<div>Hendri F Isnaeni, Majalah Figur, Januari 
2010</div><div><br></div><div>Atlantis yang dalam bahasa Yunani adalah Pulau 
Atlas merupakan pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam 
buku Timaeus dan Critias. Dalam catatannya, Plato menulis bahwa Atlantis 
terhampar di seberang pilar-pilar Herkules, dan memiliki angkatan laut yang 
menaklukan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon atau sekitar 
tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam 
samudra "hanya dalam waktu satu hari satu malam". Atlantis umumnya dianggap 
sebagai mitos yang dibuat oleh Plato untuk mengilustrasikan teori politik. 
Meskipun fungsi cerita Atlantis terlihat jelas oleh kebanyakan ahli, mereka 
memperdebatkan apakah dan seberapa banyak catatan Plato diilhami oleh tradisi 
yang lebih tua. Beberapa ahli mengatakan bahwa Plato menggambarkan kejadian 
yang telah berlalu, seperti letusan Thera atau perang Troya, sementara lainnya 
menyatakan bahwa ia terinspirasi dari peristiwa kontemporer seperti hancurnya 
Helike tahun 373 SM atau gagalnya invasi Athena ke Sisilia tahun 415-413 
SM.</div><div><br></div><div>Masyarakat sering membicarakan keberadaan Atlantis 
selama Era Klasik, namun umumnya tidak mempercayainya dan terkadang 
menjadikannya bahan lelucon. Pada abad pertengahan, kisah Atlantis kurang 
diketahui dan diminati. Namun, pada era modern, cerita mengenai Atlantis 
mengemuka kembali. Deskripsi Plato menginspirasikan karya-karya penulis zaman 
Renaisans, seperti New Atlantis (1627) karya Francis Bacon. Atlantis juga 
mempengaruhi literatur modern, dari fiksi ilmiah, buku komik, hingga film. 
Namanya telah menjadi pameo untuk semua peradaban prasejarah yang maju (dan 
hilang).</div><div><br></div><div>Pertanyaannya dimanakah Atlantis tenggelam? 
Sejak Ignatius L. Donnelly, mempublikasikan karyanya Atlantis: the Antediluvian 
World (1882), usulan lokasi Atlantis bermunculan. Beberapa hipotesis merupakan 
hipotesis arkeologi atau ilmiah, sementara lainnya berdasarkan fisika atau 
lainnya. Banyak tempat usulan yang memiliki kemiripan karakteristik dengan 
kisah Atlantis (air, bencana besar, periode waktu yang relevan), tetapi tidak 
ada yang berhasil dibuktikan sebagai kisah sejarah Atlantis yang sesungguhnya. 
Dari sekian banyak daerah yang diusulkan sebagai lokasi Atlantis, salah satunya 
Indonesia. Antarktika, Indonesia, di bawah segitiga Bermuda disebut Bill Hanson 
dalam The Atlantis Triangle (2003).</div><div><br></div><div>Ilmuwan yang yakin 
bahwa Atlantis berada di Indonesia adalah Prof. Arysio Santos. Setelah 
melakukan penelitian selama 30 tahun, Geolog dan Fisikawan Nuklir Brasil ini 
menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive 
Localization of Plato''s Lost Civilization (2005) yang diterjemahkan ke dalam 
bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Ufuk Publishing House. Santos 
memastikan kepada dunia bahwa situs Atlantis adalah Indonesia. Ciri-ciri 
Atlantis yang dicatat Plato dalam dua dialognya berjudul Timaeus dan Critias, 
secara mengejutkan, sangat cocok dengan kondisi geografis 
Indonesia.</div><div><br></div><div>Menurut Santos, Atlantis adalah negeri 
tropis berlimpah mineral dan kekayaan hayati. Namun kemudian, segala kemewahan 
itu lenyap, tersapu bencana mahabesar yang memisahkan Jawa dari Sumatra, 
menenggelamkan lebih dari separuh wilayah Nusantara. Gunung Berapi Krakatau 
menjadi sumber bencana global tersebut (diperkirakan terjadi 11.600 tahun yang 
lalu). la meletus, menimbulkan rentetan gempa dan tsunami mahadahsyat, seratus 
kali lebih besar dari bencana Aceh 2004, yang pada puncaknya mengakhiri Zaman 
Es. Beberapa kitab suci menyebut bencana itu sebagai "Banjir Semesta". Santos 
juga mengungkapkan fakta bahwa Atlantis adalah tempat ilmu dan penemuan besar 
manusia muncul kali pertama (budaya bercocok tanam, bahasa, metalurgi, 
astronomi, seni, dll.); dan peradaban-peradaban sesudahnya (Yunani, Mesir, 
Maya, Aztec, Inca, dll.) sesungguhnya dibangun oleh bangsa Indonesia, yang 
mengungsi dari bencana, dan mewariskan pengetahuannya ke negeri baru mereka; 
sehingga ada banyak persamaan budaya dan arsitektur di setiap peradaban (teori 
difusi budaya).</div><div><br></div><div>Dalam banyak hal, buku ini berhasil 
mengkonfirmasi kebenaran kitab suci dan mitologi, mengawinkan sains dan agama. 
(Hena)</div>

selengkapnya silakan klik http://www.dinamikaebooks.com/resensi.php
dan silakan klik detail bukunya di 
http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=4403


Dinamika Ebooks
http://www.dinamikaebooks.com

Kirim email ke