Koran Tempo, 26 Juni 2009<br />
<br />
Novel ini adalah pemenang Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008. 
Menurut penulisnya, Anindita S. Thayf, ide untuk menulis novel ini datang 
justru ketika ia melakukan riset untuk menulis buku nonfiksi anak tentang 
keindahan alam Papua. Alihalih menemukan berbagai keindahan tanah Papua, ia 
malah banyak menemukan berbagai ketimpangan sosial di sana. Jiwanya terpanggil 
untuk menyuarakan ketidakadilan yang ia temui dalam risetnya. Atas dasar 
itulah, Anindita berganti haluan dari menulis buku nonfiksi tentang keindahan 
Papua ke novel yang sarat dengan kritik sosial dengan setting Papua.<br />
<br />
Melalui riset pustaka selama dua tahun, ia dengan teliti mencoba mengenali 
sumber masalah rakyat Papua. Ia menyusun dan mengolah semua data yang ia 
peroleh menjadi cerita tentang perjalanan hidup satu keluarga. Ia hidupkan 
tokohtokohnya dengan karakterkarakter yang menarik, dan jadilah sebuah novel. 
Tanah Tabu dipilih menjadi judul karena ia beranggapan bahwa setiap tanah yang 
merupakan warisan leluhur pastilah ditabukan oleh turunannya yang berbakti. 
Ditabukan dalam arti dipergunakan sesuai manfaat dan kebutuhan, serta dijaga 
kelestariannya. Ironisnya tanah Papua yang ditabukan dan diwariskan 
turuntemurun itu kini sebagian besar hilang, terdesak oleh orangorang asing 
yang datang untuk mengeruk kekayaan emas Papua.<br />
<br />
Novel ini mengisahkan kehidupan tiga generasi perempuan Papua, yaitu Mabel, 
Mace, dan Leksi. Mereka semua merupakan satu keluarga penduduk asli Papua dari 
Suku Dani, pewaris kekayaan alam Papua yang kaya namun ironisnya mereka hidup 
miskin dan menderita akibat terjarahnya tanah mereka oleh para pendatang yang 
dengan rakus mengeruk kekayaan alam Papua.<br />
<br />
Walau ada beberapa tokoh utama dalam novel ini, kisah kehidupan Mabel merupakan 
kisah yang dominan dalam novel ini. Sewaktu masih kecil hingga beranjak dewasa 
Mabel diasuh oleh keluarga Belanda dan tinggal di Wamena. Otomatis ia 
dibesarkan dan dididik dalam tradisi masyarakat Barat. Namun ketika keluarga 
angkatnya harus pulang ke negeri asalnya, Mabel kemudian mengalami masamasa 
kelam dalam hidupnya. Dua kali pernikahannya gagal. Ia juga pernah diculik dan 
mengalami siksaan hebat karena tuduhan bersekongkol dengan para pengacau 
keamanan.<br />
<br />
Semua pengalamannya itulah yang membuat Mabel menjelma menjadi sosok yang 
mandiri, teguh, pemberani, cerdas, dan memiliki wawasan dan cara berpikir yang 
modern dibanding para wanita Papua.<br />
<br />
Dalam kesehariannya, Mabel menjual sayur di pasar dan tinggal bersama Mace 
selaku menantunya dan Leksi, cucunya yang masih berusia 7 tahun yang hingga 
usianya kini belum pernah bertemu dengan ayah kandungnya yang meninggalkan Mace 
sebelum Leksi lahir. Lalu ada pula tokoh Pum, sahabat setia Mabel, dan Kwe, 
yang setia menemani dan menjaga Leksi kemana pun Leksi pergi. Selain itu, ada 
pula tokohtokoh tambahan seperti keluarga Mama Helda dan anaknya Yosi yang 
saban hari harus menghadapi kemarahan ayahnya yang pemabuk.<br />
<br />
Novel ini dengan gamblang menyuarakan berbagai kenyataan pahit yang dialami 
penduduk Papua, terlebih ketika orangorang asing mulai berdatangan di kampung 
mereka. Orangorang asing itu memang datang membawa perubahan dan modernisasi, 
namun dua hal ini ternyata tak dirasakan manfaaatnya oleh kehidupan penduduk 
asli Papua. Di tengah tempat yang justru terus menerus dipoles menjadi semakin 
modern dan indah, masyarakat Papua justru tetap menderita, miskin, terkena 
penyakit, dan bencana, salah satunya karena sungai yang tercemar akibat limbah 
dari pabrik tambang emas yang berdiri megah ditengahtengah mereka.<br />
<br />
Papua memang tak bisa menghindar dari gelombang modernisasi. Pembangunan dan 
modernisasi memang diperlukan di provinsi terujung Indonesia yang sering luput 
dari perhatian. Namun Papua dengan kekhasan alam dan budayanya membuat 
pembangunan dan modernisasi tak bisa dilaksanakan begitu saja tanpa 
mempertimbangkan faktor keunikan alam dan kultur budaya Papua halhal yang 
bersifat nonrasional. Saat ini pembangunan yang dilakukan di Papua hanyalah 
berdasarkan rasionalitas semata dan hanya untuk kepentingan para pendatang, 
untuk memudahkan mereka mengeruk habis kekayaan emas Papua.<br />
<br />
Selain membongkar berbagai ketimpangan sosial yang terjadi di Papua, novel ini 
juga berbicara mengenai budaya patriarki Suku Dani yang amat merugikan kaum 
perempuan. Lelaki adalah penguasa, sedangkan wanita dianggap sebagai makhluk 
yang lemah sehingga patut dilindungi dari serangan musuh, tapi tidak dari 
penindasan keluarga sendiri.<br />
<br />
Hal itu terlihat jelas pada semua tokoh wanita dalam novel ini. Mabel, Mace, 
dan Mama Helda, bernasib sama: mereka mengalami penderitaan fisik dan mental 
akibat perlakuan para suaminya tanpa bisa melawan. Hanya Mabel yang berhasil 
lepas dari belenggu nasibnya, dan ia yakin bahwa akar permasalahannya adalah 
karena jerat kebodohan yang menimpa perempuan Papua sehingga mereka terbelenggu 
oleh takdirnya yang hidup hanya untuk keluarga, suami, kebun, dan babi.<br />
<br />
Melalui tokoh Mabellah suara perempuan Papua yang sebelumnya hanya berbisik dan 
nyaris membisu kini menjadi lantang terdengar. Mabel dengan berani melawan 
takdir perempuan sukunya dan menggugat berbagai ketimpangan yang terjadi di 
kampungnya. Mabel yakin bahwa satu hal yang dapat mengubah takdir mereka adalah 
melalui perjuangan melawan kebodohan. Setelah membebaskan keluarganya dari 
jerat kebodohan, ia lebarkan medan perjuangannya ke lingkungan sekitarnya. 
Sayangnya langkahnya terhenti juga ketika akhirnya Mabel tertangkap dan 
dibelenggu oleh pihakpihak yang tak menyukai sepak terjangnya.<br />
<br />
Walau sarat dengan pesan kriktik sosial, dan memiliki tema yang kompleks, novel 
ini tak membosankan dan tak terkesan menggurui atau mengkhotbahi pembacanya. 
Anindita melebur semua itu ke dalam kisah kehidupan para tokohnya sehingga 
berbagai pesan moral yang hendak disampaikan penulis dengan halus menyelusup ke 
dalam alam bawah sadar pembacanya. Cara bertuturnya juga sangat baik sehingga 
novel ini enak dibaca dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Penulis 
juga menyertakan beberapa dialog inspiratif yang menggugah kesadaran pembacanya 
akan banyak hal.<br />
<br />
Selain ceritanya yang menarik, novel ini juga dituturkan dengan cara yang unik. 
Kisah Mabel dan beberapa tokoh lain dalam novel ini dituturkan oleh beberapa 
narator secara bergantian menurut sudut pandangnya masingmasing. Uniknya, tak 
hanya manusia yang menjadi narator. Seekor babi dan anjing pun tak ketinggalan 
untuk ikut menjadi narator dan hal ini baru akan disadari oleh pembacanya di 
lembar akhir novel ini.<br />
<br />
Di dunia cyber, novel ini tampaknya mendapat perhatian dari para book bloger 
yang umumnya mengutarakan pendapatnya atas novel ini secara jujur dan apa 
adanya. Di mata para blogger buku, novel ini dinilai sebagai novel yang bagus, 
hanya saja mereka umumnya mempertanyakan soal kemunculan dua binatang yang 
bernarasi dan memiliki perasaan dan cara berpikir seperti manusia ini. Terutama 
adalah soal usia si anjing yang merupakan teman setia Mabel selagi ia masih 
kecil. Bagaimana mungkin seekor anjing bisa memiliki umur panjang hingga 
puluhan tahun?<br />
<br />
Menanggapi hal itu Anindita menuturkan bahwa dalam novelnya kali ini ia memang 
ingin menerobos logika pembacanya. Dalam ranah fiksi, umumnya pembaca Indonesia 
sering terjebak bahwa semua kisah dalam novel itu haruslah rasional, karena 
ketika ada sesuatu yang tidak rasional maka hal itu akan dipertanyakan.<br />
<br />
Apakah Tanah Tabu merupakan novel fantasi? Tidak sepenuhnya. Di sinilah 
keunikan novel ini: ia menggabungkan dunia rasional dengan fantasi. Kehadiran 
seekor anjing dan babi yang bernarasi pada novel ini bisa dimaknai sebagai 
sebuah simbol dan perenungan bahwa rasionalitas tak dapat menjawab problem 
sosial yang dialami oleh rakyat Papua.<br />
<br />
Satu hal yang sangat disayangkan dalam novel ini adalah penulis kurang 
mengeksplorasi budaya Papua. Padahal ada banyak hal sisi budaya lokal yang bisa 
diangkat, misalnya tarian perang Suku Dani atau pesta babi yang menjadi bagian 
dari kehidupan mereka. Jika saja muatan budaya lokal ini bisa dimasukkan 
menjadi unsur cerita dalam kisah Mabel, pembaca tak hanya mengetahui berbagai 
ketimpangan yang terjadi di Papua melainkan mendapat bonus tambahan berupa 
budaya lokal yang unik dan tentunya sarat dengan makna kearifan lokal.<br />
<br />
Apa pun, yang telah ditulis oleh Anindita dalam karyanya kali ini semakin 
membuktikan bahwa karya sastra tak hanya memberikan hiburan sastrawi kepada 
pembacanya. Tapi selain itu, seperti kata Pramoedya Ananta Toer, \"Pengarang 
itu korps avant garde, bukan menghibur... tugasnya melawan kejahatan dalam 
tulisantulisannya.\" Dan Anindita telah menunaikan tugas itu, melawan 
diskriminasi dan kejahatan terhadap keadilan dan kemanusiaan.<br />
<br />
Hernadi Tanzil, Book Blogger & Book Reveiwer<br />
Pengelola situs http://bukuygkubaca.blogspot.com

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=1530


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com

Kirim email ke