saudara yang lama hilang, secara 
bersamaan?..."

Tanganku terus menulis. Air sudah setinggi rumah. Seseorang yang seperti mayat 
singgah di tempat aku berdiri. Benar! Wajahnya pasrah sekali! Lantas ku tarik 
dia. Sial! Lagi-lagi yang ku temukan benar-benar sudah mati! Tapi… dalam jarak 
tiga meter di hadapanku lewat seorang bapak, calon mayat! Dia melambai ke 
arahku. Rupa-rupanya dia mengajakku untuk bergabung di dalam pestanya. 

Seorang bapak setengah baya, melambai ke arahku, "Ka keuh oh noe mantong. Lon 
jak mita aneuk yang katrep gadeh hana meu ho. Kamoe meucebre le ureung bajee 
seragam, " 

Tanganku masih menulis. "Yah… selamat jalan bapak, sampaikan salamku pada 
putramu. Aku juga rindu padanya, aku rindu pada karya-karyanya".

Kali ini aku berhasil mewawancarai seorang mayat. Walau hanya dari tatapan mata 
saja… 

Bersamaku ada juga beberapa manusia. Doa-doa dan dzikir menggema dari mulut 
mereka. Sebagian dari mereka terlihat ketakutan, sebagian lagi pasrah untuk 
ikut dibawa gelombang. Ruang tempat kami berpijak agaknya sebentar lagi juga 
hanyut. Aku begitu yakin dengan ketakutan mereka. Maka aku juga menulis sebuah 
laporan:

"…sebagian dari mereka ternyata tidak siap untuk berpartisipasi di dalam 
karnaval kali ini. Mungkin mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai 
seorang kerabatpun yang dahulu kala telah menjadi mayat, seperti putra bapak 
tua yang saya wawancarai sebelumnya. Mungkin juga mereka punya, tapi 
memasrahkan anggota keluarganya hilang begitu saja ditelan malam. 

Atau mereka sebenarnya tertarik untuk ikut, tapi merasa ada tugas yang belum 
selesai dikerjakannya di dunia. Misalnya, melanjutkan perjuangan kerabat mereka 
yang lama menjadi mayat, hilang, atau lari ke negeri jiran…"
***

Seorang bapak menggandeng tangan anak-anak berusia tiga tahunan, sementara 
istrinya menggendong bayi yang sedang menyusu. Mereka hanyut dengan 
bergandengan tangan.

Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin begitu banyak orang yang ingin 
liburan bersama keluarga? Berbondong-bondong tergesa-gesa. Dalam perbekalan 
yang luar biasa banyaknya. Tivi, kulkas, mesin cuci, motor. Ada juga yang 
membawah rumah mereka.

Mayat-mayat berlalu dengan keadaan beraneka ragam. Mayat bersepatu kets, mayat 
naik motor, mayat berkain sarung. Mayat tak berbusana. Mayat berkacamata. 
Bahkan ada di antara mayat yang lewat di depanku, sudah tidak utuh bagian 
tubuhnya. Siapakah mayat itu? Di mana kah ditinggalkannya anggota tubuh yang 
lain? Mungkin dia menitipkanya di suatu tempat. Tempat yang tak terlihat. 
Mungkinkah anggota tubuh itu adalah sesuatu yang ternyata selama ini 
dicari-cari oleh orang yang telah mengamuk disana sejak empat periode 
belakangan ini? Sayang aku juga tetap tidak bisa mewawancarainya. Mayat itu 
terkesan buru-buru.

Iring-iringan terus merangsek. Semakin panjang iringan itu berjalan, semakin 
banyak mayat yang terkumpulkan. Semakin meriah konvoi itu. Petasan, kembang 
api, ikut memeriahkan karnaval yang tidak tahu kapan lagi akan diadakan. 
Klakson mobil bersahut-sahutan. 

Semua mayat terlihat antusias dalam mengikuti prosesi. Meski berdurasi kurang 
dari dua jam, namun kota ini sudah cukup hancur oleh hingar bingar pesta 
mereka. 

Selang beberapa meter di depanku ada juga bangunan yang masih kokoh berdiri. 
Banyak orang yang juga mengevakuasi diri sendiri ke atapnya. Mungkin antara 
enam sampai sembilan orang jumlah mereka. Diantara mereka ada seorang ibu dan 
yang menggenggam erat tiga anak kecil. Aku tidak dapat menebak apakah tiga anak 
itu adalah darah dagingnya, atau yang mana suaminya, dari sekian banyak lelaki 
dewasa yang juga berlindung di sana. 

"…Hari ini ribuan orang melayang syahid ke surga. Banyak di antara mereka yang 
tidak tahu alasan kepergian mereka ke sana. Kebanyakan mereka adalah anak-anak. 
Tidak sedikit juga dari antara mereka yang pergi bersama hewan ternaknya…"

Tempat aku berpijak telah oleng. Dua orang di sebelahku sudah terseret 
gelombang. Aku dapat merasakan bagian mana dari tembok rumah itu yang dihantam 
gelombang. Semua tercerai-berai mengambang seperti anai-anai. Tiba-tiba aku 
sudah berada di antara mereka. Sangat dekat! Begitu dekatnya, sehingga aku 
dapat melihat raut wajah mereka. Wajah yang penasaran. Aku mengalir di dalam 
karanaval yang menggelombang. Mengikuti arus mereka. Melalui jalan yang 
disinggahi oleh mereka yang telah lebih dulu menjadi mayat.

Aku berusaha keras menyelamatkan catatanku. Dalam gulungan karnaval yang 
mengocok perutku, aku muntah. Muntahku mengalir. Muntah itu darah. Darah telah 
mengalir dari mulutku. Tidak mungkin, pikirku. Tapi benar. Darah itu merah. Di 
dalam lumpur aku melihat darahku sendiri. Darah dari tubuh yang takut mati.

Sesosok mayat lewat dengan sopan sekali di depanku. Dia masih setengah mayat! 
Aku mengejarnya. Ini wawancara hebat, tak ada seorang wartawan pun yang akan 
mewawancarai narasumbernya dalam keadaan seperti ini. Maka ku kejar dia. Gila, 
gerakannya gesit sekali. Mungkin dia ini atlit renang, mungkin nelayan, atau 
mungkin juga informan. Peduli setan siapa dia. Yang jelas aku harus menariknya 
keluar dari barisan ini. Sinting, telingaku kemasukan air. 

Dalam pengejaranku, aku melihat wajah-wajah yang penasaran, ikhlas dan tenang. 
Wajah-wajah teduh dan dingin. Wajah-wajah asing yang sama sekali tidak pernah 
aku kenal. Di antara mereka aku melihat satu-satunya orang yang aku kenal di 
kota ini. Dia mengalir mengikuti pesta sampai akhir 

"Geuchik, Geuchik" aku berteriak. Siapa sangka kami bertemu lagi di sana. 
Sekarang aku harus mengejar pak Geuchik…
Namun kami berpisah di antara ingatan dan harapan. Aku harus menyelesaikan 
laporanku.

***
Satu jam berlalu. Perlahan-lahan jalanan mulai sepi dari karnaval. Semua yang 
hidup mulai turun dari genteng, atap rumah, pohon kelapa serta apa saja yang 
telah membuat mereka bertahan dari ajakan karnaval tersebut. Aku sendiri turun 
dari atas kubah sebuah mesjid. Kakiku berdarah, lukanya lebar sekali. Kemeja 
dan jeans-ku hilang dibawa gelombang. Entahlah. Aku juga bingung. Bagaimana hal 
itu terjadi. tiba-tiba saja sekarang aku telah telanjang. Bugil tanpa sehelai 
benang.

Aku berjalan menuju keramaian di kota. Pendopo sudah disesaki orang. Semua 
berteduh di bawah gedung bekas istana sultan. Sepanjang jalan menuju kota 
lumpur menggenang. Perempuan menangis, anak-anak terpisah dari orang tua. 
Suami-suami stres. Banyak yang pingsan. Banyak juga yang tertidur di sepanjang 
jalan. Mungkin mereka lelah setelah berpesta. 

Aku dekatkan wajahku ke wajah seorang bapak yang tergeletak di antara tumpukan 
orang-orang yang kelelahan. Wajahnya begitu sepi. Tidurnya tidur abadi. Ada 
banyak yang tidur abadi seperti bapak ini. aku melihat tumpukan mayat yang 
berada di sekelilingku. Seorang anak memberikan aku selembar seprei, untuk 
menutup tubuhku. Aku lupa, kalau saat itu aku sedang tak berbusana.

Aku mengeluarkan block notes-ku, dari dalam tas. Sebuah pena yang menggantung 
di leherku, ternyata tidak hilang dan masih dapat digunakan. Aku membuat sebuah 
catatan. Penting: pesta baru saja usai!

Di bawah ini aku meneruskan laporanku:
"…Sejauh mata memandang, cuma kerusakan yang mereka tinggalkan. Rumah hancur, 
mobil terbalik, pohon tumbang, lumpur. Luar biasa banyaknya mayat-mayat di 
sana. Mayat-mayat itu sudah menjadi akrab dan sangat dekat. Bahkan setelah 
konvoinya surut. Mayat-mayat terus dan semakin banyak saja berserakan di 
jalan-jalan, mayat di sawah, mayat di sekolah, mayat di meunasah , mayat di 
genteng, mayat di dalam mobil, mayat tak berkepala, mayat nyangsang di pohon 
aren. Mayat di bawah reruntuhan. Mayat bertindihan. Sekeluarga mayat, mayat 
sepasang kekasih. Mayat nelangsa. Mayat yang rela, Mayat…mayat orang tua, 
anak-anak, perempuan, lelaki, pejabat, dhuafa, sipil dan non sipil, semuanya 
berbaris dengan tenang. Semua sudah mendapat tempat istirahat. Hanya saja, 
sebagian dari mereka belum ditemukan. Malahan menurut kesaksian mata seorang 
mayat, sebagian mayat masih terus ikut di dalam rombongan karnaval. Sebagian 
menuju laut, dan sebagian lagi masuk ke kota, menerabas masuk barak dan markas
 tentara. Mayat-mayat itu mencari anggota keluarga mereka di sana. 
Dari lokasi pesta saya melaporkan keadaan sebenarnya"

Lantas laporanku selesai. Sekarang tinggal tugas yang hidup untuk membersihkan 
sampah yang ditinggalkan karnaval mayat. Tapi agaknya pak Geuchik tidak bisa 
ikut kali ini. Yah… aku bilang tidak bisa ikut saja.
 
--Menteng, 22 Januari 2005--


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke