Awal mula saya menekuni mengajar anak-anak untuk menulis adalah ketika saya diminta oleh teman saya untuk membimbing anaknya menulis buku. Saat itu saya berpikir bagaimana agar anak usia 8 tahun tersebut bisa saya bimbing untuk menulis buku cerita yang menarik. Pertama kali saya bertemu dan berkenalan dengannya, saya bertanya kepadanya, ”Apa yang memotivasimu menulis?” Jawabannya sungguh diluar dugaan saya, ”Dipaksa Ummi (Ibu, red.). Aku kan nggak pingin nulis.” Saya sempat speechless. Bagaimana harus memulai dan memintanya bekerjasama sementara dia tidak ada motivasi sama sekali untuk menulis. Saya lalu mengeluarkan beberapa buku cerita yang ditulis oleh anak-anak, alat gambar dan kertas dari tas sambil berkata, ”Tadi Tante belikan ini untukmu. Mau nggak?” Dari raut wajahnya, saya melihat ia gembira. Lalu ia mengambil buku-buku itu dan membacanya, seolah saya tidak pernah ada disitu. Saya pun menyimpulkan, ia suka sekali membaca!
Pada kegiatan berikutnya, ketika kami mulai larut bercerita panjang lebar tentang berbagai buku yang dibacanya, saya telah menemukan motivasinya. Selanjutnya begitu mudah membuat ia belajar menulis. Hingga suatu hari, ia berhasil menulis sebuah novel anak yang membuat saya takjub, apalagi bila dibandingkan dengan kali pertama ia belajar menulis. Keberhasilan itu membuat saya terpacu untuk membimbing anak-anak yang lain, termasuk anak saya. Dan, muncullah ide menulis buku ini. Tujuannya adalah agar seluruh orangtua mampu membimbing anak mereka menulis, walau mereka bukan ahli menulis! Dapatkan buku "Duh, Senangnya Anakku Jadi Penulis" karangan Sofie Beatrix di Gramedia, Togamas, dan Uranus. Diterbitkan oleh BIAN (Bina Ilmu Ananda).
