BERKAH DARI (SAYA) MENULIS Fiyan Arjun http://sebuahrisalah.multiply.com ID YM:paman_sam2 Kadang saya merasa tak percaya jika tulisan saya yang—dimuat di surat kabar Ibukota walau hanya berupa reportase saja bisa merubah segalanya. Hingga saya merasa ini hanyalah mimpi. (Padahal tepatnya tulisan saya—yang dimuat di surat kabar itu bukanlah hal yang pertama). Tapi baru kesempatan ini—tulisan saya dimuat di surat kabar itu membawa anugerah. Suatu berkah dari Allah yang Maha Mengetahuinya. Itu tak pelak lagi saya harus merima berkah itu dari saya menulis. Pernah dalam hati saya terbersit suatu gumamam yang membuat saya tak habis pikir. Apalagi untuk menalarnya. Toh siapa sih saya? Seorang penulis dengan keterbatasan ilmu dan terlebih saya tak memiliki pendidikan formal yang tinggi. Beda halnya dengan mereka, penulis yang sudah malang melintang di dunia ini. Dunia tulis menulis. Jika mereka menulis dengan “menujukan” intelektualitasnya. Saya menulis dengan apa adanya. Kalau mereka menulis dan nanti jika membacanya harus melihat kamus.. Kalau saya tidak? Tulisan saya ketika membacanya cukup di samping sebagai teman membacanya singkong rebus. Atau, harus membawa ensiklopedia? Kalau saya cukup mendengarkan lagu-lagu dari negeri Paman Thakur, India. Mungkin juga harus perlu browsing dulu ke google? Tapi saya tidak seperti itu?. Harus pusing dan membuat kaki pegel. Ya, itulah mereka ingin menujukan integritas dirinya. Bahwa ini lho saya paling intelektual dan paling hebat! Hal ini jangan samakan saya dengan mereka. Saya menulis apa adanya. Menulis dengan apa yang saya bisa. Tak perlu repot-repot menulis dengan memakai bahasa asing atau apalah. Terlebih harus menirukan style mereka pula. Toh akhirnya nanti tak menghasilkan yang maksimal. Bukankah karena alas biasa menjadi luar bisa. Ya, walau pun nanti akan menerima hujan hujatan. Terima atau tidak ya saya harus menerima itu. Karena saya menulis apa yang saya bisa. Walau pun nanti ada yang mengatakan tulisan saya kacangan atau amatiran saya harus menerima. Saya tampung dulu. Bila kepenuhan nanti saya akan me-filter-nya. Membuang sedikit demi sedikit hujan kritikan itu bila nantinya hanya meng-down-kan saya. Tak bisa lagi saya untuk menghasilkan karya (tulisan) saya. Saya akan memikirkan itu. Tapi saya bangga saya bukanlah setiran bagi mereka. Be your self! Ya, itulah saya. Saya tak peduli dengan apa kata mereka. Bahwa saya ini tak mau dikritik apalagi menerima masukan. Toh saya berhasil bukan karena mereka. Saya berhasil karena kemauan dan ketekunan saya belajar, belajar dan belajar. Serta belajar dari orang yang berpengalaman. Apalah saya ini jika berhasil nanti toh mereka juga tak menganggap saya ada. Melainkan saya hanyalah penulis kesiangan! Memang saya akui saya adalah “penulis baru” di dunia ini. Saya baru berkecimpung di dunia ini ketika awal tahun 2004. Saya belajar menulis dimulai dari mengikuti pelatihan-pelatihan, workshop sampai seminar penulisan itu saya ikuti terus. Selebihnya saya belajar sendiri. Otodidak. Bukankan keberhasilan itu 10% persennya itu kemauan? Enthalah! Kalau saya ditanya apa yang sudah saya hasilkan? Pasti saya akan menjawabnya saat ini belum menghasilkan apa-apa tapi bila ingin tulisan yang saya hasilkan—dapat dibaca di website saya. Dan jangan tanya berapa buku saja yang saya hasilkan? Saya katakan lagi sampai saat ini saya tak punya karya (buku/novel) apalagi karya yang masterpiece. Itu malah tak punya. Namun saya sangat bersyukur dengan saya menulis, tulisan saya membawa berkah—karena tulisan saya masuk di surat kabar. Ya, contohnya hari Jum’at (20/06) itu ada sebuah kabar gembira yang saya terima. Saya mendapatkan panggilan dari redaksi sebuah malajah bergenre inspiratif dan bernuansa Islami. Entah untuk apa saya dipanggil saya juga tak tahu? Tapi akan saya ketahui nanti pekan depan. Padahal saya pun tak memberi apa-apa. Apalagi mengajukan lamaran dan juga memberikan naskah pada redaksi majalah itu. Namun Allah Maha Mengetahui tiba-tiba kabar gembira itu saya terima. Tak disangka. Pada saat saya sedang bekerja. “Ini Pak Fiyan Arjun?” tanya suara perempuan dengan bersuara lembut dari balik seberang jalan menanyakan nama saya. “Ya, saya sendiri. (Walau pun banyak orang saya menjawabnya saat itu).” “Pak Fiyan saat ini aktivitas apa,” lanjutnya. “Saya sekarang sedang bekerja di suatu lembaga pusat, data dan risert serta merangkap pustakawan.” Jawab saya lagi. “Apa kerjanya tiap hari?” “Saya part time.” “Bisa ketemunya kapan?” “Bagaimana kalau hari Selasa depan.” Saya memberitahukan waktu lenggang sayabekerja. “Oke deh hari Sealsa kita ketemu di redaksi.” Klik. Suara lembut itu mengilang. Tepat menghilangnya signal telepon gengam saya. Low batt. Maklum saya memakai telopon genggam saat ini tipe jadul. Zaman baheula sekali. Itulah kabar yang saya terima saat senja ingin menutupi dirinya dari balik awan gemawam hitam. Kabar gembira. Dan saya pun saat itu hanya mengucapkan syukur. Jika ini jalan terbaik bagi saya insya Allah saya kan menjalani sesuai kredibilitas saya, tiba-tiba batin saya berkata. Mengamini kabar gembira itu. Tapi itu baru sebagian. Ada yang lebih mengejutkan ketika ada seorang penulis—yang sudah memiliki buku pula menanyakan alamat surat kabar yang menembuskan tulisan saya itu. Atau, mungkin saat membaca tulisan saya itu lagi mati lampu maungkin….hehehe? Saya yang sempat menerima pesan singkat itu bertanya-tanya. Tidak salah tuh? Kebetulan si penulis itu bertanya kepada saya melalui via SMS. Saya tak langsung menjawab. Dikarenakan saya memang tak punya pulsa untuk membalasnya. Tapi saya heran kok bisa ya penulis yang sudah menghasilkan buku menanyakan alamat redaksi surat kabar itu. Lho, kok penulis bisa tidak tahu alamat redaksi surat kabar? Saya hanya berkata dalam hati. Tak mempercayai jika si penulis itu menanyakan demikian. Seakan-akan ia tak pernah membaca surat kabar itu. Miris. Penulis kok gapalres (baca:gagap alamat redaksi). Saya hanya termangu! Hingga suatu saat saya sedang usai bekerja dan ingin pulang ada hal yang menyempit di sela-sela benak saya. Jika menulis nanti saya tak harus terpaku pada sebuah tulisan. Terlebih harus memakai kata-kata yang saya tak kuasai, Untuk apa saya menulisnya jika nanti saya sama saja membohongi diri saya. Bahwa saya tak tahu itu! Hal itulah yang menyimpit di benak saya. Apakah saya harus malu? Tidak! Untuk apa saya malu. Dari pada saya harus berlaga intelek di depan mereka dan akhirnya senjata makan Tuan-nya sendiri. Itu lebih menyakitkan. Di tambah lagi ketika Pramudya, yang mengatakan jika dia telah merampungkan sebuahkarya, dia tidak lagi mempedulikan karya itu. Nasib apa yang akan menimpakarya itu, dia tidak mau ambil pusing. Itu yang saya sangat tak setuju dengan hal itu. Saya pikir, hanya dalam hal buang hajat orang boleh berlaku begitu, Halnya penulis yang “sok” intelek selalu menulis dan menghasilkan karyanya tanpa mengetahui apakah karyanya (tulisan) itu bisa dibaca dan dipahami semua orang? Saya rasa tidak demikian seperti itu. Penulis harus bertanggung jawab dengan apa yang dihasilkan jika nanti akan ditanyakan pertanggungjawabannya. Tidak semau gue! Saya harap janganlah seperti itu. Begitu juga halnya saya berharap dengan nantinya bertemu dengan redaksi majalah itu saya bisa mengaktualisasikan diri saya. Bahwa saya apa adanya. Inilah saya! Ulujami, 20 Juni 2008 Terinspirasi saat menerima kabar gembira itu. Dan temani oleh tembang Orang Bilang-nya Wali Band. Minta doa restunya ya?
