*Hidup yang Tak Pernah Berakhir*
Pernahkan kau melihat seseorang yang hampir sepanjang hidupnya diberi
kesehatan cuma sekian persen, dan sisanya adalah kesakitan namun dia ingin
terus memberi manfaat pada orang lain? Aku pernah. Allah mengenalkan dia
padaku lewat cara-Nya yang tidak disangka-sangka, lewat cara-Nya yang sangat
indah. Bahwa hidup itu indah jika kita memaknainya, mungkin hanya bisa
diucapkan bukan sekedar basa-basi pemanis bibir oleh dia. Bahwa bagi dia,
kematian hanya sebuah jalan menuju surga-Nya…
Aku tak pernah menyangka tawaran itu akan datang begitu saja, ketika hari
itu, 9 Juni 2008, bu Lita dari penerbit Bina Ilmu memintaku dan Rizka
menemui beliau di kantornya. "Saya punya naskah yang rencananya mau
dijadikan buku," kata bu Lita, "menyambut" kami yang hari itu bertanya-tanya
apa gerangan *job *yang akan kami dapatkan. Beberapa hari sebelumnya,
suamiku berkata bahwa Bu Lita punya *job *untukku dan Rizka. Job dari orang
penerbitan biasanya berhubungan dengan tulis-menulis. *Bungah *sekali
perasaanku waktu itu.
"Naskah ini ditulis oleh Ajeng, seorang penderita *Marfan's Syndrome," *tambah
Bu Lita. Marfan's Syndrome? Dua kata yang asing di telingaku. Kemudian Bu
Lita bercerita pertemuannya dengan Wahyu Ajeng Suminar, pengidap Marfan's
Syndrome yang berhasil memesonanya. Pertemuan tersebut kemudian berubah
menjadi jalinan kerjasama yang bagiku cukup menggetarkan; Bu Lita atas nama
Bina Ilmu bersedia menerbitkan naskah Ajeng dan meminta bantuanku dan Rizka
sebagai tim penulis untuk menyelaraskan naskah buku yang sudah Ajeng tulis.
Dibekali oleh beberapa informasi dan naskah yang sudah ada di tangan, pada
tanggal 10 Juni aku dan Rizka berangkat ke RSAL dr.Ramelan. Ketika kami
datang Ajeng tengah tertidur pulas. Kami tunggu sampai dia bangun. Tak perlu
waktu lama sebab beberapa menit kemudian Ajeng terbangun. Pertama kali
memperkenalkan diri, Ajeng mengira aku lulusan Ilmu Komunikasi; mungkin
Ajeng mengira hanya lulusan Ilmu Komunikasi yang bisa berkelindan dengan
dunia tulis-menulisJ Kemudian aku jelaskan bahwa *background-*ku HI
(Hubungan Inernasional). Dengan antusias Ajeng menanyakan sebuah nama yang
aku kenal baik; dia adik kelasku waktu kuliah dulu. Dari cara Ajeng bertanya
padaku, aku langsung menangkap kesan bahwa dia sosok yang ceria dan *grapyak.
*Dan benar saja, tak lama kemudian obrolan kami berlangsung dengan *gayeng.
*Kami banyak tertawa dan melemparkan *joke, *terutama Rizka, sebab *partner*-ku
ini memang tipe sanguinis yang suka *guyon*. Aku hanya sesekali menimpali
dan lebih banyak menjadi pendengar yang baik. Wawancara pertama yang kami
lakukan lebih benyak menanyakan hal-hal yang sifatnya global, seperti
biodata Ajeng. Namun pada pertemuan pertama itu ada satu perkataan Ajeng
yang tersimpan rapi di dalam jiwaku.
Saat itu, dengan suara gemas campur geram, Ajeng berkomentar soal
artis-artis yang dinilai terlalu seronok dalam berpakaian dan bersikap. *"Jika
orang punya kesadaran kalau semua yang dia lakukan akan
dipertanggungjawabkan, dia bisa lebih hati-hati. Lebih bertanggung jawab.
Kan ada orang yang berpikir, 'Ah, aku pake pakaian mini, aku ga nyusahin
orang kok.' Ya memang, tapi kalau setelah melihat dia (si artis berpakaian
mini), ada orang yang ingin perkosa orang lain, dia ikut kena dosanya." *Saat
itu aku berpikir, kritis sekali cara anak Ajeng berpikir. Ajeng ini masih
muda, tengah dilanda sakit berat, tapi masih bisa berpikir setinggi itu. Itu
belum seberapa dibandingkan perkataan Ajeng selanjutnya, *"Kalau kita
bergantung ke diri kita, capek! Capek banget. Tapi kalau kita bergantung ke
Allah Yang Maha Kaya, Maha Pintar, Maha Bisa, Maha Menguasai, bisa semua
kan. Dan lebih enjoy." *
Selama proses penulisan buku, aku menjadi semakin mengenal
Ajeng.*Perfectionist
*. Ajeng ingin semuanya berjalan dengan sistematis dan sesuai rencana.
Melelahkan, kukira, tapi manis pada akhirnya. Terbukti, Ajeng mampu
melakukan segala sesuatunya dengan baik, meskipun ada kekurangan di
sana-sini, namun untuk seorang pengidap penyakit seberat *Marfan's*, bahkan
mungkin orang normal, apa yang Ajeng lakukan luar biasa. Apalagi idenya
untuk membuat buku; mendomentasikan perjalanan hidupnya sehingga bisa
dikenang orang serta memberi manfaat pada orang lain, merupakan satu
lompatan pemikiran yang melampaui pemikiran orang kebanyakan. Dan hal ini
tentu disebabkan karena kecerdasan otak dan seorang ibu luar biasa yang
dianugerahkan Allah kepadanya. Ajeng tidak rela jika sakit yang dia idap
disebut Penderitaan. *Marfan's *adalah anugerah.Jika kita sabar dalam sakit
kita, maka dosa-dosa kita akan terhapus. Tapi Ajeng mengakui bahwa dia juga
manusia biasa, yang kerap mengeluh atas penyakit yang terus
menemaninya*."Kalian
mungkin tidak pernah merasakan, bagaimana rasanya sembuh buat orang yang
sakit berat seperti aku…itu sangat menyenangkan"*, kata Ajeng suatu hari.
Aku seringkali tidak mampu menghibur Ajeng. Kata-kata apa lagi
yang bisa kuucapkan padanya? Kesabaran Ajeng lebih besar dari yang kumiliki,
kegigihan Ajeng melawan sakit dan kesusahan hidup jauh lebih besar dari yang
pernah aku lakukan. Terlebih lagi aku tidak ingin memberikan sekedar *lips
service *pemanis bibir alias basa-basi yang bisa membuat semuanya menjadi
bias. Lain di multu lain di hati. Mungkin hanya doa yang bisa kupanjatkan,
agar Ajeng tetap diberi kekuatan jiwa dan keterangan hati sehingga ridho
dengan segala yang Allah tetapkan atas dirinya. Sebab ridho, adalah kualitas
tertinggi dari keimanan seorang hamba. Jaminannya surga.
Sebagai penulis, aku tentu ingin agar buku ini bisa menjadi amal jariyah
(amal yang tidak akan terputus dan terus mengalir meski orang itu sudah
meninggal) untuk Ajeng, seperti yang ditekadkan dan diamanahkan oleh Ajeng.
Jika seseorang meninggal dunia, maka amalnya akan terputus kecuali 3 hal,
salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat; sehingga buku ini diharapkan
mampu memberi manfaat pada orang lain, sama seperti hidup, yang juga harus
diisi dengan segala hal yang penuh manfaat, persis seperti yang Ajeng
katakan pada pertemuan pertama kami dan pesan terakhir Ajeng pada sang ibu:
*"Khoirunnaas an faahum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat
bagi orang lain. Semua program yang sudah kubuat jangan berhenti. Harus
diteruskan…"*
* *
* *
* *
* In Memoriam Wahyu Ajeng Suminar, yang bukunya InsyaAlloh akan segera
diterbitkan *
* *
*
*
--
Magnet Zone Cafe Bookstore at www.magnetzone.multiply.com