Jawa Pos, Minggu, 05 Juli 2009,<br /><br />Pada mulanya, seorang perempuan 
ialah anak ibunya. Perlahan tapi pasti, status itu bermetamorfosis; perempuan 
tersebut menjadi ibu bagi anak-anaknya. Takdir menjadi ibu agaknya memang tak 
bisa dielakkan oleh kaum perempuan. Iris Krasnow --seorang ibu dari empat anak 
lelaki, kontributor untuk United Press International dan ahli ilmu komunikasi-- 
mendedahkan cerita-cerita para perempuan dalam balutan takdir terkait status 
ibu dalam buku ini.<br /><br />Ide penulisan buku setebal 319 halaman ini 
sederhana. Iris Krasnow merasakan gejolak batin ketika menyadari bahwa ia 
adalah seorang ibu bagi empat anak lelaki, sementara ibunya telah bersulih diri 
menjadi seorang nenek. Perubahan status seharusnya menyebabkan tatanan peran 
yang berganti pula. Namun, realitanya tidak demikian. Helene Krasnow, ibu Iris, 
kerap bersikap seolah rumah tangga Iris dan Chuck merupakan bagian dari 
kekuasaannya. Hingga suatu saat, Iris harus mengucapkan \"F---k you, Mom,\" 
karena kesal dengan ibunya yang mengatakan bahwa keempat cucunya sangat kurang 
ajar.<br /><br />Beberapa hari setelah itu, Iris menelepon ibunya dan berkata, 
\"Mereka anak-anakku dan akulah yang berhak menegurnya.\" Segala basa-basi 
meleleh. Iris menggelontorkan semua kekesalan yang telah lama dipendam karena 
merasa gagal menemukan sosok ibu idaman di dalam diri Helene. Kesadaran Iris 
tersentak ketika daftar kekecewaannya hanya dijawab begini oleh Helene, \"Kamu 
toh baik-baik saja. Selalu ada makanan di atas meja dan aku sudah berusaha 
sebisaku.\"<br /><br />Sebuah pemahaman baru terbuka bagi hubungan ibu-anak 
dalam hidup Iris Krasnow. Memimpikan ibu yang sempurna adalah kesia-siaan. Ibu 
kita adalah perempuan yang mengurusi anak-anaknya sebaik yang ia mampu. Berawal 
dari kejadian dan pembentukan makna baru dalam hubungan ibu-anak itulah yang 
membuat Iris mewawancarai lebih dari seratus perempuan yang hidup di usia senja 
bersama ibunya.<br /><br />Perempuan-perempuan yang \"menitipkan\" kisah 
hubungan ibu-anak yang mereka lewati sepanjang hidup untuk ditulis Iris dalam 
buku ini, berasal dari berbagai latar belakang profesi, budaya, hingga 
orientasi seksual. Buku ini bagaikan lingkaran kalung jiwa perempuan yang amat 
panjang.<br /><br />Ibu merupakan sosok yang tergambar dalam dua jenis arketipe 
dalam peradaban dunia, yakni positif dan negatif. Arketipe positif, misalnya, 
kita lihat pada lukisan Madonna karya Fra Filippo Lippi pada 1455. Lukisan yang 
sering dijadikan contoh karya di zaman Rennaisance itu menggambarkan seorang 
ibu yang sedang menyusi anaknya. Sedangkan arketipe ibu negatif terlihat dalam 
sosok Medusa, seorang perempuan berambut ular dengan tatapan yang bisa mengubah 
seseorang menjadi batu.<br /><br />Arketipe \"ibu yang baik\" dan \"ibu yang 
menakutkan\" memang menghiasi lembar demi lembar dalam buku yang berjudul asli 
I Am My Mother\\\'s Daughter; Making Peace With Mom Before It\\\'s Too Late. 
Seorang perempuan boleh saja menganggap bahwa ibunya lebih mirip Medusa 
ketimbang Madonna. Tapi, ia niscaya menyadari bahwa sosok ibunya sangat 
memengaruhi kepribadian yang menjadi citra dirinya selama ini. Ketika telah 
menjadi seorang ibu, perempuan akan merasa bahwa ia pun sama cerewetnya dengan 
sang ibu.<br /><br />Buku ini menjadi lebih kaya warna karena Iris langsung 
menyalin cerita dari narasumber. Pembaca bagaikan mendengarkan curhat para ibu 
tentang ibu biologis mereka. Pembaca diajak meresapi konflik, penyatuan, dan 
sikap memaafkan yang terjadi di antara hubungan ibu dengan anak perempuannya. 
Iris Krasnow mampu menegaskan sebuah pesan sederhana melalui buku ini, yakni 
setiap ibu adalah anak dari ibunya.<br /><br />Iris pun menyarankan agar kita 
mau menelisik sejarah kehidupan yang pernah diarungi ibu kita. Cerita tentang 
salah sangka aktris Jane Fonda terhadap sosok ibunya diajukan sebagai salah 
satu contoh oleh Iris (hlm. 254-255). Frances Fonda mati bunuh diri ketika Jane 
berumur sebelas tahun. Jane Fonda bertahun-tahun menganggap ibunya sebagai 
sosok yang lemah. Namun, ketika berusia 67 tahun, Jane tercengang dengan 
pengakuan teman-teman ibunya. \"Ibumu adalah perempuan yang bersemangat, suka 
bersenang-senang. Perempuan setegar batu karang,\" simpulan pengakuan yang jauh 
dari dugaan Jane.<br /><br />Aktris kesohor di Amerika Serikat itu mulai 
menyadari bahwa \"bakat ketabahan\" yang mengalir di tubuhnya --ketika 
berhadapan dengan suami-suami yang tak setia, bulimia dan penghargaan seksual 
yang rendah-- ternyata berasal dari sang ibu.<br /><br />Buku ini juga 
menunjukkan bahwa waktu ternyata merupakan sarana efektif untuk mengobati 
kekecewaan, mengungkapkan kejujuran, dan menghadirkan pengampunan. Iris 
meyakinkan pembaca bahwa kemampuan teknologi dalam bidang kesehatan yang makin 
baik dari tahun ke tahun niscaya memperpanjang usia manusia. Hingga sangat 
mungkin terjadi sebuah peristiwa di mana seorang perempuan berumur 60 tahun 
masih bisa makan malam dengan ibunya yang berusia 90 tahun.<br /><br 
/>Akhirnya, Iris menghadirkan buku ini agar tiap perempuan mampu menerima ibu 
mereka apa adanya. Ketika usia bertambah tua dan seorang perempuan masih bisa 
menjalani hidup bersama ibunya, maka tak ada alasan untuk menutup diri seperti 
seorang remaja. (*)<br /><br />*) Fenny Aprilia, penerjemah novel Girl In The 
Tangerine Scarf karya Mohja Kahf<br />

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=684


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com

Kirim email ke