JURNAL PARAGRAH
(Artikel) La Revolution SurealisteOleh Tukangtidur
Surealisme
memang bukan barang baru lagi di dunia seni dan kesusastraan. Ia (baca:
surealisme) telah menggurita ke seluruh penjuru dunia. Bentuknya yang nyeleneh
dan kontra logika itu telah berhasil membuat para pelaku seni begitu
terpesona dan membuat orang-orang awam terperangkap dalam labirin
enigma. Lukisan-lukisan yang ganjil, narasi-narasi yang berlompatan
dengan begitu gaib, dan segala macam hal yang sepertinya tidak berpijak
dalam realitas konvensional, telah bermunculan ke permukaan tanpa bisa
dibendung lagi dengan cara apa pun. Begitulah. Akhirnya, surealisme pun
hadir di sela-sela perbincangan di meja makan, di ruang tunggu rumah
sakit, di stasiun kereta, dan di warung rokok pinggir jalan. Surealisme
sudah menjadi bahan pergunjingan yang lumayan menyenangkan.              Namun, 
apakah surealisme itu?
                Pengertian  Surealisme
adalah gerakan kebudayaan yang menyeru kepada alam bawah sadar. Sebuah
usaha untuk merayakan mimpi-mimpi yang semalam hadir di dalam tidur
kita. Para Surealis sering membiarkan pikirannya mengalir dengan bebas
ke dalam halaman kertas tanpa berusaha mengaturnya, sehingga mimpi yang
mereka tulis ulang itu bisa hadir secara jujur dan apa adanya. Seorang
pengarang/pelukis surealisme berharap, bahwa setiap mimpi yang mereka
tulis/lukis ulang dan menjadi sebuah cerita/lukisan itu mampu
menerjemahkan “diri” si pengarangnya atau dapat menjelaskan kondisi
sosial di masyarakat.
     Sejarah Singkat Surealisme  Surealisme lahir di Paris, Perancis, pada 
tahun 1924. Dengan diterbitkannya Manifesto Surealisme
yang ditulis oleh Andre Breton, penulis sekaligus psikiatri asal
Perancis, surealisme resmi menjadi sebuah gerakan kebudayaan baru.
Bahkan, secara eksplisit Andre Breton mengatakan bahwa surealisme
adalah sebuah gerakan revolusioner. Setelah itu, secara bertahap
gerakan surealisme pun menyebar ke seluruh penjuru dunia.  Bisa
dikatakan surealisme adalah kelanjutan dan pengembangan dari gerakan
Dada, yang lahir ketika Perang Dunia I sedang berkecamuk. Perang Dunia
I telah menyebabkan seniman dan penulis yang semula berkumpul di paris
berpencar. Selama berada di luar Paris, para seniman dan penulis itu
kemudian tergabung dalam gerakan Dada. Gerakan Dada murni bersifat
politis. Dada lahir atas dasar kekecewaan terhadap kehancuran
besar-besaran yang disebabkan oleh perang. Kaum Dadais percaya bahwa
pikiran rasional yang berlebihan bisa mengakibatkan konflik mengerikan
di dunia. Kaum Dada mengejek rasionalitas dan mengusung irasionalitas.
Menurut mereka, rasionalitas adalah belenggu kebudayaan yang sudah
semestinya dibongkar. Sebagai akibatnya, kaum Dada sering terlihat
eksentrik dan anti-rasional dalam berkarya. Mereka meracau dengan
kata-kata ganjil keras-keras, menyobek kata-kata yang terdapat di
koran-koran lantas menyusunnya kembali untuk kemudian disebut sebagai
puisi, memberi kumis pada lukisan Monalisa, dan
menyatakan ke publik bahwa celana dalam dan tiang listrik adalah sebuah
karya seni. Gerakan surealisme adalah pengembangan dari gerakan Dada
tersebut, tapi lebih fokus menyorot kepada alam bawah sadar dan
mimpi-mimpi yang berasal dari hasrat-hasrat yang terkekang. Bisa juga
dikatakan bahwa surealisme adalah tindakan yang bersifat asketis.  Dalam
Wikipedia tertulis bahwa para surealis bertujuan memperbaharui
pengalaman manusia, meliputi aspek individu, budaya, sosial dan
politik, dengan membebaskan manusia dari apa yang mereka lihat sebagai
rasionalitas palsu, kebiasaan (custom) dan pola (structure) terbatas.baca 
selengkapnya 

JURNAL PARAGRAPHJurnalnya rang Biasahttp://jurnalparagraph.blogspot.com

salamDPhttp://rumahkepompong.tk/




      

Kirim email ke