Koran Jakarta, Jumat, 19 Juni 2009<br /><br />
Bagi sebagain orang, autobigrafi yang merekam riwayat hidup seseorang pasti 
memiliki nilai lebih yang bisa dipelajari dari figur bersangkutan yang 
dituangkan dalam bukunya. Pendapat itu berlaku juga pada sosok Ahmad Syafii 
Maarif yang merekam jejak hidupnya dalam Titik-titik Kisar di Perjalananku.<br 
/>
<br />
Buku yang dibagi dalam sembilan bagian berisi kisah hidup Syafii Maarif sebagai 
anak Minangkabau, tindakannya yang luar biasa dengan berani meninggalkan tanah 
kelahirannya menuju kota pendidikan Yogyakarta, pergulatan hidupnya ketika 
menempuh kuliah di Amerika Serikat, hingga pandangannnya terhadap nasib masa 
depan Indonesia, dikupas satu per satu secara gamblang oleh guru besar bidang 
sejarah tersebut.<br />
<br />
Pada bab pertama, dituturkan tentang Ahmad Syafii Maarif yang dilahirkan pada 
Sabtu, 31 Mei 1935, menghabiskan masa kecilnya di Sumpur Kudus, daerah Tanah 
Minang Sumatra Barat. Disebutkan Syafii Maarif, Tanah Minang berhasil 
melahirkan seorang insan Minangkabau yang oleh banyak orang menjulukinya 
sebagai salah satu putra terbaik Indonesia, dan intelek muslim yang dimiliki 
Indonesia.<br />
<br />
Ajakan dari temannya yang ingin menempuh pendidikan tinggi akhirnya membuat 
Syafii Maarif muda nekat untuk meninggalkan kampung halamannya guna menuju 
Pulau Jawa demi dapat bersekolah di Yogyakarta, yang kualitasnya dinilai lebih 
baik dibandingkan sekolah di kampung halamannya. Syafii Maarif mendapatkan 
beasiswa kuliah di program pascasarjana Chicago, seusai lulus dari IKIP 
Yogyakarta (sekarang UNY).<br />
<br />
Sekembali menempuh pendidikan di negeri Paman Sam, Buya Syafii mulai aktif 
memusatkan perhatiannya pada masalah nasional hingga global, seperti agama, 
kebudayaan, pemikiran, politik, khususnya kehidupan umat muslim yang tak 
henti-hentinya dikaji dan dikembangkan, dengan bergabung di organisasi Islam 
modern, Muhammadiyah.<br />
<br />
Buya Syafii juga giat berusaha menembus sekat-sekat di antara umat manusia yang 
membuat kaum Islam menjadi terbelenggu hingga ke dalam kelompok kecil yang 
membuat kekuatan Islam tercerai-berai akibat fanatisme sempit. Sehingga kondisi 
itu mendorong Syafii Maarif terus berupaya menghilangkan pembatas agar dapat 
merengkuh semua golongan untuk bersama mewujudkan nilai hidup bersama berwujud 
saling tenggang rasa, persatuan, dan semangat saling memahami antar-umat 
beragama.<br />
<br />
Pada bagian lain, pria yang menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan itu 
pernah mendapat sejumlah penghargaan. Penghargaan Ramon Magsaysay Award diraih 
pada 2008 untuk kategori Peace and International Understanding.<br />
Inilah buku perjalanan Ahmad Syafii Maarif sebagai pribadi tanpa batas—bukan 
hanya lahiriah, tetapi juga intelektual dan spiritual—yang tiada henti berusaha 
melintasi rintangan dengan mencoba merengkuh dunia melalui realisasi cita-cita 
yang dibesarkan alam. Batas yang bisa berupa geografi maupun fanatisme mahzab 
yang menghalangi manusia mengembangkan dirinya dan mewujudkan potensinya.<br />
<br />
Peresensi adalah Erik Purnama Putra, Aktivis Pers Kampus Bestari Universitas 
Muhammadiyah Malang <br />
<span class=\\

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=1220


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com


------------------------------------

     || cerkit ||

arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd   : ramebangetYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke