Hai teman-teman. Dongeng Semusim adalah novel keenam saya yang terbit awal Oktober 2009. Mohon dukungan dan ditunggu review-nya. ;D
Judul: Dongeng Semusim Penulis: Sefryana Khairil Harga: Rp. 35.500 Penerbit: GagasMedia SINOPSIS http://sefryanakhairil.net/Dongeng-Semusim.php Saat Nabil dan Sarah masih 'sayang' dan 'cinta', semuanya berjalan begitu indah. Ternyata, hidup menikah tidak semudah kelihatannya. Pernikahan membawa Sarah melihat sisi lain dari diri mereka berdua. Entah ke mana hilangnya Nabil Si Pelindung yang penuh kasih sayang itu. Lelaki yang sanggup membuat Sarah berpindah keyakinan demi bisa bersama hingga akhir usia. Entah lenyap ke mana kepribadian Nabil yang membuat Sarah yakin dia lah lelaki yang layak menjadi pemimpin bagi dirinya dan ayah dari anak-anaknya. Sarah merasa diri mereka yang baru ini tak terlihat seperti dua orang yang saling mencintai. Mereka saling menyalahkan, saling menyakiti. Mereka seumpama dua orang asing yang berada di bawah satu atap. Dan perlahan, mereka bergerak ke arah yang berlawanan. 'Sayang' dan 'cinta' tak pernah cukup untuk mempertahankan pernikahan. Lalu, bagaimana caranya mempertahankan pernikahan yang seperti ini? PROLOG If only I knew what I know today "Hurt", Christina Aguilera Sinting! Benar-benar sinting! Nabil berlari menyusuri koridor rumah sakit. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Sekujur wajahnya pucat pasi diliputi kepanikan. Hanya demi seseorang yang sangat berarti dia jadi tidak waras begini. Biasanya dia bisa tenang menghadapi masalah, tapi sekarang tak bisa konsentrasi sedikit pun. Pikirannya kalut. Tadi, di tempat parkir, mobilnya nyaris menyerempet ambulans yang datang dari arah berlawan. Bahkan, ketika menyerobot masuk rumah sakit, dia menabrak bahu perawat yang sedang mendorong brankar. Masa bodoh! Di kepalanya hanya ada satu tujuan. Melihat Sarah! Dia tidak peduli kalau perempuan itu ingin membunuhnya. Bunuhlah! Nabil terus berlari. Napasnya semakin tak beraturan. Dadanya dipenuhi oleh kecemasan sampai-sampai ingin berteriak rasanya. Kalau terjadi sesuatu pada Sarah Kalau terjadi sesuatu padanya Nggak! Nabil nggak mau mikir macam-macam! Dia ingin meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja, tapi batinnya bersikeras tak mau memercayainya. Sesampainya di depan ruang operasi, berpasang-pasang mata melihat ke arahnya. Nabil berusaha mengatur napasnya sambil mencari-cari keluarganya diantara orang-orang yang duduk di ruang tunggu. Puspa-lah yang pertama kali melihat ke arahnya. Dia menepuk bahu Ibu sambil menunjuk ke Nabil. Wajah beliau sama sekali tidak ramah. Ayah, yang berdiri di sebelahnya, juga sama. Keduanya menatapnya tajam seolah dia terdakwa. Nabil mendekati Puspa. "Apa yang terjadi, Pus?" Tapi melihat tak ada reaksi dari adiknya, dia bertanya lebih keras. "Apa yang terjadi, Pus? Sarah kenapa? Bilang!" Puspa menggigit bibir, menggeleng. Nabil beralih pada Ayah dan Ibu. "Bu, Yah, bilang." Keduanya bungkam. "Shit!" Nabil menjatuhkan diri di kursi panjang yang kosong. Dia benar-benar tidak bisa berpikir. Sedih, takut, dan bingung. Semua menjadi satu mengaduk emosinya. Dia mencoba menghibur diri, tapi tak bisa. Pikirannya dipenuhi rasa bersalah. Dan penyesalan. Dan semua yang tak pernah terlintas dalam pikirannya sebelum ini terjadi. Tapi, semua sudah terlambat Pintu ruang operasi terbuka, refleks menarik perhatian Nabil dan keluarga. Nabil langsung berdiri dan menghampiri dokter yang keluar dari ruangan itu. Dia begitu takut dan khawatir keadaan Sarah sampai tak menyadari kelancangannya mencengkram lengan jas putih dokter itu. "Dokter, bagaimana keadaan Sarah?" Ibu dan Puspa menariknya menjauh dan berusaha menenangkannya. Tangan Ibu mengusap lembut punggungnya. Tapi sama sekali tidak mengusir kecemasannya. Dokter itu masih saja diam. Dia menatap Nabil dengan ekspresi yang sulit diterka. Nabil tidak peduli. Dia hanya ingin tahu keadaan Sarah! Bagaimana dia sekarang? Apa yang terjadi? Apa dia punya kesempatan untuk minta maaf? Tuhan... Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ada kesempatan untuk memohon pada-Mu? BAB SATU Dan kau menawarkan rasa cinta dalam hati "Sebenarnya Cinta", Letto Nabil benar-benar raja tega! Benar kalau ada orang bilang pernikahan bisa membuat orang yang paling waras sekalipun jungkir balik. Persiapan ini-itu yang dikira bakal memorable malah berbanding terbalik. Jauh dari bayangannya. Jauh dari keindahan fairy tale. Sarah, perempuan berambut ikal yang selalu dikuncir kuda, menatap ponsel di tangannya. Bukan sok sibuk sampai pakai jasa wedding organizer segala, tapi tumpukan pekerjaan tidak memungkinkan Sarah dan Nabil mengurus sendiri pernikahan. Huh, sayangnya, wedding organizer yang dia pekerjakan lebih uring-uringan, bahkan dari pengantinnya sendiri. Bulan-bulan belakangan, hidupnya diganggu oleh telepon-telepon wedding organizer yang tak kenal waktu dan tempat. Seperti sekarang, contohnya. Di saat sedang tegang-tegangnya membicarakan tema besar untuk edisi bulan mendatang, telepon dari WO-nya masuk ke ponselnya. Benda mungil itu terus bergerak-gerak di atas meja. Sarah tidak berani bergerak sedikit pun. Hanya matanya yang memandangi. Begitu HP-nya berhenti berdering, dua detik kemudian langsung bunyi lagi. Damn! Sarah mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya di atas karpet ruangan. Kalau begini jadinya, pakai WO atau nggak sama saja. Saat Herdi mengalihkan pandangan, dia buru-buru mengambil ponselnya dari atas meja dan dibukanya sembunyi-sembunyi di bawah meja. Sarah mendengus kesal. Dia mencoba menghubungi Nabil, tapi nggak dijawab. Heran! Apa dia segitu sibuknya di sana sampai tak bisa mengangkat telepon? Sarah menahan kesal. Dengan terpaksa ia mengirimkan pesan singkat. Masih rapat? Diana dr WO tlpn, mau ktm. Kamu bisa? Dikembalikannya handphone itu ke atas meja sambil berusaha mengembalikan konsentrasi. Sarah melirik Gladys, rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya, serius mendengarkan presentasi Herdi soal artikel untuk kolom Top Delicious, mengulas tentang Mie Garing Bethanie yang berada di Summarecon Kelapa Gading. Dia pura-pura mengangguk ketika Herdi menoleh ke arahnya. Sarah melirik ke layar handphone-nya. Belum dibalas. "Ribet amat dari tadi!" Gladys menyikut lengannya. "Biasalah!" Sarah mencoba mengelak, malas bercerita. Gladys adalah lulusan tata boga, sudah menikah. Kemampuannya menciptakan resep masakan membuatnya jadi andalan majalah Delicious, tempat mereka berdua bekerja. "Kenapa lagi si Nabil?" Sarah menggeleng-geleng kepala. "Kukira menikah adalah hal yang kalian impikan berdua." "Tadinya sih gitu." Sarah bertopang dagu. "Sekarang aku ragu. Dia tuh kayak nggak peduli. Dihubungi aja susah banget. Gimana aku nggak marah coba?" Gladys menahan tawa. "Kayak lagunya Agnes Monicalelaki... Hehe. Mereka mah mana ada yang mau direpotkan dengan tetek-bengek pesta." "Masa sih?" Sarah memutar bola matanya. "Jadi, aku harus kerja sendirian nih?" Gladys mengangguk, membuat Sarah menghela napas panjang tanda pasrah. "Ya udah deh, abis rapat, aku telepon WO-nya."
