www.magnetzone.multiply.com
Pembekalan Duta Bahari 2008. Dari Planetarium hingga Museum Selamat bagi para siswa yang menjadi Duta Bahari 2008. Setelah terpilih dan dilantik sebagai Duta Bahari 2008, kesepuluh anak yang berasal dari SD se-Surabaya memulai "debut" pertamanya. Pada tanggal 28 Oktober 2008, para duta terpilih ini diberi kesempatan untuk mengunjungi kediaman bapak Walikota Surabaya Bambang DH sekaligus mendapatkan pembekalan di STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut) serta Museum Jaya Srana Loka yang berlokasi di Bumimoro. Sekitar pukul 7 pagi, rombongan Duta Bahari 2008, para guru pendamping serta panitia Gerakan Cinta Bahari berkumpul di Magnet Zone, café bookstore pertama di Surabaya yang juga dijadikan sebagai *base camp *Gerakan Cinta Bahari. Nantinya mereka juga akan kembali ke Magnet Zone guna mengambil kendaraan yang dititipkan di Magnet Zone atau menunggu jemputan. Tiba di kediaman bapak Walikota Surabaya, rombongan Duta Bahari 2008 disambut oleh para pejabat Pemkot. Di meja ruang tamu sudah disediakan berbagai macam penganan dan minuman serta buah-buahan. Segera saja rombongan mengagumi interior ruangan yang didesain memanjang itu. Tak berapa lama kemudian bapak Walikota Surabaya Bambang DH muncul. Beliau didampingi oleh Komandan STTAL Bapak Budi Priyono. Diskusi berlangsung *gayeng. *Pak Bambang DH dengan berseloroh menyuruh pada duta yang masih kecil-kecil tersebut untuk membawa pulang semua makanan yang terhidang di meja. Pak Walikota mengaku sangat senang dengan adanya acara semacam ini sebab sangat sedikit sekali ternyata generasi muda yang mengenal laut. Sekitar 4 tahun lalu saat pak Walikota meninjau perkemahan Jambore Jatim di Bumimoro, beliau menemui kenyataan bahwa banyak peserta Jambore yang belum pernah pergi ke laut dan tidak banyak tahu tentang laut. Oleh karena itulah maka acara pengenalan kebaharian seperti yang telah digagas oelh Gerakan Cinta Bahari sangat penting artinya bagi pembentukan karakter generasi muda sejak dini. Dan di hari peringatan Sumpah Pemuda 2008, acara pengenalan kebaharian bisa menjadi sarana yang efektif bagi penanaman nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam bidang kebaharian, antara lain disiplin dan kepedulian terhadap lingkungan laut. Selama mengikuti pembekalan kebaharian di STTAL, sepuluh Duta Bahari 2008 serta dua puluh duta tambahan banyak memperoleh informasi, wawasan, serta ilmu mengenai segala hal yang berkaitan dengan kebaharian. Pak Adi Bandono yang memandu para duta memberikan penjelasan tentang makna 'bahari'. 'Bahari' adalah hal-hal yang mencakup unsur udara, darat, dan air yang di dalamnya masih merupakan satu kesatuan utuh. Jadi, bahari tidak hanya mengenai laut tapi lebih luas dari itu. Begitu pun dengan industri bahari. Industri bahari merupakan industri yang bergerak dalam segala bidang; air, darat serta udara. Setelah puas mengikuti pembekalan kebaharian, rombongan bergerak menuju Museum Jaya Srana Loka yang berada tidak jauh dari STTAL. Begitu memasuki ruang depan museum, lukisan-lukisan bertema perjuangan dan pergerakan TNI AL terpampang menyambut rombongan yang terdiri dari tiga puluh duta dan belasan guru pendamping. Di sana mereka diminta melepas alas sepatu serta meletakkan tas sebab sebentar lagi petugas akan menggiring mereka ke Planetarium. Dengan wajah penasaran siswa-siswa SD terpilih ini bakalan mendapatkan suguhan yang sangat menarik dan ilmu yang berguna. Udara dingin langsung menyelimuti tubuh para duta serta guru-guru yang memasuki Planetarium. Maklum, AC-nya *full*. Serta merta seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Namanya juga Planetarium. Ruangan ini digunakan untuk memberikan gambaran visual bagaimana tata surya dan benda-benda langit yang berada di dalamnya beredar. Dengan sigap dan penuh semangat, salah satu petugas yang menjadi pemandu menjelaskan bahwa bumi kita berada dalam rengkuhan Galaksi Bimasakti. Dan bahwa bintang di jagad raya ini jumlahnya sangat banyak dan letaknya sangat jauh. bKetika lampu dinyalakan kembali dan acara merambah pada sesi tanya jawab, seorang siswa bertanya, *"Apakah matahari itu bintang yang paling besar?".* Sambil tersenyum petugas tersebut menjawab bahwa ada bintang yang besarnya melebihi besar matahari. Bintang yang besarnya lebih besar dari matahari tersebut berada di Galaksi Orion. *"Berapa jarak matahari ke bumi?",* sang petugas balik bertanya. Lalu beberapa siswa menjawab lantang, *"150 juta kilometer"*. *"Bintang itu berbahaya jika didekati karena sangat panas,"* jawab petugas tersebut saat ada seorang siswi yang bertanya mengapa belum ada orang yang mendarat di bintang. Tidak terasa sejam berlalu. Para duta harus segera meninggalkan Planetarium dan beranjak untuk mengikuti acara berikutnya, yakni melihat-lihat museum. Ruangan museum yang pertama mereka masuki adalah sebuah ruangan yang memajang segala hal yang berkaitan dengan Yos Sudarso dan pertempuran di Laut Arafuru pada tahun 1962. Para duta tampak sangat antusias melihat benda-benda yang ada dalam ruangan. Ada sebuah puisi berbingkai indah yang terpajang di salah satu dinding. Puisi tersebut berjudul "Jos, Salibmu". Ternyata masih banyak ruangan yang wajib didatangi oleh para duta jika mereka ingin mendapatkan banyak wawasan serta pengetahuan kebaharian. *"Apakah ini baju selam asli yang dipakai Jenderal Yos Sudarso?"*, tanya Rizqy dari SD Muhammadiyah 4 pada pak Wahyudi, *guide *acara ini yang sedari awal tampak kewalahan melayani pertanyaan-pertanyaan dari siswa-siswi cerdas ini. *"Oh iya. Kalian tahu berapa berat baju selam ini?"*. Semua anak menggeleng, penasaran. *"Beratnya 90 kg. Jika seorang penyelam dari Angkatan Laut ingin menyelam, dia harus dibantu memasangkan baju selamnya, kemudian jika ingin keluar dari dasar laut, dia harus ditarik dengan tali yang dipasangkan di baju selamnya",* jelas Pak Wahyudi. Gumaman takjub menggema di seantero ruangan berukuran lumayan besar itu. Baju selam kuno buatan Inggris setinggi hampir 2 meter dan seberat 90 kg terpajang di antara dua rak kaca yang isinya model-model baju seragam Angkatan Laut luar negeri maupun dalam negeri. Para duta bahari yang rata-rata kelas 5 & 6 SD tidak habis-habis berdecak kagum demi menyaksikan benda-benda kuno. Ada kapal kuno buatan pertama TNI AL. Kapal tersebut ukurannya tidak terlalu besar dan mirip kapal penangkap ikan. Meskipun demikian, kapal ini memiliki nilai historis tinggi karena berperan penting dalam perang kemerdekaan RI. *"Kalian tahu tidak ini apa",* tanya Pak Wahyudi sambil menunjuk 4 buah tabung gas yang berada dalam sebuah lemari kaca setinggi dada. *"Tabung oksigeeeeennnn…"*, serempak para duta ini menjawab. *"Untuk apa pak tabung oksigen ini?"*, seorang siswi yang rambutnya dikuncir dua dengan mimik penasaran bertanya pada Pak Wahyudi. *"Kalian tahu kan peristiwa G 30 S/PKI? Naaah….tabung-tabung ini digunakan oleh prajurit ketika mereka mengambil jasad-jasad para pahlawan revolusi yang dikubur di Lubang Buaya. Jasad-jasad yang sudah membusuk itu mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat sehingga para prajurit harus memakai tabung oksigen,"* jelas Pak Wahyudi panjang lebar. Komandan STTAL pak Budi Priyono yang turut mengawasi jalannya acara segera memberi perintah untuk menyudahi acara kunjungan sebab tepat pukul 12.30 para duta serta guru pembimbing harus menjalani acara selanjutnya, yakni makan siang di sebuah rumah makan milik TNI AL yang berlokasi di Jalan Purwodadi Utara. Pihak TNI AL sudah memesankan seporsi ikan kakap bakar dan es teh manis untuk tiap orang yang berada dalam rombongan. Maklum, seharian mengikuti acara, perut jadi laper berat. Hawa kota Surabaya nan panas tidak menghalangi para duta dan rombongan untuk menikmati ikan kakap bakar dan segelas es teh manis, sebab rasa ikan bakarnya….mak nyuuuusssss. Semua makan dengan lahap. Sebentar saja semua hidangan tandas tak bersisa. Perjalanan dilanjutkan ke Magnet Zone, café & bookstore untuk istirahat sambil menunggu jemputan. Para duta mengaku mereka senang sekali mendapat kesempatan langka mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah mereka kunjungi. "Saya senang sekali sebab bisa mendapat banyak wawasan dan pengetahuan. Kita jadi tahu banyak hal," jawab Mazda dari SD Hang Tuah I saat ditanya kesan-kesannya usai mengikuti acara Pembekalan Duta Bahari 2008. "Semoga acara semacam ini bisa terus dikembangkan dan bervariasi sehingga rasa cinta pada bahari tumbuh di jiwa generasi muda sejak dini," tukas Pak Walikota menutup sambutannya saat rombongan Duta Bahari 2008 dilepas di kediaman beliau.
