<div>Jawa Pos, Minggu, 10 Januari 2010</div><div><br></div><div>CERITA mengenai 
keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak 
dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua 
dialognya, "Timaeus" dan "Critias". Tak hanya Plato, penulis kuno klasik 
lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, 
Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal 
keberadaan Atlantis.</div><div><br></div><div>Kenyataan ini pada akhirnya 
memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. 
Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai 
dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, Timur 
Tengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi 
Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Inggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung 
Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan 
Meksiko.</div><div><br></div><div>Pandangan yang paling mutakhir mengenai 
Atlantis -dan sangat mengejutkan kita- datang dari seorang geolog dan fisikawan 
nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini 
bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur 
dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan 
kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu 
metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, 
teater, musik, dan olahraga itu adalah 
Indonesia. </div><div><br></div><div>Kesimpulan Santos yang merujuk pada 
pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan 
studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap 
letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam 
buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of 
Plato''s Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga 
merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda 
seluruh dunia.</div><div><br></div><div>Dalam buku ini, secara tegas Santos 
menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang 
lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 
tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka 
memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang 
kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu 
terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keserakahan dan 
keangkuhannya. </div><div><br></div><div>Dengan menggunakan perangkat ilmu 
pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, 
linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap 
sebab-sebab hilangnya Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang 
menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang 
disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa 
itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan 
dengan letusan gunung berapi.</div><div><br></div><div>Hipotesis lain yang 
dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan 
pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, 
fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi 
fisik dan geologisnya.</div><div><br></div><div>Musnahnya Atlantis, menurut 
Santos, lebih disebabkan banjir mahadahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh 
permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia -termasuk di 
dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah 
letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya 
yang terjadi hampir dalam waktu yang 
bersamaan. </div><div><br></div><div>Bencana alam beruntun itu, kata Santos, 
dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung 
itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar, yaitu Selat Sunda, hingga 
memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan 
gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara 
Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara 
Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai "Heinrich 
Events".</div><div><br></div><div>Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa 
fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada 
masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu 
kemudian turun dan menutupi lapisan es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian 
mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. 
Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh 
bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia. </div><div><br></div><div>Banjir 
akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 
130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di 
Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran 
tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan 
tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya 
menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. 
Akibatnya adalah berakhirnya zaman es pleistosen secara 
dramatis.</div><div><br></div><div>Terlepas dari benar atau tidaknya teori 
tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di 
bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik 
perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas 
bangsa Indonesia sekarang sama sekali "tidak meyakinkan" untuk dapat dikatakan 
sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah 
suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa. 
(*)</div><div><br></div><div><br></div><div>*) Mohamad Asrori Mulky, peneliti 
Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta </div>

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=4403


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com


------------------------------------

     || cerkit ||

arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd   : ramebangetYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke