Jubah Kebenaran 
  Oleh: Hujan
   
  Entahlah, bagaimana mungkin aku bisa meletakkan kebenaran dan kepalsuan di 
dalam satu jubah? Aku tak bisa menjawabnya, sama seperti aku tak bisa menjawab 
apakah alasan Rianti menghianati Drajat dapat dibenarkan atau tidak.
   
  Perempuan itu baru saja datang padaku. Dengan mata yang sembab dan kuyu dia 
mengadukan perlakuan yang baru saja diterimanya. Oh, perempuan yang malang. 
Secantik dia, rasa-rasanya sulit kupercaya, bahwa dia baru saja melakukan 
kejahatan yang tak mungkin bisa dimaafkan pria mana pun di muka bumi ini.
   
  “Dia menamparku,”isaknya. Wajahnya terus menunduk menatap lantai kamar 
kontrakanku. Aku bergeming dan menahan kesal pada Drajat.
  “Dia menghujamkan tinjunya ke rusukku. Aku tak kuat lagi,” tangisnya kemudian 
meledak di nyeri dadaku. Oh, tuhan, mengapa kau ciptakan mahluk seperti ini, 
lemah tapi berkuasa atas pria. 
   
  Lantas kuberikan bidang dadaku, dia pun menenggelamkan wajahnya di antara 
pelukan tanganku. “Bersabarlah,” kataku sambil terus mengelus rambutnya. Untuk 
sesaat dapat kudengar rintihnya sayup berhenti. Beberapa menit kami berpelukan 
senyap.
   
  “Demi cinta kami, aku tak pernah mengecewakan dia, Hujan. Aku tidak 
selingkuh,”ujarnya lagi sambil terus merintih di pelukanku.
  “Iya, aku percaya,”kataku sambil mengencangkan dekapanku. Rianti masih 
terisak, sengal dadanya seolah menceritakan penderitaan yang dialaminya.
   
  Mentari kian merangkak senja. Aku masih duduk tepekur di depan rumah 
kontrakaanku. Seingatku, malam ini aku libur kerja. Yah, sepekan hidup menjadi 
sapi perahan membuatku tak punya kesempatan untuk menikmati waktu. Kecuali 
seperti ini, saat hari mulai senja, dan aku bisa duduk-duduk sejenak sambil 
menghabiskan beberapa batang rokok.
   
  Kress. Geretanku beradu, memerciklah api dan menyala. Kudekatkan batang rokok 
yang sudah dari tadi menempel di bibirku yang tebal. Pfuh...
  Drajat. Lelaki macam apa kau? Tega betul kau memerlakukan Istrimu demikian 
kasar? 
   
  ***
   
  “Ah, sudahlah. Kau tahu apa? Jangan coba campuri urusan kami. Kau urus saja 
majikanmu, cukong-cukong itu,” ujar Drajat.
  “Tapi dia istrimu,” kataku sambil menghampiri Drajat yang masih duduk 
menghabisi sisa batang rokoknya. Betul sepanjang hari, hanya itu pekerjaan yang 
bisa dilakukan lelaki itu.
  “Justru itu. Aku mulai mencurigai dia ada main dengan salah satu cukong yang 
biasa mangkal di kafe tempat kau bekerja,”  
  “Siapa?”
  “Sulaiman anak Haji Rohmad!” ketus Drajat.
  “Sulaiman?” tanyaku mengulang kata-katanya.
  “Betul, lelaki itu pasti telah berbuat curang dengan istriku,”
  “Tidak mungkin,” kataku.
  “Hei, Hujan. Sebenarnya kau berdiri di pihak siapa? Aku atau Sulaiman?” tanya 
Drajat sambil menggguncang leher bajuku.
  “A, aku... tentulah aku ada di pihakmu,”
  “Ya, suatu hari aku akan memberi perhitungan kepadanya,” ujar Drajat sambil 
beranjak meninggalkanku.
   
  Selang beberapa hari percakapan itu, di kafe, kulihat Sulaiman anak Haji 
Rohmad tengah tertawa-tawa dikelilingi teman-temannya. Seperti biasa. Bajunya 
disetrika rapi. Matanya merah. Di jari tangannya terselip sebatang cerutu Kuba. 
  “Hey, Boy, kemari!” perintahnya memanggil pelayan. Namun malam itu agaknya 
semua pelayan menghilang entah kemana. Sehingga akhirnya, akulah yang datang 
menemui lelaki yang sudah berdiri dengan keadaan setengah mabuk.
  “Beri mereka ini minum lagi,” pintanya sambil menunjuk sekumpulan orang yang 
duduk sesukanya di meja tempat Sulaiman duduk. “Beri minuman paling mahal untuk 
semua mitraku ini,” perintahnya sambil menyandarkan lengannya di bahuku.
  “Baik Tuan, segera,” ujarku sambil bersiap pergi meninggalkan pengusaha kayu 
itu.
  “Ah, sebentar,” katanya menghentikan langkahku.
  “Apa aku mengenalmu?” ujar dia sambil mendekat ke arahku. Aku menggeleng. 
  “Kau Hujan, anak muazzin di mushala kota M, bukan?” tanya dia sambil terus 
memandangiku. Aku diteror. Dia terus mendesak. Aku terdesak.
  “Beb.. betul, Tuan,” jawabku patah-patah. Dia tertawa, semua orang tertawa. 
Aku ditertawakan.
  “Hah, anak muazzin, kerja di tempat seperti ini?” ujar dia sambil menahan 
guncangan perutnya. Tawa masih mengumandang. Semua mata tertuju padaku. Apanya 
yang lucu? Itu lima belas tahun yang lalu. Ketika itu aku memang anak langgar. 
Dan dia, si Sulaiman itu, dia itu juga punya sejarah yang nyaris sama. Malahan 
dia itu anak imam. Terus apanya yang pantas ditertawakan?
  “Ya sudahlah, anak muazzin. Bawakan kami minuman paling mahal. Kami mau mabuk 
sampai subuh,”
   
  Beberapa hari setelah peristiwa itu, aku melihat Sulaiman keluar dari dalam 
mobilnya yang mewah. Dengan seorang perempuan muda. Cantik, berambut sebahu dan 
berbetis bunting padi. Yah, pemandangan itu kulihat di depan hotel N. Mereka 
terlihat gembira sambil terus bergandengan tangan, berpelukan di pintu masuk..
   
  ***
   
  Matahari mulai tenggelam di langit barat. Aku sudah menghabiskan batang rokok 
kedua. Seperti senja-senja yang lalu, maka senja kali ini pun, semua sisa 
rokokku akan kuhisap sepuasnya. Sebab, bila nanti aku bertugas di kafe, tak 
akan ada kesempatan untuk menghisap benda ini.
   
  Masih ada satu jam tersisa. Aku berdiri, meluruskan kaki. Sementara gang 
kecil tempat aku tinggal mulai bersiap-siap beranjak malam. Sepi mulai terasa. 
   
  “Aku kesepian Hujan. Aku tak kuat menghadapi keadaan. Drajat terlalu sibuk 
dengan pekerjaannya,” isak Rianti.
  “Jujurlah, pernahkah kau hianati dia?” tanyaku menginterogasi Rianti. 
  “Kau tak percaya padaku? Harus berapa kali kukatakan padamu,” jawab perempuan 
itu sesenggukan. Nafasnya sesak. Bahunya berguncang.
  “Lantas, mengapa, dia bisa begini marah? Apakah selagi dia bekerja kau 
melakukan...”
  “Cukup Hujan. Aku tak mau kau ikut-ikutan pula menghakimi aku. Aku tak tahu, 
harus mengadu pada siapa lagi. Aku hanya mengenalmu di kota ini. lindungi aku,” 
pintanya dengan memelas. Aku bangkit dan membawakannya segelas air putih.
  “Minumlah, dan ceritakan padaku tentang sesuatu,”
  “Sesuatu?” ulangnya. Aku mendehem.
  “Aku tidak mengerti,”
  “Sulaiman. Apa hubunganmu dengan Sulaiman,” tanyaku langsung ke arah sasaran.
  “Bagaimana kau bisa bertanya seperti itu? Aku sedih Hujan. Aku sedih kau 
menuduhku juga,”
  “Aku tidak menuduhmu. Aku menanyakan kecurigaan yang dimiliki suamimu,” 
kataku.
  “Jadi benar dugaanku, dia menuduhku, untuk menghilangkan jejak,”
  “Bah, apa pula ini? Jejak apa?” tanyaku bingung.
  “Aku benar-benar tak kuat lagi Hujan. Tolonglah aku. Dia telah menghianati 
cintaku. Dialah yang selingkuh. Dialah yang sebenarnya selingkuh!” tegas Rianti 
sambil terus menahan tangisnya. 
   
  Kepalaku berputar. Drajat. Dia memang kasar. Tapi tak mungkin dia melakukan 
kecurangan itu. Aku tahu betul sifat temanku itu. Kami sama-sama merantau ke 
kota ini. aku memilih jadi pelayan di sebuah kafe, dia memilih tetap menjadi 
pelayan Tuhan. Yah, tak mungkin orang seperti dia itu melakukan perbuatan hina 
di mata Tuhan.
   
  “Bercandakah kau Rianti?” tanyaku. Perempuan itu menggeleng. Sambil 
sesenggukan dia mengisahkan prahara rumahtangganya.
  “Awalnya, aku kira Drajat terlalu sibuk dengan dunianya, sehingga dia lupa 
pada kewajibannya sebagai suami. Sebagai istri, aku bisa maklum dan bersabar 
setiap kali dia mengatakan bahwa yang dilakukannya adalah untuk kebaikan umat. 
Namun belakangan aku mengetahui kebusukan dia. Agama hanya topeng dari 
perbuatan nistanya. Aku tak kuat lagi hidup dengan lelaki munafik yang selalu 
berlindung di balik firman tuhan untuk menganiaya istrinya,” ujar perempuan itu 
sambil bangkit dari duduknya, menjauh dariku. 
  “Sungguh aku tak kuat, tolong aku Hujan,” pintanya sambil berlari dan 
menabrakkan dirinya ke pelukanku. 
   
  ***
   
  Matahari sudah tenggelam. Azan maghrib sudah berkumandang dari menara-menara 
mesjid yang berserakan di sekitar tempat tinggalku. Suara itu, suara itu 
bersahut-sahutan memanggilku. Rokok yang ada di selipan jari tangan kiriku 
tinggal beberapa mili lagi. Enggan kubuang, sayang. Sebab, masih bisa dihisap 
beberapa kali lagi. Kalau dibuang akan mubazir. Bukankah Tuhan benci dengan 
perbuatan yang mubazir.
   
  Di dalam kontrakanku yang kecil, Rianti masih terkapar. Meski terlihat lelah, 
namun agaknya dia nyaman berada di sini. Nafasnya kembang kempis, teratur 
keluar dari dadanya yang sintal dan hanya ditutupi kain sarung. Dari ruang 
tamu, aku melemparkan pandanganku ke arah perempuan itu. Sungguh aku tak ingin 
mengganggu damai tidurnya. 
   
  Setelah peristiwa tadi sore, aku semakin tak bisa meletakkan kebenaran dan 
kepalsuan di tempatnya. Aku tak bisa percaya dengan teman baikku, Drajat. 
Bagiku sekarang apapun kata yang keluar dari mulutnya, hanyalah sebuah mantra 
yang elusif dan wujud kemunafikannya. Aku tak habis pikir. Maka kuhisap rokok 
yang sudah hampir menyentuh pembatas filternya. 
  Dan nahasnya, setelah peristiwa sore tadi pula, aku semakin tak percaya 
dengan semua keluhan yang diberikan Rianti. Aku tak habis pikir, mengapa 
perempuan itu merayuku, lantas, lantas kami bergumul di kontrakanku yang sumpek 
dan sialan ini. HAH! Bukan sekali, tapi berkali-kali! Dia memangsaku, seperti 
singa betina lapar menerkam rusa. 
  Aku tak percaya pada laki-bini itu. Mereka berdua membuatku mual dan ingin 
muntah. 
   
  Tapi, perempuan malang ini, mungkin saja apa yang dia katakan benar. Dia 
kesepian, dan si bajingan Drajat itu malah asik menempelenginya. Sehingga 
dengan rakus, sore tadi dia memangsaku. Dasar perempuan. 
   
  Dan Drajat? Aku kenal dia. Dia sahabat baikku. Dari kampung kami sama-sama 
merantau. Dia anak langgar. Walapun dia kasar, tapi dia anak langgar. Dan aku, 
aku tega telah berbuat curang padanya? 
  Oh, tidak. Tidak. Sore tadi, aku tidak memintanya pada Rianti. Sebelumnya 
tidak ada terlintas pikiranku untuk menghianati persahabatan kami. 
  Aku tidak tahu. Aku bingung. Aku tak bisa membedakan kebenaran dan kepalsuan.
   
  Pukul 19.00. Rianti masih tertidur di kamarku. Sarungnya tersingkap, 
memamerkan betisnya yang bunting padi. Aku tak berniat mengganggunya. Aku 
biarkan dia tertidur pulas, menenangkan jiwanya. Lantas dengan pelan-pelan aku 
meninggalkan kamar, pergi mencari bakal santap malam kami berdua.
   
  Aku masih terus merenungkan hikmah peristiwa yang baru saja terjadi padaku. 
Pikiranku bimbang, ke sana kemari. Hingga akhirnya tak sadar aku menapaki jalan 
menuju kafe tempat aku bekerja. Namun kagetnya aku begitu melihat mobil polisi 
sudah mengantre di halaman kafe. Garis polisi sudah dibentangkan. Petugas sudah 
hilir mudik menginterogasi saksi mata. Sementara itu, di dekat salah satu meja, 
aku dapat melihat dari jarak jauh, sesosok tubuh terkapar bersimbah darah. 
   
  “Jan,” sapa seorang temanku, yang mengetahui kehadiranku di sana. Aku 
mendongak ke arahnya. “Sulaiman, si cukong kayu,” kata temanku itu. Dengan 
senyum ditahan aku memberikan isyarat mata kepadanya. “Sulaiman, mabuk, dan 
terlibat adu mulut dengan seorang tamu,” ujar dia.
  “Lantas bagaimana dia bisa mati?” tanyaku setengah gembira.
  “Dia tak mati, orang itulah yang tewas ditembak oleh Sulaiman,”
  “Apa? Sulaiman tak mati?”
  “Betul, lelaki malang itulah yang tewas,”
  “Lelaki malang, itu....”
   
  Seorang petugas langsung menarikku.
  “Dia yang bernama Hujan!” tunjuk seorang temanku yang lain. Aku tergagap. 
Dunia berputar. Aku tak pernah terlibat apapun. Aku ini orang yang lurus-lurus 
saja. Aku tak bersalah. Sumpah, aku tak pernah merasa sebersalah begini sebelum 
sore tadi.
   
  “Apa hubungan Anda dengan si korban?” tanya perwira polisi menginterogasi.  
Aku tercekat, bibirku kelu. Aku tak bisa berkata-kata lagi begitu mengetahui si 
korban adalah orang yang paling kukenal di kota ini. Mungkin aku memamng tak 
bisa meletakkan kebenaran dan kepalsuan di tempatnya. Tapi satu hal yang aku 
yakini, bahwa sejak malam ini, mungkin Rianti akan menjadi milikku, atau 
mungkin milik lelaki asing, seperti yang dituduhkan Drajat.
   
   
  Pelmerah, 10 Mei 2008 dinihari
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
  
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke