Temans, cerita saya, "GOL" dimuat di Rakyat Merdeka Online Enam menit yang lalu, Bola menggelinding lagi. Nasib bergulir lagi. Penyelamatan gemilang baru saja dilakukan oleh kubu Tim Hijau. Rudi menggiring bola, lihai berkelit menerobos barisan belakang Tim Hijau. Sendiri saja membawa bola, empat pemain lawan berhasil dielakkan. Zulaikha semakin berdebar, dia tak kuasa melihat keberanian Rudi untuk berlari membawa bola ke jantung pertahanan lawan. Sebuah sapuan dilakukan bek belakang Tim Hijau. Bola mental ke udara. Rudi melompat tinggi berebut bola dengan si Nomor Enam. Duel udara dimenangkan Rudi. Stop ball yang dilakukannya dengan dada sangat memukau penonton. Untuk memenangkan pertempuran memang harus dilakukan dengan seindah mungkin. Empat menit yang laluÂ… Rudi menerobos masuk barikade Tim Hijau, semua kacau oleh aksi briliannya. Kutak-kutik di depan gawang mengecoh kipper Tim Hijau. Dengan mulus bola disarangkan Rudi ke gawang lawan. Wasit meniup panjang. Lapangan membuncah oleh teriakan massif para pendukung Tim Merah. Rudi dijagokan. Teman-temannya merubungi dan mengangkatnya tinggi ke udara. Sebuah gol telah lahir dari polesan ketakutannya. Namun di tribun penonton, Zulaikha tak merasakan kegembiraan. Wajahnya ditutup setangan. Jilbab hitamnya melambai ditiup angin yang semakin sore. Rudi sendiri tersedak. Nafasnya hampir putus. Dia telah berhasil merobek jala lawan. Dia telah menyelesaikan sebuah pertandingan. Dan pertandingan lain akan segera dimulai. Rudi membuka kaos bernomor sebelasnya. Dipandangnya pemain lawan dengan tatapan sendu. Dia pasrah pada sebuah permainan yang memaksanya untuk terus bermain. baca selengkapnya: http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=rumah_kaca
