Mukadimah Satu API unggun, yang menyeruak dari onggokan ranting-ranting kering itu, menari-nari. Bagai hendak menjerat mata orang-orang agar tetap bersiduduk. Perempuan tua berkerudung wol duduk agak maju dari yang lain. Ia datang dari ceruk yang menyumpil di antara barisan Bukit Siguntang yang memunggungi langit. Tentu saja tak perlu ditanya, di barisan mana ia tinggal. Hanya orang-orang datangan atau anak-anak belum terang menangkap maksud saja, yang tak mengetahuinya. Saban Kamis malam, ia selalu menunggu penduduk di tepian lereng anak bukit. Orang-orang kampung pun bagai menganggap sebuah kewajiban berkumpul di sana. Meendengarkan kisah-kisah pelepas lelah darinya. Dari Tukang Cerita, demikian orang-orang menggelarinya. Sejatinya, tukang cerita itu layak jua dipanggil Tukang Ladang. Ladangnya sangat luas dan subur. Padi, jagung, pisang, ubi-kayu, buah kam, kedondong, nenas, pisang raja, pinang merah, keladi... bagai berebutan menyeruak dari ladangnya. Konon, menyebut satu-satu dari apa-apa yang dipelihara perempuan tukang cerita itu, lama waktunya bak menanti ikan menyinggul kail yang digelayutkan satu depa di atas permukaan air. Nah, bertakjublah kalian dengan apa-apa yang ia punyai! Tidakkah si Tukang Cerita (atau Tukang Ladang) itu sangatlah kaya? Mahfumlah bila pesirah—kepala kampung—saja, mengeret badan ikut demi mendengar (atau menghormati) ia berkisah. Atau, embusan kabar bahwa, malam ini, perempuan itu akan bercerita untuk terakhir kalinya, itu betul? Jadi, perihal Tukang Cerita yang akan meninggalkan kampung, demi menggarap ladang lain (yang ia belum tahu di bukit mana itu) adalah sahih? Mmm..., dapatlah jua itu menjadi hulu-perkara hingga pesirah saja berela-rela melipat-silang kaki, menyilahkan pantatnya berciuman dengan rumput hijau setinggi kelingking di dekat lereng bukit itu.
mo baca kelanjutannya? klik aja link ini http://galericerpen-flp.blogspot.com/2010/03/tukang-cerita.html salam dp
