“Bisa jadi film besar, nih!” “Wah, menarik sekali. Bisa jadi film besar nih, kalau digarap serius. Produser lebih gampang menerima yang kayak gini. Percaya, deh.” Mendengar komentar Sekar Ayu Asmara, pengajar Workshop Skenario Film Layar Lebar FiXiMix, yang seperti itu, Danang, salah seorang peserta workshop yang ide cerita filmnya dipuji itu, bukannya langsung melonjak gembira, tapi malah tercenung, seperti menimbang-nimbang. ”Tapi...,” katanya seolah berhati-hati agar tidak terlihat takabur atau besar kepala. ”...Takutnya dikira mengekor film ’X’ (judul sengaja tidak disebutkan –Red FiXiMix) yang sekarang sepertinya lagi nge-trend karena bercerita tentang bidang yang sama.” ”Lho, jangan takut. Ini beda. Perspektif yang kamu ambil lain dan tokoh utamamu sama sekali bukan seorang yang diduga bakal sukses besar karena di masa lalunya dia banyak menimbulkan kekacauan. Dia ini seolah bukan seorang yang cocok dijadikan tokoh protagonis. Ini berbeda dengan film-film sejenis sekarang ini, kan?” Mendengar penjelasan itu Danang bertambah diam, seperti berpikir. ”Kamu harus siap lho, kalau memang ternyata ini berhasil,” seperti mengompori pikiran Danang, Sekar, penulis skenario berpengalaman yang sekaligus sutradara, produser, dan penulis novel itu menambahkan komentarnya. Lelaki muda peserta workshop itu malahan bengong menatap tak berkedip wajah Sang Pengajar yang karya-karya filmnya sering memenangkan penghargaan festival internasional di antaranya untuk film Biola Tak Berdawai, Selamanya, dan Belahan Jiwa. Peserta yang lulusan sebuah perguruan tinggi di Bandung tersebut kemudian menunduk, mengamati sinopsis dan coretan-coretan adegan yang ia buat sendiri. Selesai Danang mempresentasikan idenya, Iddun menyusul. Perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan periklanan sebagai seorang copywriter ini begitu bersemangat menggulirkan ide filmnya yang berjenis film remaja dengan sentuhan problem psikologis yang kuat dari tokoh utamanya. Tak jauh berbeda dengan Iddun Komang pun menceritakan idenya dengan penuh keyakinan. Penulis cerpen yang mengangkat salah satu cerpennya, yakni yang dimuat minggu ini di sebuah harian ibu kota, mulai memilah-milah karakter-karakter yang ada, yang menurutnya agak sedikit disamarkan dari kondisi sebenarnya yang ternyata merupakan kisah nyata sebuah keluarga kenalannya. Bagus Agung melangkah dengan tokoh Melati yang dijadikan pemeran utama. Seorang gadis kuper yang bisa mengubah dunianya yang menjenuhkan dengan kemampuan menulisnya. Lalu Shinta yang memaparkan kehidupan seorang gadis yang keluar-masuk perangkap hubungan tak sehat dengan lawan jenisnya hingga ia merasa menemukan tambatan cinta yang tak urung juga menambahkan porsi kerunyaman kondisi yang dihadapinya. Pada pertemuan selanjutnya ketika para peserta diminta untuk memilah-milah adegan pokok babak per babak, Shinta begitu tampak memaksakan adegan perkosaan untuk tetap masuk dalam babak kedua, meski para peserta lain, juga pengajar, merasa itu tidak perlu, bahkan kemudian cenderung menjadi tidak logis. Alasan kuat Shinta untuk tetap memasukkan adegan itu belum sempat ia jelaskan. Diana, ibu muda yang bekerja di Japan Foundation, mengajukan izin untuk tidak masuk 2 minggu berturut-turut. Eda, seorang mahasiswi semester awal juga masih berada di Padang, kampung halamannya. Sedang Budi, wartawan sebuah radio berita, yang ceritanya disebut-sebut sebagai ‘Hollywood banget’ oleh beberapa peserta, pada pertemuan selanjutnya semakin ditantang keyakinannya akan penyebab gangguan kemampuan sang tokoh utama. Ia mencari, apakah gangguan tersebut harus disebabkan oleh hal psikis ataukah fisik. Ketika akhirnya disepakati dalam hasil diskusi dengan seluruh peserta pada pertemuan kedua di kelas Sekar, dia pun akhirnya mantap memilah adegan tiap babak. Demikianlah para peserta maju satu per satu di hadapan pengajar dan seluruh peserta untuk menyuir-nyuir adegan per adegan pokok dalam tiap babak dan menuliskannya di whiteboard. Minggu ini para peserta akan mendapatkan pemanifestasian konsep dan cerita tertulis dalam wujud visual bergeraknya. Akan ada pembahasan cuplikan film Sekar Ayu Asmara yang kerap penuh konflik dan begitu dalam sentuhan psikologisnya. Dan setelahnya, seperti biasa, tentu peserta akan menikmati makan siang nikmat di ruang nyaman NewSeum Cafe. Nantikan laporan berikutnya setelah pertemuan Sabtu, 18 Juli, ini. Terima kasih. –FiXiMix Catatan: Untuk yang belum kebagian Workshop Skenario Film Layar Lebar, sekaranglah saatnya mendaftar. Download formulir yang ada di http://fiximix.multiply.com, atau langsung hubungi FiXiMix 021 713 90 682, 0815 956 2258. Segera saja, karena jumlah peserta dibatasi!
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest¬e_id=105765114414 FiXiMix, stasiun fiksi Novel-Komik-KumCer-Skenario-Film-Games Toko*Rental/Perpus*Diskusi*Pelatihan*Pertunjukan*Publikasi*Eksperimentasi Jl. Desa Putra No. 74, Alber - Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640 Tel. 021-713 90 682, 0815 956 2258 e-mail : [email protected] friendster/facebook: [email protected] --> http://profiles.friendster.com/fiximix milis : [email protected] blog : http://fiximix.multiply.com FiXiMix Fiksikan dunia!
