Teman-teman tersayang,

Artikel berikut adalah tulisan yang belum lama ini saya publikasikan di blog 
pribadi saya, dan kini ingin saya bagi dengan kalian semua. Semoga mendatangkan 
manfaat. :-)


Salam,


- JJ -

------

Perceraian di Mata Saya

Orang tua saya berpisah ketika saya berusia empat tahun. Penyebab dari
perpisahan mereka, sejauh yang saya tahu, adalah Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (KDRT). Ada yang mengatakan, seharusnya ibu melahirkan enam
anak, namun akibat kekerasan yang terus dialaminya, janin yang sanggup
bertahan di rahimnya hanya dua. Saya dan adik saya.

Tidak lama
setelah melahirkan adik saya, ibu lari dari rumah karena tidak tahan
dengan kekerasan yang semakin menjadi-jadi. Beliau sempat terkapar di
rumah sakit dengan sekujur tubuh lebam. Saya sendiri baru mengetahui
peristiwa ini setelah beliau meninggal lima tahun silam. It remained a secret 
for more than 20 years.
Setelah keluar dari rumah sakit, beliau membawa adik saya yang masih
bayi dan pulang ke rumah orang tuanya. Beberapa tahun kemudian, saya
menyusul dan tinggal bersama ibu.

Saya tidak tahu apakah
pernyataan ini akan terdengar kontroversial, namun sebagai seorang anak
yang mengalami dampak perceraian, saya justru berharap orang tua saya
bercerai lebih dini. Seandainya ibu memiliki keberanian untuk pergi
lebih awal, mungkin ia tidak perlu terkapar di rumah sakit dengan memar
di sekujur tubuh. Seandainya perpisahan itu dilakukan lebih awal,
mungkin ia tidak perlu dihantui trauma dan luka batin seumur hidup.
Meski beliau tidak pernah membicarakannya, saya tahu, luka itu ada.

Banyak
orang mengatakan, kebahagiaan anak seharusnya diprioritaskan di atas
kebahagiaan orang tua. Saya justru berharap sebaliknya. Seandainya
sejak awal ibu memprioritaskan kebahagiaannya di atas kebahagiaan saya,
barangkali kisah hidup beliau akan berakhir lain. Saya pernah membaca
sebuah tulisan, bahkan anak-anak yang orangtuanya tidak mengalami KDRT
dan mempertahankan pernikahan ‘demi kebahagiaan anak’, dapat merasakan
apa yang sesungguhnya terjadi pada orang tua mereka. Kenyataannya,
duduk bersama di meja makan, masuk ke kamar yang sama setiap malam,
datang bersama ke acara-acara sekolah, dan banyak sandiwara lain yang
dilakukan demi sang buah hati, tidak cukup untuk menyembunyikan keadaan
yang sebenarnya dari batin anak yang bersangkutan. They just know. They can 
feel it. At least, that’s what I read.
Di sisi lain, bahkan sebagai anak kecil yang belum mengerti apa-apa,
saya turut terkena efek psikologis dari setiap kejadian buruk yang
dialami ibu, karena saya membagi aliran darah yang sama dengannya.

Saya
tidak tahu dengan orang-orang lain yang orangtuanya juga bercerai. Apa
yang mereka rasakan bisa saja berbeda. Namun, saya bersyukur orang tua
saya bercerai.

Dalam sebuah obrolan santai beberapa tahun silam,
ibu bercerita kepada saya dan adik tentang beberapa orang yang sempat
dekat dengannya sebelum beliau bertemu ayah saya.

“Yang naksir Mama itu dulu mulai dari dokter sampai pengusaha. Nggak tahu 
gimana, bisa jadinya sama Papi kamu,” ujarnya.

Mendengar itu, adik saya nyeletuk, “Kenapa Mama nggak jadian sama yang 
pengusaha aja? Kan lebih enak!”

“Kalau
Mama nggak kawin sama Papi kamu, nggak bakalan ada kamu,” beliau
menjawab enteng. Ibu saya bukan orang yang ekspresif. Beliau cenderung
keras dan dingin dalam mendidik anak-anaknya, namun saat itu saya
yakin, saya mendengar senyuman dalam jawabannya.

Ibu mungkin
akan lebih bahagia menikah dengan dokter atau pengusaha. Mereka yang
mencintainya dan tidak memukulinya seperti ayah saya yang pemabuk.
Namun dengan begitu, tidak akan ada saya. Tidak akan ada adik saya. Dan
sama seperti saya tidak menyesali keputusan yang diambilnya berpuluh
tahun silam, saya tidak menyesali keputusannya untuk bercerai. Karena
perceraian beliau memberikan saya ayah terbaik di seluruh dunia.

Bagi
Anda yang mengikuti blog ini dan mulai bertanya-tanya, ya, pria yang
saya panggil ‘Ayah’, yang saya cintai segenap jiwa dan berkali-kali
muncul dalam tulisan-tulisan saya, bukanlah ayah kandung saya. Beliau
menikah dengan ibu setelah ibu dan ayah kandung saya bercerai. Dan
beliau adalah satu-satunya orang yang berada di sisi ibu ketika wanita
tersayang itu menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.

Kami,
anak-anaknya, tidak ada di sisinya. Ibu saya meninggal didampingi
laki-laki yang mencintainya sampai akhir hayatnya, yang menerimanya apa
adanya dengan tanggungan dua orang anak dan tidak pernah –satu kali
pun—mendaratkan pukulan di tubuhnya. Laki-laki yang pernah dikucilkan
keluarganya selama bertahun-tahun karena orang tua dan
saudara-saudaranya tidak bisa menerima keputusannya untuk menikahi ibu
saya. Laki-laki yang pernah kehilangan mata pencaharian karena sang
ayah yang jengkel terhadapnya menarik toko obat yang sedang ia kelola
dan memberikannya kepada saudaranya yang lain. Laki-laki yang rela
tidak memiliki anak dari pernikahannya dengan ibu, dan tetap mencintai
saya dan adik seperti anak kandungnya sendiri. Laki-laki yang sampai
hari ini masih menyimpan foto ibu saya di ponselnya. Laki-laki itu
tidak hanya saya panggil ‘Ayah’. Darinyalah saya belajar memaafkan dan
mencintai.

Saya menulis artikel ini setelah membaca sebuah
diskusi di internet yang membahas perceraian dua figur publik di
Amerika Serikat. Selain keputusan yang cukup mendadak dan memancing
reaksi para anggota forum, yang paling banyak dibicarakan adalah dampak
perceraian mereka terhadap anak-anak yang berusia 9 dan 6 tahun.
Pendapat yang dilontarkan pun beraneka ragam. Ada yang bisa memahami,
ada yang mendukung, ada yang kecewa, ada pula yang terang-terangan
mencela mereka sebagai orang tua yang tidak bertanggung jawab, egois,
menelantarkan kebahagiaan anak, dan sebagainya.

Saya tidak tahu
apa yang akan terjadi dengan anak-anak itu kelak. Mungkin orang-orang
di forum itu benar. Mungkin juga mereka salah. Yang saya tahu hanya,
dalam daftar hal yang paling saya syukuri di dunia, perceraian orang
tua saya menduduki peringkat awal. Saya bahkan mengagumi ibu yang
dengan tegar berjuang melepaskan diri dari siksaan dan dengan berani
menjadi orang pertama dalam keluarga besar kami yang menandatangani
surat cerai.

Perceraian bagi sebagian orang mungkin merupakan
simbol dari kesedihan, penderitaan, bahkan tragedi. Tidak bagi saya.
Perceraian telah mengajarkan saya tentang kejujuran dan cinta, dan pada
akhirnya, mengajarkan saya untuk berdamai dengan hidup.

:-)

-----

ROCK Your Life!  - Jenny Jusuf -  http://jennyjusuf.blogspot.com


      

Kirim email ke