…dan saya menangis lagi.
Edan. Sekali lagi: edan. Kemarin, saya berkaca-kaca mendengar lagu ‘Cicak’ dan ‘Peluk’, tapi saya tidak pernah mengira akan BISA menangis lagi mendengar lagu ‘Malaikat Juga Tahu’ – secara udah sering BANGET diputar dimana-mana dan otak ini sudah hafal mati liriknya. Siang tadi, lagi-lagi saya berlinangan air mata melihat video klip yang baru dirilis dan diputar di TV untuk pertama kalinya tanggal 28 Oktober ini… http://www.youtube.com/watch?v=CfP7-e_s584 …dan saya pasrah bahwa saya (kayaknya) memang ditakdirkan untuk jadi Ratu Cengeng Sejagat, sebagaimana pernah diproklamirkan oleh salah satu teman blogger dengan semena-mena. ;-) Bagi yang belum pernah membaca Rectoverso, berikut saya sajikan sepotong kecil kisah ‘Malaikat Juga Tahu’ yang terdapat dalam bukunya (permisi yaaa, Mbak Dee :-)). Mudah-mudahan bisa menjadi hidangan penggugah selera yang cukup jitu untuk mengundang rasa lapar dan haus akan karya indah yang nggak ada matinya ini: ………. Bukannya tidak mungkin berkomunikasi wajar dengan Abang, hanya saja perlu kesabaran tinggi yang berbanding terbalik dengan ekspektasi. Dalam tubuh pria 38 tahun itu bersemayam mental anak 4 tahun, demikian menurut para ahli jiwa yang didatangi Bunda. Sekalipun Abang pandai menghafal dan bermain angka, ia tak bisa mengobrolkan makna. Abang gemar memereteli teve, radio, bahkan mobil, lalu merakitnya lagi lebih baik daripada semula. Dia hafal tahun, hari, jam, bahkan menit dari banyak peristiwa. Dia menangkap nada dan memainkannya persis sama di atas piano, bahkan lebih sempurna. Namun dia tidak memahami mengapa orang-orang harus pergi bekerja dan mengapa mereka bercita-cita. Perempuan di pekarangan itu tahu sesuatu yang orang lain tidak. Abang adalah pendengar yang luar biasa. Perempuan itu bisa bebas bercerita masalah percintaannya yang berjubel dan selalu gagal. Tidak seperti kebanyakan orang, Abang tidak berusaha memberikan solusi. Abang menimpali keluh kesahnya dengan menyebutkan daftar album Genesis dan tahun berapa saja terjadi pergantian anggota. Gerutuannya pada kumpulan laki-laki brengsek yang telah menghancurkan hatinya dibalas dengan gumaman simfoni Bach dan tangan yang bergerak-gerak memegang ranting kayu bak seorang konduktor. Abang tidak bisa beradu mata lebih dari lima detik, tapi sedetik pun Abang tidak pernah pergi dari sisinya. Ia pun menyadari sesuatu yang orang lain tidak. Laki-laki di sampingnya itu bisa jadi sahabat yang luar biasa. Barangkali segalanya tetap sama jika Bunda tidak menemukan surat-surat yang ditulis Abang. Untuk pertama kalinya, anak itu menuliskan sesuatu di luar sejarah grup musik art rock atau komposisi musik klasik. Ia menuliskan surat cinta—kumpulan kalimat tak tertata yang bercampur dengan menu makanan Dobi, blasteran Doberman yang tinggal tunggu ajal. Tapi ibunya tahu itu adalah surat cinta. Barangkali segalanya tetap sama jika adik Abang, anak bungsu Bunda, tidak kembali dari merantau panjang di luar negeri. Sang adik, kata orang-orang, adalah hadiah dari Tuhan untuk ketabahan Bunda yang cepat menjanda, disusul anak pertamanya, seorang gadis yang bahkan tak sempat lulus SD, meninggal karena penyakit langka dan tak ada obatnya, lalu anak keduanya, Abang, mengidap autis pada saat dunia kedokteran masih awam soal autisme sehingga tak pernah tertangani dengan baik. Anak bungsunya, yang juga laki-laki, menurut orang-orang adalah figur sempurna. Ia pintar, normal, dan fisiknya menarik. Ia hanya tak pernah di rumah karena sedari remaja meninggalkan Indonesia demi bersekolah. Barangkali sang adik tetap menjadi figur yang sempurna jika saja ia tidak memacari perempuan satu-satunya yang dikirimi surat cinta oleh kakaknya... …….. Semua anak kos kini menyingkir jika malam Minggu tiba. Mereka tidak tahan mendengar suara lolongan, barang-barang yang diberantaki, dan seseorang yang hilir-mudik gelisah mengucap satu nama seperti mantra. Menanyakan keberadaannya. Kalau beruntung, Abang akhirnya kelelahan sendiri lalu tertidur di pangkuan ibunya. Kalau tidak, sang ibu terpaksa menutup hari anaknya dengan obat penenang. Pada setiap penghujung malam Minggu, Bunda bersandar kelelahan dengan bulir-bulir besar peluh membasahi wajah, dan anaknya yang berbadan dua kali lebih besar tertidur memeluk kakinya erat-erat. Selain dengkuran dan napas anaknya yang memburu, tidak ada suara lain di rumah besar itu. Bunda tak bisa dan tak merasa perlu mengutuk siapa-siapa. Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia. Perempuan muda itu benar. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Tidak perlu ada kompetisi di sini. Ia, dan juga malaikat, tahu siapa juaranya. …….. Sekarang saya tidak cuma bisa mendengar fiksinya dan membaca musiknya. Saya juga bisa menyaksikan kisahnya (yang by the way, inspired by a true story!). So, enjoy, people… dan buktikan bahwa malaikat memang tidak pernah salah. Luna Maya aja nangis*! :-) - JJ - *sebenernya agak nggak rela sih nulis bagian berbintang ini. Coba ya itu air mata penikmat Rectoverso se-Indonesia dikumpulin di botol, diadu sama air matanya Luna Maya, siapa juaranya? Hihihi… P.S. By the waaay… OLGAAA, itu yang nyanyi bukan DEWI GITA, tapi DEWI LESTARI! Ckckckkk… ROCK Your Life! - Jenny Jusuf - http://jennyjusuf.blogspot.com
