*www.magnetzone.multiply.com

Judul                           : A THOUSAND SPLENDID SUNS
Penulis                        : Khaled Hosseini
Penerbit                      : Qanita
Tebal                          : 384 halaman*

Setelah meraih sukses besar lewat novel pertamanya, The Kite Runner, yang
terjual lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia, Khaled Hosseini kembali
mempersembahkan sebuah karya indahnya tentang Afganistan, sebuah negeri yang
indah namun keindahannya direnggut paksa oleh perang yang tidak
berkesudahan. A Thousanf Splendid Suns tidak hanya bertutur tentang
melodrama dari setiap plot, pelukisan yang tajam, penggambaran karakter yang
kuat, dan pengolahan emosi yang memukau. Dalam novel ini Khaled Hosseini
ingin mengatakan bahwa Afganistan adalah sebuah kehidupan sekaligus
kematian, bagi jutaan warganya, yang menghirup setiap volume udara
Afganistan, yang dipenuhi oleh mesiu, pecahan granat, rudal dan senjata
mematikan lain. Pergantian rezim serta perang saudara yang terjadi selama 10
tahun menjeburkan Mariam dan Laila – dua perempuan yang akhirnya saling
berbagi hidup - ke dalam sebuah skenario panjang, sebuah penantian yang
nyaris tiada akhir. Mariam, seorang harami (anak haram) dari sebuah desa
terpencil bernama Gul Daman, mengalami perubahan nasib yang dramatis ketika
menginjakkan kaki di Kabul, ibukota Afganistan. Hidup bersama suaminya,
Rasheed yang psikopat membuatnya menyesali keputusannya untuk menemui Jalil,
ayahnya di Herat, kota kecil namun lebih besar dari desanya di Gul Daman.
Jalil menikahkannya dengan paksa, atas desakan kedua istrinya, agar harami
seperti dirinya tidak membuat aib bagi keluarga Jalil yang kaya-raya dan
terpandang.

Mariam merasa bersalah mengapa dulu ia tidak mengindahkan perkataan Nana,
ibunya : Hati para pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. Rahim tak
akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu. Hanya akulah yang
kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa
lagi. Tak akanada siapapun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti!

Mariam sangat ingat, kalimat itu seringkali diucapkan ibunya setiap kali
Mariam bersikeras ingin berjumpa dengan Jalil yang tak pernah secara sah
mengakuinya sebaai anak. Dan kenekatan Mariam harus dibayarnya dengan sangat
mahal. Sepulang menemui Jalil secara diam-diam, Mariam menemukan ibunya
tewas gantung diri.

Dan Mariam memang benar-benar sendiri di dunia ini, sebab meskipun tinggal
satu atap dengan Rashed, namun suaminya tidak pernah menganggapnya ada.
Tentunya sejak Mariam mengalami keguguran dan tidak kungjung hamil lagi,
perlakuan Rasheed kepadanya mulai berubah. Rasheed kerap memukuli dan
mencercanya. Rasheed menganggapnya sebagai benda mati atau bahkan binatang
tak berharga, meski Mariam punya hati, yang bisa merasakan sakit setiap kali
Rasheed mengkasarinya. Mariam juga punya akal, yang membuatnya sering
berpikir, apakah sebagai istri, Mariam kurang memberikan pelayanan kepada
Rasheed? Lalu apa artinya setiap hari dia memasak, mencuci pakaian dan
perkakas, membersihkan rumah, menimba air, menyeterika pakaian, dan
macam-macam pekerjaan yang Rasheed bebankan kepadanya?

Mariam mencoba mengais-ngais cinta di tengah kepahitan sebagai anak haram
dan istri yang tidak diinginkan. Pasrah akan pernikahan yang dipaksakan,
menanggung perihnya luka yang disayatkan sang suami. Namun dalam kehampaan
dan pudarnya asa, seribu mentari surga muncul di hadapannya.
Pertama oleh seorang Laila, putri dari guru Hakim dan Fariba, sepasang suami
istri yang menjadi tetangganya di Deh-Mazang, salah satu daerah di kota
Kabul.

Yang Mariam ingat dari sosok Laila ketika masih berumur 9 tahun adalah
seorang anak perempuan berambut pirang bermata hijau yang sering berjalan
dengan anak lelaki bernama Tariq. Dengan wajahnya yang cantik Laila tampak
menonjol di daerah itu. Semua tahu siapa Laila dan ikatan apa yang terjalin
antara dia dan Tariq, pemuda tampan berkaki satu yang selalu menyertainya
kemana-mana.

Kehidupan Laila memang tidak setragis Mariam, namun pengabaian yang
dilakukan oleh Mammy – panggilan sayangnya kepada ibunya – menorehkan luka
dan pertanyaan besar di hati Laila. Sejak kepergian Ahmad dan Noor ke medan
perang membantu pasukan Mujahidin, ibunya berubah, tidak bisa menikmati
hidup, tidak bahagia. Lebih dari itu, ibunya tidak pernah menganggap Laila
eksis dan membutuhkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu. Untung masih ada
Babi – panggilan sayang Laila kepada ayahnya – yang menemaninya menjalani
kehidupan sebagai anak remaja. Babi adalah seorang kutu buku pecinta ilmu.
Setiap malam Babi akan mengajari Laila pengetahuan yang Babi dapatkan dari
beratus buku yang dia baca. Babi juga membawa Laila dan Tariq bertualangan
ke Lembah Bamiyan, tempat dimana patung-patung Buddha raksasa berada.
Kebersamaan Laila dan Babi di Lembah Bamiyan kelak akan menjadi kenangan
terakhir Laila tentang Babi.

April 1992, keadaan begitu cepat berubah. Mujahidin berhasil memukul mundur
dan mengusir Uni Soviet dari tanah Afgan, untuk selamanya. Namun perang
saudara tidak bisa dihindarkan. Faksi-faksi yang ada dalam tubuh kelompok
Mujahidin memperebutkan kekuasaan segera setelah Rabbani terpilih menjadi
presiden. Mujahidin, yang bersenjata lengkap namun kekurangan musuh bersama,
mendapatkaj musuh baru dalam diri sesamanya. Kota Kabul seakan-akan menahan
napas. Di daerah-daerah pegunungan, senaapn-senapan manual mulai digantikan
oleh Kalashnikov.

Nasib Laila juga turut berubah seiring berubahnya suhu politik negerinya.
Laila mulai merasakan sakitnya kehilangan teman-teman sepermainan. Tubuh
Giti hancur lebur terkena tembakan roket nyasar di dekat rumahnya. Hasina
beserta keluarganya memutuskan mengungsi ke luar negeri, meninggalkan Laila
dalam ketermanguan, terlalu shock atas perubahan situasi di sekelilingnya.
Dan mungkin sebentar lagi Laila juga akan keluar dari Kabul. Jika saja Mammy
tidak bersikeras untuk tetap tinggal di Kabul. Ya, jika saja Mammy mau
melunakkan kekeraskepalaan-nya, mungkin Laila sudah bersama-sama Tariq
menuju Pakistan, untuk memulai hidup baru di sana. Setelah semua yang
terjadi antara dia dan Tariq, Laila menyesal mengapa baru 17 hari kemudian
Mammy akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Kabul.

Namun sebelum semuanya terlaksana, sebuah roket menghantam rumah Laila,
menyisakan luka di tubuh Laila, menyisakan potongan tubuh Babi dan Mammy,
tanpa ampun. Menyisakan luka di jiwa Laila, mengubur semua impian yang telah
Laila bangun bersama Tariq.

Kini, dengan telinga yang nyaris tuli, Laila terpaksa mengiyakan ketika
Mariam melamarkan dia untuk Rasheed. Rasheed-lah yang menemukan tubuh penuh
luka Laila di tengah puing-puing rumahnya yang hancur. Rasheed juga yang
merawat – dengan menyuruh Mariam – dan menampung Laila di rumahnya. Tapi
bukan itu alasan Laila menerima lamaran Rasheed. Ada makhluk sebesar buah
murbei di rahimnya yang butuh pengakuan, yang butuh status. Ya, Laila
mengandung bayi hasil jalinan asmara terlarangnya dengan Tariq sebelum Tariq
pergi mengungsi ke Pakistan.

Mula-mula Rasheed memperlakukan Laila bak Malika atau ratu. Semua keinginan
Laila selalu dituruti. Laila mendapatkan perhatian ekstra dari Rasheed,
terlebih saat perut Laila makin membesar, yang dikira Rasheed janin itu
adalah hasil malam pertamanya dengan Laila. Posisi Mariam makin terpuruk
dengan kehadiran Laila, meski Laila tidak bermaksud makin merenggut apa yang
sudah terenggut dari Mariam. Interaksi antara Mariam dan Laila pada awalnya
dipenuhi dengan kecanggungan dan pertengkaran-pertengkaran kecil. Namun
semuanya berubah menjadi sebuah pertemanan yang menjanjikan ketika pada
suatu malam Laila melakukan pembelaan terhadap Mariam yang hendak dipukuli
oleh Rasheed. Laila segera mendapat tempat di hati Mariam. "Tidak ada yang
melakukan pembelaan terhadapku sebelumnya," kata Maria kepada Laila,
memberikan alasan mengapa Mariam membuka diri untuk menerima kehadiran
Laila.

Apalagi sejak Laila melahirkan Aziza, bayi perempuan cantik yang menjadi
penyejuk hari-harinya di rumah Rasheed yang bagai neraka dunia. Rasheed
selalu menginginkan bayi laki-laki, tapi celakanya Laila tidak dapat
memberikannya. Terlebih lagi Laila sangat lengket dan mencurahkan segenap
perhatiannya pada Aziza, Rasheed merasa tersingkir. Sikap Laila yang penuh
perlawanan kepada Rasheed membuat posisi Laila kemudian tidak lebih seperti
Mariam, tidak dipedulikan dan layak mendapat cercaan serta pukulan.

Seiring dengan makin buruknya perlakuan Rasheed terhadap kedua istrinya,
hubungan Laila dan Mariam juga makin erat dan hangat. Aziza menyukai Mariam,
dan sebaliknya. Mariam yang selama ini lebih memilih untuk menyimpan semua
luka seorang diri kini mendapat banyak cinta dan telinga yang siap menampung
sebanyak apapun cerita dan keluh-kesahnya. Kini Mariam tidak sendiri lagi,
dan Mariam sangat bahagia. Tiap malam Mariam dan Laila meminum teh dan
menyantap manisan bersama sambil mengobrol tentang banyak hal, termasuk
menyusun rencana melarikan diri dari Rasheed. Hingga pada suatu hari Laila,
Mariam, dan Aziza melaksanakan pelarian diri dan gagal. Setelah kegagalan
itu kehidupan di bawah tekanan Rasheed makin terasa berat.

Hamil kedua yang dijalani Laila tidak semudah yang pertama. Sejak rezim
Taliban berkuasa tahun 1996, akses bagi para wanita sangat terbatas,
termasuk akses ke rumah sakit. Hampir seluruh rumah sakit diperuntukkan bagi
laki-laki. Hanya ada satu rumah sakit khusus wanita di Kabul, itupun tidak
dilengkapi oleh fasilitas, obat-obatan serta tenaga medis yang cukup untuk
melayani pasien-pasien yang datang setiap hari. Taliban membuat peraturan
bahwa fasilitas umum antara laki-laki dan wanita terpisah.

Sangat besar pengorbanan yang harus dijalani Laila saat melahirkan Zalmai,
bayi laki-laki yang kelahirannya dirayakan oleh Rasheed. Operasi cesar Laila
tidak menggunakan pembiusan sebab tidak ada obat bius. Hanya keikhlasan dan
ketegaran seorang ibu saja yang dapat mengatasi semua rasa sakit itu. Zalmai
segera menjadi raja di rumah Rasheed. Aziza praktis tidak mendapatkan kasih
sayang dari ayahnya.

Tanpa diduga, Laila bertemu masa lalunya. Tariq datang mengungjunginya.
Tariq tidak mati seperti yang dikatakan oleh seorang pria yang datang
padanya dua setengah tahun yang lalu. Saat itulah Laila menyadari bahwa
ucapan pria itu adalah suatu kebohongan yang menyeretnya pada sebuah
kehidupan penuh siksaan bersama Rasheed.

Zalmai tidak pernah menyadari, laporannya tentang sang ibu yang
bercakap-cakap dengan seorang pria asing menimbulkan persoalan baru –
persoalan orang dewasa yang pelik – antara ayah dan ibunya. Dengan kalap
Rasheed nyaris membunuh Laila. Namun hantaman sekop Mariam menumbangkan
sosok bengisnya. Rasheed mati di tangan Mariam. Hukum Islam menetapkan bahwa
hukum yang layak diterima pembunuh adalah hukuman mati. Nyawa dibalas nyawa.
Qishas. Mariam hanya punya satu cara, menyerahkan diri ke Taliban untuk
menerima hukuman. Laila punya seribu impian yang ingin dia bangun bersama
Mariam. Akhirnya kelogisan dan kepasrahan Mariam memenangkan perdebatan
antara keduanya. Laila, Aziza, Zalmai dan Tariq pergi dengan bus menuju
Pakistan. Mariam menjalani sepuluh hari di penjara, menunggu detik-detik
eksekusi. Sementara Laila telah berada di belahan bumi yang lain,
mengais-ngais asa yang sempat terbang ke langit kelam, sekelam Afganistan
yang dibombardir rudal dan roket oleh Amerika Serikat sesaat setelah menara
kembar WTC diserang oleh dua pesawat yang pelakunya mengarah ke satu nama :
Osamah Bin Laden. Rezim Taliban dianggap layak mendapat balasan atas
tindakan mereka menyembunyikan Bin Laden.


Setelah beberapa lama menikmati kehidupan nyaman dan damai di Murree,
Pakistan, Laila merindukan kota masa kecilnya. Dia merindukan keriuhan Pasar
Shor, Taman Babur, teriakan para penjual air yang memikul kantong-kantong
kulit kambing mereka. Dia merindukan ocehan para pedagang kain di Jalan Ayam
dan pedagang melon di Karteh-Parwan.

Tetapi, bukan hanya kerinduan terhadap kampung halamannya dan nostalgia dan
membuat Laila banyak memikirkan Kabul. Dia merasa dirinya dilanda
kegelisahan. Dia mendengar bahwa sekolah-sekolah telah dibangun di Kabul,
jalan-jalan telah diperbaiki, para wanita telah kembali bekerja. Laila mulai
mendengar ucapan Babi di dalam kepalanya. Kau bisa menjadi apa yang kau
inginkan, Laila. Aku yakin akan hal ini. Dan aku tahu bahwa saat perang ini
selesai, Afganistan akan membutuhkanmu.

Dengan membawa serta seluruh keluarganya, Laila kembali ke Kabul, setelah
sebelumnya mengunjungi Herat, menapaktilasi tempat kelahiran Mariam, sahabat
sejatinya. Laila bertekad tidak akan meninggalkan Afganistan, tanah
kelahirannya, yang siapapun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang
berpendar di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di
balik dinding.

Kirim email ke