Jawa Pos, Minggu, 09 Agustus 2009<div><br>
Alkisah, seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon rindang. Raut mukanya
tampak kesal, sedih, dan kecewa. Tiba-tiba dia melihat seekor laba-laba sedang
membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon tempat dia duduk. Karena
kesal, dia iseng mengambil ranting dan menumpahkan kekesalannya pada sarang
laba-laba itu hingga hancur.</div><div><br></div><div>Apa yang dilakukan
laba-laba itu setelah sarangnya hancur? Ia berusaha lagi merayap, merajut,
melompat, membuat sarangnya lagi. Setiap helai benang yang dihasilkan dari
tubuhnya dipintalnya dari awal hingga sarangnya jadi. Lalu, si pemuda itu
penasaran dan dirusaknya kembali sarang laba-laba itu. Namun, laba-laba tetap
saja mengulangi lagi kegiatannya mulai dari awal dengan semangat tanpa mengenal
lelah hingga akhirnya sarangnya pun jadi kembali. Begitu terus-menerus
dilakukan oleh laba-laba setiap kali si pemuda merusak sarangnya.<br>
<br>
Perumpamaan cerita di atas tepat sekali menggambarkan kondisi Indonesia
dalam sepuluh tahun terakhir. Krisis ekonomi 1997/1998 yang mengakibatkan
ekonomi nasional hancur. Bermula dari jatuhnya baht Thailand disusul peso
Filipina dan akhirnya merontokkan rupiah Indonesia sampai menembus angka Rp
17.000 per USD. <br>
<br>
Kejadian serupa juga dialami Indonesia pada 2008/2009. Bermula dari
krisis kredit macet perumahan berisiko tinggi (<em>subprime mortgage) di AS
yang berkembang jadi krisis keuangan global, termasuk menghantam ekonomi
Indonesia. Terbukti PHK meningkat, daya beli menurun, sektor usaha mengalami
koreksi target tahunan, dan kemiskinan bertambah banyak. Singkatnya, krisis
yang terjadi di Indonesia 1997/1998 dan 2008/2009 lebih disebabkan oleh faktor
luar (<em>external factor) dibanding faktor dalam (<em>internal factor).<br>
<br>
Benarkah krisis saat ini harus kita takuti? Ataukah harus kita hadapi
dengan semangat pantang menyerah laiknya laba-laba di atas? Rhenald Kasali,
guru manajemen perubahan menawarkan resep mengobati krisis lewat <em>marketing
therapy. Lewat buku terbarunya <em>Marketing in Crisis, Rhenald memilih
marketing sebagai "obat" karena ia anggap krisis yang mendera Indonesia saat
ini telah menghancurkan sisi <em>revenue perusahaan, yaitu medan pergulatan
pemasaran. Melalui Rumah Perubahan yang ia gagas, Rhenald terbukti mampu
mengembalikan "kekuatan" perusahaan yang hilang akibat hantaman krisis.<br>
<br>
Cara Rhenald mengobati pasien yang terkena krisis ia sajikan dalam buku
ini. Di Rumah Perubahan, para eksekutif perusahaan diajak bahu-membahu
menyeberangi perahu, mencari harta karun, menyeberangi sungai, lalu
bergandengan tangan memeriksa kembali <em>core beliefmasing-masing. Mereka
datang sore hari, melakukan renungan di pagi buta, menonton film-film pilihan
yang dipimpin langsung oleh Rhenald. Setelah itu, mereka diajak untuk memetakan
kekuatan dan memahami makna krisis serta mencari jalan keluar dari segala
kesulitan.<br>
<br>
Menurut Rhenald, <em>marketing therapy adalah pendekatan terapi yang
diarahkan pada pasukan pemasaran dengan tujuan membentuk sikap mental positif
dalam menghadapi krisis (hlm. 144). Terapi pemasaran ini diarahkan pada akar
persoalan krisis, yaitu keyakinan untuk menang. Keyakinan ini terdapat
dalam <em>core belief manusia yang akhirnya membentuk sikap dalam bekerja.
Sesuai ungkapan bijak, "<em>What you get is what you believe (jika Anda yakin
menang maka Anda akan mampu memenangkannya). Demikian sebaliknya. Hal ini sudah
berhasil diterapkan Rhenald pada percobaan dengan objek 80 karyawan muda dari
sebuah perusahaan untuk mengembalikan keyakinan mereka (yang sebelumnya ragu)
dengan sebuah permainan yang ia sebut <em>play to win. Rhenald
berpesan, <em>"This is a game. Working in crisis is also a game. If you don''t
want to win, don''t play the game."<br>
<br>
Jika kita peras buku ini, ada dua "vitamin" terapi pemasaran yang jadi
pilihan solusi dalam menghadapi krisis. Yaitu strategi 1 dan strategi 2 (hlm.
130). Strategi pertama adalah strategi pemasaran yang dimulai dengan menerapkan
prinsip-prinsip terapi pasukan dengan dukungan kuat komando-komando lapangan
dan pemimpin yang punya keyakinan untuk menang, pikirannya jernih, tidak panik,
dan fokus. <br>
<br>
Strategi kedua, yaitu strategi pemasaran yang tidak didukung oleh terapi
pasukan. Artinya pemasar atau pemimpin tertinggi langsung menggenjot
hukum-hukum pemasaran di tengah krisis (akan dibahas Rhenald dalam buku
keduanya nanti).<br>
<br>
Nah, terapi pasukan itu meliputi 12 titik. Yaitu terapi harta (<em>asset)
dan utang (<em>liabilities), terapi kepercayaan (<em>belief), terapi kegigihan,
terapi anggota tim (<em>teammates), terapi sasaran (<em>focus), terapi mental,
terapi kemembalan, terapi emosi, terapi tekanan (<em>stress), terapi
lingkungan, terapi keseimbangan, dan terapi percaya diri, dan rasa saling
percaya. Semua terapi ini berujung pada usaha menemukan keyakinan (<em>belief)
seseorang. Mengapa? Karena <em>beliefadalah jangkar hidup seseorang.
Tanpa <em>belief maka orang akan mudah terombang-ambing. <br>
<br>
Secara apik, McKey dan Farming (1991) menggambarkan
bahwa <em>belief adalah potret tentang diri kita sendiri. Potret itu sangat
beragam dan masing-masing orang punya penilaian yang berbeda tentang foto yang
dilihatnya. Kalau Anda melihat potret itu jelek dan murung, ia akan
mengingatkan Anda bahwa Anda jelek dan tak bisa dihormati (kalah). Sebaliknya,
jika foto itu bagus, Anda akan merasa optimistis dan percaya diri, sehingga
dunia akan terlihat begitu indah, dan masa depan terbuka (menang). <br>
<br>
Buku ini semakin berbobot karena dilengkapi lembar kuis <em>core
belief dan lembar <em>scoring yang akan menuntun untuk mengetahui berapa
nilai <em>core belief Anda. Semakin tinggi nilai <em>core beliefAnda, maka akan
semakin besar pula Anda mampu keluar dari krisis sekarang ini. Bagaimana
menurut Anda? <strong>(*)</strong><br>
<br>
<strong>---</strong> <br>
<br>
<strong>Judul Buku</strong>: Marketing in Crisis<br>
<strong>Penulis</strong>: Rhenald Kasali<br>
<strong>Penerbit</strong>: Gramedia, Jakarta<br>
<strong>Cetakan</strong>: Pertama, Maret 2009<br>
<strong>Tebal</strong>: 206 halaman<br>
<br>
<strong>*) Abdul Muid Badrun, d</strong>osen STIE Surakarta "School of
Business"</div>
selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=1824
Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com
------------------------------------
|| cerkit ||
arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd : ramebangetYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/cerkit/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/