Jawa Pos, Minggu, 21 Juni 2009<br /><br />
SEBAB untuk membaca peta langit, seseorang harus terlebih dulu menyeka airmata 
bumi.<br />
<br />
Begitulah, seperca sajak Keranda Cahaya yang diteluhkan Ilung S. Enha di ufuk 
senjakala untuk mengawal karib spiritualnya, Zainal Arifin Thoha, menanggalkan 
kesementaraan bumi menuju langit keabadian pada 14 Maret 2007 silam.<br />
<br />
Selajur Keranda Cahaya itu merupakan jelma pemberontakan Ilung terhadap arus 
utama spiritualitas. Selama ini ruang-ruang spiritualitas disesaki dengan 
doktrin purba sufistik yang cenderung elitis-egosentris. Disebut demikian 
karena spiritualitas diasumsikan berada di menara gading di mana proses lelaku 
di dalamnya berkelok-liku penuh rambu-rambu.<br />
<br />
Proses lelaku spiritualitas itu tak jarang dilakoni dengan menihilkan interaksi 
humanis dalam konteks sosial-kemasyarakatan. Maka, di sinilah ditemu jawaban 
kenapa para pelaku spiritualitas (salik) acapkali acuh dengan dinamika 
lingkungan sekitar (baca: jazab) disebabkan oleh ekstase dalam kerinduan 
personal dengan Tuhan.<br />
<br />
Padahal, senyatanya tidaklah begitu. Posisi manusia sebagai hamba Tuhan 
(abdullah) dan representasi fungsi ketuhanan di muka bumi (khalifatullah) mesti 
berjalan seirama. Segendang sepenarian. Masing-masing tak boleh saling 
menegasikan. Interaksi vertikal dan horizontal lantas menjumbuhkan misi agung 
yang berdenyar saban waktu di atas altar kemanusiaan. Inilah substansi 
spiritualitas yang membumi: spiritualitas keseharian.<br />
<br />
Dan, Ilung melalui buku bertudung My God My Love ini telah mengekalkan 
proposisi itu. Ia memantik suluh penerang untuk menyibak spiritualitas yang 
remang-remang. Tentu, ia tak hanya melempar wacana. Gagasan spiritualitas 
keseharian yang diusung buku ini ia rajut dari serpih-serpih kontemplasi dan 
pengalaman rohani serta dibalurkan dengan kelenturan pergaulan sosial.<br />
<br />
Pergaulan yang luas menjadikannya sosok solider, bisa diterima di seluruh 
lapisan sosial masyarakat, mulai kaum pinggir terminalan hingga elite 
perkotaan. Dalam pergaulan itulah ia mengejawantahkan secara reflektif olah 
batin dan daya karsa spiritualitas yang disadap dari nira ayat-ayat ketuhanan. 
Sosoknya yang nyentrik melampaui sekat-sekat spiritualitas yang selama ini riuh 
dengan beragam atribut religiusitas simbolistis.<br />
<br />
Secara tersirat, hal itu mendedahkan makna bahwa menyusuri lorong-lorong 
spiritualitas tak harus dipadu dengan simbol-simbol verbalistik semisal tazakur 
masal dengan berkopyah dan berkalung sorban. Muara spiritualitas adalah 
kejernihan hati, sehingga dengan demikian sinyal-sinyal kearifan yang terpancar 
dari wahyu yang kudus dapat disebarluaskan secara merata dalam jejaring 
kemanusiaan horizontal.<br />
<br />
Dengan trengginas Ilung membuka cara pandang baru bagi para penempuh 
spiritualitas pemula untuk menihilkan kisah-kisah besar tokoh spiritualitas. 
Sebab, kisah-kisah itu tanpa disadari akan menjadi standar perbandingan dan 
ukuran keberhasilan menempuh spiritualitas. Kisah-kisah itu meruang-waktu, 
sehingga dibutuhkan kearifan untuk menimbang ulang. Dengan cara ini, penempuh 
spiritualitas pemula bisa memulai lelaku dengan lebih lempang (hlm. 10).<br />
<br />
Untuk memasuki lorong spiritualitas, mainstream yang berkembang mengharuskan 
proses tahapan hirarkis: syariat-tarekat-hakikat-makrifat. Diyakini sebagian 
tokoh spiritualitas bahwa tahapan tersebut adalah jenjang bertingkat yang 
berakibat bisa menafikan segala taklif religiusitas di bawahnya.<br />
<br />
Bagi Ilung, konsepsi demikian patut dirombak. Tahapan tersebut tidak bersifat 
hirarkis, melainkan sebuah proses satu lingkar perjalanan memutar, sehingga 
tahapan satu tidak melingkupi yang lain akan tetapi saling melengkapi. Dengan 
begitu, interaksi vertikal (habl minallah) dan horizontal (habl minannas) bisa 
tergali lebih optimal (hlm. 31-52).<br />
<br />
Interaksi vertikal-horizontal ini pula yang harus dikemas sesuai dengan konteks 
kekinian. Seturut Ilung, dogma zuhud yang mengental dalam ranah doktrinal 
spiritualitas telah melahirkan konsepsi bahwa penempuh spiritualitas mesti 
beruzlah, menyepi dari karut-marut duniawi. Tentu, di era modernitas paradigma 
uzlah sepatutnya digeser dari uzlah fisik ke arah uzlah hati.<br />
<br />
Kehadiran buku ini melengkapi sketsa pemikiran Ilung yang terhampar dalam buku 
sebelumnya, Diary untuk Tuhan. Dalam buku itu, ia memaparkan pergulatan panjang 
keresahan sekaligus kerinduan dan kecintaan kepada Tuhan. Dengan rasa bahasa 
yang masih kental dengan nuansa sastra, di buku ini ia mengurai kembali rindu 
dan cinta itu dalam bingkai spiritualitas kontekstual.<br />
<br />
Berbeda dengan buku-buku spiritualitas lain yang kebanyakan bertutur tentang 
spiritualitas secara teoritis, buku ini beranjak lebih jauh. Wacana 
spiritualitas tidak sekadar dihamparkan, akan tetapi dikaji dengan kritis untuk 
direkonstruksi, sehingga kesan menempuh spiritualitas yang rumit dan 
berbelit-belit segera runtuh. Inilah kontribusi Ilung yang laik diapresiasi. 
Karena itu, sangat masuk akal jika tak lama lagi narasi adiluhung buku ini 
segera tayang di layar kaca.<br />
<br />
Lebih dari itu, buku ini pun layak dikategorikan sebagai buku panduan reflektif 
bagi para penempuh spiritualitas pemula. Di tangan Ilung, spiritualitas yang 
dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang berat menjadi ringan dan begitu 
santai.<br />
<br />
Ibarat cangkrukan di warung kopi, Ilung membabarkan rute spiritualitas yang 
guyup. Para penempuh spiritualitas pemula bisa berangkat dari titik eksistensi 
masing-masing tanpa perlu sama sekali membawa atribut yang melekat pada 
dirinya. Di sanalah mereka berjumpa, saling menimba pengetahuan dan pengalaman 
spiritual. Sungguh, wisata rohani yang menenteramkan hati: berspiritualitas ala 
warung kopi. (*)<br />


selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=1320


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com

Kirim email ke