Salah Asuhan, Potret Malin Kundang di Abad 20





summary_noimg = 450;
summary_img = 280;
img_thumb_height = 200;
img_thumb_width = 200; 


//=1) { 
                imgtag = '';
                summ = summary_img;
        }
        
        var summary = imgtag + '' + removeHtmlTag(div.innerHTML,summ) + '';
        div.innerHTML = summary;
}

//]]>

Oleh Denny Prabowo

Novel
 Salah Asuhan pertama kali terbit di Balai Pustaka tahun 1928. Secara  
tematik, novel ini tak lagi mempermasalahkan adat kolot yang tak lagi 
sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi coba mengangkat tema pernikahan
 antarbangsa yang menimbulkan banyak persoalan.

Bersama novel 
Sitti Nurbaya, Belenggu, dan Atheis, novel ini memperoleh hadiah Tahunan
 Pemerintah tahun 1969. Pada tahun 1972, Asrul Sani megangkat novel ini 
ke layar lebar dengan Dicky Zulkarnain sebagai pemeran Hanafi.

Maman
 S. Mahayana dalam Ringkasan dan Ulasan Novel Modern Indonesia 
(Gramedia, 2007: 20) mengungkapkan, “Menurut Liang Liji, Salah Asuhan 
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Cina dan menjadi novel terjemahan 
laris di Tiongkok. Adapun menurut Morimura Shigeru, mahaguru Osaka 
University of Foreign Studies, Jepang, Salah Asuhan juga sudah 
diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang.

Jika dilihat dari struktur 
formalnya, novel Salah Asuhan boleh jadi tidaklah terlalu istimewa. 
Namun, apabila ditinjau dari segi konflik sosial yang diangkat dalam 
novel ini, Abdul Muis dapat dikatakan sebagai pembaharu di masa itu. 
Saat banyak penulis berusaha mengekor Sitti Nurbaya yang kritis terhadap
 adat-istiadat yang berlaku ketika itu, Abdul Muis justru mengkritik 
mentalitas kaum muda yang silau dengan budaya Barat.


Ringkasan Cerita

Abdul
 Muis memulai novel ini dengan dialog antara Hanafi dan Corrie du Bussee
 di sebuah lapangan tenis di Solok. Corrie meyakinkan Hanafi bahwa adat 
serta kebudayaan Barat dan Timur berbeda. Namun, Corrie tidak memandang 
perbedaan itu sebagai alasan untuk saling merendahkan satu sama lainnya.
 Ia sangat menghormati adat dan budaya Hanafi, tetapi justru Hanafi yang
 melecehkan adat dan budayanya sendiri. Bahkan setiap kali Corrie 
menyebut Hanafi Bumiputra, ia tersinggung. Ia merasa rendah diri dengan 
statusnya sebagai Bumiputra.

Sikap Hanafi itu tidak saja disebabkan 
oleh pendidikan ala Eropa yang ditempuhnya di Betawi, tetapi dikarenakan
 ia jatuh cinta pada Corrie. Hubungan mereka ditentang oleh Tuan de 
Bussee, ayah Corrie. Meski ia sendiri menikahi gadis pribumi. Kondisinya
 memang berbeda jika gadis Eropa yang dinikahi oleh Bumiputra, ia akan 
dikucilkan, bahkan haknya sebagai orang Eropa akan dihapus.

Baca kelanjutannya 
http://dennyprabowo.blogspot.com/2010/08/salah-asuhan-potret-malin-kundang-di.html



      

Kirim email ke