Memanfaatkan "Ruang Lengang" Epri Taqib
Jumat. 17 Oktober 2008 Magnet Zone kedatangan tamu istimewa.
Diawali dengan perjumpaan lewat multiply, salah seorang penulis puisi yang
namanya tengah melambung di dunia sastra tanah air, bersedia mengungjungi
café buku kami. Epri Tsaqib saat itu sebenarnya sedang ada acara launching
dan bedah buku kumpulan puisi-nya yang pertama, "Ruang Lengang" di Surabaya.
Namun kami tidak mau menyia-nyiakan "ruang lengang" yang hadir di hadapan.
Mumpung Mas Epri ada di Surabaya dan tidak terlalu banyak acara (di Surabaya
memang tidak, namun di Jawa Timur Mas Epri sibuk sekali. Setelah dari
Suraya, beliau harus ngisi di Malang, lalu Madura), maka kami "comot" lah
penyair muda yang mempunyai bisnis online www.geraibuku.multiply.com ini.
Menarik sekali, di saat sebagian besar warga Surabaya berjibaku
dengan pekerjaannya, Magnet Zone, Café Buku pertama di Surabaya justru
mengajak sebagian komunitas kepenulisan dan sastra (FLP, Alpen Prosa,
Komunitas Esok) di Kota Pahlawan untuk mendedah "Ruang Lengang" seorang Epri
Tsaqib pada jam kerja. Ya, mereka kami undang pada jam 1 siang. Format
acaranya juga tidak kalah menarik dengan pemilihan waktunya, "Makan Siang
Bersama Epri Tsaqib". Kami sadar, adalah suatu hal yang absurd jika di hari
sesiang itu para peserta hanya diajak berpikir serius tentang puisi, tentu
kurang asyik. Lagipula pada tanggal 18 Oktober jam 18.30 teman-teman
Komunitas Esok akan meng-*cover *acara yang lebih serius untuk mendedah
karya Mas Epri yang akan diterjemahkan dalam 4 bahasa (Inggris, Jerman,
Prancis, Spanyol) dan sudah dicetak untuk yang ke-2 kalinya. Sebuah
perjalanan yang tidak mudah untuk sebuah karya sastra berupa puisi
mengingat, kata mas Epri, "dunia puisi adalah dunia yang sangat sepi…".
Magnet Zone memang sengaja membatasi jumlah peserta sebab acara
makan siang ini bukan acara yang terlalu formal. Kami hanya berbincang
santai. Perbincangan berlangsung dengan *gayeng. *Mas Epri banyak
melemparkan *joke-joke* segar. Sebagian peserta yang berasal dari komunitas
kepenulisan di Surabaya menanyakan mengapa memilih puisi sebagai media
penyampaian hasrat jiwa dan keinginan hati? Bukankah puisi dunia yang sepi?
Penyair yang juga menjadi pendiri Komunitas Puisi FLP ini menjawab secara
praktis, *"Karena lingkungan pergaulan saya adalah lingkungan kepenyairan
dan puisi sehingga otomatis saya banyak terbawa suasana lingkungan saya"*.
Ada juga peserta yang menanyakan, "*mengapa buku kumpulan puisi ini diberi
judul Ruang Lengang dan segmentasi pasarnya siapa?"*. *"Saya ingin
memberikan ruang lengang untuk diisi apapun dan oleh siapapun, terserah
mereka mau mengisi apa. Terus-terang kalau untuk buku puisi, agak sepi,
tidak seramai cerpen apalagi novel, namun itu semua bisa disiasati dengan
marketing yang bagus sehingga selera pasar bisa dibentuk"*, jawabnya.
Sadangkan
untuk pertanyaan, *"apa tujuan utama ditulisnya buku ini?*, dengan santun
Mas Epri berkata, *"untuk diri saya sendiri, menasehati diri saya sendiri,
sebab saya belum bisa menasehati orang lain. Tapi kalau buku ini berhasil
menasehati dan berdampak terhadap orang lain, ya Alhamdulillah…".*
Menu makan siang mungkin cuma nasi goreng, yang tentunya sudah
sering dinikmati oleh seluruh peserta sebab ini menu yang biasa terhidang di
meja makan rakyat Indonesia. Namun ilmu dan informasi serta momen yang
diperoleh tentu tidak sebanding dengan menu makan siang yang disuguhkan. Dan
kami yakin, menu puisi yang kami suguhkan tidak setiap saat bisa hadir di
meja kita. Jadi, mari kita manfaatkan "Ruang Lengang" Epri TsaqibJ