Jawa Pos, Minggu, 24 Mei 2009<br />
<br />
Menjejakkan kaki pertama kali di bandara internasional Schipol, Amsterdam, sama 
sekali tidak mengusir rasa kantuk setelah nyaris 14 jam duduk di pesawat 
jurusan Jakarta - Kuala Lumpur - Amsterdam. Namun rasa kantuk itu mendadak 
hilang saat tahu rekan-rekan para pengurus PPI Belanda telah menjemput dan 
begitu ramah membantu membawa koper serta mulai bercerita seputar kehidupan di 
Belanda. <br />
<br />

Bagi sebagian besar calon mahasiswa program master di berbagai kampus di 
Belanda, melanjutkan kuliah di negeri kincir angin merupakan pintu masuk ke 
benua Eropa. Benua yang melahirkan abad pencerahan ilmu pengetahuan, 
kemanusiaan dan teknologi. Sehingga sejak persiapan awal di Jakarta, sudah 
banyak rekan calon mahasiswa ke Belanda sudah mengagendakan berkunjung ke kota 
mana saja jika sudah tiba di Belanda. Selain seantero kota-kota Belanda perlu 
dijelajahi, nyaris sebagian besar mahasiswa Indonesia di Belanda tak lupa 
wisata ke Italia, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, bahkan ada pula yang 
berkelana ke negara-negara bekas Eropa Timur dan Balkan. <br />
<br />

Mungkin hanya dibutuhkan waktu dua hari -atau malah sehari saja - untuk bisa 
berkeliling ke seluruh Belanda dengan tiket kereta api yang bisa dibeli dengan 
kartu diskon di supermarket Kruidvat. Berkelana menikmati keindahan kota-kota 
di Belanda memang menjadi salah satu cara mahasiswa Indonesia agar terhindar 
dari kejenuhan belajar. Bayangkan, nyaris tiada hari tanpa membaca, diskusi 
atau debat secara kritis di kampus. Bahan bacaan yang bertumpuk-tumpuk wajib 
dibaca sebelum masuk ke ruang kuliah agar tidak cuma melongo saja saat debat di 
ruang kuliah. Akibatnya, kelelahan dan kejenuhan selalu menghinggapi di akhir 
pekan dan obat mujarab untuk mengatasinya adalah menikmati perjalanan di 
Belanda atau pergi ke museum. <br />
<br />

Nyaris di seluruh kota Belanda terdapat museum atraktif dan selalu mempunyai 
agenda acara wajib untuk ditonton. Salah satunya Rijksmuseum di Amsterdam yang 
memajang perjalanan ekspedisi VOC ke berbagai belahan dunia lain. Bahkan ada 
duplikat kapal VOC yang sengaja diletakkan di salah satu kanal di Amsterdam. 
<br />
<br />

Di dalam buku ini dijelaskan tips-tips menarik untuk hidup hemat agar bisa 
menyisihkan uang saku beasiswa agar bisa melancong ke berbagai negara Eropa. 
Para tokoh dalam buku ini adalah mahasiswa Indonesia dari kampus berbeda, tapi 
mereka bertemu di Amersfort, tepatnya di sebuah stasiun kereta api di kota itu, 
karena menunggu badai yang menunda perjalanan mereka dengan kereta. Sebuah 
pertemuan tak disengaja yang kemudian mengakrabkan kelima mahasiswa tersebut. 
Mereka adalah Banjar, Lintang, Wicak, Geri, dan Daus. Sejak saat itu, hari-hari 
mereka kemudian diisi dengan berbagai aktivitas persahabatan di berbagai 
kegiatan.<br />
<br />

Melalui aktivitas itulah, pembaca kemudian diajak memasuki keseharian, 
kebiasaan, dan budaya Belanda. Para mahasiswa Indonesia ini melancong ke 
berbagai kota di Belanda, seperti Leiden, Rotterdam, Maastricht, Utrecht, 
Amsterdam, Den Haag, Wageningen, dan Delft. Sembari terus mengabarkan bagaimana 
suasana atau situasi sehari-hari yang dihadapi. Buku ini unik karena 
penggambarannya yang mengalir, jenaka, tapi tetap mempertahankan rincian lokasi 
serta suasana. Jika buku-buku bergenre <em>travelling umumnya lebih mengarahkan 
pembaca kepada lokasi wisata untuk dikunjungi atau even-even wisata yang 
digelar, maka kelebihan buku ini terletak pada interaksi yang sangat intens 
antara para tokoh dengan objek-objek penting di Belanda. Interaksi ini 
membuahkan pengalaman yang kemudian dibagi kepada pembaca, tanpa ada kesan 
menggurui.<br />
<br />

Seperti kebiasaan merokok kretek. Para mahasiswa perokok asal Indonesia sudah 
terbiasa mengisap rokok kretek yang harganya sangat mahal sekaligus agak langka 
ditemui di Belanda. Untuk menyiasati agar tetap bisa mengisap rokok kretek, 
mereka mempunyai kiat unik. Yakni menjaga hubungan baik dengan para mahasiswa 
program doktoral asal Indonesia atau siapa saja yang sering pulang pergi ke 
Indonesia. Di antaranya, membantu aktivitas mereka tanpa harus mengorbankan 
jadwal akademik atau tugas-tugas kampus. <br />
<br />

Para mahasiswa program master di Belanda biasanya mempunyai waktu luang selain 
di akhir pekan, juga pada saat usai ujian. Walhasil, pasokan rokok kretek asli 
Indonesia bisa diperoleh dengan mudah, malah bisa gratis. Selera Nusantara 
memang sulit terhapus dari keseharian mahasiswa Indonesia di Belanda. <br />
<br />

Selain rokok kretek, soal makanan juga susah berpindah ke menu sehari-hari 
makanan Belanda, kecuali minum susu dan makan keju. Jumlah restoran Indonesia 
dalam satu kota di Belanda bisa lebih dari 150 buah, besar maupun kecil. 
Misalnya, restoran masakan Indonesia \"Dayang\" di Den Haag. Tampak dari luar 
agak kecil dibanding toko-toko di kanan-kirinya. Namun, setiap menjelang makan 
siang atau makan malam, antrean panjang pengunjung restoran itu selalu terjadi 
nyaris setiap hari. Hebatnya, mereka yang antre adalah warga lokal alias 
penduduk Belanda. Masakan yang disajikan sangat khas Indonesia, mulai nasi 
pecel, gado-gado, nasi kuning, rendang, nasi campur, nasi gudeg, dan aneka 
kerupuk. Aneka masakan Nusantara itu juga menjadi menu favorit yang 
ditunggu-tunggu para mahasiswa Indonesia pada setiap gelar acara di KBRI 
Belanda yang berlokasi di kawasan elite Jalan Tobias Asserlaan, Den Haag. Dari 
makanan inilah sering muncul rasa nasionalisme para mahasiswa tatkala mereka 
membandingkan citarasa masakan Nusantara dengan masakan Eropa yang nyaris 
terasa hambar.<br />
<br />

Hal sepele terasakan berbeda saat berada nun jauh di negeri kincir angin. 
Bahkan kadang membuat rasa
rindu pada tanah air jadi tak terbendung. Untuk mengobatinya, KBRI sering 
menggelar pertemuan warga Indonesia di Belanda. <br />
<br />
Suatu ketika, pada Februari 2007, KBRI memutar film dokumenter pemenang FFI 
2006 berjudul <em>Gerimis Kenangan dari Sahabat Terlupakan. Film itu berkisah 
tentang orang-orang Rusia peminat berat studi
Indonesia. Tayangan film itu ibarat menjadi pengobat rasa rindu para bekas 
mahasiswa Orde Lama yang turut menyaksikan pemutarannya di aula Nusantara KBRI 
Den Haag. Usai nonton bareng, digelar diskusi singkat dan para eksil Orde Lama 
yang tak bisa kembali ke Indonesia semasa Orde Baru berkuasa, memberikan 
testimoni betapa rindu mereka pada tanah air. Apalagi ketika KBRI memutar 
perdana film <em>Nagabonar Jadi 2 di
aula yang sama pada beberapa bulan berikutnya. Ruangan aula sesak dijejali para 
penonton yang sebagian besar warga Indonesia. Mereka datang dari berbagai 
penjuru Eropa. Usai film diputar, para penonton memberi applaus sembari berdiri 
nyaris tiada henti dan si Nagabonar Deddy Mizwar yang ikut menyaksikan sangat 
terharu pada antusiasme warga Indonesia di negeri rantau itu.<br />
<br />
Buku ini merupakan percampuran antara fakta dan fiksi. Tokoh-tokoh yang hadir 
bersifat fiksi rekaan penulisnya, meski masa lalu para tokoh dibangun melalui 
teknik <em>flashback yang konon merujuk pada sosok tertentu -sesama mahasiswa 
rantau di Belanda- yang memang pernah menjalin keakraban dengan keempat 
penulis. Namun demikian, karakter para tokohnya sangat kuat, dari awal hingga 
akhir buku. Boleh dikatakan, buku ini jauh dari pretensi sekadar refleksi 
pribadi atau memoar yang sering dijumpai pada buku-buku kisah
perantauan di negeri orang. <strong>(*) </strong><br />
<br />
 *) <strong>Rosdiansyah</strong>, penggiat Surabaya Readers Club
<br />
---<br />
<br />
Judul buku: Negeri van Oranje <br />
Editor: Wahyuningrat, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana, Adept Widiarsa<br />
Penerbit: Bentang Pustaka Jogjakarta<br />
Cetakan: Pertama, April 2009<br />
Tebal: 471 halaman

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=1143


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com

Kirim email ke