<div>Kompas.com 26 Juli 2008</div><div><br></div><div>NAMANYA Pidi Baiq. 
Kocaknya luar biasa. Ia biasa memperlakukan dunia seperti Mr Bean, tokoh kocak 
dalam serial televisi  yang nama aslinya Rowan Atkinson 
itu.</div><div><br></div><div>Yang membedakan adalah kegilaan Mr Bean muncul 
karena tuntutan dan arahan skenario, sedangkan Pidi melakukannya dari dan untuk 
dirinya sendiri. Ia memang menilai hidup perlu diperlakukan 
gila.</div><div><br></div><div>Pidi bukan pelawak, ia  mantan dekan di Institut 
Teknologi Bandung (ITB), anggota tim kreatif kelompok parodi Project-P, 
konsultan seni, dan ilustrator pada Penerbit Mizan yang semuanya berlokasi di 
Bandung.</div><div><br></div><div>Perilaku iseng dan selera humor Pidi Baiq di 
luar takaran dan tidak terpikirkan orang kebanyakan, bahkan mungkin oleh 
pelawak profesional sekali pun.</div><div><br></div><div>Si aneh bin ajaib yang 
memandang, menafsirkan, dan memperlakukan apa pun di luar dirinya dengan cara 
yang menentang arus dan sangat iseng ini selalu mengundang derai tawa. Sebagian 
dari kegilaannya dituturkan dalam buku berjudul Drunken Monster yang 
diterbitkan DAR! Mizan pada Januari 2008.</div><div><br></div><div>Sejak 
halaman pertama hingga lembar terakhir, buku yang tata bahasanya sengaja dibuat 
kacau ini tidak henti memberondong pembaca dengan kisah-kisah lucu nan nakal, 
tapi orisinal. Gayanya membuat pembaca tak berhenti tertawa sambil terus 
mengikuti kekayaan imajinasi seorang Pidi Baiq.  </div><div><br></div><div>Prof 
Dr Bambang Sugiharto, guru besar ITB dan Universitas Parahyangan (Unpar), 
mengaku terpaksa memberi pengantar bernada lucu seolah kegilaan Pidi menjadi 
epidemi hingga seorang profesor filsafat seperti Bambang pun 
tertulari.</div><div><br></div><div>"Buku ini seperti menyarankan bahwa 
kegilaan, dalam arti bermain, bukanlah penyakit, melainkan justru terapi yang 
penting. Manusia telah menjadikan hidup terlampau serius, terencana, dan 
rasional hingga hidup tak lagi menawan menggemaskan," kata Bambang di Bagian 
Pengantar.</div><div><br></div><div>Pidi yang bukan miliarder atau pesohor 
kelas atas itu membuktikan kebahagian hidup tidak harus digapai dengan menumpuk 
harta sebanyak mungkin, mengejar karier dan jabatan sekeras-kerasnya, atau 
dengan bersolek sejadi-jadinya untuk menjadi selebritis paling "beken" 
se-Nusantara. </div><div><br></div><div>Dengan gayanya yang "sok akrab" dan 
penuh percaya diri, Pidi tidak henti mengusili orang, tak peduli siapa mereka, 
tak kenal tempat, tak kenal waktu. Di pagi buta, di kesenyapan malam, di ruang 
peturasan, simpang lampu merah, pokoknya di mana dan kapan saja, begitu ada 
dorongan maka iseng pun ia lakukan.</div><div><br></div><div>Ia menyapa 
orang-orang tak dikenalnya seolah telah mengenal mereka. Setelah membuat 
bingung orang-orang malang itu, ia pergi meninggalkan mereka sambil permisi 
dengan alasan telah salah menyapa orang. Tentu saja, sejak awal ia memang tak 
tahu siapa orang-orang itu.</div><div><br></div><div><strong>Siapa pun 
diusili</strong></div><div><br></div><div>Suatu kali ia merasa menemukan 
keanehan di satu sudut Kota Bandung yang biasanya macet dan bising oleh klakson 
kendaraan bermotor. Ia rindu suasana itu, maka tak ada hujan tak ada badai, 
klakson mobil ia bunyikan keras-keras hingga semua orang sekitar berasa aneh 
dan terganggu.</div><div><br></div><div>Pidi juga memiliki cara unik dalam 
mengungkapkan kepedulian pada sesamanya yang kurang beruntung. Satu hari, ia 
mengajak empat orang kawan yang semuanya tukang becak untuk menumpang mobilnya 
guna membantunya mengangkut barang-barang yang hendak dibeli di suatu tempat.  
</div><div><br></div><div>Di tengah perjalanan, Pidi mengajak keempatnya 
singgah makan di satu kafe yang pengunjungnya kebanyakan anak muda bertampang 
"keren" berdandan perlente. Saat makanan dalam pesanan, Pidi malah meninggalkan 
keempat pengayuh becak itu dengan alasan hendak berbelanja sesuatu dulu di satu 
toko.  </div><div><br></div><div>Padahal, ia mampir di kafe sebelah, memesan 
kopi di sana sambil memerhatikan dari kejauhan keempat kawannya yang celingukan 
menungguinya sekaligus resah telah berada di tempat yang sepanjang hidupnya 
baru kali itu mereka singgahi.</div><div><br></div><div>Bukan hanya tukang 
becak, siapa pun yang dianggapnya layak diusili maka segera ia isengi 
sesukanya. Sopir angkot, kawan akrabnya, pengemudi taksi, tetangganya, penjual 
pulsa telepon, satpam kampus, penjual tiket kebun binatang, bahkan polisi 
adalah sebagian dari deretan daftar panjang korban kegilaan Pidi 
Baiq. </div><div><br></div><div><strong>Kampus juga tak 
luput</strong></div><div><br></div><div>Akan tetapi, ia juga pandai menyindir 
yang tentu saja dengan cara pandang yang unik, misalnya saat mengkritik pola 
pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) 
ITB yang menjadi almameternya.  </div><div><br></div><div>Ia menilai kehidupan 
kampus semakin asosial karena menyepi dari kehidupan berorganisasi dan bermain 
yang justru diperlukan untuk mematangkan kehidupan sosial dan mental manusia. 
"Sekarang kampus banyak sepi. Gara-gara empat tahun katanya. Empat tahun harus 
lulus. Mahasiswa jadi tidak ada waktu bikin acara macam-macam. Mahasiswa jadi 
tidak bisa macam-macam.  Mahasiswa jangan lagi macam-macam. Mahasiswa harus 
jadi satu macam," kata Pidi.</div><div><br></div><div>Begitu juga saat 
Indonesia sewot pada Malaysia karena mematenkan produk-produk buatan Indonesia 
atas nama negeri itu, Pidi justru menjadi seorang dari sedikit orang di 
Indonesia yang melihat permasalahan dalam perspektif yang kritis sekaligus 
introspektif.</div><div><br></div><div>"Terima kasih Malaysia sudah bikin kami 
tahu bahwa kami punya banyak apa-apa yang bagimu hebat, adalah itu, apa-apa 
yang justru kami anggap remeh, itu yang justru kami abaikan. Sungguh, betapa 
sibuknya kami mengurus pelestarian budaya bangsa lain. Sibuk menangkap rajawali 
hingga burung nuri di tangan dibiar lepas," tulis 
Pidi.</div><div><br></div><div><strong>Ungkapan 
cinta</strong></div><div><br></div><div>Ia juga mungkin salah seorang dari 
sedikit orang di dunia yang memiliki cara yang tidak lazim dalam mengungkapkan 
cinta dan sayangnya pada istri dan anak-anaknya.  Ia bahkan memiliki kiat 
jenius dalam melunturkan hati istri yang tengah dongkol pada 
suami.</div><div><br></div><div>Suatu hari ia mendapati istrinya duduk cemberut 
karena semalaman menungguinya pulang dari tempat kerja. Bukannya menjelaskan 
keterlambatannya pulang ke rumah, Pidi malah bercerita lucu bahwa ia mesti 
berkelahi dulu dengan "drunken monster" (hantu pemabuk) sehingga terpaksa 
terlambat tiba di rumah.</div><div><br></div><div>"Drunken Monster" 
dipelesetkan dari film mandarin berjudul Drunken Master, lalu dipilih menjadi 
judul buku ini.  </div><div><br></div><div>Editor dan Penerbit Mizan boleh jadi 
menganggap "drunken monster" pas untuk mewakili keseluruhan cerita dalam buku 
ini yang memang berkisah tentang kegilaan yang memabukkan dari Pidi Baiq hingga 
ia mungkin pantas disebut monster (rajanya) orang-orang berperilaku iseng.</div>

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/artikel.php

Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com


------------------------------------

     || cerkit ||

arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd   : ramebangetYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke