Batam Pos, Minggu, 10 Mei 2009<br />
<br />
Jepang di abad enam belas merupakan zaman pembantaian dan kegelapan. Zaman di 
mana satu-satunya hukum yang ada adalah hukum pedang. Ini di tandai dengan 
segala persoalan di selesaikan dengan pertumpahan darah. Tak pelak, dengan 
mudah nyawa melayang.  Namun, kehadiran Hideyoshi, anak petani miskin, yang di 
nilai mustahil membawa perdamaian, ternyata mampu mengeluarkan Jepang menuju 
pencerahan.<br />
<br />
Di tulis dengan gaya bertutur sudut pandang pihak pertama, novel karya Kitami 
Masao ini di beri judul The Swordless Samurai. Inilah novel apik yang 
mempresentasikan Jepang di abad 16 dengan Hideyoshi sebagai pemenang tunggal 
pemimpin yang sukses tanpa pertumpahan darah. Sehingga ia diberi gelar ‘Samurai 
Tanpa Pedang\\\'. Tampaknya penulis sudah mengenal betul karakter, sifat, 
kepribadian dan pola berfikir tentang tokoh utama yang di mainkan dalam novel 
ini. Ini terlihat dari gaya kepenulisanya dan inilah kisahnya.<br />
<br />
Sebuah perjalanan yang amat biasa, Hideyoshi pun terlahir dari kelas social 
terendah. Ibunya berprofesi sebagai penggarap lahan sawah. Namun setelah 
kematian ayah kandungnya, Hideyoshi tidak betah tinggal bersama ayah tirinya. 
Ia selalu bertengkar dengan ayah tirinya maka sang ibu meminta Hideyoshi untuk 
pergi jauh meninggalkan rumah. “Dengarkan aku baik-baik, Hideyoshi, di dunia 
ini kau butuh tanah dan uang untuk hidup. Sebetulnya aku tidak mau menikah 
lagi, tapi aku harus bertahan hidup. Sekarang kau harus melakukan bagianmu, 
demi kita semua.” Pinta sang ibu. Waktu itu Hideyoshi berumur lima belas 
tahun.<br />
<br />
Betapa kejamnya hidup ini hingga demi sebuah keberlangsungan di hari depan 
Hideyoshi pun terpaksa menuruti permintaan sang ibu. Ia pun pergi meningalkan 
rumah dengan satu tekad dan tak akan pulang sebelum sukses di genggamnya. Dan 
beberapa kali ia mencoba berbagai pekerjaan namun, naas. Ia  selalu gagal dalam 
pekerjaanya bahkan hampir putus asa. Terakhir kali kegagalannya ketika ia 
sedang bekerja pada keluarga Matsushita. Siapa sangka, dialah pemimpin 
legendaries Jepang di abad 16 yang tiada tanding diplomasinya.<br />
<br />
Suatu hari ketika Hideyoshi merenungkan segala kegagalanya terbersit di 
benaknya bahwa di provinsi Owari, tempat asalnya, tingallah seorang panglima 
perang muda bernama Oda Nobunaga. Hideyoshi bergegas menemui dan memutuskan 
untuk bekerja pada keluarga Nobunaga. Ia akhirnya memasuki dunia baru yaitu 
‘samurai\\\'. Semula,  Hideyoshi bekerja sebagai pembawa sandal  Nobunaga 
bahkan guna memberikan pelayanan maksimal, kamar Hideyoshi bersebelahan dengan 
kamar Nobunaga.<br />
<br />
Semata, karena Hideyoshi ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu bekerja dengan 
baik dan berguna bagi keluarga Nobunaga. Itulah cara Hideyoshi mendedikasikan 
hidupnya pada pemimpin yang di kaguminya secara diam-diam, pemimpin yang 
mempunyai visi dan misi ke depan, pemimpin yang selalu mendemonstrasikan 
program kerjanya. Hingga suatu hari, setelah prestasi demi prestasi cemerlang 
ia tunjukkan, Hideyoshi muncul sebagai pemimpin yang di segani baik kawan 
maupun lawan. Bukan tanpa alasan, karena tak-tik peperangannya  yang selalu 
mengubah kelemahan menjadi kekuatan bahkan kelebihan menjadi ciri khas 
Hideyoshi dalam menaklukkan lawan-lawanya di medan pertempuran. Hingga tak 
jarang setiap musuhnya hendak melakukan perlawan selalu kedodoran bahkan ada 
yang menyatakan kalah sebelum bertanding.<br />
<br />
Menjadi pemimpin adalah melayani sepenuh hati serta mendedikasikan hidupnya 
untuk orang yang di pimpinya. Sebab dengan cara seperti itulah seorang pemimpin 
akan terlihat terhoemat dan berwibawa di mata masyarakatnya. Itulah gaya 
kepemimpinan yang di contohkan oleh Hideyoshi dalam masa kepemimpinanya.<br />
<br />
Dalam konteks Indonesia maka sudah selayaknya para calon pemimpin di negeri ini 
becermin pada apa yang telah di lakukan oleh Hideyoshi. Sekalipun Hideyoshi 
berangkat dari kelas samurai, yang dalam konteks Indonesia kalangan militer, 
tapi ia tidak seenak perut menggunakan kekuasanya dalam menjalankan roda 
pemerintahan. Ia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusian. Ini ia 
tunjukkan dalam sikapnya yang ramah terhadap wilayah jajahan yang tetap di beri 
wewenangn untuk memerintah.   <br />
<br />
<strong>Seolah Nyata<br />
</strong><br />
Penulis dengan memposisikan sebagai pelaku utama seakan mengajak kita untuk 
menyelami dunia di mana Hideyoshi hidup waktu itu. Dengan berlatar keluarga 
miskin , seakan kita merasakan betul apa yang di alami Hideyoshi ketika berumur 
lima belas tahun yaitu, memotong rumput dan menangkap ikan. Membaca novel ini, 
kita seakan berada sebagai pelaku utama yang tiap langkah dapat merasakan 
keputusan Hideyoshi yang penuh dengan arif dan bijak. Kelebihan lain buku ini 
terletak pada keteguhan prinsip-prinsip Hideyoshi sebagai peminpin yang 
mengedepankan diplomasi sebagai jalan menuju perdamaian. Di samping juga 
beberapa syarat-syarat yang harus di miliki seorang pemimpin seperti melayani 
dengan baik, membanmgun jaringan personal dll .    <br />
<br />
Di akui atau tidak, novel ini tak lebih dari buku-buku motivator yang sifatnya 
sebagai penyemangat. Ini terlihat dari alur cerita yang di bangun oleh penulis 
dalam novel ini. Narsisme, penulis, dalam memberikan justifikasi dalam tiap 
tindakan yang di lakukan oleh Hideyoshi merupakan bukti bahwa tambahan memeng 
ada di sana sini. Meskipun Ken Belson, New York Times, pernah menyatakan ‘The 
Swordless Samurai adalah bacaan berharga bagi siapa saja.\\\' Namun tetap saja 
bagiku, inilah gaya baru buku-buku motivasi yang di kemas dengan bungkus novel 
sejarah dengan merujuk tokoh-tokoh hebat di zamanya.<br />
<br />
Seperti di ceritakan dalam bab akhir novel ini bahwa sebaik dan secemerlang 
apapun  masa pemerintahan Hideyoshi toh tetep saja ia mengakui bahwa 
kesombongan itu ada. Karena terlalu silau dengan kekuasaanya sehingga 
mengakibatkan ia buta  yang berujung pada pertumpahan darah sebagai mana tak ia 
inginkan. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa sifat dasar manusia yang 
sering lalai dan berbuat dosa selalu menuntut kesadaran kita untuk selalu 
berhati-hati dan waspada ketika berada di puncak kesuksesan.<br />
<br />
Diresensikan oleh: Santoso Rukatam

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=1435


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com


------------------------------------

     || cerkit ||

arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd   : ramebangetYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke