M. Iqbal Dawami, dimuat di Koran Jakarta, Rabu 17 Juni 2009<br /><br />Manusia 
ibarat teh celup, berfungsi optimal setelah “disiram” dengan ujian. Itulah 
kesan yang saya dapatkan setelah membaca memoar Lena Maria ini, seorang wanita 
yang lahir tanpa lengan dan hanya satu kaki saja yang normal. Namun di balik 
kecacatannya, terselip segudang talenta dan prestasi yang luar biasa. Dia 
perenang, penyanyi, pelukis, dan penulis. Masing-masing dari talentanya itu 
pernah menyabet beberapa prestasi dan penghargaan dari beberapa negara. Di buku 
inilah semua kisahnya dia ceritakan sendiri.<br /><br />Lena Maria lahir tahun 
1968 di Stockholm, Swedia. Saat kelahirannya, sang dokter memberi tahu orangtua 
Lena atas kondisinya. Dokter sudah bersiap menawarkan obat penenang jika memang 
orangtuanya merasa membutuhkannya akibat tak sanggup mendengar kenyataan itu. 
Dokter sendiri tidak bisa menjamin apakah Lena sanggup bertahan, mereka 
terlebih dulu harus memeriksa apakah organ dalamnya juga mengalami kerusakan. 
Dokter juga menginformasikan bahwa jika Lena selamat, para orangtua diizinkan 
untuk menitipkan anaknya dengan kecacatan parah seperti Lena di sebuah 
institusi khusus.<br /><br />“Anda harus mempertimbangkan kemungkinan harus 
mengurusnya selama 20 tahun lebih, jika anda memutuskan untuk merawatnya 
sendiri,” jelas sang dokter kepada orangtua Lena. Namun, ayahnya menjawab 
dengan mantap, “Memiliki tangan ataupun tidak, dia pasti membutuhkan tempat 
tinggal” (hlm. 23).<br /><br />Kedua orangtua Lena memantapkan keputusannya 
untuk merawat dan membawanya pulang. Mereka sadar bahwa tindakan itu bukan 
tanpa risiko. Mereka sudah banyak berbicara dengan petugas dari institusi 
perawatan khusus, dan keduanya pun tahu dengan pasti bahwa merawat anak dengan 
tingkat kecacatan yang parah seperti anaknya adalah sebuah perjuangan yang 
berat dan melelahkan.<br /><br />Keputusan mereka benar-benar dilakukannya. 
Walhasil, Lena menikmati masa kecilnya dengan luar biasa menyenangkan. 
Orangtuanya benar-benar memberi kasih sayang dan perhatian berlimpah.<br /><br 
/>Bukan hal yang mudah mengasuh seorang anak cacat. Boleh jadi ada juga 
orangtua yang tidak sanggup melakukannya. Tapi orangtua Lena sejak awal 
bertekad untuk sebisa mungkin memperlakukannya seperti anak normal lainnya. 
Mereka menganggapnya sebagai Lena, putri mereka yang kebetulan memiliki 
kekurangan—bukan sekadar anak cacat. Terlihat sekali bahwa mereka mencintainya 
apa adanya, bukan berdasarkan apa yang bisa atau tidak bisa dia lakukan. Semua 
itu membuatnya merasa lebih percaya diri.<br /><br />Sejak awal, Lena sudah 
didorong untuk melakukan apa pun yang dia sukai. Hasilnya, dia tidak pernah 
merasa marah atau menyesali keadaan yang tidak normal. Dia juga tidak 
menganggap kecacatannya sebagai aib yang memalukan. Dia selalu berpikir bahwa 
dirinya sama seperti manusia yang lain. Hanya saja dia melakukan segala sesuatu 
dengan cara yang sedikit berbeda. Lena tidak pernah merasa kecil hati. Dia 
bahkan merasa Tuhan sangat mengasihinya sehingga dia masih diberikan kesempatan 
untuk hidup, menikmati hidup, dan berkarya. Sungguh, sebuah cara berpikir yang 
matang.<br /><br />Semenjak balita, dia sudah mengikuti kelas renang dan terus 
berlatih hingga tak terhitung jumlahnya. Hasilnya, dia mampu menjadi perenang 
profesional dan sering memenangkan berbagai medali dalam berbagai kejuaraan 
renang. Karier puncaknya dalam renang adalah ketika dia mengikuti Paralympic 
Games (Olimpiade untuk para penyandang cacat) 1988 di Seoul, Korea Selatan, 
dengan meraih medali emas.<br /><br />Selain renang, Lena juga mengembangkan 
kemampuannya di bidang musik. Dan berkat latihannya yang keras pula, dia mampu 
menembus perguruan tinggi musik di Stockholm di mana tidak semua orang bisa 
meraihnya. Keseriusannya itu berhasil membuahkan beberapa album sebagai 
penyanyi profesional yang cukup laris, baik di Eropa, Amerika, maupun Asia. 
Kariernya terus memuncak. Dia sering diundang untuk mengadakan konser baik di 
dalam negeri maupun luar negeri.<br /><br />Dalam kesehariannya, Lena selalu 
berusaha melakukan sesuatu untuk tidak terlalu bergantung pada bantuan orang 
lain. Dus, hampir semua aktivitas dia pelajari, dan nampaknya cukup berhasil. 
Lena bisa menjahit, menulis, melukis, mengemudi mobil, bermain piano, dan yang 
lainnya. Sungguh, kehidupan kesehariannya layaknya manusia normal.<br /><br 
/>Kisah prestasi hidupnya yang kontra dengan kondisi fisiknya itu menarik 
beberapa media untuk membuat film dokumenternya. Dan setelah film tersebut 
disebarluaskan, tiba-tiba saja banyak surat berdatangan kepada Lena dari 
pelbagai negara. Dia pun sering menerima undangan dari pelbagai negara. Mereka 
takjub melihat bagaimana Lena bisa memandang hidup dengan cara positif dan 
bagaimana Lena bisa sukses di pelbagai bidang, padahal ada banyak kekurangan 
yang dimilikinya yang akan menghambat kegiatannya. Fenomena Lena Maria adalah 
gambaran, suri teladan dan pelajaran hidup dari manusia penyandang cacat yang 
memutuskan untuk menjalani kehidupannya secara mandiri. Dia berhasil 
menyingkirkan kesan rendah diri, rasa kasihan, dan kemalangan.<br /><br />Dalam 
bab akhirnya, ada refleksi yang mendalam mengapa dia berhasil mengatasi 
ketidaksempurnaan fisiknya itu yang sejatinya dapat berpengaruh pada kondisi 
psikis dan sosialnya, bahkan lebih dari itu Lena dapat terus berpikiran positif 
dan meraih kesuksesan. Pertama, manusia terlahir berbeda satu sama lain. Lena 
mengaku dirinya merupakan tipe orang yang jika menghadapi suatu hambatan, lebih 
memilih untuk mencari jalan keluar daripada hanya terpaku pada hambatan 
tersebut. Dia tidak suka memperumit keadaan yang sudah rumit.<br /><br />Kedua, 
orangtua. Sikap orangtua yang tidak menganggap kekurangan Lena sebagai aib dan 
selalu memperlakukannya sama seperti anak normal lain, banyak membantu Lena 
untuk bisa menjadi dirinya. Mereka membuat Lena memiliki rasa percaya diri yang 
tinggi. Mereka mendorongnya untuk meraih kesuksesan, tapi tetap mau menerima 
kegagalannya.<br /><br />Ketiga, Tuhan. Keyakinan terhadap Tuhan sudah menjadi 
bagian dalam diri Lena. Lena belajar bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Tuhan 
yang berharga dan tidak peduli siapa dirinya atau bagaimana rupanya. Sebagian 
orang mungkin menolak keyakinan mereka jika menghadapi permasalahan seperti 
itu. Akan tetapi Lena percaya bahwa Tuhan tidak pernah berbuat salah, dan 
hidupnya merupakan bagian dari rencana khusus Tuhan kepadanya.<br /><br />Sejak 
edisi pertama diterbitkan di Swedia, buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam 
pelbagai bahasa, di antaranya bahasa Norwegia, Denmark, Jerman, Prancis, 
Thailand, Jepang, Estonia, Inggris, Indonesia, dan lain-lain.***<br /><br />M 
Iqbal Dawami<br />Blogger buku di http://resensor.blogspot.com<br /><br />

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=1151


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com


------------------------------------

     || cerkit ||

arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd   : ramebangetYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke