Media Indonesia, Sabtu 20 Juni 2009 <br /><br />I.J. Parker, penulis novel The 
Dragon Scroll ini menekuni sejarah Jepang masa pertengahan dan menulis 
kisah-kisah misteri. Pada 1997 cerpennya dengan tokoh Sugawara Akitada—seorang 
pegawai rendahan kementerian kehakiman Kyoto abad kesebelas yang melakukan 
penyelidikan terhadap kejahatan—membuat karyanya muncul dalam majalah misteri 
Alfred Hithcock. Pada tahun 2000, Parker menerima Private Eye Writer of 
American Shamus Award untuk kategori cerita pendek misteri terbaik. Dan dua 
novelnya, Rashomon Gate (2002) dan the Hell Screen (2003) mendapatkan 
penghargaan dari St. Martin Monotaur. Kelahiran Jerman ini amat mumpuni tentang 
sejarah dan budaya Jepang.<br /><br />Novel The Dragon Scroll secara kronologis 
merupakan novel ketiga dari seri-seri karyanya dan menceritakan kembali 
permulaan karir tokoh utama Sugawara Akitada yang berlatar Periode Heian Jepang 
(794-1185). Novel ini bertutur tentang Sugawara Akitada yang diutus ke Kisarazu 
di propinsi Kazusa guna menyelidiki hilangnya pengiriman pajak selama tiga 
tahun berturut-turut.<br /><br />Sejak awal, Parker menciptakan narasi yang 
sangat cepat dan menggairahkan, sesuatu yang menarik perhatian pembaca baik 
dalam aksi dan penyampaian kultur serta tradisi abad kesebelas. Aksi datang 
pertama kali melalui latar belakang budaya Jepang yang mengagumkan yang 
menambah kegairahan membaca. Dalam dua puluh halaman pertama, pembaca disuguhi 
tentang pembunuhan seorang wanita. Selanjutnya meloncat pada usaha perampokan 
terhadap Akitada, pertarungan hidup mati dengan para perampok di jalan, 
kemudian usaha pemerkosaan terhadap gadis tunarungu oleh beberapa oknum biksu 
budha, dan serangan kekerasan terhadap orang-orang Akitada oleh artis seni bela 
diri wanita yang memiliki kemampuan hebat.<br /><br />Novel ini merupakan novel 
terbaru Parker, setelah The Rashomon dan The Hell Screen, yang sama-sama 
mempunyai kisah misteri dan detektif. Di sini, Akitada adalah seorang sarjana 
muda yang bertemu Tora—yang menjadi tokoh dalam kedua buku sebelumnya—untuk 
pertama kalinya. Kemampuan Tora dalam menggunakan tongkat dan kecepatan 
melompat dalam setiap aksinya, tidak diragukan lagi, telah menyelamatkan 
Akitada dan Seimei dari para penjahat yang kejam. Hanya saja reputasinya 
sebagai “Bandit Jangkung Berkaki Tujuh”, menyebabkan Seimei, sang pembantu 
Akitada gelisah. Seimei merasa dia bukanlah orang yang dapat dipercaya, 
ibaratnya ‘seekor burung Elang tidak bisa menjadi burung Bulbul.”<br /><br 
/>Ada beberapa tokoh kunci, selain Akitada, Tora dan Seimei, yang berperan 
dalam novel ini, yaitu, The Rat seorang pengemis yang memiliki banyak 
informasi; Higekuro, seorang anggota bangsawan yang merangkap menjadi pimpinan 
sekolah seni beladiri; dan Otomi, artis tunarungu yang sketsa-sketsanya tentang 
sebuah biara menjadi kunci penting dalam penyelidikan tersebut.<br /><br 
/>Dalam perjalanannya, dengan ditemani pelayannya, Seimei, Akitada diserang 
oleh para perampok. Namun untung saja diselamatkan oleh Tora, seorang pembelot 
militer yang gagah berani, di mana kemudian diangkat menjadi seorang ajudannya. 
Perjalanan melalui daerah pedalaman yang dingin dengan menunggang kuda, Akitada 
dijamin oleh keduanya kalau sewaktu-waktu ia melihat hal yang tidak 
menyenangkan dari protokol pegawai lainnya. Seimei sering berbicara kepada 
Akitada dalam aforisme adat tradisional.<br /><br />Awal kedatangannya di 
Kazusa, Akitada berspekulasi menjadikan gubernur Motosuke sebagai tersangka 
utama. Namun kecurigaan Akitada terhadap sang gubernur sulit dibuktikan. Bahkan 
Akitada dan pelayannya, Seimei, tercengang dengan efisiensi kerja para staf dan 
kerapian berkas-berkasnya. Alih-alih berhasil meringkus penjahat Negara, 
Akitada merasa misinya hanya akan berakhir sia-sia. Karena rumor yang beredar 
bahwa sudah lama pemerintah ingin kasus ini dilupakan. Kegelisahan Akitada 
untuk tetap menegakkan hukum semakin mendorongnya berfikir keras, menemukan 
dalang di balik kejahatan ini. Orang-orang lain yang patut dicurigai dan mulai 
dijadikan modus operandinya adalah Residen Ikeda, Kapten Yukinari—sang kepala 
Garnisun, Lord Tachibana—mantan Gubernur—beserta Lady Tachibana (istri mudanya 
yang cantik mempesona) serta master Joto, sang kepala biara Empat Wajah 
Kebijaksanaan.<br /><br />Masalah semakin pelik ketika terjadi pembunuhan 
berantai. Mantan gubernur Lord Tachibana ditemukan tewas di ruang kerjanya saat 
Akitada mengunjunginya. Lalu seorang pelacur dibunuh dengan cara mengerikan. 
Begitu pula pembantaian yang terjadi di rumah Higekuro, pemilik perguruan bela 
diri bojutsu. Dan usaha pemerkosaan terhadap putrinya—gadis tunarungu—oleh 
beberapa rahib pengkhianat.<br /><br />Apa motif di balik pembunuhan sang 
mantan gubernur? Firasat Akitada mengatakan bahwa aksi tersebut ada hubungannya 
dengan kasus perampokan pajak. Istri mantan gubernur pun ditengarai memiliki 
skandal dengan Kapten Yukinari dan Residen Ikeda. Kisah ini kemudian berkembang 
menjadi sebuah konspirasi yang juga melibatkan kepala biara Empat Wajah 
Kebijaksanaan. Hal itu berdasarkan fakta pembangunan biara yang meningkat 
drastis. Namun pada akhirnya Akitada memperoleh titik terang setelah 
ditemukannya sebuah sketsa lukisan Badai Naga karya Otomi, putri Higekuro. 
Sketsa itulah yang menjadi kunci penting dalam penyelidikan tersebut.<br /><br 
/>Ditemani Tora dan Ayako—gadis pesumo yang membuat Akitada jatuh cinta—Akitada 
menyusup ke dalam Biara Empat Wajah Kebijaksanaan dan menemukan bukti 
kebengalan para rahib. Kala segalanya terbuka, bentrokan pun tak terelakkan. 
Dalam satu adegan klimaks, yang terjadi pada sebuah perayaan biara yang besar, 
ketegangan mencapai puncaknya. Akitada dan kelompoknya berhasil membongkar 
monster jahat yang terselubung di balik kedok sang rahib suci. Misteri sekeping 
bunga biru pun menyingkap pembunuhan wanita bangsawan, Lady Asagao, selir 
kesayangan Kaisar. Tapi yang lebih buruk, upaya penyelidikan dan pengungkapan 
yang dilakukan Akitada malah mengancam hubungan cinta dan kariernya. Sungguh, 
sebuah ending yang mengharukan. Akitada sangat shock karena mendapati sang 
menteri, atasannya, naik pitam mendengar kabar keberhasilannya. Akibatnya mimpi 
dan cita-cita Akitada kandas.<br /><br />Dalam seluruh novel ini, Parker tetap 
setia dengan budaya dan sejarah Jepang abad kesebelas. Informasi yang 
mengagumkan tentang stratifikasi budaya dan pemisahan antara bangsawan dan 
orang biasa, mengenai ketegangan antara agama Budha dan Santo, dan mengenai 
operasi pemerintah, semuanya dimasukkan dengan sangat natural dalam misteri 
tersebut. Parker sangat cermat menciptakan karakter-karakter yang seakan-akan 
hidup dan memberikan pembacanya untuk beridentifikasi dengan mereka, meskipun 
ada jarak seratus tahun antara aksi tersebut dengan kehidupan dan masa dari 
pembacanya.<br /><br />Parker seringkali menghadirkan adegan-adegan yang 
berisikan ironi. Dan misteri tersebut secara bertahap berkembang dari awal yang 
agak sederhana menjadi suatu kesimpulan liar yang secara bersama-sama mengikat 
tiap detail pada saat yang bersamaan, sehingga hal itu memerlukan perhatian 
secara cermat. Sebuah seri baru yang pantas mendapatkan banyak pembaca baru. 
Misteri-misteri Akitado Sugiwara amat mengagumkan dan tampil beda! Kepedulian 
Parker atas kedetailannya benar-benar tanpa cacat dan kemampuannya untuk 
melibatkan pembacanya dalam peristiwa-peristiwa yang berasal dari seratus tahun 
yang lalu di negara asing sungguh menarik perhatian.***<br /><br />M.Iqbal 
Dawami,Penikmat sastra dan blogger buku di http:// resensor.blogspot.com<br 
/>Resensi ini dimuat di Media Indonesia, Sabtu 20 Juni 2009 <br />

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=864


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com


------------------------------------

     || cerkit ||

arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd   : ramebangetYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke