*24 PAGES & 24 HOURS IN MAGNET ZONE*
24 Hours Comics Day atau Hari Komik 24 Jam merupakan acara
bertaraf internasional dimana komikus di seluruh dunia berusaha menciptakan
komik setebal 24 halaman dalam jangka waktu 24 jam non-stop secara serentak.
Di Indonesia, event ini salah satunya diadakan di kota Surabaya, bertempat
di Magnet Zone Bookstore Café, JL. BKR pelajar No.30 (depan SMU 9) mulai
hari Sabtu 18 Oktober pukul 10 pagi hingga hari Minggu 19 Oktober pukul 10
pagi, dilaksanakan secara marathon. Acara ini didukung sepenuhnya oleh Bee
Comics bekerjasama dengan Magnet Zone Bookstore Café sebagai fasilitator.
Bagi peserta dan pengunjung yang hadir untuk menyaksikan event ini,
dipersilakan untuk membaca komik-komik terbaru koleksi Magnet Zone Bookstore
Café sepuasnya selama 24 jam penuh di lokasi.
Selama acara berlangsung, reportase beserta halaman-halmaan naskah
yang sudah jadi di *upload *ke situs web untuk dihubungkan dengan panitia
pusat di Amerika dan para komikus lain di seluruh dunia. Di akhir acara,
seluruh karya peserta akan difotokopi dan dikirimkan ke Ohio State Library
untuk didokumentasikan.
Tantangan ini datang dari Scott McCloud *(Understanding Comics,
Reinventing Comics, Making Comics) *dan Nat Getler. Dua komikus asal Amerika
tersebut penggagas acara ngomik seharian ini. Bahkan McCloud telah
menerbitkan beberapa kompilasi yang menampung 24 karya terbaik para komikus
yang sudah mengikuti 24 Hours Comics Day. Pada tahun 2006, karya Tita
Larasati (Curhat Tita) terpilih sebagai The Best 10.
Awalnya, target peserta 24 Hours Comics Day ini 20 orang, namun
yang mendaftarkan diri melebihi target. Sebanyak 23 orang terlibat dalam
event yang diselenggarakan pertama kali di Indonesia pada tahun 2006 di
Jakarta. Uniknya, ada 2 orang peserta yang sangat muda. Fathiyah Ni'matul
Aisy (Aisy) 7 tahun dan adiknya Najma Shafia Firdausi (Fia) 6 tahun. Fia
adalah peserta termuda dalam event ini. Selain Aisy dan Fia, ada juga yang
bernama Azzam Bre Mahaputra (Azzam) 11 tahun. Azzam merupakan putra ke-3
Walikota Surabaya Bambang DH. Diantar oleh ibundanya, Dyah Katarina, Azzam
menerima tantangan menggambar komik selama 24 jam bersama 22 peserta lainnya
yang berasal dari Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Peserta rata-rata berusia
belasan tahun, dengan berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari SMU hingga
mahasiswa semester pertama. Dewi Fitriana, 18 tahun, adalah mahasiswi STIKOM
semester 1 jurusan Multimedia. Dewi merupakan anak berkebutuhan khusus. Dia
tunarungu sejak lahir. Namun luar biasanya, orang tua Dewi terus mensupport
anaknya untuk menjadi seorang komikus. "Saya ingin menjadi komikus", tulis
Dewi pada layer HP-nya, sebuah alat yang juga dia gunakan untuk mengatasi
hambatan komunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya yang tidak
berkebutuhan khusus seperti dirinya. Gadis manis berjilbab ini mengungkapkan
kepada kru Magnet Zone, bahwa dirinya senang sekali bisa mengukti event
ngomik selama 24 jam ini. Meski capek dan ngantuk namun Dewi merasa nyaman
berada di Magnet Zone Bookstore Café.
Sebagian besar memang peserta menggunakan* Manga Style*, namun
tidak ada ketentuan harus menggunakan *style *tertentu. Mungkin karena
sebagian besar komik yang mereka baca adalah komik yang berasal dari Jepang,
sehingga gaya ngomik mereka tidak bisa dilepaskan dari apa yang sering
mereka lihat. Oh iya, agar peserta 24 Hours Comics Day tidak bosan, Magnet
Zone Bookstore Café menyediakan ruangan khusus untuk menonton
channel-channel dunia yang menayangkan kartun dan animasi seperti *Animax,
Nickledeon, Cartoon Network,* dan* Disney. *Ruang menonton didesign senyaman
dan semenarik mungkin agar peserta bisa* enjoy *di sana. Kehadiran ruang
menonton ini terbukti berhasil membuat peserta merasa nyaman dan senang.
Peserta-peserta cilik seperti Aisy, Fia, dan Azzam paling sering
menghabiskan waktu di ruangan ini. Maklum, anak kecil biasanya cepat bosan.
Sedangkan peserta-peserta lain yang usianya jauh lebih tua dari para peserta
cilik ini tetap focus di mejanya masing-masing, menekuni apa yang sedang
mereka kerjakan. Lihat saja Lucky Eka Darma Prasetya (Lucky). Mahasiswa
UBAYA semester 1 jurusan multimedia ini sejak jam 10 pagi sudah *nangkring *di
mejanya, yang terletak di pojok ruang tengah. Dia sengaja memilih tempat
yang sepi agar bisa berkonsentrasi penuh menggambar komik. Mahasiswa yang
penampilannya mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut mirip para personel
J-Rock dan anak-anak muda Jepang yang ada di komik ini memiliki goresan
tangan yang sengat lihai. Dalam waktu sekejap saja Lucky bisa menghasilkan
sebuah gambar yang sangat indah, detail, dan rapi. Rupanya Lucky sejak dari
rumah sudah menyiapkan konsep gambar dan cerita yang akan dia buat di event
24 Hours Comics Day. Luar biasa kesungguhan Lucky. Baginya, komik tidak
sekedar hobi tapi sudah menjadi gaya hidupnya.
Menurut Ibu Dyah Katarina, menyukai komik bukan masalah dan komik
sendiri bukan masalah, asalkan kita tahu bagaimana memposisikan komik dalam
kehidupan. "Komik itu kan sarana atau media berkomunikasi yang efektif. Dan
saya bukan tipe orangtua yang mempermasalahkan jika anaknya menyukai komik.
Saya sebagai orangtua mendukung sepenuhnya bakat anak saya, Azzam, yang suka
sekali dengan komik. Hanya saja kita harus mengarahkan anak supaya apa yang
dia senangi itu tidak lantas menyebabkan dial alai terhadap tanggung
jawabnya dan peran-peran lain yang melekat di dirinya." Berdasarkan
penelitian dan pengamatan, memang ada kecenderungan seorang komikus itu
kuran peduli pada lingkungan (cuek, *red). *Tapi hal itu tidak akan terjadi
kalau kita sebagai orangtua mau dan mampu mengarahkan anak agar kehidupan
dia seimbang.
Komik sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk banyak hal, mulai dari
sarana belajar lewat penerbitan buku-buku pelajaran dalam bentuk komik,
sampai sarana penyuluhan dan sosialisasi program-program pemerintah. "Akan
sangat menarik dan efektif jika sosialisasi dan penyuluhan program-program
pemerintah dilakukan lewat media bernama komik. Budaya dan pernik kota
Surabaya juga akan sangat unik jika dipromosikan dalam bentuk komik. Hal
yang semacam ini kan belum pernah ada. Jadi saya sangat *appreciate *jika
ada acara semacam ini," tukas Ibu Dyah Katarina, yang sejak hari Sabtu
bersama Pak Bambang DH mengunjungi Magnet Zone Bookstore Café guna menengok
Azzam. Bu Dyah yang juga penggerak PKK Kota Surabaya manaruh harapan besar
terhadap 24 Hours Comics Day agar menjadi ajang yang mampu mengangkat nama
kota Surabaya dan menjadikan kota Surabaya sebagai kota yang kreatif.
Senada dengan Ibu Dyah Katarina, Manajer Magnet Zone Bookstore
Café, Evie Suryani mengatakan bahwa festival ini diharapkan dapat menjadi
tonggak pemicu pengembangan industi kreatif di Surabaya dan menjadikan
Magnet Zone Bookstore Café sebagai salah satu *icon *kreativitas di
Surabaya. Sedangkan Eria Andy, coordinator 24 Hours Comics Day yang juga
tutor Bee Comics bertekad akan mengadakan acara yang sama tahun depan
sekaligus memecahkan ekor MURI dengan mengadakan 24 Hours Comics Day di
Surabaya dengan mengundang para komikus dari kota-kota lain di Indonesia.
Menjelang pukul 10 pagi pada hari Minggu, semua peserta sudah
menyelesaikan komik 24 halaman-nya. Umumnya mereka melepaskan lelah dengan
menonton animasi di ruang menonton, dan ada pula yang tertidur pulas di sofa
empuk yang memang disediakan untuk istirahat. Rupanya mereka semalaman tidak
tidur demi menyelesaikan komiknya. Dan pada pukul 10 tepat, para peserta
dikumpulkan. Juri akan mengumumkan siapa saja yang berhak menjadi juara 1,
2, dan 3 serta juara harapan 1, 2, dan 3. Wajah-wajah kuyu dan mengantuk
berkolaborasi dengan wajah harap-harap cemas. Ini memang bukan lomba, tapi
mereka juga ingin menjajal kemampuannya menggamnbar dan membuat cerita.
Lagipula penyelenggara meneyediakan hadia, sebagai bentuk penghargaan atas
usaha mereka. Kemudian nama Lucky Eka Darma Prasetya keluar sebagai juara 1,
Nathalia Noor sebagai juara 2, dan Novana sebagai juara 3. Ayah Novana yang
juga Humas Bank Jatim saat itu turut meliput acara penyerahan hadiah dan
akan memasukkan foto-foto hasil jepretannya ke majalah internal Bank Jatim.
Ayah Novana tampak bangga terhadap putrinya, sama seperti Bu Dyah Katarina
yang senyum-senyum saat Azzam ditetapkan sebagai juara harapan 3.
* *