Kematian Hitam
Cerita Pendek Sigit Rais
 
 
Tikus-tikus berkeliaran di ruang-ruang pikirku. Mereka menggerogoti
harapan-harapan yang selama ini kutimbun di sudut mimpi. Dari
bulu-bulu lapuknya berlompatan kutu-kutu beraroma busuk.
Berbondong-bondong mereka menyusup ke dalam hatiku. Kaki-kaki kecilnya
tinggalkan goresan cakar yang begitu dalam. Dari luka-luka yang
semakin meradang itu muncul bakteri-bakteri mengerikan. Mereka bagai
mayat yang bangkit dari kubur. Mereka menyebar ke sekujur tubuhku.
Dengan kuku-kuku tajam mereka cakar dinding lambungku. Mereka gores
tulang-belulangku sehingga kurasakan ngilu yang teramat sangat. Dan
aku semakin tak berdaya ketika mereka padamkan cahaya kunang-kunang
yang selama ini jadi penerang hatiku. Ya, kini aku kehilangan cahaya
hati, kehilangan pegangan, kehilangan segalanya.
 
***
 
            Dialah Ririn, perempuan bermata bening sebening sikap dan
lakunya. Dari jemari lembutnya mengalir Seine yang kulayari dengan
kejujuran hati. Kuseberangi sungai itu dengan cinta lewat jembatan
Mirabeau yang mengiris sungai bagai pelangi di permadani biru. Aku
telah menemukannya sebagai cinta, cinta yang meluap deras menerjang
jiwa sunyiku. Dia begitu tulus mempersembahkan cintanya padaku, begitu
membara, bahkan terlalu bergelora dan siap jadi nyala api yang akan
membakar jiwa rapuhnya.
            Bulan September, sebuah taman di bawah bidik rintik
gerimis, tempat di mana untuk pertama kalinya tangan-tangan takdir
menyeretku pada gemerlap cahaya yang berpendar dari hatinya. Saat itu
gerimis jatuh satu-satu di rambutku. Aku berlari mencari tempat
berteduh, aku khawatir hujan semakin deras. Tanpa sengaja aku menabrak
seorang perempuan yang sedang sibuk memperbaiki payung rusaknya.
            "Maaf!"
            Perempuan itu hanya menatapku dengan tatapan hangat. Aroma
wedang jahe menyelubungi pikiranku.
            "Tidak apa-apa. Saya yang salah, seharusnya saya tidak
berdiri di sini," ujarnya.
            "Kalau begitu biar saya bantu perbaiki payung itu."
            Entah kekuatan apa yang telah tumbuhkan keberanianku untuk
bertindak lebih jauh. Aroma wedang jahe tadi bercampur dengan hangat
teh krisan. Bidikan gerimis yang telah menjelma hujan pun terasa bagai
guguran bunga Sakura. Awan mendung adalah gugusan merpati yang berarak
mencari matahari. Dan angin dingin adalah sentuhan nafas hati yang
bersimfoni dengan riak pada genangan air hujan, terciptalah
melodi-melodi jatuh hati.
            Kisah ini berawal dengan indah tanpa kendala apapun. Di
bawah payung yang baru saja kuperbaiki kami saling memperkenalkan
diri, saling mengungkap masa lalu sebagai sajian hangat di perjamuan
tak terduga ini.  Dari bibir tipisnya berlompatan kisah-kisah masa
lalu, tentangnya, tentang dunia yang memikatku untuk bertualang di
jagat matanya. Tapi sayang waktu tak bisa bersabar. Dia ingin segera
memisahkan kami. Waktu memang telah mempertemukan kami, tapi dia
jugalah yang menciptakan perpisahan di tengah perjamuan syahdu ini.
Dia telah berkompromi dengan jubah pekat malam. Tapi kami tak
kehilangan akal, kami saling bertukar nomor handphone sebelum berpisah
di tepi hari. Kami saling berjanji untuk saling mengirim pesan singkat.
 
 
***
 
kau cahaya kunang-kunang
ketika purnama ditimang remang
kau selimut malam
saat lelah jadi raja jiwa
kau gemintang capella
di altar gusar langit sepi
kau tarian alam yang meriuh di tepi sunyiku
 
Terciptalah puisi-puisi isyarat hati. Aku telah singgah di sebuah
dunia yang penuh dengan namanya. Sorot matanya sore itu adalah
matahari ketika pagi menetas dari eraman fajar. Ketika malam
menyajikan lanskap hitam bayangan wajahnya menjadi pendar purnama
penghangat sukma. Jemariku terus berlari mengungkap rahasia yang
sembunyi di sudut hati. Tanpa henti penaku menyemburkan gairah dan
rasa gelisah yang dibalut aroma kerinduan untuknya. Aku telah jatuh
cinta. Aku mengangkasa ketika tahu bahwa dia pun mencintaiku. Kami
saling jatuh cinta.
Kami pun berkali-kali bertemu di tempat yang sama. Bagai sepasang rusa
di musim kawin, kami begitu mesra. November dan Desember kami lalui
dalam gelimang bunga. Kami merasa menjadi Anthony dan Cleopatra,
bahkan kurasa jalinan kisah mereka tak seindah kisah kami. Jemariku
tak lelah muntahkan lava aksara yang mengalir ke sungai-sungai asmara.
Aku adalah pujangga yang telah dipertemukan dengan Efrosina.
 
***
 
Kami pun tiba di sebuah sudut malam di pertengahan Desember. Bulan
sabit menyaksikan pengkhianatan kami pada bumi dan langit. Tanpa
ikatan sehidup semati kami berguling di gurun pasir. Laksana ular kami
saling melilit, saling menggigit. Kali ini tak ada aroma wedang jahe
atau teh krisan, yang ada hanyalah aroma Cointreau bercampur dengan
Martel VSOP. Kami mabuk di samudra nafsu tingkat tinggi. Keringat
bermuncrat ke tepi gelisah malam. Angin mendesah resah, menyingkap
kelambu yang menyembunyikan kejahanaman cinta. Setelah segalanya usai
kami disudutkan malam. Bintang menertawai engah nafas kami. Kami
terkurung di puncak Himalaya. Dingin. Kami tenggelam di samudera
Atlantik, di dasarnya kami bersinggungan dengan bangkai Titanic. Gigil
memanggil-manggil tubuh bugil. Aku memeluk tubuh pualamnya dengan
setangkup penyesalan.
            "Saya tidak akan menyesal. Semua karena cinta," ujarnya
padaku.
            Tapi bagiku ujaran itu hanya semacam kamuflase dari
rintihan penyesalannya. Dia tak ingin aku larut dalam penyesalan. Dia
selalu ingin agar aku bisa bahagia.
 
***
 
            Januari datang bagai pagi yang menetas dari eraman malam.
Di benakku masih tersimpan sesal atas keputusanku. Di malam tahun baru
kusudahi petualangan cintaku dengan Ririn.
            "Kenapa?"
            "Minggu depan saya bertunangan dengan perempuan pilihan ibu."
            "Kamu cinta pada perempuan itu?"
            "Saya tidak tahu."
            "Kamu tahu, saya benar-benar mencintai kamu!"
            "Saya tahu. Tetapi sepertinya kita tidak berjodoh. Baiknya
kita tidak perlu bertemu lagi. Segera lupakan saya dan segala hal yang
pernah terjadi di antara kita."
            Saat itu wajah Ririn masih saja bergelimang cahaya
walaupun di baliknya tersimpan luka. Luka dalam yang siap meradang dan
tak akan pernah bisa disembuhkan. Luka itu telah memaksanya untuk
membebaskan diri dari kurungan rasa sakit.
Di akhir Januari, dengan jeratan tali di lehernya ia berlari membawa
pergi semua mimpi dan harapannya. Juga benihku yang tertanam dalam
rahimnya. Dia meninggalkanku, meninggalkan semua kebodohan yang pernah
kulakukan, meninggalkanku dalam himpitan sesal yang terus
bergentayangan di sepanjang sisa nafasku.
 
***
 
Tikus-tikus berkeliaran di ruang-ruang pikirku. Mereka menggerogoti
harapan-harapan yang selama ini kutimbun di sudut mimpi. Dari
bulu-bulu lapuknya berlompatan kutu-kutu beraroma busuk.
Berbondong-bondong mereka menyusup ke dalam hatiku. Kaki-kaki kecilnya
tinggalkan goresan cakar yang begitu dalam. Dari luka-luka yang
semakin meradang itu muncul bakteri-bakteri mengerikan. Mereka bagai
mayat yang bangkit dari kubur. Mereka menyebar ke sekujur tubuhku.
Dengan kuku-kuku tajam mereka cakar dinding lambungku. Mereka gores
tulang-belulangku sehingga kurasakan ngilu yang teramat sangat.
            Kandungan istriku telah berumur tiga bulan padahal baru
sebulan kami berumah-tangga. Setelah kuancam dengan sebilah golok
akhirnya perempuan sundal itu mengakui kebusukannya di depan orangtua
dan saudara-saudara kami. Ternyata dia dihamili oleh kekasihnya yang
telah lari dengan perempuan lain. Aku hanya tumbal agar kehormatan
keluarganya tidak ternodai.
Gunung jiwaku murka, meletus, luapkan kemarahan yang tak sanggup
kuatasi. Aku gila. Tikus-tikus, kutu busuk, dan bakteri-bakteri itu
semakin liar mengoyak organ tubuhku. Darah hitam menetes lewat mulut,
hidung, kuping, dan saluran kencingku. Ini kematian hitam, kematian
yang tidak disukai Tuhan. Tapi kematian inilah yang akan menggiringku
menuju bening mata yang selama ini kurindukan.***
 
 
kamarkehidupan, 4 Desember 2005-21 Maret 2006

Kirim email ke